
“A-apa yang kau katakan Isyah. Jangan dengarkan ucapan ayahku, ayo kita pergi dari sini.” ucap Paulo seraya berdiri dan menarik tangan Isyah.
Namun gadis itu langsung menepisnya dengan ratapan kecewa.
“Diam...semua ini salahmu. Kau sudah melanggar janji untuk tidak memberitahu siapapun tentang apa yang aku ceritakan.” ujar Isyah
Air mata mulai berderai membasahi pipinya. Seraya tangan mengepal kuat dress nya yang kusam, ia tertunduk dan memalingkan wajah enggan menatap Paulo.
“Apa sebenarnya perjanjian kalian, apakah sepenting itu sampai aku harus merelakan kehilanganmu hanya untuk mengetahuinya?” Paulo tengah dirundung penasaran, ia meraih bahu Isyah dan menarik nya agar tubuh mereka saling berhadapan.
“Aku sudah mengatakan padamu bahwa semuanya memiliki waktu yang tepat masing masing. Namun kau terlalu gegabah.” jelas Isyah.
Seharusnya Paulo mengerti dari kata kata Isyah. Isyah sudah menjelaskan berulang kali bahwa semuanya memiliki waktu nya masing masing, tidak ada hal yang berhasil bila diraih dengan buru buru. Namun Paulo tetap bersikeras ingin mengetahui perjanjian tersebut.
“Jelaskan padaku ayah, apa sebenarnya perjanjian kalian! Aku bisa gila memikirkan semua ini” ucap Paulo sembari menggoyah goyahkan pundak sang ayah.
Isyah sudah sangat kesal dengan tingkah Paulo, ia lebih memilih berbalik badan dan menghela nafas panjang.
“Baiklah aku akan menceritakannya....lagi pula dia yang memulai terlebih dahulu melanggar janjinya..” ujar Huda.
Sontak Isyah berbalik seraya terperanjat kaget dan berkata
"Huda! Jangan lancang kau!"
Namun Huda hanya menatap Isyah sekilas, Ia tetap menceritakan kisah perjanjian lama tersebut.
...----------------...
~3 tahun lalu (Lanjutan Tragedi pembantaian)
Setelah seluruh pasukan Suku Asmat berhasil melarikan diri dari tempat peperangan. Mereka dihantui rasa takut. Mereka berjaga setiap hari dengan senjata penuh demi menghindari hal yang tidak tidak.
Bagaimanapun suku Asmat telah lancang menyakiti putri mahkota dan seorang pangeran.
Tepat dihari ke-4 setelah pembantaian, benar saja. Sekelompok besar prajurit dari istana datang mengepung suku Asmat dengan senjata penuh. Suku Asmat yang terkepung selain kalah senjata tetapi juga kalah jumlah, dengan terpaksa mereka harus mengibarkan bendera putih.
__ADS_1
Huda, Astra dan seluruh tetua desa berkumpul di depan rumah Huda, Menunggu kedatangan pemimpin sang jendral istana untuk sekedar berdiskusi.
Pemimpin pasukan istana pun turun dengan anggun dari kereta kencana setelah melihat bendera putih berkibar.
Siapa sangka, rupanya pemimpin pasukan istana adalah seorang wanita cantik berparas rupawan. Mahkota dengan 4 permata merah di kepalanya terlihat sangat indah dan berkilauan.
Rambut pirangnya yang tergelung sebagian, dan sebagainya lagi terurai indah dihiasi untaian bunga melati beserta jubah tebal bermotif batik dengan warna biru dongker.
Dari kulit hingga bentuk tubuh yang nyaris sempurna, benar benar terlihat seperti bidadari. Ia berjalan anggun menuju kedalam rumah ketua suku diikuti pelayan pelayannya.
Keanggunannya disertai dengan wibawa tegas, seluruh prajurit membungkuk saat perempuan tersebut keluar. Para dayang pun mulai mengikuti langkahnya, membawa wewangian yang semerbak harumnya sangat sejuk dan tenang.
“Apakah kau yang menyakiti kedua anak anakku?” ujar perempuan itu. Tuturnya pelan namun seolah marah.
“Y-yang mulia Durwiasih." mata Huda membulat sempurna, kaki nya bergetar hebat.
Begitu juga seluruh orang orang di belakang Huda. Mereka segera bersujud, enggan mengangkat wajah. Ketegangan di antara suku Asmat mulai terasa.
"M-Maafkan atas kelancangan hamba terhadap Nyimas Rarapati dan Raden Hardijaya, hamba benar benar tidak tahu bahwa mereka adalah keluarga kerajaan.” ujar Huda.
Pun sang ratu yang mulai berjalan dan berdiri tepat di depan Huda yang masih bersujud. Ia berkata dengan pelan namun penuh penekanan.
“Rasanya tanganku sangat gatal, ingin melempar kalian ke kandang singa kesayangan ku yang tengah kelaparan.”
Seketika ucapan sang ratu membuat Huda dan seluruh sesepuh Suku Asmat merinding. Mereka kembali bersujud berulang kali seraya serempak berkata. "Ampuni kami yang mulia!"
Terdengar suara dengan nada gemetar serta suasana yang semakin menegang. Sang ratu mengamati sekeliling, mendapati orang orang suku Asmat benar benar ketakutan dengan keringat dingin mulai bercucuran
“Cih, sayang sekali putriku malah meminta mengampuni kalian, namun dengan satu syarat.” Ucap Ratu Durwiasih dengan tegas , Ia mengangkat tangan memberikan isyarat kepada dayang.
Seolah paham, sang dayang pun segera mengambilkan kursi berlapis emas agar Ratu bisa duduk dengan tenang.
“Syarat apa yang mulia, hamba bersedia menerima syarat apapun asal yang mulia mengampuni nyawa kami.” ujar Huda.
“Ampuni kami yang mulia” ucap seluruh pasukan Suku Asmat seraya kembali bersujud berulang kali.
__ADS_1
“Ck, mengesalkan!" Sang Ratu hanya berdecak kesal.
"Kemarilah Nyimas!” Seruan ratu memanggil Nyimas Rarapati turun dari kereta kencana yang sama dengan sang Ibunda.
Nyimas Rarapati berjalan dengan tatapan angkuh. Penampilannya sangat berbeda dengan terakhir kali Huda bertemu dengannya saat tragedi pembantaian yang hanya mengenakan pakaian berburu biasa.
Kali ini Nyimas Rarapati mengenakan pakaian kerajaan lengkap dengan mahkota permata nya, Jalannya pun anggun serta terlihat lebih cantik dan berkarisma.
"Sepertinya kedatangan kita tidak di sambut sambut disini, Ibunda. Sampai kau harus duduk di tempat terbuka seperti ini." Cibir Rarapati seraya bersilang tangan.
"Tidak tidak yang mulia, Silahkan masuk ke rumah ku yang kecil ini, Hamba terlalu gugup hingga bingung harus berbuat apa." Ujar Huda seraya mempersilahkan Ratu dan Rarapati masuk kedalam rumah.
Setelah berada di dalam, semua orang bersimpuh di lantai, hanya Ratu yang duduk di kursi serta Rarapati berdiri di sampingnya.
“Keluarlah kalian! ada yang ingin ku bicarakan dengan ketua suku.”
Perintah Ratu membuat semua orang didalam sana keluar dan hanya menyisakan mereka bertiga.
“Aku akan meminta ayahanda memaafkan mu asalkan kau harus menerima syarat ini.” ucap Nyimas Rarapati langsung memulai percakapan.
Huda hanya bisa diam berangguk dan mendengarkan dengan patuh.
“Aku ingin tinggal di desa ini sebagai rakyat jelata dengan identitas baru. Biarkan aku hidup diujung desa dan sebarkan kabar buruk tentangku kemana mana agar masyarakat menganggap ku sebagai anak hasil hubungan haram, aku ingin hidup terisolasi dari siapapun untuk beberapa tahun kedepan. Jika kau bersedia menjaga rahasia ini maka aku bersumpah tidak akan mengungkit kejadian waktu itu kepada siapapun. Jika salah satu dari kita melanggar janji. maka ia berhak menuntut haknya." Ujar Rarapati.
“Dibanding hidup terisolasi seperti itu, aku siap memberimu tempat tinggal di rumah ini Nyimas. Kenapa kau malah meminta hidup dalam kesusahan?” Ucap Huda.
“Jangan terlalu banyak bertanya. Jika tidak bersedia, ibunda sudah menyiapkan ruang eksekusi untukmu di istana” ujar Nyimas Rarapati
Ucapan Rarapati membuat mata Huda membulat sempurna dalam sujud nya.
“T-tidak Nyimas, tentu aku bersedia melakukannya dengan senang hati.”
“Baiklah, semua sudah jelas. Kau harus mengingat janjimu, jaga putriku baik baik. Jika suatu hal buruk menimpa padanya, Kau pasti tahu akibatnya.” Tegas sang Ratu seraya menyeruput secangkir teh hangat yang di sajikan dayang.
“Baik yang mulia, aku akan mengingat perjanjian ini seumur hidupku. Terimakasih atas kemurahan hati yang mulia” Ujar Huda sembari memberikan hormat.
__ADS_1
...----------------...