Terenggutnya Kesucian Sang Primadona

Terenggutnya Kesucian Sang Primadona
51.Takdir untuk Leo


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi.


Di ruang meeting,sudah ada ketua perusahaan Cakra denta pak Hendarso dan asistennya.


Leo datang Hendarso dan asistennya memberi hormat,yang di balas anggukan Leo.


"Senang sekali tuan kami bisa kembali bekerjasama dengan tuan lagi."


Ucap Hendarso mengawali ucapan di meeting tersebut, dengan percaya dirinya,yang dia kira kedatangannya untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan Leo kembali.


"Kerja sama????,apa kau yakin??."


Ucap Leo dengan dingin.


"Lalu kalo bukan untuk apa tuan menyuruhku kemari."


Ucap Hendarso dengan banyak tanda tanya di otaknya.


Leo hanya tersenyum menyeringai.


"Apa kau pikir aku akan kembali melakukan kerja sama dengan perusahaan yang pernah meninggalkan perusahaan ku disaat kita mengalami kesusahan,kau tentu tau beberapa perusahaan yang memutus hubungan tidak akan pernah bisa kembali kerjasama dengan perusahaan ini??."


Hendarso dan asistennya menundukkan kepalanya.


"Kenapa kalian terdiam,bukanya tadi kalian terlihat bahagia???."


Leo berdiri dan berjalan ke jendela yang memperlihatkan pemandangan gedung gedung yang berjejer indah di kota tersebut.


"Apa kalian tau perusahaan Tirtayasa group??."


Tanya Leo.


"iy iya tuan,perusahaan yang sekarang bekerjasama dengan perusahaan Cakra denta."


Jawab Hendarso.


"Sekarang tidak lagi."


Jawab singkat Leo,Hendarso saling lempar pandang pada asistennya.


"Maaf,maksud tuan??."


Hendarso mulai bertanya tanya dan ada kekhawatiran di hatinya,dia banyak mendengar beberapa perusahaan bangkrut setelah meninggalkan perusahaan Leo saat perusahaan Leo dirasa akan bangkrut.


Leo membalik badan dan menuju kursinya kembali


"Aku CEO dari perusahaan ini telah mengambil alih perusahaan dari Tirtayasa group,dan mulai sekarang aku memutuskan hubungan dengan perusahaan anda tuan Hendarso."


Bukan hanya dua orang tersebut yang di buat kaget,namun Evan juga tak kalah kagetnya karna Leo tak pernah sebelumnya membahas perusahaan Tirtayasa group yang sudah ia pegang,apa lagi untuk memutus hubungan dengan perusahaan Cakra denta.


"Tap tapi tuan."


Ucapan Hendarso terpotong saat Leo berdiri.


"Meeting kita selesai,dan terima kasih sebelumnya sudah pernah bekerja sama dengan perusahaan kita."


Leo yang ingin meninggalkan ruangan di cegah Hendarso yang meminta kesempatan,dia tau jika perusahaannya akan hancur jika tidak bekerjasama lagi dengan Tirtayasa group.


"Tuan tolong,jangan biarkan perusahaan kita hancur,tolong kasih kesempatan."


Hendarso bahkan berlutut di depan Leo.


"Pemimpin sepertimu tak pantas menjadi pemimpin,kau tidak hanya memutus hubungan dengan perusahaan ini,bahkan kau menghina CEO dari perusahaan Guinandra adalah seorang CEO gila,bahkan kau memfitnah perusahaan ini hanya untuk bisa bergabung dengan Tirtayasa group,kau seorang penjilat setelah kau tau perusahaan ini bangkit kau ingin kembali,bahkan kau iming-imingi menikahkan putrimu denganku,ini adalah penghinaan bagiku tuan Hendarso!!!!."


Setelah mendengar ucapan Leo membuat Hendarso dan asistennya malu.

__ADS_1


Leo berlalu dan Evan meminta maaf dan meminta mereka meninggalkan ruangan meeting.


Kedua orang tersebut terasa ingin menangis,setelah apa yang terjadi,saat melewati karyawan,semua karyawan berbisik bisik,seakan tau apa yang tengah terjadi pada mereka nantinya.


"Duh gak tega gua lihat mereka,pasti bentar lagi gak bakal tidur nyenyak."


Celetuk salah satu karyawan yang masih bisa Hendarso dengar,asistennya menepuk pelan bahunya yang seakan tidak menghiraukan ucapan ucapan karyawan tersebut.


"Kenapa pak Leo,jadi kejam gini yah."


Ucap yang lainnya.


"Eh,apa kalian gk pernah denger,tuh ketua Cakra denta pernah menghina perusahaan bahkan pak Leo saat pak Leo terpuruk karna kepergian nona Vani, jelas lah kalo pak Leo memberi pelajaran pada mereka,pak Leo kan sayang banget pada nona Vani pasti kalo aku di posisi pak Leo juga bakal bersedih seperti itu apa lagi tinggal hitungan jam untuk bisa menikah tapi..."


Beberapa kali perbincangan para karyawan di dengar Grace dari jauh,Grace yang tadinya senyum senyum dengan Leo yang mengambil alih perusahaan lain,kini di buat jengkel karna menyebut nama Vani.


"Ehem.....Ini perusahaan bukan pasar,kenapa kalian tidak bekerja malah ngobrol."


Ucapan Grace membuat kaget para karyawan.


"Ma maaf baik buk."


Semua karyawan langsung bekerja kembali.


🍂🍂🍂🍂🍂


3 tahun setelah kepergian Vani.


Di ruangan Leo,Leo kembali menatap luar jendela,dengan memegangi foto Vani.


Tok tok tok....


Suara ketukan pintu terdengar,Leo menyuruhnya untuk masuk,karna dia tau itu adalah Evan.


"Pak Leo."


Sambung ucapan Evan.


"Van apa salahnya jika aku hanya ingin bersama orang yang aku cintai????,kenapa aku selalu di khianati bahkan kehilangan orang orang yang aku cintai."


Ucap lirih dan wajah sendu Leo,membuat Evan tak tega,Evan benar benar merasa bersalah.


"Tidak pak anda tidak salah,hanya takdir bapak saja pak."


Ucap Evan.


"Takdir???."


Leo beralih menatap Evan,"Kenapa selalu ada kata takdir saat kehilangan seseorang,kenapa bukan kata takdir aku dipersatukan dengan orang yang aku cintai,aku merasa takdir itu kejam aku di permainkan dengan adanya kata takdir."


Leo melihat foto Vani.


"Sabar pak,pasti ada kata takdir yang baik pula untuk bapak,seperti halnya dulu bapak terpuruk bahkan perusahaan hampir bangkrut tapi takdir berkata lain,pak Leo bisa bangkit lagi dan perusahaan berjaya lagi,pak Leo barus bersabar menunggu takdir baik itu."


Ucapan Evan memberi semangat Leo,baru Leo akan menjawab,terdengar deringan phonecell milik Leo.


"Halo...,apa????."


Leo menutup telfonnya.


"Ada apa pak???."


Tanya Evan yang melihat wajah Leo yang terlihat khawatir.


"Mama Amanda sakit."

__ADS_1


Ucap singkat Leo.


"Apa??,saya akan siapkan mobil pak."


Evan langsung mengambil jas yang berada di kursi presiden direktur lalu diberikannya pada Leo,yang langsung berjalan keluar berdua menuju lift.


Evan menyiapkan mobil,dan setelah Leo masuk mereka langsung ke mansion Leo.


Terdengar suara mobil,Uun berlari untuk segera membukakan pintu,karna dia tau itu tuannya,


Uun yang sempat berhenti setelah menikah kini kembali menjadi asisten rumah tangga di mansion Leo bersama suaminya.


Ceklak....


"Tuan..."


Uun membungkuk memberi hormat.


"Dimana mama???."


Tanya Leo.


"Nyonya ada di kamar tuan."


Setelah Uun menjawab seperti biasa Uun langsung mengambil jas dan tas yang di bawa Evan,lalu menyiapkan kopi untuk Evan dan Leo.


"Mah...."


Leo langsung membuka pintu,terdengar Leo yang nafasnya tak beraturan,sudah bisa di pastikan dia berlari menaiki tangga menuju kamar mama Amanda.


"Nak Leo..."


Suara letih mama Amanda terdengar.


"Ma..mama kenapa apa yang sakit mah,kenapa bisa jatuh???."


Pertanyaan Leo terlihat jelas ada kekhawatiran yang teramat besar pada Amanda,Amanda sudah Leo anggap sebagai mamanya sendiri,terlebih setelah kepergian kekasihnya dia berjanji akan menjaga mama Amanda untuk Vani sang kekasih.


"Mama nggak papa sayang,kenapa pake lari lari segala hem,kamu gak perlu khawatir mama gak kenapa napa,hanya luka lecet."


Mendengar ucapan mamanya Leo menatap kearah Yuni.


"Maaf tuan,tadi nyonya jatuh saat berada di teras,saat mau memetik bunga untuk di bawa ke makam non Vani,tapi tadi Dokter Daniel sudah memeriksa dan memberi obat,kata Dokter nyonya baik baik saja tuan."


Yuni sedikit takut saat menjelaskannya,karna dia tau Leo akan marah saat terjadi sesuatu dengan mama Amanda.


"Kenapa kau teledor,kenapa bisa jatuh apa kau tidak punya mata hah,atau kau sudah bosan kerja disini!!!."


Leo merasa kesal,entah kenapa dia susah mengendalikan diri setelah kejadian itu,seakan ada trauma memiliki ketakutan kehilangan seseorang yang berharga baginya.


"Nak Leo,uhuuk uhhhuuk.."


Amanda terbatuk-batuk saat mencoba bangun untuk menenangkan Leo.


"Mah.."


Leo langsung mengambil air dan membantu mamanya duduk.


"Sudah sudah,mama baik baik saja sayang,jangan marahi Yuni terus ini salah mama sayang."


Amanda berhasil menenangkan dan mencairkan pria dingin itu.


Dari pintu Evan melihat seorang anak dan ibu yang bahkan tak ada hubungan darah pun bisa saling menyayangi,Evan lagi lagi merasa bersalah,tiap hari Evan selalu dihantui rasa bersalah pada Vani,dari itu dia berjanji akan menjaga Leo juga mama Vani.


#####

__ADS_1


**Gimana Readers makin seru kan yuk tetap nantikan up selanjutnya dan setia membaca cerita ini sampai episode terakhir yah😘😘😘😘😘,


Sehat selalu Readers**...


__ADS_2