Terjebak Konflik Dinasti Hylva

Terjebak Konflik Dinasti Hylva
24. Tengah malam


__ADS_3

Begitulah ceritanya, apa kau sudah puas mendengarnya?” ujar Huda.


Lelaki berusia 42 tahun itu menatap putranya yang duduk dengan tatapan kosong. Ia tak punya pilihan lain selain menyembunyikan hal ini dari Paulo, apalagi saat kejadian tersebut Paulo sedang berkunjung kerumah paman nya di luar suku.


“Lagi lagi aku merasa seolah tidak tahu apa apa tentang orang orang yang seharusnya paling aku tau segalanya tentang dia." celetuk Paulo.


“Sudahlah tidak usah berbasa basi. Saatnya aku pergi ketempat asalku, terimakasih karena telah melindungi dan menjaga rahasiaku selama ini, ketua suku.” ucap Isyah.


Hanya itu yang bisa ucapkan, dirinya sudah dirundung kecewa teramat sangat pada lelaki yang ia percayai. Paulo lebih mengedepankan rasa penasarannya ketimbang mengikuti ucapan Isyah yang berkata bahwa ia akan tau segalanya pada waktunya.


Mendengar ucapan Isyah, Paulo dengan sigap berdiri dan meraih lengan Isyah. “Kamu mau kemana? Apakah kamu akan meninggalkanku seperti ini?”


“Terimakasih atas segala cinta yang kau berikan untukku. Mulai sekarang lupakan aku dan mulailah hidup barumu.” Isyah menepisnya tangan Paulo dan meninggalkan nya dengan mata berbinar.


“Tidak, kumohon Isyah jangan tinggalkan aku. Apakah kau melupakan janji yang sudah kau buat untuk tidak meninggalkan ku selamanya?”


Ucapan Paulo menghentikan langkah Isyah.


“Isyah telah mati kau bunuh, yang hidup sekarang hanyalah Nyimas Rarapati. Masalah siapa yang ingkar janji, kurasa kau lebih tahu jawabannya.” Rarapati berucap tanpa menatap Paulo sama sekali. Ia pergi begitu saja dari rumah Paulo dan berjalan keluar desa.


“TIDAK ISYAH KUMOHON KEMBALILAH, AKU SANGAT MENCINTAIMU...MAAFKAN AKU SHK SHKS SHK” Paulo berteriak sembari menangis sejadi jadinya.


Namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur.


...----------------...


Pagi berganti siang, siang berganti malam. waktu bagaikan angin yang terus berhembus namun tak terasa jalannya.


Malam itu udara kuat menggebu pepohonan rindang di hutan yang gelap gulita, bercahayakan sorotan rembulan yang remang remang berbaur kabut malam yang menebal, Rarapati berjalan sempoyongan menerobos jalan setapak itu tanpa arah tujuan.


Tatapannya hanya kosong meratapi hubungannya yang telah kandas.


Rarapati enggan kembali pada Paulo. Bukan karena benci atau perasaan nya pada Paulo telah hilang. Tetapi ia terpaksa meninggalkan nya demi keselamatan Paulo sendiri. Ia rela mengesampingkan perasaannya demi sang kasih yang malah mementingkan ego nya sendiri.


Perlahan hujan turun mengguyur tubuh lemahnya, dia menengadah keatas dan mendapati semuanya terlihat gelap. Brakk.... Rarapati jatuh tak sadarkan diri ditengah hutan


Ditempat lain Gavi, Abi, dan Milo tengah terlelap dalam tidur nyenyak nya.


“Pergilah menuju ke timur hutan. Maka kamu akan menemukan apa yang kamu cari”

__ADS_1


“HAHHHH”


Gavi terperanjat kaget saat terbangun dari mimpi dalam tidurnya.


Menyadari setelah sekian lama pria misterius tidak memberinya petunjuk dan akhirnya sekarang dia datang juga. Gavi segera berlari menuju kamar Abi.


“Bi...bangun bi! Tok tok tok...Abi woi keboo."


“Apaan sih berisik banget malem malem gini.” sahut Abi. Ia keluar dengan tatapan tajam pada Gavi.


Tak lupa Gavi juga berlari menghampiri kamar sebelah abi, menggedor gedor nya dengan kuat.


“Mill...bangun mil...tok tok tok...mil darurat...tok tok tok.”


“Apaan sih Vi, berisik gue lagi mimpi liburan di Cappadocia.” sahut Milo. Gadis itu keluar dengan wajah bantal dan penampilan acakadut


“Ayo bi, mil, kita harus kehutan sekarang. Tadi gue kedatangan pria misterius lagi dalam mimpi gue, dia nyuruh kita ke timur hutan. Katanya disana kita bisa menemukan apa yang kita cari.” Ujar Gavi.


Gavi nampak heboh sendiri menanggapi mimpi yang baru saja ia alami.


“Hah sekarang banget nih?” Milo bertanya dengan ragu. Seolah ingin berkata bahwa ini sudah malam, hujan dan jalanan gelap pasti dingin berkabut, apa tidak bisa ditunda besok saja.


Gavi menarik tangan kedua sahabatnya dan segera keluar menyambangi kuda di kandangnya. Gavi menaiki kuda putih, sementara Abi membawa Milo menaiki kuda hitam.


Mereka keluar mengenakan mantel hujan karena diluar sedang hujan deras


“Kyaa kyaa kyaa” suara mereka memacu kuda di keheningan malam, menerobos angin yang terasa berhembus semakin kencang. Suasana gelap dan hujan lebat menambah kesan malam yang sangat mencekam.


Mata mereka tak berhenti mengamati sekeliling berharap menemukan sesuatu yang aneh.


Sekitar sepuluh menit memacu kuda menyusuri jalan menuju ke timur, akhirnya tatapan Gavi yang memimpin jalan menangkap sosok tubuh seseorang berpakaian putih yang terkapar di tanah.


“Abi, Milo didepan ada orang pingsan.” ujar Gavi


Gavi Milo dan Abi segera turun dari kuda. Sat menyambangi perempuan yang terkapar ditanah tersebut mereka merasa tidak asing dengan warna rambutnya yang mencolok. Gavi membalikkan tubuhnya yang tengkurap


“Isyahh...” ucap mereka serempak setelah mengetahui ternyata dugaan mereka memang benar.


Segera Gavi menggendong Isyah menaiki kudanya dan berjalan pulang kembali. Gavi merasakan tubuh Isyah yang menempel padanya terasa sangat panas disertai gumam gumamnya yang terdengar tak karuan.

__ADS_1


“Maafkan aku Paulo, aku terpaksa membohongimu. Maafkan aku.” racau Isyah.


“Aku harus kembali ke istana.” imbuhnya.


“Isyah? Apa kau sudah bangun.” tanya Gavi sembari melihat kebelakang badannya


Mendengar tak ada jawaban apapun dari Isyah, Gavi mempercepat laju kuda.


Kini, Gavi Milo dan Abi telah tiba di ambang pintu rumah. Gavi membopong tubuh Isyah yang basah kuyup memasuki kamar kosong dan membiarkan Milo mengganti pakaiannya.


Mereka juga berganti pakaian karena basah dan kotor, hingga kembali mereka berkumpul diruang tamu untuk mendiskusikan kejadian ini.


“Apa maksud dari mimpimu itu? Kenapa kita malah menemukan Isyah yang tergeletak di tengah hutan.” Abi memulai percakapan sembari menenguk secangkir teh hangat.


“Gue juga Gak tau Bi. Gue tadi sempet denger isyah meracau gitu, dia bilang mau kembali ke istana.” Ujar Gavi sembari menerawang kejadian sebelumnya.


Disisi lain Milo berdiri menatap keluar jendela seraya menyimak percakapan Gavi dan Abi.


“Kalian ngerasa aneh nggak sih sama paulo. Dia tiba tiba jarang kesini, terus kalau ketemu tatapan nya selalu sayu seakan ngerasa bersalah. Sekarang kita malah menemukan Isyah dalam kondisi seperti ini. Gue jadi curiga ada hal besar yang mereka sembunyiin dari kita.” ujarnya


“Gue kira gue doang yang ngerasa gitu. Semoga aja semua ini berkaitan sama apa yang kita cari selama ini.” ucap Gavi.


Mereka hanya membalas ucapan Gavi dengan anggukan dan senyuman penuh harapan. Mereka memilih tidur dan beristirahat menunggu mentari terbit esok pagi


...----------------...


Pagi ini Milo tengah berada dikamar Isyah. Mengompres tubuhnya yang masih sangat panas. Selama itu Milo hanya mendengar racauan Isyah disepanjang tidurnya. Milo terlihat sangat prihatin dengan keadaannya itu.


Saat Milo hendak beranjak pergi dari kamar, tiba tiba tangan Isyah menarik tangan Milo


“Isyah kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu.” tanya Milo


“Milo? aku dimana?" Tuturnya sayu.


“Kamu di rumahku saat ini, kami menemukan kamu kemarin pingsan ditengah hutan saat sedang hujan deras.” ujar Milo


“Terimakasih, lagi lagi kalian yang menolongku” ucap Rarapati sembari bangun dan menyandar di kepala ranjang


“Sudahlah jangan sungkan dengan teman sendiri. kalau merasa sudah lebih baik ayo keruang makan, kita makan bersama Gavi dan Abi.”

__ADS_1


......................


__ADS_2