Terjebak Konflik Dinasti Hylva

Terjebak Konflik Dinasti Hylva
07. Kerjasama


__ADS_3

Milo akhirnya menatap sayu Abi dan berjalan berbalik mendekati pohon besar dibelakang mereka.


Tak disangka Milo malah membanting banting kan kepalanya pada pohon berkali kali. Diiringi rintihan “Gue ga pantes hidup” ucap Milo.


Abi yang kaget langsung berlari kearah Milo dan memeluknya erat sambil ikut menangis.


“Mil sadar mil, stop!” teriak Abi berkali kali.


Sadar Milo tak juga berhenti, Abi segera membalikkan badannya sekuat tenaga, Abi memaksa Milo membuka bibir  ranum nya dan ********** dengan lahap. Awalnya Milo berusaha menolak, namun Pagutan dan jilatan yang diberikan Abi perlahan melemahkannya.


Milo akhirnya berhenti memberontak dan menikmati permainan Abi, tak mau kalah Milo juga membalas pagutan Abi dengan hisapan dan ikatan ganas.


Ingatan tentang kejadian persis seperti ini sebelumnya bersama Gavi membuat Milo terperanjat dan mendorong tubuh Abi. Untuk sesaat Milo kehilangan kendali dirinya sendiri.


"Gak seharusnya Lo maksa gue buat ngelakuin itu, bi!" Milo berteriak, ia tidak menyangka Abi akan melakukan hal seperti itu padanya.


"M-maaf mil, gue bingung gimana lagi caranya bikin Lo berhenti. Kehilangan Gavi aja udh cukup bikin gue gila, gue gak mau kehilangan Lo juga." tutur Abi.


Kejadian tersebut tidak sepenuhnya salah Abi, Milo juga menikmatinya. Gadis itu kembali diam membisu dengan tatapan berbinar menatap langit.


"Tapi gak seharusnya Lo berbuat seperti itu. Lo gak mikirin perasaan gue, bi." Lirih Milo.


"Gak mikirin perasaan Lo? Lo mikirin perasaan gue gak pas liat Lo ngebanting bantingin kepala Lo sendiri ke pohon?" ucapan Abi penuh penekanan.


Ditengah tengah situasi keduanya diselimuti emosi dan pikiran masing masing, tiba tiba terdengar suara Isyah yang memanggil mereka dari kejauhan.


“Tuan, nyonya, kalian dimana?” teriak Isyah sambil membawa beberapa buah pisang dan buah berry ditangannya.


Menyadari Isyah mencari cari mereka, segera Milo dan Abi membenahi pakaian mereka dengan panik takut Isyah menemukan mereka dalam kondisi kacau seperti ini.


“Iya Isyah, tunggu sebentar disana” teriak Abi dari balik semak semak.

__ADS_1


“Terserah Lo, Gue cape sama semua ini.” Milo menatap intens netra abu abu yang menatap dengan kosong itu.


“Udahlah gak penting, lo tunggu aja dulu disini” ucap Abi seraya meninggalkan Milo dalam lamunannya dan menghampiri Isyah.


“Sialan ganggu aja padahal dikit lagi” gumam Abi dalam hatinya.


“Tuan makanlah ini, setelah ini aku akan membawamu menemui seseorang yang bisa membantumu keluar dari sini. Aku sudah mengirimkan pesan padanya melalui burung merpati, mungkin dia akan sampai kesini sore ini” ucap Isyah sambil menyodorkan buah buahan ditangannya.


“Terimakasih Isyah kamu sangat membantu” balas Abi dengan tersenyum, karena memang sebenarnya dia juga sudah sangat lapar.


Abi segera memanggil milo untuk memintanya duduk bergabung dan makan bersama. Milo datang dengan wajah datar tanpa sepatah katapun, lirikannya pada Isyah sangat tajam terlihat penuh kebencian, baginya isyah adalah orang yang membuat Gavi rela mengorbankan nyawa demi menyelamatkannya.


Mereka makan tanpa bersuara sedikitpun, seolah olah makan seorang diri.


Abi, Milo dan Isyah memulai perjalanan menuju tempat perjanjian. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam tanpa berbicara, Milo dengan tatapan kosongnya hanya mengikuti gerak kaki Abi didepannya. Padahal jika mereka mengamati sekeliling tempat mungkin mereka bisa lebih tenang.


Karena tempat mereka berjalan saat itu berada ditengah hutan Pinus, udara nya cukul segar. Suara kicauan burung dan suara gesekan dedaunan yang diterpa angin menemani heningnya perjalanan.


Harapan Abi dan Milo saat ini hanyalah Isyah.


Lama berjalan menyusuri jalan setapak akhirnya mereka tiba disuatu pondok kecil. Terlihat didalam sana ada seorang pemuda yang tengah duduk meminum segelas Hima-air manis dari tetesan getah pohon aren.


Milo menarik lengan Abi dan menatapnya ragu, seolah Milo meminta Abi untuk tidak menemui orang itu. Namun Abi memegang tangan Milo seraya tersenyum tipis, seolah mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik baik saja.


“Paulo...” teriak Isyah sambil berlari dan memeluk Paulo.


“Isyah, kamu baik baik saja kan...” sahut Paulo dan membalas pelukan Isyah dengan erat.


Abi dan Milo tercengang dengan mata membulat sempurna, setelah di telisik rupanya memang benar lelaki tersebut adalah Paulo. Rupanya orang yang mereka gantungkan harapan itu adalah orang yang sedang berusaha mereka hindari. Buru buru Abi dan Milo mundur hendak lari.


“Aku baik baik saja, mereka yang telah menyelamatkanku.” ucap Isyah seraya menunjuk pada Abi dan Milo.

__ADS_1


“Tunggu Abi, Milo! Kenapa kalian menghindari ku?” teriak Paulo saat melihat Abi dan Milo yang hendak lari.


Mendengar pertanyaan itu, Milo dan Abi sepertinya sadar bahwa Paulo belum mengetahui apapun rencana dari ayahnya.


Abi dan Milo bernafas sedikit lega, mereka berusaha membalikkan badan dan tersenyum kecil.


*****


Paulo, Isyah , Abi dan Milo kini duduk di dalam pondok tersebut. Abi mulai menceritakan semua yang terjadi pada Isyah dan Paulo, mulai dari saat Abi menguping pembicaraan Paulo dan ketua suku hingga mereka bisa berada di pondok itu saat ini.


"Maaf kalau aku lancang, Paulo. Kemarin aku mendengar percakapan mu dengan ketua suku yang berkata bahwa ibumu hilang. Bagaimana itu bisa terjadi." Abi sangat penasaran dengan hal tersebut.


“Ibuku adalah perempuan yang sangat cantik, pintar dan juga berbudi luhur. Awalnya ibuku ditemukan terdampar disungai belakang bukit oleh warga yang sedang memancing ikan. Lalu dia dibawa kepada ketua suku yang saat itu adalah kakekku. Akhirnya ibuku menetap didesa ini karena hilang ingatan dan tidak tahu harus kemana. Karena terlalu sering bertemu dengan ayahku setiap hari membuat mereka saling jatuh cinta dan akhirnya menikah” Ujar Paulo dengan mata berkaca kaca.


“Maaf, tapi aku hanya ingin tahu kenapa ibumu bisa hilang?” tanya Milo.


“Saat itu tengah larut malam dan aku baru berusia lima tahun. Aku mendengar beberapa hari terakhir itu ibu dan ayahku terus saja bertengkar, padahal ayahku baru saja menjabat sebagai kepala suku karena kakekku meninggal dua bulan lalu."


"Tiba tiba ibu masuk ke kamarku sembari tersenyum seperti biasa dan memelukku erat sembari berbisik “Nak, kamu harus menjadi anak yang berbakti dan menyayangi ayahmu. Aku sudah lelah jika harus bertahan lebih lama di samping ayahmu.” aku tidak tahu apa maksudnya, namun setelah itu dia keluar dari kamar dengan Isak tangis tanpa sepatah katapun. Besoknya dia berpamitan pergi memetik berry. Namun ibu tak pernah kembali sampai sekarang” jelas Paulo dengan air mata yang mulai bercucuran.


Terlihat Isyah mulai memeluk dan mengelus ngelus punggung Paulo dengan lembut sembari menenangkannya. Dari perlakuan Isyah terhadap Paulo ini membuat Abi dan Milo merasa bahwa hubungan mereka lebih dari sekedar teman


“Aku tidak menyangka kalau kamu pernah mengalami hal sepahit ini” ucap Abi.


“Hfttt tidak masalah, mungkin ini semua memang sudah seharusnya terjadi. Sekarang jelaskan padaku apa yang bisa aku bantu sebagai balas budi karena telah menyelamatkan Isyah” tanya Paulo sembari mengusap kasar pipi nya yang basah.


“Apakah kau tau bahwa diujung hutan pinus ini ada gua yang ditinggali 2 orang laki laki berusia sekitar 30 tahunan” spontan Milo langsung bertanya hal yang ingin ia tanyakan sedari tadi.


“Aku tidak tahu kalau disana ada sebuah gua. Namun yang kutahu bahwa ada sebuah suku yang hidupnya selalu dalam gua. Dan suku itu menjadikan manusia sebagai makanannya. Suku itu bernama Tamboyan” Ujar Paulo.


Mendengar ucapan Paulo, Milo langsung lemas tak berdaya, begitu pula dengan Abi yang bungkam tak bisa berkata kata. Perlahan air mata mulai mengalir dari wajah cantik Milo yang nampak pucat.

__ADS_1


......................


__ADS_2