
Rarapati tergesa-gesa membawa Hardijaya pulang atas titah ibunda dan ayahandanya yang panik dan sedih. Sehingga keesokan harinya Rarapati, tiga sahabat, Huda dan perwakilan sesepuh suku membawa jasad Hardijaya kembali ke istana.
“Rai, kau selalu memintaku pulang, kenapa saat aku sudah pulang kau malah pergi?!” tangis Rarapati kembali pecah.
Ia duduk didalam kereta tepat disamping sang adik yang tertutup kain putih.
Sementara ketiga sahabat mengiring dibelakang menggunakan kuda, Sangat jelas terlihat di raut wajah Milo tidak terlihat ada tanda tanda ekspresi lain selain datar dengan tatapan kosong begitu juga. Abi. Hanya Gavi yang cukup normal dan bisa membimbing serta menyemangati kedua sahabatnya tersebut.
Mereka mengiring kepergian sang pangeran dengan menggunakan pakaian serba putih disertai bendera putih yang berkibar sempurna diatas kereta. Tanpa disangka seluruh warga suku Asmat juga ikut mengantar kepulangan sang pangeran menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Kabar kematian pangeran mahkota menyebar dengan cepat ke seluruh ibukota. Masyarakat yang menyaksikan kereta yang membawa jasad pangeran memasuki ibu kota hanya bisa bersujud sembari menangis, suasana kota benar benar dipenuhi oleh Isak tangis dan kepedihan.
Langit Pun nampak ikut sedih, hujan deras pun mulai turun membasahi tanah tanah kering di ibukota
Setibanya di istana, seluruh keluarga kerajaan menyambut kepulangan sang pangeran dengan haru. Sang ratu terus menangis tiada henti begitu juga dengan sang raja. Mereka melakukan upacara pemakaman yang sangat megah demi melepas jiwa pangeran mahkota agar bisa beristirahat dalam damai.
"Hari ini aku telah kehilangan satu lagi putra yang berbakti. Apalagi yang ingin tuhan minta dari ku?!" Lirihan Raja hanya membuat Ratu semakin larut dalam kesedihan.
"Untuk mengenang sekaligus menghargai pengabdian putra ku, aku memberinya gelar Raja Amerta. Untuk itu seluruh tanah di kerajaan wajib berkabung selama satu tahun!" Cetus Raja.
Baik seluruh keluarga Kerajaan , dewan menteri, prajurit dan warga yang datang melayat lagi lagi bersimpuh mendengar titah Raja aja. Air hujan yang mengguyur mereka sedikit menutupi air mata yang sebenarnya keluar sama derasnya.
Setelah upacara pemakaman selesai, Raja mengumpulkan seluruh Mentri untuk menyelidiki kasus kematian pangeran. Begitu juga Rarapati yang ikut menjadi saksi dan menyudutkan Abi sebagai pelakunya.
“....kemudian Nyimas melihat Rai dan Abi bertengkar diatas tebing, setelah itu tak lama Rai jatuh dari sana sebab Nyimas melihat langsung Abi mendorongnya. Seperti yang Nyimas jelaskan sebelumnya bahwa mereka memang memiliki hubungan yang buruk karena memperebutkan seorang perempuan ayahanda.” Ujar Rarapati.
“Baik, dengan pernyataanmu saja aku percaya bahwa dia pelakunya. PRAJURIT, SERET ORANG ITU KE ISTANA SEKARANG JUGA!”
Di tempat lain Gavi dan Milo tengah mengintrogasi Abi mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
“Gue mohon bi, gunain otak lo sekarang! Jangan terlalu larut dulu dalam kesedihan, gue yakin Rarapati pasti udah ngasih tahu apa yang dia lihat sama Raja, nyawa Lo dan nyawa kita lagi dalam bahaya! Ayo cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi bi!” Tutur Milo panjang lebar.
Milo dan Gavi percaya sepenuhnya pada Abi yang tidak akan mungkin melakukan hal seperti ini. Namun disisi lain mereka membutuhkan bukti serta kebenaran cerita untuk membelanya di muka umum.
Tak lama setelah mendengar ucapan Milo, Abi pun akhirnya mengangkat kepala dan menatap mereka dengan sayu.
“Kami emang lagi memperebutkan seekor rusa saat itu dan berpencar. Pas gue ketemu lagi sama Raden beliau lagi berkelahi dengan seseorang berjubah hitam bulu merak di pinggiran tebing dan berusaha mendorong Raden ke jurang. Semua luka sayat di badan gue adalah hasil goresan dari gue yang berusaha melerai perkelahian mereka. Tapi sayangnya lelaki itu berhasil ngedorong Raden ke jurang, gue berusaha meraih tangannya cuma gak sampai. kemudian laki laki itu mukul gue dengan kayu sampai gue pingsan.” Abi berusaha menerawang.
"Gue rasa dia pengen mukul pusat kepala, cuma beruntungnya gue berbalik jadi yang dia pukul malah samping leher, nih lihat!" Sambungnya seraya menunjuk memar keunguan di leher sampingnya.
Gavi dan Milo memeriksa memar tersebut dan memang benar terlihat masih baru serta sepertinya dipukul sangat keras dengan benar tumpul.
“Lo yakin?” tanya Milo.
“Gue yakin Kalian kenal gue dengan baik, gue gak akan tega membunuh orang lain demi mencapai keinginan gue sendiri!”
"Nah memang itu maksud gue!"
Milo dan Gavi hanya terdiam mendengar penjelasan dari Abi. Mereka juga dibuat bingung dengan Tragedi yang sebenarnya terjadi.
Tiba tiba segerombolan prajurit menghampiri 3 sahabat yang masih berdiri memandangi sayu seraya mengobrol dihadapan tugu Raja Amerta.
Gbrakk
Banyak prajurit mulai mengepung mereka. Sontak 3 sahabat yang merasa kaget dan terancam pun langsung berdiri dan mundur perlahan.
"Apa yang kalian butuhkan?!" Tegas Gavi.
“Tangkap mereka!” ujar salah satu prajurit.
__ADS_1
3 sahabat berusaha melawan namun mereka kalah jumlah dan kalah senjata.
Akhirnya mereka terpaksa dirantai dan diseret secara paksa menuju istana. Seluruh warga yang melihat mereka telah mendengar rumor bahwa mereka adalah penyebab kematian pangeran mahkota.
Hal ini menyulut emosi para warga ibukota yang tengah berada di sepanjang jalan menuju istana. Mereka mulai melempari 3 sahabat dengan batu dan mencaci maki mereka dengan kejam.
^^^"Penghianat!"^^^
^^^"Bunuh mereka!"^^^
^^^"Tidak pantas diampuni!"^^^
^^^"Orang gila!"^^^
Gavi, Milo dan Abi hanya bisa tertunduk malu sekaligus sedih dengan perbuatan warga tersebut. Yang lebih menyakitkan adalah orang yang mereka tolong berkali kali tidak percaya pada mereka sama sekali.
“Kita sudah berulang kali menyelamatkan nyawa Rarapati, namun dengan satu kesalahan yang belum jelas kebenarannya saja dia sudah membuat kita seperti ini. Benar benar tidak tahu diri." Ketus Gavi.
“Aku tidak menyangka jika Rarapati akan menjerumuskan kita bertiga dalam fitnah keji seperti ini, apa yang sebenarnya dia pikirkan.” Timpal Milo.
"Maaf Gavi, Milo. Harusnya cuma Gue yang diseret di jalanan ini. Kalau tahu ujung dari lomba mencari rus itu seperti ini gue gak bakal pernah mau ikut berburu hari itu." Sesal Abi.
"Semuanya sudah terjadi bi, tuhan sepertinya memang tidak suka melihat kita bahagia. Kita hanya bisa menjalani semua ini sebisanya." Milo bijak.
Ketiga sahabat benar benar kecewa dengan apa yang dilakukan Rarapati. Sekalipun adiknya meninggal dengan mengenaskan dihadapannya, tapi dia belum mengetahui dengan pasti siapa pembunuh dan apa penyebabnya, namun dia malah menuduh 3 sahabat yang sedari dulu terus bersamanya.
Disamping itu, mereka tidak menyadari bahwa ada satu orang warga yang berdiri dengan tegak dibalik jubah yang bertudung besar hanya menampakan setengah wajahnya. Orang itu berdiri menatap tiga sahabat seraya tersenyum miring.
......................
__ADS_1