
Mereka berjalan menuju ruang makan, Isyah yang nampak masih lemah berjalan dipapah oleh Milo. Mereka menemui Gavi dan Abi yang sedang makan.
Sejenak pandangan Rarapati mengamati sekeliling ruangan, Ia merasa sedikit tidak aneh dengan interior tempatnya menginjakkan kaki, seperti sangat mirip dengan tempat ia sering bermain semasa kecil dulu.
Disisi lain, Abi dan Gavi yang menyadari kedatangan Isyah menghentikan aktivitas makan nya dan beralih menatap gadis tersebut.
“Isyah, bagaimana kondisimu?” celetuk Gavi.
“Lebih baik dari sebelumnya. Terimakasih Gavi Milo Abi. Kalian sudah menyelamatkan aku berkali kali." Suara Rarapati terdengar sayu dan serak.
“Hanya kebetulan saja kami sedang lewat sana. Ayo duduk dan makan bersama kami” ujar Abi.
Sebelumnya ketiga sahabat telah sepakat untuk menyembunyikan masalah mengenai pria misterius tersebut, Supaya mereka bisa lebih mengamati kasus ini apakah benar ada hubungannya dengan Isyah atau tidak.
Kini mereka makan bersama diatas sebuah meja makan yang dipenuhi oleh makanan enak masakan Milo. Gadis itu benar benar pandai memasak, ibunya yang merupakan keturunan eropa tepatnya dari Rusia memang sangat hobi mengolah makanan, hal itu seperti nya menurun pada Milo.
Lagi, Rarapati mendapati piring emas yang mereka gunakan untuk makan memiliki lambang Kerajaan Hylva. Lambang yang sudah lama tak ia lihat.
“Aku sedikit bingung, sejak kapan kalian pindah kerumah ini dan bagaimana kehidupan kalian bisa sangat lebih baik seperti ini dalam sekejap?” Seraya mengunyah makanan, ia berusaha mencari jawaban atas pertanyaan yang menggunung di benak nya.
“Ahh itu, beberapa hari lalu kami menyelamatkan seorang pria yang tenggelam dan tak sadarkan diri di sungai. Kami membawa nya ke tenda dan memberikan sedikit pengobatan, Tak disangka pria itu sangat baik hati dan berasal dari keluarga saudagar kaya. Dis memberikan kami hadiah berupa rumah, pakaian, kuda, dan kebun sebagai bentuk balas budi.” Ujar Milo.
Lagi lagi pandangan Isyah tertuju pada satu titik di jari manis milo. Cincin yang dia gunakan juga nampak tidak asing dimata nya, ia sangat kenal dengan desain dan bentuknya yang tidak mungkin ada dua.
“Siapa nama laki laki itu dan darimana dia berasal?” Rarapati mulai menyipitkan matanya.
“Namanya Arya, kami lupa menanyakan asalnya. Hanya saja dia sempat bercerita bahwa dia berasal dari kota, datang jauh jauh kesini hanya untuk menemui keluarganya yang tinggal di suku Asmat.
“Uhuk uhuk uhuk” Rarapati tersedak makanan.
Sepertinya dugaan Rarapati mengenai identitas laki laki tersebut benar. Ia sampai tersedak karena terperanjat kaget.
“Pelan pelan Isyah, ini minumlah” ucap Milo sembari menyodorkan segelas air.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
Dari luar terdengar seseorang datang mengetuk pintu. Sejauh ini tidak ada tamu lain yang datang singgah ke rumah mereka, ntah siapa yang datang kali ini.
Milo bergegas keluar untuk membukakan pintu. Melihat sosok yang tengah berdiri di hadapannya itu tentu saja ia tak asing.
“Arya, kebetulan sekali. Ayo masuk kami sedang makan bersama.” ujar Milo.
Ntah takdir tuhan atau memang hanya kebetulan, Arya datang tepat disaat Rarapati tengah memikirkan identitas lelaki tersebut.
“Oiya? Baiklah, aku juga sudah lama ingin merasakan masakan mu.” sahut Arya
Lelaki itu berjalan dengan cepat menuju meja makan, ia sudah sejak lama ngidam makan masakan buatan Milo.
“Teman teman ada Arya datang kerumah, kebetulan sekali ya.” ucap Milo.
“Halo semuanya apa kab...”
Degg
Ucapan Arya terhenti saat melihat perempuan yang duduk disamping Milo tengah menatapnya dengan lekat.
Perkataan Arya itu sontak membuat Gavi Milo dan Abi saling bertatapan heran, sementara Rarapati sendiri malah tertunduk dan tersenyum miring.
“Haha benar benar suatu kebetulan, sepertinya memang ini sudah saatnya semua berakhir.” ujarnya
“Apa maksudnya Arya? Kenapa kau memanggil Isyah sebagai kakakmu?”
Abi spontan mengutarakan pertanyaan di benak nya, mewakili Gavi dan Milo yang juga menanggapi ucapan Abi dengan anggukan.
Mendengar pertanyaan Abi pun, Arya hanya terdiam menatap kakaknya. Membuat suasana hening untuk sesaat.
“Arya adalah adik kandungku.” ucap Rarapati memecah keheningan
“APAAA?”
Serentak diucapkan Gavi Milo dan Abi yang terperanjat kaget dengan pernyataan yang baru saja mereka dengar.
__ADS_1
“Karena beberapa hal, kami harus bertemu secara diam diam dan menyembunyikan status kami.”
“Tapi kenapa?” tanya Milo
“Ceritanya sangat panjang, sekarang aku harus pulang dulu ketempat asalku dan menyelesaikan beberapa urusan. Ayo Rai kita pulang.” ucap Rarapati sembari menggandeng Arya
“Oiya, terimakasih atas kemurahan hati kalian. Aku berjanji akan datang kesini dengan resmi dan memberikan kalian imbalan yang pantas.” Imbuhnya.
Arya dan Rarapati berlalu pergi dari hadapan mereka, sementara mereka masih tertegun tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi, mereka hanya saling bertukar tatapan tanpa saling berbicara.
...----------------...
Hardijaya dan Rarapati menunggangi kuda melaju dengan cepat menyusuri hutan.
“Apa yang Nyimas lakukan disini, dan kemana kita harus pergi.”
Sedari tadi Hardijaya menahan gejolak pertanyaan tersebut dalam benaknya saat melihat wajah kusut Rarapati yang seolah nggan diajak berbicara.
"Mereka adalah teman temanku, sudah dua kali mereka menyelamatkanku dari maut. Kudengar Rai kemarin tenggelam di sungai, bagaimana kondisimu? Apa yang terjadi sebenarnya." Rarapati memutar arah pembicaraan.
“Ahh mereka sudah menceritakan nya. Ntah lah sebenarnya saat itu kuda yang Rai tunggangi tiba tiba kaleng kabut kemana mana, jadi Rai terpental ke sungai. Akhir akhir ini Rai sudah melakukan pencarian kuda Rai yang sepertinya ikut hanyut, setelah ditemukan kuda Rai sudah terbujur kaku dengan kulit mengerut, dia mati dalam keadaan berbusa dan tubuh membiru seperti diracuni.” ujar Hardijaya.
Rarapati menghela nafas panjang, ia tahu bahwa kejadian itu pasti bukanlah sebuah kecelakaan semata. Ini adalah saat yang tepat baginya untuk mengungkap kebusukan para musuhnya dihadapan Raja.
“Berarti semua itu adalah ulah dari seseorang yang ingin membunuhmu. Sekarang juga kita ke istana, aku akan berbicara dengan Ayahanda.” ucap Rarapati
“Apa? Kita ke istana sekarang? Apakah Nyimas yakin.” tanya Hardijaya yang nampak kegirangan.
“Tentu, aku sangat merindukan Ayu. Lagipula penyamaran ku di desa sudah terbongkar.” sahutnya
“Baik Nyimas, ayo segera kita pulang. Aku tidak sabar melihat wajah selir selir dan anak anak mereka kaget melihat kemunculan Nyimas.”
Hardijaya sembari memacu kudanya lebih cepat, ia sudah tak sabar ingin segera sampai di istana.
Setelah sekitar 2 jam memacu kuda menembus hutan dan ladang persawahan, mereka akhirnya tiba di ibu kota. Mereka melalui perumahan penduduk, pasar, balai dan tempat umum lainnya menuju istana.
Sontak seluruh warga kaget dan heran melihat dua orang yang menunggangi kuda itu nampak tidak asing. Namun karena mereka menggunakan pakaian biasa jadi tidak ada yang mengenali mereka.
__ADS_1
......................