
Leo memutuskan untuk pergi dari kediaman papa Adi,
dia masih merasa aneh,karna jika memang vani bersama zola lantas untuk apa vani berkali kali menelfonnya apa untuk memberitahunya soal kepergianya bersama Dion seharian fitting baju,
"Aaaarrrrrgghhh."
Leo memukul stir mobilnya,merasa sakit hati dengan vani,leo menepikan mobilnya.
"kak Leo???."
saat pulang dijalan Alice melihat,mobil leo terparkir di sebrang jalanan dan leo yang masuk ke dalam bar,saat hendak turun menemui leo phonsel miliknya berdering,
tertera nama mamanya.
"Hallo mah,"
saat Alice mengangkat telponnya,
"Kau kemana aja sayang,kenapa belum pulang juga,udah jam berapa ini,kamu itu perempuan sayang??."
Suara mama terlihat khawatir,
Alice melihat jam di tanganya menunjukkan pukul 11.15 malam.
"Iya mah,Alice juga sudah pulang kok,ini sudah di jalan,lagian Alice juga udah gede bisa jaga diri mah."
Alice mematikan phonselnya,dia merasa bete banget karna sikap mamanya yang terlalu overprotektif terhadapnya,semenjak mamanya yang kembali dengan ingatanya ia malah merasa tak bisa bebas,
Di hotel yang hanya tinggal Roy bersama vani,membuat Roy ingin mengulang kejadian sebelumnya,ia ingin menikmati tubuh sexy vani kembali,tapi keinginanya harus pupus saat handphone milik nya berbunyi,ada nama leo tertera di layar handphonenya,
*Sialll,brengsek ganggu saja nih orang,
Gumam Roy,
"Halo leo."
Jawab Roy.
"Temani aku sekarang di bar **."
"Tapi aku,,"
tut tut tut
panggilan telah di matikanya,Roy begitu marah karna aktifitas nya harus ia tunda,hingga ia melempar handphonenya di kasur dimana ada vani yang masih tertidur atau entah masih tak sadarkan diri,
Alice sudah sampai rumah,berbagai pertanyaan dari mamanya membuat dia pusing,dia memutuskan untuk masuk kamar,
Roy mengacak rambutnya merasa frustasi antara pergi ke leo atau tetap menikmati sajian yang vani beri yang masih membuatnya selalu kelaparan.
Roy memutuskan pergi ke tempat dimana leo berada,
Roy mendapati leo yang sudah dalam keadaan setengah sadar akibat win yang ia teguh,
Leo terlihat sedang dalam emosi yang tidak bisa di tebak,sudah beberapa botol wine,tp ia masih saja menuangnya ke gelas champagnenya.
"Kamu kenapa minum sampai seperti ini leo???."
"Diamlah kau Roy."
kemarahan dan kecewa tergambar pada wajahnya,
"aku benci wanita itu Roy,tapi aku juga mencintainya,apa aku kurang sempurna hah,apa kurangnya aku untuk gadis itu??."
Racau leo saat dia benar benar merasa kepalanya berat dan pusing,
"Vanii???."
__ADS_1
Roy menebak siapa yang leo maksud,
"Hem,"
Jawab singkat dari leo,hingga pada akhirnya sudah pada titik lemahnya,Leo tak sadarkan diri,terlihat senyum Roy menyeringai,
Dia berharap,setelah dia mengantar Leo,dia bisa menemui vani kembali.
Di hotel vani mengerjapkan matanya,kepala masih sedikit pusing,dia melihat ke sekelilingnya merasa asing di tempat itu,vani sedikit mengingat ngingat kejadian yang menimpanya,seketika airmatanya tumpah kembali.
Vani mencoba berdiri ingin segera pergi dari tempat itu.
"Akhhhggg."
Vani terjatuh Terasa remuk redam tulang juga tubuhnya,bahkan di area sensitif nya terasa teramat sakit,perlahan dia bangkit saat ingin meninggalkan kamarnya,dia mendengar bunyi phonsel,dia merasa phonsel milik nya sudah ia bawa,saat di cari terdapat phonsel milik seseorang,tertera pesan masuk,Vani merasa itu milik Roy dan untungnya phonsel nya tanpa di beri kode,
Pesan masuk dari berinisial "A".
vani mencoba membukanya,
Apa kau sudah membereskan wanita itu??.
Aku ingin kau secepatnya mengabariku!.
Vani mengerutkan keningnya,ada seseorang di balik penculikan itu.
Betapa terkejutnya,di bekas panggilan dia terkejut tertera nama Alice,bahkan nama leo terpampang di riwayat panggilan teratas,dia merasa ada salah satu mereka yang mengetahui tentang penculikanya.
Vani melirik jam pada phonselnya waktu menunjukkan jam 12 malam lebih,ia memutuskan segera pulang tapi pikiranya juga sedikit ragu,bagaimana ia akan menjelaskannya pada keluarganya terlebih papa nya.
Papanya selalu mewanti wanti dia untuk bisa menjaga diri,tapi sekarang bukan hanya harga dirinya yang hancur tapi juga 2 kluarga termasuk kluarga Dion akan hancur.
Disisi lain Roy ingin menghubungi penjaga yang dia suruh untuk menjaga vani,matanya terbelalak tajam dia teringat kalo dia melempar phonsel itu saat marah,Roy segera membawa leo yang juga di bawanya ke hotel di mana vani juga berada disitu,jika dia harus ke mansion dulu ,dia khawatir vani sadar dan menemuian phonsel itu,dia berencana menyembunyikan vani sampai leo sadar dan pergi dari hotel itu.
Roy merasa dia akan membuang waktu jika harus mengantar Leo ke mansionya dulu,dia khawatir jika vani menemukanya dulu.
Saat vani akan sampai di pintu dia melihat 2 penjaga,yang satu sudah tertidur sedangkan satunya
masih asik bermain phonsel,yah Roy menyuruh 2 anak buahnya kembali untuk menjaga Vani.
Vani menunggu kesempatan,saat penjaganya yang masih terjaga ke toilet,vani mempunyai kesempatan untuk kabur,vani menuju life saat dia keluar,dia melihat Roy yang memapahnya.
Vani mencoba bersembunyi,saat Roy masuk life vani berlari menuju loby,berusaha keluar dari hotel sebelum Roy mengetahuinya.
Saat Roy sudah mengantarkan leo,dia berlari menuju kamarnya,saat masuk kedua penjaga itu sudah terlihat kebingungan,Roy menanyakan tentang vani yang membuat ke dua penjaga itu terlihat pucat pasi.
"Dimana wanita itu,apa dia sudah sadar."
"Maa maaf bos,dia kabur."
"Apaaaaa!!!!."
Roy begitu terkejut,"dasar b*d*h kalian,menjaga satu wanita saja gak pecus."
Plak plak,
tamparan keras Roy layangkan karna kekesalanya pada kedua anak buahnya.
Roy mencoba mencari handphone miliknya,
Dia meraup wajahnya kasar karna tidak bisa menemukan handphone miliknya.
Roy dan kedua anak buahnya mencari vani,Roy berlari menuju ke loby hotel.
ke dua satpam penjaga hotel yang melihat vani berlarian dan seakan kebingungan mencoba mendekatinya.
Vani melihat kanan kiri sampai akhirnya salah satu penjaga di sana mengagetkanya.
__ADS_1
"Aaaarrrrrgghhh."
Vani teriak histeris,Saat dirasa ada yang memegang pundaknya.
"Nona tenang nona,ada apa nona??,kau seperti ketakutan??."
Tanya salah satu satpam hotel,yang melihat vani menutup matanya dan teriak histeris.
"Pak tolong aku hiks hiks aku..."
Belum selesai ucapan vani terpotong dengan suara Roy.
"Dia istriku pak,"
kedua satpam juga vani melihat dari arah suara itu,
terlihat Roy juga bersama kedua anak buahnya,
"Tii tidak pak dia.."
"Sayang kenapa kau kluar kamar hem??."
Roy memeluk vani,mengambil phonsel miliknya dari vani,dia juga membisikkan sesuatu,
"jika kau melawanku kau akan tau akibatnya,kau juga tidak ingin terjadi sesuatu dengan Zo bukan??,ke dua satpam itu juga tidak bisa membantumu."
Vani merasa gemetar,tubuhnya merasa lemas tp dia juga tidak mau sampai tertangkap lagi.
kedua anak buah Roy yang merasa satpam itu masih tak percaya karna di lihat dari lebam lebam di area bibir vani,mereka pun mencoba menjelaskan jika istri dari bosnya sedang ada masalah psikisnya akibat kecelakaan,dan kehilangan anaknya.
Saat vani melihat ke dua satpam itu seakan percaya kepada Roy,vani tidak tinggal diam,dia menginjak kaki Roy,yang membuat cekalan tangan Roy terlepas.
Sekuat tenaga vani kabur,hingga pada saatnya,taksi yang sebelumnya dia pesanpun datang,dia menyuruh sopir taksi itu secepatnya membawa dia pergi dari hotel.
Roy yang masih mengejar hanya kekesalan yang ada,vani sudah jauh tidak bisa di kejarnya walau memakai mobil.
"Hiks hiks,hiks..."
Isakan tangis dari vani begitu memilukan,
selang beberapa saat sebelum vani datang pak yoga pengganti sopir vani yang sebelumny pulang kerumah,
papa adi kaget dengan kondisi sopirnya,karna sepengetahuan Sopirnya dia yang akan menjemput putrinya,tapi naasnya mobilnya di rampok,atau mungkin karna sopirnya tidak datang datang sampai dia harus menginap di rumah zola.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.###**Gimana yah kira kira nasip vani juga perjuanganya untuk mencari keadilan..
selalu nantikan lanjutan lanjutan novel terbaruku yah temwn temen,
__ADS_1
Semoga sehat selalu Aamiin**