
Ketegasan raja membungkam seluruh orang di istana, Mereka semua tertunduk diam nggan membantah perintah. Sementara itu Abi kembali menghela nafas panjang dan melanjutkan cerita.
“....Lalu orang berjubah hitam itu berhasil menancapkan belati di dada pangeran, aku berusaha menarik pangeran dari cengkraman orang itu namun ia menendangku dan mendorong pangeran ke dalam jurang, aku berusaha menggapai tangannya namun sudah terlambat. Ditambah lagi lelaki itu memukul leher samping ku dengan benda tumpul lihatlah......Kemudian aku tak sadarkan diri, saat sadar aku segera turun ke bawah namun tak ada apapun sehingga aku memutuskan untuk pulang dengan berat hati. Sesampainya di rumah, rupanya pangeran sudah ditemukan dan dalam keadaan sudah meninggal." Ujar Abi dengan mata berkaca-kaca.
“Maafkan kelancangan Nyimas ayahanda, namun Nyimas sudah menyelidiki tempat kejadian tanpa seizin ayahanda. Nyimas kembali ke atas tebing kemarin malam bersama Paman Dwicakra, lalu Nyimas menemukan beberapa barang bukti ini.” Ucap Rarapati
Rarapati berjalan menuju Kasim dan memberikan buntelan kain yang ntah isinya apa. Kasim segera menerima dan memberikan benda tersebut kepada Raja. Setelah itu Raja perlahan membuka isi buntelan tersebut dihadapan semua orang, terlihat lah isi didalamnya berupa beberapa barang bukti yaitu belati dengan ukiran khas timur tengah dan sebuah bulu merak dengan bercak darah.
“Hamba rasa yang mulia tahu siapa di aula ini yang suka mengoleksi barang barang dari timur tengah, bahkan ada beberapa orang di ruangan ini yang memang memiliki darah timur tengah." Dwicakra berkata lantang sembari menyisir seisi ruangan.
“Apakah kamu berusaha menuduhku dan Selir Nimaran?! Jelas jelas aku kemarin ada bersama kalian sedang membahas anggaran pembangunan desa baru!" Tukas Narama.
"Kenapa kalian berkata seperti itu? Apakah kalian berusaha menimbulkan perpecahan dalam keluarga kerajaan?! Pelakunya sudah jelas ada didepan mata. Mengapa kalian malah menuduh Aku dan kakak?"
Memang benar adanya jika Narama dan adiknya Selir Nimaran adalah anak dari orang pribumi yang menikah dengan putri saudagar kaya dari jazirah Arab. Ayah mereka dulunya adalah Kepala Menteri keuangan dan ibu mereka adalah putri dari seorang pedagang asal negeri timur tengah tersebut. Sepeninggal ayah mereka, Narama langsung naik jabatan menggantikan sang ayah.
"Iya yang mulia, kemarin hamba bersama menteri keuangan membahas anggaran desa baru saat kejadian tragis itu terjadi. Sementara untuk Selir Nimaran, Hamba rasa cukup mustahil untuk nya bepergian jauh tanpa seijin yang mulia dan ibu ratu. Jikalau pun keluar maka akan terdapat catatan yang di laporkan, namun hamba tidak menerima apapun." Timpal Raghyang.
Sementara mendengar perdebatan ini raja hanya bisa memijat kepala dengan satu lengan seraya memejamkan mata, berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
Ketiga sahabat juga hanya diam saling bertatapan. Tak disangka mereka bisa merasakan langsung suasana sidang dalam sebuah kerajaan yang sesungguhnya, mencekam dan penuh perselisihan.
"Apakah keluarga Menteri keuangan dan Selir Nimaran hanya berdua? Aku rasa tidak?!" Cibir Dwicakra.
Brak
"Hey! Sudah cukup kau menodai nama keluarga ku! Apa sekarang kau juga akan menuduh keponakanku yang sedang di asingkan!?" Narama berdiri seraya menendang kursi.
__ADS_1
"Justru karena dia sedang diasingkan dan tidak ada yang mengawasi gerak gerik nya jadi tidak menutup kemungkinan dia melakukan semua itu!" Seloroh Dwicakra.
"K-kalian pasti sedang berusaha menjebak putraku hks hks"
Ujar Nimaran dengan mata berkaca-kaca, perempuan itu bahkan menangis tersedu-sedu sembari menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Oiya kemarin kan di istana sedang ada acara penyambutan tamu sekaligus bertepatan dengan kematian pangeran Hardijaya, kemana saja Kakak kala itu? Apa Kakak pergi ke suatu tempat?” sindir Selir Martani.
“A-aku kemarin sedikit pusing jadi seharian tidur di kamar."
“Sepertinya Nima akhir akhir ini sering sakit, jagalah kesehatan Nima hidup kita masih panjang untuk saling membalas perbuatan sesama.” Celetuk Ratu.
“K-kenapa kakak bicara seperti-"
“Sudah cukup! Melihat semua saksi dan bukti yang ada, aku tidak bisa lagi memberikan pembelaan apapun pada Ambarawa.” ujar sang raja.
“T-tunggu Yang mulia. Amba tidak bersalah dalam hal ini, tolong yang mulia pertimbangkan lagi hks hks. Bagaimana mungkin Amba ku rela membunuh saudaranya sendiri, atas dasar apa dia mau melakukannya?” ujar Nimaran sembari menangis sedu sedan.
“Bukankah Raden Ambarawa sangat haus kekuasaan?” celetuk Dwicakra
“Diam Dwicakra, kau tidak berhak mengatakan hal seburuk itu tentang keponakanku.” Seloroh Narama.
“Justru karena dia keponakan mu yang tersayang harusnya kau mengetahui sifat aslinya seperti apa. Dia menjadi bersifat buruk seperti ini karena telah dimanjakan olehmu.”
“Sialan kau aku akan-"
“Diam! Diam ! DIAM!!! Kenapa kalian malah memperdebatkan hal yang belum tentu benar. Prajurit segera bawa anak itu hidup hidup kedepan ku. Kita akan kembali meneruskan sidang setelah dia ditemukan, begitu juga tiga orang ini tidak akan dibebaskan sampai Ambarawa ditemukan.” Raja beranjak meninggalkan aula dengan kesal.
__ADS_1
Semua orang bersimpuh mengantarkan kepergian Raja sembari berucap serempak "Baik Yang mulia."
Sementara itu sepeninggal yang mulia raja, Suasana didalam aula istana masih belum kondusif.
"Aku akan membalas penghinaan mu hari ini, Dwicakra!" Tegas Narama sebelum pergi meninggalkan aula dengan amarah yang kentara.
"Cih tidak tahu malu!" Dwicakra tersenyum miring menanggapi ujaran Narama yang ia anggap hanya celotehan semata.
Sementara disisi lain Ketiga sahabat kembali dipaksa kembali kedalam penjara yang gelap dan kotor itu. Mereka benar benar sudah putus asa dengan apa yang terjadi. Sebelum sepenuhnya luput pun ketiganya sempat melirik kearah Rarapati dan Ratu yang malah tertunduk malu nggan menatap mereka.
Rarapati dan Ratu tentunya merasa bersalah karena telah melibatkan orang yang tidak tahu apapun dan mereka harus menanggung semua penderitaan yang tidak seharusnya mereka dapatkan. Anak dan ibu tersebut juga kecewa Raja tidak langsung mengambil keputusan tegas.
Ketiga sahabat kembali hanya bisa merenungi nasib mereka yang terdampar di negeri antah berantah seperti ini, untuk bertahan hidup pun sangat susah sekarang malah terjerat konflik kerajaan yang semakin mempersulit peluang mereka untuk bertahan hidup.
"Gue benar benar capek sama semua ini, Apa pisau lo masih ada?!" Ucap Milo memecah keheningan penjara.
Abi tak bergeming, ia lebih memilih menatap cahaya obor yang mengkilat ditengah kegelapan dan dinginnya jeruji besi.
"Kita harus bertahan, jika kita mati saat ini nama baik kita akan menjadi buruk dalam sejarah. Bagaimana pun kasus ini pasti akan terekam dalam buku sejarah kuno." Sahut Gavi.
"Masabodo dengan nama baik, siapa juga yang akan percaya bahwa yang tertulis dalam sejarah itu adalah benar diri kita yang berasal dari masa depan." Tegas Milo.
Ketiga sahabat hanya bisa menghela nafas panjang sembari menunggu hari hari di penjara segera berakhir.
Tak lama, seorang penjaga datang membawa banyak makanan, selimut dan pakaian ganti untuk mereka. Diatasnya terdapat sebuah kertas bertuliskan kata maaf. Gavi, Milo dan Abi pun saling bertatapan, seolah mereka tahu siapa yang mengantarkan barang barang ini.
......................
__ADS_1