Terjebak Konflik Dinasti Hylva

Terjebak Konflik Dinasti Hylva
10. Kembalinya teman lama


__ADS_3

“bi...gue disini” terdengar sayup sayup lirih suara Milo memanggil Abi.


Jantung Abi kembali berdetak kencang, Matanya yang mulai buram ia kucek berulang kali agar jernih. Suara Milo bagaikan aliran listrik yang membangkitkan energi kehidupannya.


Abi berusaha berdiri, berlari menghampiri sumber suara.


“Mil, Lo di dalam?” Abi berteriak seraya menggedor gedor sebuah ruangan yang tertutup pintu batu.


“Bi...tolong.” lirih Milo terdengar semakin sayu dan lemah.


Abi semakin dirundung kekhawatiran. Dengan sekuat tenaga ia mendorong pintu batu tersebut. Abi mendorong batu dengan berbagai cara, Ia tak menghiraukan tubuhnya yang mulai bermunculan luka memar dan sayatan dari tekstur batu yang kasar.


'MILOOOO." Abi mendorong pintu batu dengan seluruh kekuatan nya yang tersisa.


"Brakk..." Akhirnya pintu itu terbuka lebar, Menunjukkan sosok Milo yang sudah terkapar lemah


“Mlo!” Ucap Abi seraya jalan bergontai menghampiri Milo.


Kondisi Milo saat ini benar benar memprihatinkan, kedua tangannya dirantai besi keatas, kedua kakinya terbuka lebar dalam posisi duduk. Milo tak mengenakan sehelai benang pun. Tubuhnya dipenuhi bekas memar pukulan.


Abi melepaskan jaket besar yang ia gunakan dan menutupi tubuh Milo yang memprihatinkan itu. Jelas perbuatan keji seperti ini hanya mampu dilakukan oleh iblis.


Abi berusaha membuka rantai yang mengikat sang pujaan hati. Dengan air mata yang mulai bercucuran dan tangan gemetar ia menatap iba mata Milo yang bahkan sudah tertutup.


Sosok pria jantan dan pemberani seperti Abi pun tetap akan menagis bila menyadari dia telah gagal melindungi perempuan yang dicintai.


Abi tak mau berlarut dalam penyesalan, dengan susah payah ia menghiraukan badannya yang terasa remuk. Dengan sisa tenaga, Abi menghantam rantai besi yang mengikat Milo.


Rantai itu sangat keras dan tebal, sepertinya perlu pukulan keras berulang kali hingga rantai tersebut bisa hancur dan lepas dari tangan Milo.


Kenangan yang terlintas antara dirinya dan Milo yang membuatnya terus berusaha memukul rantai dengan kapak. Ia tak menghiraukan sekalipun tangannya mulai bercucuran darah segar karena gesekan yang kuat, semua rasa sakit itu ia telan sendiri.


Akhirnya, Rantai itu lepas.


Dengan sisa tenaga yang dimiliki Abi, ia berusaha membopong tubuh Milo yang tak sadarkan diri. Abi tak memperdulikan dirinya, sekalipun tangan, punggung, bahu dan kaki nya bercucuran darah dan dipenuhi luka gores. Ia hanya memikirkan keselamatan Milo.


"Tahan mil, sebentar lagi kita sampai." Lirih Abi seraya menatap wajah Milo yang pucat pasi.


Setibanya di depan gua, Abi melihat Paulo menunggu mereka dengan tatapan cemas. Lelaki dengan pakaian yang sudah compang camping itu tak sanggup lagi melangkahkan kaki. Tiba tiba seluruh pandangan Abi menjadi gelap.

__ADS_1


Abi jatuh terkapar ketanah bersama dengan Milo dalam pelukannya.


...****************...


Kini Abi, Milo dan Paulo telah kembali ke gubuk. Susah payah Paulo dan isyah pulang pergi membopong tubuh mereka satu persatu.


Semenjak saat itupun, ketiganya belum sadarkan diri selama dua hari. Paulo dan Isyah mulai merasa cemas dengan kondisi teman temannya.


Setiap hari Paulo dan Isyah berusaha memasukkan air dan bubur untuk mempertahankan hidup mereka. Luka luka yang dialami ketiganya juga nampak mulai membaik setelah diberikan pengobatan sederhana.


“Apa kita panggil tabib saja?” tanya Paulo sembari menatap iba teman temannya yang masih terkapar.


“Jangan, setiap tabib di suku kita adalah kaki tangan ayahmu. Bagaimana jika dia melaporkan tentang keberadaan mereka atau tentang kedekatan kita” Isyah menolak saran Paulo, ia tahu bahwa posisi mereka saat ini tidak memungkinkan untuk meminta pertolongan pada orang luar.


“Hmmm”


Paulo hanya berdehem, memikirkan kembali ucapan Isyah yang memang benar adanya.


Dalam Lubuk hati terdalam, Paulo merasa sedikit tidak enak karena terlalu sering meninggalkan rumah tanpa berpamitan dengan ayahnya. Terkadang Paulo juga merasa heran, tidak mungkin ayahnya tidak berusaha mencari tahu perbuatannya selama ini.


“Isyah, lebih baik kamu pulang dan jangan kembali dulu kesini selama beberapa hari. Aku akan mengabari mu melalui Yuyu (burung merpati pengantar pesan peliharaan Paulo)” ucap Paulo sembari menatap Isyah.


“Aku hanya khawatir ayahku bisa menemukan keberadaan kita. Itu akan sangat berbahaya bagimu.” ujar Paulo sembari mengelus sebelah pipi Isyah dengan lembut.


Sejenak Isyah terdiam karena hati kecilnya belum siap berpisah lagi dengan Paulo. Namun disisi lain ia juga tidak ingin menempatkan Paulo kembali dalam masalah.


“Baiklah...aku akan berkemas sekarang.” ucap Isyah sembari melangkah menghampiri barang barangnya.


“Gav...Gavi...tolongin gue.” sayup sayup rintihan itu keluar dari bibir Milo yang masih pucat.


Mendengar rintihan tersebut, Paulo dan Isyah segera mendekat dan berusaha mendengarkan apa yang diucapkan Milo.


“Mil, bangun mil." ucap Paulo sembari menggoyang goyangkan tubuh Milo.


“A-aku dimana... Paulo?” Milo membuka mata dengan susah payah, meskipun remang remang ia tetap berusaha menatap sekitar.


“Akhirnya kamu sadar juga. Tenanglah kalian sudah aman." tutur Paulo dengan mata berbinar dan senyum terpancar.


“Gavi?” Milo mendapati sosok Gavi terbaring disampingnya. Dengan susah payah ia berusaha merangkul Gavi.

__ADS_1


Deraian air mata kembali bercucuran tak kuasa ditahannya. Suara tangisan itu benar benar terdengar seperti rasa khawatir, sedih dan bahagia yang bercampur aduk.


“Dimana Abi?” Tanya Milo yang masih sesenggukan.


Paulo berusaha mengangkat punggung Milo agar bisa lebih tinggi sedikit dan bisa melihat kondisi Abi yang sangat memprihatikan di samping Gavi.


“A-abi.. kenapa lo bisa sampe kaya gini? Hkss...hkss”


Memang dalam hal  fisik, luka luka yang di dapatkan Abi tidak jauh berbeda dengan Milo. Bahu, pundak, tangan dan kakinya dipenuhi luka sayat dan tusukan yang diperoleh saat mendobrak pintu batu dan memotong rantai besi dengan kapak.


Kini tubuh Abi hampir dipenuhi potongan potongan kain yang menutupi lukanya.


“Dia sampai seperti itu demi menyelamatkan teman temannya.” ujar Paulo sembari tertunduk dengan mata berkaca-kaca.


Milo kembali merebahkan dirinya, air matanya kembali berderai deras. Tangannya ia angkat untuk menutupi raut wajahnya yang tak kuasa menahan isak tangis.


“Harusnya Abi tidak menyelamatkan aku saat itu. Lebih baik aku mati daripada menyaksikan teman temanku dalam kondisi seperti ini hks hkss....hkss” lirih Milo.


"Sabar Mil, semua ini sudah kehendak tuhan." Paulo berusaha menenangkan Milo.


"Bisakah kamu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Paulo?” Milo mengusap kasar pipinya yang basah.


Paulo menceritakan semua yang dia tahu kepada Milo. Dari mulai kedua orang suku Tamboyan itu masuk kedalam gua sampai Abi keluar bersama Milo dalam kondisi memprihatinkan.


Sejujurnya Paulo juga tidak tahu pasti apa yang terjadi didalam sana, karena tugasnya harus menjaga Gavi yang dibawa keluar lebih dulu oleh Abi.


Tanpa mereka sadari, Gavi sudah bangun semenjak Milo memeluknya. Namun, dia berpura pura belum sadar dan mendengarkan pembicaraan Paulo dan Milo.


Gavi tiba tiba bangun dan terduduk menatap Milo berkaca kaca. Isyah, Paulo dan Milo yang kaget, sejenak hanya terdiam menatap Gavi.


“Mil...” lirih Gavi sembari memeluk erat Milo “Maafin gue. Gue udah nyusahin kalian” imbuhnya.


“Vi, sejak kapan lo bangun?” ucap Milo sembari mengeratkan pelukan.


Lagi lagi air mata keduanya mulai bercucuran dalam dekapan hangat yang sudah lama mereka rindukan.


Keduanya larut dalam pelukan rindu, rasa takut, bahagia, gugup dan segala macam rasa yang beberapa hari ini mereka rasakan. Isak tangis yang pilu, menggema di keheningan pondok.


“Waktu itu Lo kemana? kok gak ikut keluar dari dalam gua...srkk srkk." Milo berusaha menstabilkan ucapannya.

__ADS_1


......................


__ADS_2