Terjebak Konflik Dinasti Hylva

Terjebak Konflik Dinasti Hylva
16. Hampir kehilangan


__ADS_3

“Aku tidak bisa menemui kalian beberapa hari kedepan, karena sedang tidak enak badan. Maafkan aku tidak bisa membantu kalian dulu, namun jika kalian membutuhkan makanan kalian boleh mengambil dari kebunku sebanyak yang kalian mau. Dari Paulo.” ucap Abi.


“Yahh, sekarang kita juga gabisa apa apa. Anggap aja dulu waktu libur, kita santai santai aja dulu.” ucap Gavi.


“Nah betul, aku benar  benar lelah dengan kejadian beberapa hari terakhir ini. Rasanya setiap detak jantungku hanya memikirkan hidup dan matinya kita dihari besok.” imbuh Milo.


“Yoshhh....Sudah diputuskan, mari kita berburu kelinci di hutan. Yang berhasil pertama mendapatkannya tidak akan memasak atau beberes selama 3 hari.” ucap Abi dengan semangat.


“Oke.....gass” sahut Gavi dan Milo.


Kini mereka bertiga tengah berpencar di hutan. Abi mengambil arah timur, Gavi ke selatan, dan Milo ke barat. Mereka fokus mengendap ngendap disemak semak berharap menemukan seekor kelinci disana.


Disisi lain Milo malah tampak duduk santai diatas sebuah pohon berry sembari memakan buahnya.


“Giat banget mereka nyari, kaya bakal langsung dapet aja.” ucap Milo yang nampak tidak memperdulikan lomba yang diusung Abi itu.


Tiba tiba Milo melihat seekor anak kelinci tengah menggigit tanaman dibawah pohon berry yang dia naiki. Sontak Milo memperhatikan gerak gerik kelinci tersebut.


“Heppp.. kena Lo hahaha.” ucap Milo sembari loncat dari atas pohon dan menangkap kelinci itu. “memang keberuntungan ga pernah salah sasaran” imbuhnya.


Milo segera berjalan menuju tenda, wajahnya nampak ceria mengingat pasti teman temannya belum ada yang bisa mendapatkan kelinci.


“Yess, hari ini gue tinggal makan dan rebahan doang” ucap Milo.


“Lama banget Lo nangkep kelinci doang, dapet berapa ratus?” ucap Gavii yang sedari awal sudah berada didepan tenda dengan 2 kelinci ditangannya.


“Lohh ko Lo cepet banget nangkapnya. Pasti curang Lo ya” gerutu Milo.


“Apaa?? Gak terima kalah? Hahahaha.” ejek Gavi.


“Dih apaan si Lo, gak jelas.” Seloroh Milo.


Hari mulai sore, perut Gavi dan Milo mulai keroncongan. Namun, Abi belum juga kembali. Ntah kemana Abi pergi, tidak mungkin dia tersesat didalam hutan yang sudah sering mereka lalui, apalagi mengingat bahwa Abi memiliki ingatan yang sangat tajam.


“Duhh Abi kemana sih, udah sore begini ko belum juga balik.” Milo mulai khawatir.


“Apa kita cari aja ke hutan, mumpung masih agak terang?"


Mereka berdua memutus masuk kedalam hutan menyusuri jalan setapak ke arah timur berharap menemukan jejak Abi disana.

__ADS_1


“ABII LO DIMANAA?” teriak Gavi dan Milo mencari keberadaan Abi.


Dari jalan setapak itu, Milo melihat beberapa meter kearah kanan terlihat seperti ada seseorang terbaring di tanah.


“Abi!” Milo histeris melihat kondisi Abi dengan tubuh membiru seolah terkena racun.


Gavi dan Milo segera membopong tubuh Abi menuju tenda.


Sesampainya di tenda mereka dengan gelisah memikirkan cara untuk menyelamatkan Abi, mengingat racun ditubuhnya takut menyebar lebih luas.


“Gak ada cara lain, gue harus ke desa terdekat dan mencari tabib.” ucap Gavi.


“Tapi gimana kalau ke tangkep sama anak buah ketua suku?”


“Tenang aja Mil, gue janji gak bakal balik kesini sebelum bisa nemuin tabib.” ucap Gavi sembari berlalu pergi.


Gavi berlari menerobos hutan, menyusuri jalan setapak menuju desa terdekat. Mengingat kondisi temannya yang takut semakin memburuk, ia tak menghiraukan rasa takutnya di kesunyian hutan disertai gelap nya malam.


Hari mulai larut malam, langkah kaki Gavi mulai tertatih lelah seraya menyambangi setiap rumah yang ia lalui.


“tok tok tok...permisi.”


Namun Gavi pantang menyerah, ia terus mengetuk satu persatu rumah warga disana.


“Permisi...ada orang didalam? Aku sedang mencari tabib.”


Lagi, seperti sebelumnya tetap tidak ada yang merespon teriakannya. Sebenarnya Gavi merasa sedikit heran, kenapa warga tidak ada yang menjawabnya sama sekali, bahkan kampung itu terasa sangat sepi seperti tidak ada kehidupan sama sekali.


Gavi berusaha tak menghiraukannya, ia kembali berjalan menerobos derasnya hujan hingga nama Paulo terlintas di benaknya.


Di tempat lain Milo meratapi kondisi Abi yang memprihatinkan, diluar hujan turun deras membuatnya harus menutup rapat tenda. Ia segera menyelimuti Abi dengan beberapa lapis kain yang ada.


“Uhuk uhuk...” Abi terbangun sembari batuk.


“Bi... akhirnya Lo bangun. Gue khawatir banget sama Lo.” Milo berkaca kaca.


Abi yang menoleh kearah Milo dengan tersenyum memperlihatkan darah ditangannya yang keluar saat batuk. Sontak hal itu membuat Milo semakin kaget dan gelisah.


“M-mil jangan nangis, m-mungkin ini saatnya gue pergi. G-gue juga udah cape.” ucap Abi terbata bata.

__ADS_1


“Lo jangan ngomong gitu bi, gue sama Gavi masih butuhin Lo hks hkss...hkss.” Milo tak kuasa lagi membendung air matanya.


“Gavi laki laki yang sempurna, dia pasti bisa ngelindungin perempuan yang gue cintai sejak dulu ini. Lo harus hidup bahagia sama dia ya.” lirih Abi sembari mengacungkan jari kelingkingnya.


“A-apa yang Lo maksud bi? Plis lo harus bertahan, Gavi lagi nyari tabib ke desa hks hks.”


Jawaban Milo itu hanya disambut senyuman oleh Abi. Dia kembali batuk, namun kali ini busa keluar banyak dari dalam mulutnya dan dalam sekejap Abi tak sadarkan diri.


“ABII...BANGUN BII BANGUN.” Gadis itu semakin histeris menyadari Abi malah tak sadarkan diri.


...----------------...


“tak tak tak tak tak...”


Terdengar banyak riuh suara kaki kuda yang mendekat.


Gavi menghentikan langkahnya, ia segera menoleh dan menyambangi asal suara, berharap menemukan seseorang yang bisa memberinya pertolongan.


Gavi melihat sekitar 4 orang laki laki mengendarai kuda dan beberapa prajurit mengikuti mereka dari belakang dengan berjalan kaki.


Seorang laki laki menggunakan pakaian seragam hitam terlihat seperti terbuat dari bahan yang tidak tembus air menutupi seluruh tubuhnya. Dapat dipastikan bahwa laki laki tersebut adalah pemimpin rombongan.


“Permisi tuan....tolonglah berhenti sebentar aku sangat membutuhkan bantuanmu.” ucap Gavi sembari membentang kedua tangan untuk menghadang jalan rombongan tersebut.


“Menjauhlah dari kami! Jangan ganggu pangeran.” ucap salah satu pengawal sembari mendorong tubuh Gavi hingga tersungkur.


Rombongan itu memang berhenti untuk sejenak, namun Gavi tidak menyangka bahwa pemimpin mereka ternyata adalah seorang pangeran.


"Masabodo yang penting ada yang bisa nolongin Abi." batin Gavi.


“Kumohon tuan, temanku sedang sekarat oleh racun. Aku sedang mencari tabib tapi tidak ada warga yang membukakan pintunya.” ucap Gavi sembari bersungkur dan memohon.


“Gara, Hima. Ikutlah kalian dengan lelaki itu dan selamatkan temannya. Jangan kembali padaku jika kalian tidak berhasil!” Ucap pangeran sembari menunjuk seorang laki laki dan perempuan dibelakangnya.


“Ba-baik yang mulia.” sahut dua orang itu yang ternyata merupakan tabib kerajaan.


“Terimakasih yang mulia....terimakasih.” ucap Gavi berkali kali sembari menundukkan kepala.


Rombongan itupun kini berlalu pergi diikuti Gavi menaiki kuda bersama Hima dan Gara. Mereka menerobos hujan deras yang terus mengguyur, suara kaki kuda menginjak jalanan yang becek juga menjadi melodi ditengah sepinya hutan kala itu.

__ADS_1


......................


__ADS_2