
Cukup lama menunggu, akhirnya Huda datang tergesa-gesa.
Tatapan Rarapati, Hardijaya dan tiga sahabat meliar, mencari keberadaan sosok orang yang dicari oleh Huda akan tetapi lelaki itu rupanya pulang seorang diri.
"M-maafkan aku Raden, Nyimas. Aku tidak bisa menemukan orang itu. Namanya Ki Ageng Durda. Sanak kerabat dan tetangganya mengatakan bahwa Ia sedang pergi keluar kota untuk menemui cucu dan anaknya. Beruntung Ki Ageng Durda telah pergi sebulan lalu, kemungkinan pulang besok atau lusa” Ujar Huda.
“Hfttt jauh jauh datang tapi yang dicari malah tidak ada... merepotkan saja.” gumam Hardijaya.
Bukan hanya Hardijaya yang kecewa, tentunya ketiga sahabat juga menampilkan raut masam diiringi dengusan kasar. Memang berharap lebih itu tidak baik, sewajarnya saja.
“Kalau begitu, siapkan saja rumah untuk kami. Kami akan tinggal di desa ini selama beberapa hari." cetus Rarapati.
"Baiklah Nyimas dengan senang hati."
“Kenapa harus menginap Nyimas, bagaimana dengan pekerjaan ku di istana yang tertunda?” celetuk Hardijaya.
“Akan melelahkan jika setiap hari kita pulang pergi dari ibukota ke desa ini. Tidak baik untuk kesehatan mu sebagai calon raja, Rai. Jika pekerjaan mu ada yang belum selesai kau pulang saja. Biar Nyimas yang menangani semua urusan disini.”
“Hmm baiklah Nyimas kalau begitu.”
“Kalian tinggal lah dulu disini bersama yang lain, Nyimas ingin jalan jalan keluar sebentar.”
Mendengar perkataan Rarapati, semua orang mengangguk seraya meratapi punggung gadis tersebut berjalan menjauh. Ntah kemana Rarapati akan pergi sebab ia memerintahkan Prajurit dan para dayang nya agar tidak ikut.
Rarapati berjalan seorang diri menuju ke ujung desa, tatapan nya mulai kosong karena tengah melintas berbagai hal dalam benaknya. Salah satunya mengenai kemana Paulo pergi.
Tanpa sadar langkah kaki Rarapati berjalan menuju sebuah rumah reyot diujung desa yang dulu dia tinggali. Sebuah insting berkata bahwa ia sangat merindukan tempat penuh kenangan tersebut, sebab itulah langkah kaki nya berjalan mengikuti suara hati.
“A-aku tahu kau pasti akan kesini lagi.” Ucap seorang lelaki yang tak asing tengah mabuk sembari berlari dan memeluk Rarapati.
Kondisi lelaki tersebut sangat memprihatikan. Seluruh tubuhnya berbau minuman keras, semakin kurus dan tatapannya seperti tidak ada semangat hidup
“Lepaskan! Lancang sekali kau menyentuhku, Paulo!” Rarapati langsung mendorong tubuh Paulo.
“Aku sangat merindukanmu! Tidakkah kamu merindukan aku juga, Isyah?”
__ADS_1
“Aku bukan Isyah! dia telah mati! Yang berada di hadapan kamu sekarang adalah Rarapati, putri kerajaan Hylva!” tegas Rarapati.
“Aku tidak peduli, siapapun namamu dan asalmu, kamu masih perempuan yang kucintai."
“Sadarlah!! DENGAN MENCINTAI ORANG YANG TELAH MATI KAU TIDAK AKAN MENDAPATKAN KEBAHAGIAAN APAPUN! LIHATLAH DIRIMU SEKARANG, KARENA CINTAMU KAU JADI BUTA.”
“Yahh, kau adalah belahan jiwaku, jika kau pergi maka hidupku tidak lagi berguna. Tetaplah disini, didalam hatiku. Mari kita pergi ketempat yang jauh dan hidup bersama lalu melahirkan beberapa anak yang sangat cantik sepertimu.”
Paulo bersungkur dan mulai menangis di bawah kaki Rarapati yang berdiri tegap menatap kedepan, kedua tangan Rarapati mengepal, berusaha menahan sesak dan pedih yang kentara.
Sebab kondisi Paulo yang semakin menjadi jadi membuat perasaan Rarapati semakin goyah. Semua ini terjadi bukan karena cintanya sudah memudar dan ingin meninggalkan Paulo, tetapi ia terpaksa melakukan semua ini demi keselamatan dan kebahagiaan Paulo sendiri.
“Kasta diatas cinta, jika benar cinta maka relakan. Kita punya perasaan sementara dunia punya aturan, Paulo." Dengan berat hati Rarapati berkata demikian.
Paulo mulai terisak dengan tangis yang mendalam.
Bukan hanya Paulo yang retak hatinya saat mendengar kata kata yang bagai tombak bermata dua tersebut. Air mata yang Rarapati tahan sekuat tenaga sedari awal pun tak bisa ia bendung lagi.
Rarapati hanya bisa membalikkan badan agar Paulo tidak melihat kelemahannya.
Rarapati beranjak pergi meninggalkan Paulo yang masih terisak dalam kenangannya.
Tak lama setelah merasa cukup jauh dari Paulo, Rarapati tidak kuasa lagi menahan kesedihannya. Ia menepuk dadanya yang terasa sesak dirundung rasa bersalah, suara tangis yang benar benar ingin diluapkan hanya ia tahan sampai tenggorokan,
Menyisakan suara kesedihan yang sangat mendalam di relung dada.
Kebahagiaan Paulo adalah bersama Rarapati, sedangkan kebahagiaan Rarapati adalah melihatnya bahagia dari jauhnya jangkauan pertikaian kerajaan.
Bagaimanapun Ayahanda nya tidak akan mengijinkan mereka bersama, yang disayangkan nya adalah ia terlambat mencegah perasaan mereka jatuh lebih dalam. Sehingga mau tidak mau Rarapati harus menyelesaikan sesuatu yang seharusnya tidak pernah dimulai.
...----------------...
Di tempat lain, tiga sahabat dan Hardijaya sedang berburu di tengah hutan. Gavi dan Milo sibuk mencari keberadaan Abi dan Raden yang tak kunjung datang padahal hari sudah mulai gelap.
“Gak tau nih mereka kemana, sebelumnya gue cuma liat mereka lagi ribut terus ngusung lomba buat nyari rusa. Setelah itu gue gak liat mereka lagi padahal langit bentar lagi gelap.” Ujar Gavi.
__ADS_1
“Kemana si ni dua bocah. Bikin orang khawatir aja.” sahut Milo.
Kedua sahabat tersebut tengah mengendarai seekor kuda seraya mencari keberadaan Abi dan Hardijaya menyusuri rimbunan hutan belantara. Tak lama berjalan mereka melihat sosok yang tak asing berdiri dipinggir sungai tengah melamun.
Gavi memacu kuda dan menghampirinya.
“Nyimas, apa yang kamu lakukan seorang diri disini? Ikutlah bersama kami mencari Raden dan Abi.” Ucap Milo.
“Memangnya mereka pergi kemana?”
“Tadinya sedang lomba berburu rusa sejak siang, namun sampai sekarang belum kembali jadi kami sedikit khawatir.” Sahut Gavi.
“Baiklah ayo aku ikut dengan kalian.”
Gavi dan Milo turun sembari mengikat kuda pada pohon. Kemudian mereka berbondong-bondong menyisir luasnya hutan yang sekiranya terdapat banyak rusa.
Namun seberapa lama dan seberapa jauh pun mencari tetap saja tak ada tanda tanda keberadaan Hardijaya dan abi sama sekali.
Kini Rarapati, Gavi dan Milo berdiri diatas sebuah tebing yang lembahnya cukup dalam. Ketiganya bingung harus mencari kemana lagi karena lembah ini adalah ujung dari hutan pinus yang biasa disinggahi manusia.
“Bagaimana jika kita turun saja ke lembah ini, aku dengar dibawah sana banyak rusa. Mungkin saja mereka kesana.” Seloroh Rarapati.
Gavi dan Milo mengangguk setuju.
Merekapun segera turun dari tebing menuju lembah yang terlihat cukup rimbun oleh pohon Pinus dan semak belukar.
Berulang kali mereka memanggil nama Hardijaya dan Abi namun tak ada sahutan, yang terdengar hanya suara burung dan gesekan dedaunan tertiup angin ditengah keheningan hutan sore
Tiba tiba Pandangan Milo menyipit pada dua sosok diatas tebing tempat mereka berdiri sebelumnya. “Bukankah itu Abi dan Hardijaya? Apa yang mereka lakukan disana?"
Pandangan Rarapati dan Gavi langsung berfokus pada titik yang dimaksud oleh Milo.
“HARDIJAYA!!” Teriak kompak dengan mata terbelalak saat melihat Hardijaya jatuh terpental dari atas tebing.
......................
__ADS_1