
"Aku juga merindukanmu.” balas Isyah sembari menyandarkan kepalanya dibahu kekar Paulo.
Dari balik pintu, Abi diam diam mendengarkan pembicaraan Paulo dan Isyah. Abi merasa tidak heran jika sebenarnya Paulo dan Isyah adalah sepasang kekasih, namun mengapa mereka menyembunyikan hal itu darinya dan Milo.
Tiba tiba Paulo dan Isyah berciuman dengan sangat panas mengagetkan Abi. Kecapan lidah mereka berdua terdengar sangat nyaring dan membangkitkan hasrat. Apalagi diiringi ******* merdu yang keluar dari mulut Isyah saat Paulo mulai menurunkan bibir nya dileher mulus Isyah. Sementara tangan Paulo turun, merayapi gumpalan lembut yang menggembung tepat dihadapan wajahnya.
“Sudah cukup sampai disini saja. Setelah kita menikah, baru kita lanjutkan." Isyah berkata seraya mengelus lembut bibir Paulo
Namun Paulo menolak, hasratnya sudah diujung tanduk. Ia tak bisa berhenti begitu saja. "Hentikan aku kalau bisa."
Paulo mempererat pelukannya dan ******* ganas bibir Isyah. Isyah meronta ronta namun percuma saja, rangkulan Paulo terlalu keras. Pagutan nya juga mulai liar, pertarungan lidah yang panas.
Abi terpaku, ia sedikit terpancing melihat adegan di hadapannya.
Pagutan itu dilepaskan dengan kasar oleh Isyah seraya mengerang kesakitan saat Paulo menyentuh tengkuknya. Abi yang kaget segera keluar dan menghampiri Mereka.
"Apa yang terjadi, Paulo?"Ucap Abi.
"Aku lupa bahwa dibelakang kepalanya terdapat sebuah luka lama, jika ditekan sepertinya masih sakit, dan aku tidak sengaja menyentuhnya." ucap Paulo dengan mata berkaca kaca sembari duduk termenung disamping Isyah "Nanti saja ku ceritakan kisah tentang kami" imbuhnya.
“Baiklah tidak usah diceritakan sekarang, nanti saja kalau semuanya sudah terasa baik baik saja” ucap Abi sembari menepuk bahu Paulo.
“Aku berjanji akan menceritakannya saat kita berhasil keluar dengan selamat saat pertempuran malam ini” ucap Paulo sembari menatap Abi dengan mata berbinar.
Sekilas dari pernyataan Paulo tersebut memberikan isyarat kepada Abi agar bisa keluar dari dalam gua dan berhasil membawa pulang Gavi dan Milo dengan aman.
Harapan yang begitu besar harus ditanggung oleh Abi, dalam beberapa hari ia berubah menjadi sosok pria yang terlihat lebih dewasa dalam mengambil keputusan.
Malam akhirnya tiba, saatnya Abi, Milo dan Paulo bersiap memulai penyelamatan Gavi. Abi menyelipkan belati tajam di pinggang Milo untuk berjaga jaga dalam keadaan darurat.
Kini mereka bertiga tengah berjalan menuju gua tempat orang suku Tamboyan itu hidup.
Suasana malam yang gelap hanya bertemankan cahaya bulan dan suara gesekan daun yang diterpa angin menambah ketegangan dalam raut wajah mereka.
__ADS_1
Setelah tiba di depan gua, Paulo berpamitan untuk naik keatas gua dengan membawa sebuah teropong yang dibuat oleh Abi sebelumnya. Paulo bertugas menjadi penyerang bila dua orang suku tamboyan itu keluar dari gua dengan menjatuhkan sebuah perangkap jaring.
Sementara Abi bertugas masuk kedalam gua dan mencari Gavi saat perhatian orang orang itu teralihkan.
Milo yang bertugas sebagai umpan untuk mengulur waktu, tengah berdiri di hadapan gua dan berusaha menyiapkan mental.
Akhirnya terdengar sayup sayup suara tawa keras orang orang suku Tamboyan itu dari kejauhan. Milo segera berpura pura terpeleset dan kaki terkilir.
“Ahhh, tolong...tolong!” teriak Milo untuk menarik perhatian 2 orang laki laki itu.
Dengan perasaan yang semakin dilanda rasa takut dan cemas, suara teriakan nya kian melemah dan bergetar diiringi air mata yang mulai bercucuran. Tak lama, tiba 2 orang suku itu menatap Milo dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan seperti melihat santapan lezat.
“Hallo nona manis, apa yang kamu lakukan ditengah hutan di malam hari seperti ini” ucap salah satu laki laki dengan senyum menggoda sembari mendekati Milo.
“T-Tolong aku tuan, kaki ku sepertinya terkilir” ucap Milo dengan ketakutan.
“Cantik, tubuhmu indah sekali. Lain kali hati hati kalau berjalan hahahaha. Mari biar aku bantu." ucap laki laki satunya dan mengangkat tubuh Milo dengan riang.
“Membawamu pada surga dunia sayang, hahaha” sahut kedua lelaki itu sembari tertawa lepas, seketika seluruh badan Milo merinding dan air mata ketakutan kembali bercucuran.
“Tok tok tok tok tok” suara pukulan kayu pada batu dibunyikan oleh Paulo berkali kali pertanda kedua orang suku Tamboyan itu datang mendekat.
Abi yang sudah masuk sedari tadi segera bersembunyi dibawah meja yang terdapat diruangan utama gua tersebut.
Kedua lelaki itu membawa Milo masuk kedalam gua. Melihat itu, Abi segera mengikuti mereka dari belakang dengan mengendap endap menyusuri lorong yang mengarah pada ujung gua.
Tepat disebelah kiri menuju ujung gua, Abi melihat sebuah pintu, melihat bahwa dua orang itu hampir menyadari keberadaannya, segera Abi memasuki pintu tersebut tanpa pikir panjang.
Beruntung pintu tersebut tidak dikunci. Saat masuk, Abi melihat sekelilingnya gelap gulita, hanya bau amis yang menyeruap yang dapat dia cium. Tak sengaja Abi terasa menginjak sesuatu yang keras dan panjang, awalnya Abi mengira bahwa itu hanya sebuah kayu, sehingga Abi melanjutkan berjalan kedepan.
Sekilas Abi teringat sebuah lampu elektrik yang dia bawa. Segera dia meraba sakunya, dan benar saja dia membawa lampu tersebut. Plak plak, dua kali pukulan keras membuat lampu itu akhirnya menyala.
“ha..ha..ha..ha...AAAAaa” suara nafas Abi terdengar sangat keras dan kemudian berubah menjadi teriakan yang berusaha ditutupi dengan tangan.
__ADS_1
Abi jatuh tersungkur saking kagetnya.
Matanya membulat sempurna saat menelisik seluruh ruangan. Abi tengah berada di tempat yang dipenuhi tulang belulang manusia. Yang ia injak tadi merupakan tulang kaki manusia sudah membusuk.
Saat ini, Abi yang jatuh tersungkur tak sengaja menyentuh tengkorak yang masih memiliki sisa sisa daging, sontak Abi kembali berdiri dengan gemetar dan tubuh yang membeku lemas.
Dalam ruangan itu, Abi mulai kehilangan kendali. Tanpa sadar dia berjalan mundur menuju dinding gua hingga dia kembali terjatuh karena tersandung sesuatu.
“G-Gaviii” ucap Abi yang kaget saat melihat temannya itu terbaring lemah diatas tumpukan tulang belulang.
“Gav..bangun gav!!” ucap Abi sembari menggoyah goyahkan tubuh Gavi yang dipenuhi luka memar.
Abi memeriksa denyut nadi Gavi dan terasa lemah, namun saat mendekatan jarinya pada hidung, Abi merasakan bahwa Gavi masih bernafas. Abi tersenyum bahagia dan memeluk sahabatnya itu seraya berderai air mata.
Segera Abi membopong tubuh lemah Gavi untuk dibawanya keluar dari gua. Perlahan Abi membuka pintu, dan melihat sepertinya kedua orang itu tengah fokus pada satu hal, karena agak jauh jadi Abi tidak bisa memastikan apa yang sedang dilakukan oleh kedua orang itu.
Perlahan tapi pasti, kini Abi dan Gavi telah sampai di pintu gua. Abi memanggil Paulo yang masih berjaga diatas
“Ini, kau bawa dulu Gavi bersamamu. Aku akan masuk dan menyelamatkan Milo” ucap Abi sembari memberikan Gavi yang masih tak sadarkan diri pada Paulo.
Dengan tergesa gesa dan pikiran campur aduk memikirkan hal buruk yang bisa saja menimpa gadis yang dia cintai itu, Abi berlari terang terangan masuk kedalam gua dengan kapak yang dia bawa.
Betapa terkejutnya Abi melihat kedua orang suku Tamboyan itu telah terkapar bersimbah darah dengan kepala yang sudah terputus. Seperti di penggal oleh sebuah pedang tajam.
Melihat kejadian itu seluruh tubuh Abi menjadi lemas, kapak yang dia pegang pun jatuh ketanah bersamaan dengan dirinya yang tersungkur sembari menatap kosong aliran darah segar dihadapannya.
Sesaat bayangan Milo menyadarkan Abi tentang tugasnya yang belum selesai untuk menyelamatkan Milo. Dengan bergontai gontai, Abi memaksa tubuhnya berdiri.
“Mil..Milo..LO DIMANA?” Teriak Abi sembari mencari Milo kesetiap sudut gua.
“MIL..TOLONG...LO HARUS KUATT” Abi sudah mulai tak kuat menghadapi situasi itu, matanya juga mulai buram.
......................
__ADS_1