Terjebak Konflik Dinasti Hylva

Terjebak Konflik Dinasti Hylva
18. Kebenaran Isyah


__ADS_3

Lama menyusuri jalan, akhirnya mereka tiba didepan sebuah rumah berukuran cukup besar dan dikelilingi pagar. Rumah itu terbuat dari kayu jati yang kokoh dan memiliki ukiran ukiran yang indah.


Mereka mereka terpana, melihat interior rumah yang sangat menarik dengan gaya kuno nya. Terdapat 4 kamar tidur, dua kamar mandi sederhana dengan sebuah sumur, ruang tamu, dapur dan kebun kecil dibelakang rumah. Disamping rumah tersebut juga mengalir sebuah sungai yang mengalir tenang.


Gavi dan Milo berkeliling rumah dengan tatapan berbinar dan perasaan tidak percaya bisa memiliki rumah seindah itu. Sepintas mereka menghilangkan niat untuk kembali ke dunia asalnya dan berkeinginan untuk hidup selamanya disini hingga ajal menjemput.


“Lo rindu nyokap sama bokap Lo gak sih.”


Pertanyaan yang dilontarkan oleh Milo itu sontak membuat keduanya kembali merenung dan teringat kembali keluarga yang mungkin menunggu nunggu kedatangan mereka kembali.


“Rindu lah, padahal sebelum Lo nanya gitu gue ada niatan pengen menetap aja di dunia ini.” Ujar Gavi sembari tertunduk.


“Gue juga sempet mikir gitu tadi. Cuma tiba tiba wajah nyokap,bokap sama adik gue melintas di otak, gue jadi  keinget sama mereka” Milo bertutur seraya mata mulai berkaca kaca.


"Kita Cuma bisa berjuang sebisanya untuk kembali kedua asal, semoga apa yang sedang kita cari segera menunjukkan titik terang.” ucap Gavi sembari menepuk pundak Milo.


Milo hanya menatap Abi dengan senyuman hangat menanggapi ucapannya.


Mereka berdua malah melamun dipinggir sungai, mengingat kembali kenangan dahulu bersama orang tua dan keluarganya membuat mereka sedikit tersentuh. Rasanya sudah terlalu lama mereka di dunia yang bukan tempat seharusnya ini.


Disisi lain Arya yang tengah mencari keberadaan Milo menemukan dirinya tengah duduk santai di tepi sungai bersama Gavi. Arya pun bergegas menghampiri mereka.


“Gavi, Milo...aku pamit pulang. Ada banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan.”


Milo berdiri, menatap intens netra Arya. “Kenapa buru buru sekali, tadinya aku mau memasak untuk makan siang kita.”


"Lain kali saja aku mampir lagi untuk menikmati masakan mu. Sekarang sudah waktunya aku pulang.”


“Sering seringlah berkunjung, Arya.” ucap Gavi sembari menepuk pundak Arya.


Arya tersenyum ke arah Gavi dan kembali mengalihkan netra nya pada Milo.


“Tentu, aku pasti akan sering berkunjung.”


Gavi dan Milo pun mengantar kepergian Arya dan orang orang yang datang bersamanya ke depan rumah. Rombongan Arya berangkat dengan kuda dan pengawalan yang ketat. Pastinya Milo dan Gavi kembali merasa bahwa Arya adalah saudagar yang sangat sukses.


Tak lama stelah mengantar kepergian Arya, Gavi dan Milo masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Brakk....


erdengar sesuatu jatuh dari kamar Abi. Sontak membuat kaget dua sahabat itu dan segera berlari menghampiri abi.


“Bi...ya ampun Lo gapapa kan?”


Gavi Yang kaget melihat Abi sudah bangun dan berusaha meraih gelas dari tanah liat yang berisi air namun malah terjatuh.


“G-gue dari tadi manggil kalian tapi gak ada yang nyaut. Mana gue Gak tau lagi ini dimana” bibir pucat Abi berusaha menyampaikan kata katanya, meskipun sayu dan kecil.


Gavi duduk di samping Abi seraya menjelaskan semua yang terjadi padanya dari mulai saat Gavi menemukan Abi terbaring tak sadarkan diri sampai Arya membawa mereka kerumah baru.


Mendengar cerita panjang lebar yang dijelaskan Gavi, Abi sedikit kesal karena sepertinya dia telah melewatkan banyak hal.


“Ngomong² dengan kecerdasan cucu Albert Einstein kita ini, ko Lo gak bisa ngebedain buah berry asli sama yang beracun sih.” sindir Milo.


“Gue awalnya gak mau makan tu buah. Cuma gue nemu 2 bapak bapak lagi nangkep burung di hutan. Dan mereka nawarin tu buah buat cemilan. Karena mereka keliatan baik dan mereka juga makan tu buah jadi ya udah gue terima terima aja.” Ujar Abi.


“Yah Lo si gampang banget percaya sama orang jadinya kan gini." Ucap Gavi seraya memutar bola matanya.


......................


Setelah berbincang dirumah Isyah mengenai hilangnya Nyimas Rarapati, Gavi Milo dan Abi berpamitan pulang. Namun Paulo berkata ingin tinggal sebentar bersama Isyah untuk menghiburnya


Setelah kepergian mereka bertiga, Paulo buru buru mengunci pintu rumah Isyah dan menarik Isyah dengan kasar


“Kenapa kamu berbohong padaku dan teman temanku? Aku tahu sebenarnya kamu bukan berasal dari suku Asmat, aku tahu bahwa semua cerita kamu adalah kebohongan, aku tahu bahwa kamu adalah orang yang mereka cari. Kenapaa?? Aku kira hubungan kita sudah sangat dekat dan kita sudah mengenal satu sama lain...tapi nyatanya aku hanya tahu namamu.” ujar Paulo dengan tatapan marah.


“A-apa yang kamu maksud Paulo? Mana mungkin aku orang yang seperti itu. Kenapa kamu menjadi berubah seperti ini” lirih Isyah


“Aku? Berubah? Bukan aku yang berubah Isyah, tapi kamu!” sentak Paulo.


Paulo tengah dirundung kekecewaan, terhadap Isyah yang menyembunyikan banyak dari nya. Ia tak menyangka, sosok gadis lugu, lembut dan pendiam seperti Isyah adalah akar dari sebuah rahasia yang besar.


“Kenapa kamu tidak percaya padaku? Darimana kamu mendapatkan kabar bahwa aku adalah Nyimas Rarapati? Sungguh tidak masuk akal sekali perkataanmu.”


Usyah masih berusaha berdalih, seraya menatap pilu Paulo yang enggan menatap Isyah sama sekali.

__ADS_1


“KAU LIHAT ITU!” ucap Paulo sembari melemparkan sobekan kertas dari buku yang sebelumnya dia tunjukkan pada teman temannya


Ternyata orang yang merobek kertas itu adalah Paulo. Dia menyadari bahwa hilangnya Nyimas Rarapati dan Isyah memiliki keterkaitan satu sama lain. Untuk mencegah sesuatu menimpa pada Isyah.


Paulo terpaksa merobek halaman yang berisi mengenai asal usul Isyah dan berpura pura tidak tahu apa apa didepan teman temannya.


“APA ITU? JELASKAN PADAKU!” Sentak Paulo yang mulai naik pitam


“Hmmm... sepertinya hubungan kita hanya bisa sampai disini” ucap Isyah sembari tertunduk.


Ntah apa yang Isyah sepontan mengatakan hal seperti itu. Seolah hubungan mereka terjalin karena rahasianya belum terungkap. Namun sekarang, semuanya terungkap dan hubungan mereka tidak bisa bertahan lagi.


“Jangan mengalihkan topik. Jelaskan saja apa maksudmu melakukan semua ini, Isyah!” Paulo sudah kalah kabut meminta penjelasan dari Isyah.


“Seperti yang dikatakan buku itu, 3 tahun lalu aku datang bersama Adikku untuk berburu di hutan.” ujarnya.


*KILAS BALIK 3 TAHUN SEBELUMNYA


“Kyaaa, kyaaa...rusa itu adalah mangsaku Rai. Jangan kau ganggu dia."


Seorang perempuan cantik dengan rambut pirang terurai gagah berani menunggang kuda. Memegang busur yang sudah siap melesatkan anak panah.


“Tidak Nyimas dia adalah milikku."


Sahut sang adik yang bertungganng kuda mengejar perempuan yang bergelar Nyimas Rarapati tersebut.


Melihat adiknya sudah siap melesatkan anak panah, Nyimas Rarapati tidak mau kehilangan kesempatan mendapatkan rusa itu juga. Ia melesatkan panahnya berbarengan dengan sang adik yang bernama Raden Hardijaya.


Mereka berdua mendekati rusa yang telah terkapar dibalik semak semak, melihat anak panah siapa yang berhasil mengenai sang Rusa.


“Haha lihatlah Rai, panahku yang mengenainya. Dia adalah milikku.” ucap Nyimas Rarapati seraya berkacak pinggang.


“Jangan senang dulu Nyimas, ini hanya kebetulan saja.” elak Raden Hardijaya sembari memutar bola matanya dengan kesal.


Ditengah perbincangan mereka, Nyimas Rarapati dan Raden Hardijaya mendengar keributan seperti dentuman parang, kayu dan hiur biru warga saling berteriak.


Nyimas Rarapati dan Raden Hardijaya yang mendengar itu segera menaiki kuda dan berjalan menuju sumber suara.

__ADS_1


......................


__ADS_2