Terjebak Konflik Dinasti Hylva

Terjebak Konflik Dinasti Hylva
45. Bayangan


__ADS_3

“Dia adalah pelayan kami. Atas dasar apa kamu menghentikannya masuk?!" Lantang Gavi.


“Maaf tuan, namun atas perintah raja sendiri tidak boleh ada yang memasuki area pemakaman kecuali orang orang yang memiliki identitas di kerajaan.” sahut salah satu penjaga.


“B-baiklah tuan tidak masalah Tantri akan menunggu saja disini." ucap Tantri.


“Hmmm....yasudah, kamu tunggu lah kami disini, jangan kemana mana." ujar Milo.


“Baik tuan.”


Ketiga sahabat bergegas memasuki area pemakaman yang sangat luas nan asri itu, berhubung sebelumnya mereka belum pernah kesini sehingga salah satu penjaga ikut bersama mereka untuk menunjukkan arah. Mereka berjalan menyusuri rimbunnya Bunga melati yang harum semerbak diatas makam para pahlawan kerajaan yang telah gugur.


“Tuan, Bangunan besar dengan dinding marmer itu merupakan makam Raja Candrayana I, disana banyak barang berharga sehingga kuburannya selalu terkunci rapat. Sedangkan Bangunan di ujung sana merupakan kuburan para leluhur keluarga Raja Candrayana.” jelas sang penjaga.


“Wahh kuburan itu lebih besar dari rumah kita. Sepertinya Raja Candrayana I memang memiliki jasa yang sangat besar ya.” sahut Milo.


“Tentu saja tuan, Raja Candrayana I adalah pelopor berdirinya satu kepemimpinan di tanah Nusantara. Awalnya tanah kita dipimpin oleh 5 kerajaan, namun karena seringnya terjadi perebutan tanah dan kekuasaan, Raja Candrayana I memimpin pasukan dan menaklukkan 2 kerajaan, kemudian beliau terus melakukan negosiasi tanpa kekerasan hingga 3 kerajaan lainnya tunduk dan bersatu menjadi 1 kerajaan berpusat di Hylin sebagai ibu kota, dan mencakup 5 kabupaten yaitu Seijin, Lianra, Talian, Patilahan dan Mania.” jelas sang penjaga.


Para Adipati sangat serius mendengar kisah asal mula berdirinya kerajaan Hylva tersebut. Hingga tak lama mereka tiba disebuah bangunan dengan corak kayu jati yang kental dengan ukiran khas nya kala itu, wanginya bunga melati dan tanah segar tercium sangat kuat di sekitaran bangunan tersebut. Sang penjaga pun membuka pintu dan membiarkan ketiga sahabat memasuki ruangan yang berisi makam Raden Hardijaya tersebut.


“Raden apa kabar? Maafkan aku baru sempat mengunjungi mu sekarang. Kuharap kamu tidak marah." ujar Milo.


Dengan tatapan berkaca kaca Milo langsung menghampiri makam tersebut sembari duduk bersungkur diikuti Gavi dan Abi.


“Raden, ini aku membawakan beberapa cemilan untukmu yang kubeli diperjalanan tadi. Aku berjanji akan membawakan cemilan buatan tanganku sendiri nanti.” imbuhnya.


“Maafkan aku karena tidak sempat meraih tanganmu kala itu, maaf...maaf.” ujar Abi sembari menunduk dengan tatapan penuh penyesalan.


Melihat teman temannya yang tengah dirundung duka dan penyesalan itu, Gavi hanya bisa merangkul mereka dari belakang dan menepuk bahu mereka untuk saling menguatkan.


“Semua ini adalah takdir yang kuasa, jangan merasa menyesal atau merasa bersalah terhadap apa yang telah terjadi, seperti setetes air yang rela naik turun menjadi hujan demi menumbuhkan tanaman. Begitu juga kita harus kuat menghadapi berbagai cobaan demi masa depan dengan hasil terbaik yang bisa kita dapatkan.” ucap Gavi.


Setelah selesai berdoa dan berpamitan dengan makam Raden Hardijaya, mereka bergegas keluar menuju pintu keluar. Dari kejauhan mereka melihat Tantri tengah berbincang dengan seorang laki laki berpakaian jas modern seperti yang mereka bisa jumpai di perkantoran pada dunia asal mereka.

__ADS_1


“Ehh bentar, ini gue ga salah liat kan. Itu ko ada orang pake stelan jas dari dunia kita lagi ngobrol sama Tantri?” ujar Abi sembari menunjuk kearah Tantri.


“Lah iya, ayo cepat kita kesana.”


Mereka pun berlari menuju Tantri dan pria tersebut yang tengah asik mengobrol di depan gerbang.


“Permisi tuan, siapa kamu? Darimana asalmu?” tanya Abi spontan.


“Siapa mereka?” celetuk sang pria.


“Mereka adalah tuan baru Tantri, yang barusan Tantri ceritakan.”


“Oh. Hallo, kenalkan, aku adalah Fathur. Anggap saja aku dan Tantri berteman lama." ujar Fathur


“Fathur? nama dari jaman modern. Siapa sebenarnya tuan, dan darimana tuan berasal." Tanya Milo.


“Aku hanya seorang penjahit pakaian, pakaian ini aku buat dengan imajinasi ku sendiri, apakah terlihat aneh?”


Mendengar jawaban Fathur ketiga sahabat saling bertatapan nampak meragukan kebenaran perkataannya itu.


“Sebelah wajahku pernah terkena minyak panas saat memasak, jadi aku menutupinya dengan topeng." ujar Fathur.


“Maaf tuan, aku tidak bisa berlama lama disini, ada hal penting yang harus saya lakukan. Permisi." imbuhnya sembari bergegas pergi dengan cepat.


“Orang itu kayak gak asing sama orang yang memukul gue waktu di gua suku Tamboyan kala itu. Gue benar benar yakin.” bisik Gavi.


“Yaudah nanti kita bahas lagi di rumah, lagi pula Tantri mengenalnya. Kita bisa menanyakan info tentangnya pada Tantri.” sahut Abi.


Kini mereka bergegas pulang menunggangi kuda. Suasana kala itu nampak akan kembali hujan, ditambah dengan gelapnya malam yang mencekam, mereka kian memacu kudanya menerobos heningnya malam ditengah hutan menuju rumah. Sepanjang jalan Abi yang berada dibarisan paling belakang dengan kudanya terus menoleh kebelakang merasa sesuatu mengikuti mereka dengan melompat lompat diatas pohon.


“Tunggu!! Sepertinya ada yang mengikuti kita!” ujar Abi sembari menghentikan kudanya.


“Apa yang kamu katakan Abi, ditengah hutan dan malam malam seperti ini tidak akan ada orang yang berani keluar.” sahut gavi yang dengan spontan menghentikan kudanya juga.

__ADS_1


Namun tatapan Abi terus mengamati jalan setapak dibelakangnya yang nampak sepi dan gelap.


“Sudahlah ayo pacu kuda lebih cepat supaya segera sampai di rumah.” ucap Milo.


Mereka pun kembali memacu kuda mereka, namun Abi tetap merasa ada yang janggal dibelakangnya. Dengan keberanian dan kepercayaan pada teman temannya, dia berusaha menghilangkan perasaan mengganjal tersebut hingga mereka sampai di depan rumah.


“Tantri ini adalah rumah kami, dan akan menjadi rumahmu juga. Anggap saja rumah sendiri.” ujar Gavi.


“Wah besar sekali tuan, terimakasih. Tantri benar benar beruntung."


Mereka pun masuk kedalam rumah, namun lagi lagi tatapan Abi terpokus pada sesosok bayangan diatas pohon yang nampak seperti Manusia berpakaian serba hitam mengamatiny dia.


“Heh! Siapa kamu? Apakah kamu mengikuti kami sedari tadi?!” ujar Abi yang mengalihkan perhatian Gavi, Milo dan Tantri.


“Siapa yang kamu maksud Abi? Tidak ada siapapun disana?”


Ucapan Milo Membuat pandangan Abi teralihkan.


“T-tapi tadi ada di sana-"


kaget bukan main saat Abi melirik ke pohon tersebut namun sudah tidak ada apapun


“Sudahlah ayo masuk, kurasa kamu kelelahan hingga berhalusinasi." ucap Gavi sembari menarik lengan Abi yang nampak masih tertegun menatap kearah pohon.


Seorang laki laki dengan insting tajam seperti Abi tidak mungkin salah menafsir bayangan yang dia lihat. Dia terus memikirkan apa yang baru saja dia lihat itu di ruang tamu."


“Ini minumlah, jangan terlalu dipikirkan dan pergilah tidur. Aku rasa kamu hanya kelelahan.” uang Milo sembari menyerahkan secangkir teh hangat.


“Aku tidak salah lihat, bayangan itu benar benar terlihat seperti manusia. Mungkin saja seorang ninja atau ahli ilmu bela diri tinggi yang memiliki maksud jahat pada kita."


“Iya iya, aku mengerti kekhawatiranmu. Aku akan mengunci semua pintu dan jendela supaya kamu merasa tenang."


Tanpa disadari, Tantri sedari tadi menguping pembicaraan mereka dari balik pintu kamar.

__ADS_1


......................


__ADS_2