
Setibanya di istana, ketiga sahabat langsung di seret ke penjara secara paksa. Tanpa ampun dan belas kasih para prajurit itu memperlakukan mereka dengan kasar dan kejam.
Pakaian Gavi, Milo dan Abi semakin lusuh, kotor dan compang camping, bahkan memar dan lecet bagaikan tato yang ada di sekujur tubuh sebab bergesekan dengan rantai yang mengikat kaki dan tangan mereka.
Ketiganya diseret kedalam sebuah ruangan yang gelap dan hanya bercahayakan beberapa obor. Jeruji besi berjejer didalam sana diisi dengan berbagai macam orang yang terjerat kasus kejahatan. Mereka semua menatap 3 sahabat dengan tajam dan menghina.
“Aku tidak akan pernah melupakan penghinaan ini!” ujar Gavi
"Aku ingin pulang...." Lirih Milo.
Sementara Abi tertunduk, ntah apa saja tenaga dipikirkan lelaki tersebut hingga tatapannya menjadi kosong dan hanya berjalan mengikuti kedua sahabatnya didepan.
"Heh kamu yang berambut pirang! Masuk kesini!"
Milo dipisahkan dari Abi dan Gavi. Mereka ditempatkan di dua ruangan berbeda namun saling berhadapan. Ketiganya hanya dapat bersandar pada dinding dingin penjara, meratapi nasib hidup mereka yang kadang buruk kadang baik, benar benar membuat mereka muak untuk terus bertahan hidup.
"Gue bawa ini." Abi mengeluarkan sebilah pisau dari dalam celananya.
"Buat apa, bi?" Gavi dan Milo menoleh.
"Gimana kalau kita bunuh diri aja?"
Perkataan spontan Abi membuat Milo dan Gavi tertegun menganga. Mereka tidak menyangka sosok Abi akan mengusulkan ide seperti itu.
"Loh kenapa? Kan emang bener. Siapa tau kalau kita mati jiwa kita bisa balik ke tubuh kita yang ada di masa depan?!" Sambungnya.
Plak
Gavi memukul kepala Abi dengan keras. "Kalau kita gak balik lagi kedunia asal gimna?!"
"Ya gakpapa. Lebih baik pulang ke sisi tuhan daripada bertahan hidup disini menunggu eksekusi dan penyiksaan. Kalian sanggup?" Tutur Abi.
__ADS_1
Gavi terdiam dengan penuturan Abi. Percaya tidak percaya, ucapan lelaki tersebut memang masuk akal.
Sementara Milo disisi sana tak mau bergeming atau menanggapi apapun lagi. Ia memilih meratapi hidup saja sebab sudah lelah dengan takdir tuhan yang mempermainkan hidupnya.
Tak lama dari arah luar nampak seorang wanita cantik nan anggun berjalan menghampiri sel 3 sahabat. Wangi tubuhnya menyeruap memenuhi seisi penjara, jalannya sangat anggun bagaikan seekor angsa. Mahkota di kepalanya menunjukkan kedudukannya yang tinggi.
Kedatangan perempuan tersebut menarik perhatian seluruh penghuni sel termasuk sel Abi dan Gavi.
“S-siapapun kamu, kamu pasti orang yang berkedudukan tinggi di istana ini. Tolong bebaskan mereka berdua, mereka berdua tidak bersalah dan tidak mengetahui apapun.” Abi bersimpuh dari balik jeruji.
“Apa maksud Lo bi? Kita siap dihukum bareng Lo. Kita datang ke dunia ini bareng bareng, pulang pun juga harus bareng bareng. Ntah itu ke dunia asal atau kembali ke sisi tuhan.” ujar Gavi Bijak
“Terimakasih karena telah menyelamatkan putriku berulang kali, Aku tahu bahwa kalian bukan orang yang berusaha membunuh putraku. Aku meminta maaf kepada kalian dengan sepenuh hati karena harus membuat kalian merasakan semua ini demi menangkap dalang sesungguhnya.” Ujar Ratu Durwiasih.
“Ohhh. Jadi kau adalah ibu dari Rarapati? Kami sudah tidak perduli lagi dengan perempuan tidak tahu terimakasih itu! dia tega membuat kami teman temannya sendiri dicaci maki seluruh masyarakat dan di penjara seperti ini hanya karena tuduhan tanpa bukti!” Milo berucap dengan penuh penekanan.
“Untuk apa kamu datang kesini, meskipun kamu sudah meminta maaf dan bisa melepaskan kami dimana kami bisa tinggal selanjutnya? Seluruh tanah di kerajaan ini pasti tidak akan menerima kami!” Ketus Gavi.
“Apakah kau punya beberapa tali? Berikan pada kami, lebih baik kami mati daripada hidup seperti ini!” Abi memang sudah pesimis sejak awal.
Perbuatan sang ratu tanah Nusantara tersebut menuai perhatian penghuni sel, mereka mulai berusaha mengintip dan berbisik tentang apa yang membuat beliau bersimpuh ditempat kotor seperti ini.
“Demi kehormatan kalian, aku Durwiasih putri Patih Kencana bersumpah untuk turun dari tahta dan hidup di pengasingan selamanya jika tidak berhasil menghukum orang yang telah membunuh putraku serta tidak memberikan kalian kebebasan dan jaminan kehormatan.” Ucap sang ratu sembari bersimpuh
Tiga sahabat terperanjat kaget dengan tindakan sang ratu. Ntah ini suatu keajaiban atau malapetaka saat seorang ratu yang berasal dari peradaban nenek moyang mereka bersimpuh memohon maaf dihadapan mereka.
“Apa yang harus kami lakukan selanjutnya setelah mendengar sumpah kamu itu? kami juga perlu bukti dan tindakan nyata.” tegas Gavi
“Kalian hanya harus bertahan sementara beberapa hari ini di sini, aku akan memastikan saat di pengadilan istana kalian akan dipanggil ke aula sebagai saksi, bukan penjahat."
mendengar itu ketiga sahabat sedikit bisa bernafas lega, setidaknya mereka kembali merasakan semangat untuk bertahan hidup.
__ADS_1
“Dan satu lagi, putriku juga tahu bahwa kalian tidak bersalah. Dia Hanya berusaha menyelamatkan kalian dari orang orang yang lebih berbahaya diluar sana. Aku harap kedepannya kalian bisa terus berpura pura membenci perlakuannya.” Imbuhnya.
“T-tapi siapa orang orang yang menginginkan kami mati itu? Kami tidak mengenali siapapun di kerajaan ini selain Rarapati dan Hardijaya.” Tanya Abi.
“Cepat atau lambat kalian akan segera mengetahuinya.”
Ratu berjalan keluar dari sel, Beliau sempat meletakkan keranjang yang penuh dengan makanan di dalam sel ketiga sahabat.
Seperginya ratu, Gavi dan Abi melihat Milo terisak sembari menatap makanan didepannya.
“Sejak awal Hardijaya selalu bersikukuh untuk mencoba masakanku, setiap kali dia akan memakannya sepertinya tuhan tidak pernah mengijinkannya sehingga selalu ada urusan yang memaksanya pergi saat itu juga. Bahkan sampai dia pergi untuk selamanya pun belum sempat mencicipi makananku secuil pun hks hks hks”
“Tenang mil, gue yakin Hardijaya udah tenang disana. Tangisan Lo itu bisa bikin dia bangkit lagi dari kubur nantinya!” Gavi berusaha menenangkan Milo
Namun tangis Milo kian pecah, benar benar terdengar sayu dan menyedihkan. Begitu pula dengan Abi dan Gavi yang mulai menunduk sedih dan merenungi kenangan kenangan singkat mereka bersama Hardijaya.
Mereka melalui malam ini dengan penuh kepedihan dan penyesalan.
Di Tempat lain, Rarapati dan Ratu Sedang berbincang didalam kamar. Terlihat mereka tengah berpelukan dan saling menguatkan satu sama lain untuk mengikhlaskan kepergian Hardijaya.
“Ibunda, Nyimas telah gagal menjadi seorang kakak, maafkan Nyimas” lirih Rarapati sembari bersimpuh
“Bangunlah putriku, semua ini bukan salahmu. Kita tidak boleh melemah seperti ini. Kita harus kuat untuk membelaskan dendam adikmu.”
Rarapati pun bangun dan mengusap kedua air matanya. Dia berdiri dengan tegap dan menatap keatas dengan tatapan kebencian yang benar benar membara hebat
“AKU BERSUMPAH TIDAK AKAN MEMBIARKAN ORANG YANG MEMBUNUH RAI HIDUP DENGAN TENANG!” Cetusnya.
Sang ratu memegang pundak Rarapati dan memeluknya. “Bagus!! Itu baru putriku. Sekarang beristirahatlah, besok kita harus memenangkan pertarungan ini dan menghukum pelakunya dengan setimpal.”
“Tapi bagaimana keadaan teman teman Nyimas? Nyimas benar benar merasa hina karena harus memperlakukan mereka seperti ini”
__ADS_1
“Aku sudah menjelaskan semuanya pada mereka, dan mereka mengerti dengan apa yang kau lakukan. Setelah semua ini selesai, Aku akan memberikan mereka penghargaan yang pantas”
......................