Terjebak Konflik Dinasti Hylva

Terjebak Konflik Dinasti Hylva
55. Klarifikasi


__ADS_3

Dari luar jendela balkon, Gavi melihat Milo tengah duduk dipojok kamar sembari memeluk lutut dan menunduk seolah terlihat seperti sedang menangis. Gavi yang tadinya ingin mengetuk pintu balkon merasa tidak enak hati hingga langkahnya terhenti.


Gavi mengintip dari balik jendela dan memandangi Milo yang terus menangis sembari mengacak acak kasur dihadapannya, benar-benar membuatnya semakin merasa bersalah. Tak lama dia melihat Milo hendak mengambil gunting dan mengarahkannya ke pergelangan tangan.


“Mil...woi apa yang mau Lo lakuin?! Jangan gila mil! Buka pintunya tok tok tok!" Teriak Gavi dengan panik.


Dari dalam kamar, Milo menatap Gavi dengan sayu. Dia hanya tersenyum hangat sebelum jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri.


“Mil... aduhhh!!” Gavi berusaha membuka pintu yang terkunci rapat.


“Brakk...” Abi tiba tiba masuk dengan mendobrak pintu depan kamar Milo.


“Mil...ya ampun badan Lo panas banget!” ujar Abi yang dengan kaget dan langsung membopong tubuh gadis itu menuju ke atas ranjang.


“Bi, bukain pintunya bi!” teriak Gavi dari balkon.


Namun Abi hanya menatap Gavi sekilas dan menghiraukannya, dia malah pergi ke dapur untuk menghangatkan air.


“Sialan Abi!” maki Gavi sembari berusaha kembali ke balkon kamarnya. Dengan tergesa gesa dia berlari menuju kamar Milo dan memegang erat tangannya.


“Mil, maafin gue mil! Gue gak tau perasaan Lo yang sebenarnya.” lirih Gavi.


Gavi menatap sekujur tubuh Milo yang nampak masih basah serta suhu tubuhnya yang terasa sangat panas.


“Minggir Lo! Gue mau bersihin badannya.” Ucap Abi yang datang membawa se ember air hangat dan sebuah kimono.


“Gila Lo ya bi? Sahabat sih sahabat, tapi inget dia juga cewek!” ketus Gavi.


“Terus mau Lo apa? Biarin dia dalam kondisi kayak gini sampai keadaannya makin buruk? Pake otak Lo!” sentak Abi.


“Terus gimana? Lo mau mandiin dia disini gitu?”


“Mending Lo keluar sekarang deh, adanya Lo disini malah makin ngabisin oksigen!”


“Bi sumpah Lo jangan macem-macem, dia sahabat kita!”


“Ihh berisik Lo. Nih iketin kain ini buat nutupin mata gue!”


Gavi yang mengerti dengan perintah Abi tersebut segera Memakaikan kain itu hingga menutupi seluruh mata Abi.


“Oke udah aman, keluar Lo sekarang!”


“Iya-iya, awas Lo ya inget jangan macem-macem!”


Gavi berlalu meninggalkan mereka dan menutup pintu. Sementara itu di dalam ruangan, Abi mulai gelisah dan berkeringat dingin hingga kedua tangannya bergetar hebat saat memeras kain kompresan.


“Gue bisa! Ini semua demi Milo!” gumamnya.

__ADS_1


Perlahan tangan Abi mulai menjamah inci perinci tubuh gadis yang terbaring lemah tersebut. Jantungnya berdebar kencang, dia menelan salivanya dengan keras. Bagaimanapun dia adalah laki-laki normal, sekalipun mengelap tubuh Milo dengan kain namun Indra di tangannya mampu merasakan kelembutan kulit gadis tersebut.


Dengan susah payah akhirnya Abi berhasil melepaskan setiap pakaian basah yang menempel pada tubuh Milo dan menggantinya dengan kimono.


“Vi...buka pintunya vi, gue udah selesai!” Tak lama Gavi masuk dengan terburu-buru.


“Wah gila, keren Lo bisa ganti pakaiannya dengan mata tertutup!”


Abi bangun dari duduknya, nampak wajahnya sangat pucat, kakinya bahkan kesulitan berjalan hingga Gavi menahannya.


“Eh eh kenapa Lo?”


“Lemes banget gue, Lo kira nahan nafsu gampang!” ujar Abi sembari berjalan keluar kamar dengan tertatih tatih


“Oiya, Lo tungguin dia dulu. Gue mau ke kamar mandi dulu.” Imbuhnya.


“Yaelah, iya iya.” Sahut Gavi.


Kini Gavi duduk disamping ranjang Milo sembari menatap wajahnya yang pucat, sesekali dia mengganti kompresan dengan air hangat yang baru dan berlangsung Hampir 2 jam selama Milo masih tak sadarkan diri.


“Duh mil, bangun dong. Jangan bikin gue khawatir.” Gavi tertunduk memegang erat tangan Milo.


Tak sadar Milo sudah bangun sedari tadi, melihat Gavi memegang erat tangannya, dia segera menepis dan melepaskan genggaman tangannya itu.


“Mil, akhirnya Lo bangun juga.”


“Maaf mil. Gue bener-bener cuma nganggep Lo sebagai sahabat. Gak lebih.” Ujar gavi.


“Iya gue tau. Gue cuma butuh waktu!”


Milo nampak meraba tubuhnya yang terasa agak aneh.


“Loh kok gue pake kimono? GAVII! Lo yang ganti baju gue ya!" Teriak Milo sembari menguatkan selimutnya.


“Nggak-nggak, bukan gue!”


“Bajingan Lo! Nyari kesempatan dalam kesempitan ya!”


“Sumpah bukan gue yang ganti. Tadi Abi yang ganti baju Lo, tapi dia pake penutup mata kok. Makanya Cuma bisa makein Lo kimono.”


“Bener Lo ya!?”


“Sumpah mil sumpah deh.”


“Terus Abi nya mana sekarang?”


“Tadi katanya mau ke kamar mandi sebentar, cuma udah lama belum balik balik lagi”

__ADS_1


“Hayo lagi nungguin gue ya Lo pada.” ujar Abi yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan membawa semangkuk bubur dan obat penurun demam.


“Gue lama abis bikinin makanan buat tuan putri. Tuh abisin dulu." Ujar Abi sembari menyodorkan makanan yang dia bawa.


"Maafin gue, gara-gara ngajak Lo ujan ujanan jadinya demam kan Lo.” Imbuhnya.


”Iya gakpapa bi, yang penting kita sama-sama have fun. By the way makasih udah gantiin baju gue.”


“Yaelah gantiin baju doang. Kecil!”


“Kecil-kecil, sampe kaki lemes gabisa jalan ya bi.” sahut Gavi


Mereka pun tertawa lepas bersama sama, menikmati suasana menjelang sore sembari mengobrol ngobrol di atas kasur. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu untuk bercerita santai tentang masalalu seperti sekarang ini.


“.....Gue gak nyangka ternyata cewek yang tadi itu Ariel, mantan pertama Lo itu.” Celetuk Abi.


“Yah kita gak sengaja ketemu di Valentino. Karena dia Dateng sendiri dan minta ditemenin ya masa gue tolak. Eh lama kelamaan gue juga jadi flashback, dia juga topiknya ngebahas masa-masa SMA terus.”


“Jangan-jangan tragedi yang kue dari Lo malah dia dijual ke mba kantin juga diungkit ya, hahaha.” Imbuh Milo.


“Haha bener banget, jujur gue juga masih gak bisa lupain dia. Pas dia minta kontak WhatsApp pun gue gak nolak, harapan gue buat balik sama dia juga mulai tumbuh lagi.” Ujar Gavi dengan mata berbinar.


Mendengar cerita itu Milo hanya tersenyum, sementara Abi menatapnya dalam. Abi menyadari bahwa senyuman hangat Milo itu adalah sebuah kepalsuan.


“Terus Lo kedepannya mau gimana sama dia?” Tanya Abi.


“Gak tau, gue cuma mau kenal dia yang sekarang lebih jauh dulu.”


“Yaudah deh gue doain semoga hubungan kalian makin baik.” sahut Abi


“Sekarang mending kita beres beres barang yu Vi, balik. Gaenak numpang dirumah orang terus hehe.” ucap Abi


“Lah nggak ko santai aja, gue dirumah juga sendirian tiap hari.” sahut Milo


“Bener yang di ucapin Abi, gaenak kalo lama-lama.” Gavi dan Abi pun bergegas menuju kamarnya dan membereskan barang barang mereka.


Sekitar 20 menit kemudian Gavi dan Abi turun kebawah dengan barang barangnya, nampak Milo sudah menunggu mereka di garasi untuk mengucapkan selamat tinggal.


“Sampe ketemu lagi nanti ya mil, kalo mau nongkrong kabarin!” ujar Gavi sembari memeluk dan berpamitan dengan Milo.


“iya Vi nanti gue kabarin.”


“Dah mil banyakin istirahat dan jangan lupa minum obat. Sampe jumpa besok malam di Resto Bukstart jam 8 ya.” Bisik Abi sembari memeluk Milo dan bergegas memasuki mobilnya.


Mendengar ucapan Abi tersebut Milo nampak tertegun dan mematung, hatinya seolah mulai tergerak dengan perlakuan Abi terhadapnya selama ini.


......................

__ADS_1


__ADS_2