
Suasana mulai terasa kembali menegangkan. Ariel hanya menangis sembari menatap Milo dengan sendu, sementara Karin masih saja bersimpuh dalam pelukan Ariel dengan tatapan kosongnya menatap kearah pintu OK.
“Ril jawab gue ril! Apa yang udah terjadi!!” ujar milo dengan emosi sembari menggoyah goyahkan tubuh Ariel.
“Ga-gavi mil...hshshs”
“Kenapa anj*** ngomong yang bener!” sahut Milo yang nampak sudah kalang kabut.
“Karin...bagaimana kondisi mereka?” teriak Zahra yang berlari menghampiri mereka.
Karin nampak hanya menatap Zahra sekilas kemudian tertunduk dan mulai menangis.
“Rin jawab aku dulu Rin hshshs!! Mil, mil apa yang terjadi sama mereka. Apa Abi sudah siuman?" Tanya Zahra sembari berlinang air mata
“Milo juga gak tau Tante. Tante Karin dan Ariel dari tadi gak mau bicara.”
“Karin apa yang sebenarnya terjadi? KUMOHON KALIAN BICARALAH! APA KALIAN INGIN MEMBUAT KAMI GILA ?” Sentak Hardin.
“DOKTER BILANG KONDISI MEREKA SEMAKIN MEMBURUK KARENA PENDARAHAN DALAM OTAK. KEMUNGKINAN BAGI MEREKA SELAMAT SANGATLAH SEDIKIT!” teriak Karin sembari menatap Hardin dengan tajam.
“Puas kalian membuatku mengatakan hal yang begitu menyakitkan!?” imbuhnya.
Mendengar jawaban dari Karin itu, Zahra mundur perlahan. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Tangisnya kembali pecah dalam pelukan sang suami.
“Gak! Gak mungkin. Mereka pasti baik-baik aja, Tante percaya sama Milo!” ujar Milo sembari memeluk Karin.
“Om Hardin, dimana liontin biru milik Abi yang mirip seperti punya Milo ini?” Tanya Milo yang segera bangkit sembari menghapus air matanya dan menunjukkan liontin yang dia gunakan.
“Ada dimobil, untuk apa kamu menanyakannya Milo?” tanya Hardin.
__ADS_1
“Ceritanya sangat panjang om. Bolehkah Milo meminjam kunci mobil untuk mengambil liontin itu? Liontin itu adalah kunci keselamatan Abi dan Gavi." Ucap Milo sembari menatap Hardin dengan berkaca kaca.
“Ini ambillah. Kalung itu ada di bagasi belakang dalam tas ransel Abi. Tapi untuk ap-” Belum selesai ucapan Hardin terpotong karena Milo langsung mengambil kunci tersebut dan bergegas lari menuju parkiran mobil.
Sepanjang perjalanan matanya tak berhenti melirik jam tangan yang dia kenakan untuk memastikan waktu tersisa yang dia miliki. Sesampainya di parkiran , Milo berlari kesana kemari sembari memencet kunci mobil untuk menemukan posisi keberadaan mobil Hardin diparkir.
Satu baris, dua baris, tiga baris mobil sudah dia lewati namun tak ada satupun yang berbunyi. Dia melihat jam yang menunjukkan waktu yang dia miliki tinggal 10 menit lagi. Dengan kalang kabut hampir seperti orang gila, Milo terus berlarian mengelilingi parkiran mobil.
Langkahnya sempat terhenti karena tali sepatu yang dia gunakan lepas. Buru buru dia melepas sepatu tersebut dan membuangnya ke sembarang arah. Kini dia berlari mencari mobil Hardin tanpa alas kaki sama sekali.
“Ahh siall! Sial! Sial!! Dimana mobilnya sih!” ujar Milo sembari meremas rambutnya dengan kuat, dia benar-benar nampak putus asa hingga kunci yang dia pegang jatuh ke tanah.
“Nut...nut...nutt...” sebuah mobil berwarna biru dihadapannya berbunyi menandakan mobil tersebut adalah mobil Hardin.
Buru-buru Milo membuka bagasi belakang dan melihat jam ditangannya menunjukkan waktunya kurang dari 5 menit lagi. Milo melihat tas ransel Abi belum dibereskan dan sangat berantakan. Tanpa pikir panjang Milo mengeluarkan semua isi tas tersebut hingga berceceran kemana mana.
Milo mengorek ngorek barang Abi yang berceceran kemana mana itu hingga matanya tertuju pada liontin yang dia cari. Buru-buru Milo mengambilnya dan menyatukan ketiga liontin yang akhirnya berada dalam genggaman tangannya itu.
Milo mulai menyalakan api dan membuatnya semakin membara, kemudian Milo lemparkan tiga liontin petaka tersebut kedalam kobaran api. Matanya terus tertuju pada liontin-liontin itu yang perlahan mulai melebur dalam panasnya kobaran api.
10 menit kemudian
Milo duduk termenung di samping mobil Hardin. Dia tak sanggup lagi untuk berjalan menuju ruang OK, sadar bahwasanya dia tidak bisa percaya sepenuhnya pada apa yang di katakan fathur membuatnya semakin dilema dalam rasa bersalah.
“Apa yang harus gue lakuin sekarang hshshs.” Gumam Milo sembari memeluk erat lututnya dan kembali menangis terisak.
Kini matanya tertuju pada paper bag yang dibeli Abi sebelumnya di mall saat mereka belanja bersama. Nampak sebuah kotak berbentuk hati ada didalam paper bag tersebut. Dengan penuh rasa penasaran Milo membukanya.
“Sepasang cincin yang sangat indah, untuk siapa Abi membeli cincin ini?” ujar Milo dengan murung.
__ADS_1
Milo berusaha mencoba memakai cincin tersebut dijari nya, dan benar-benar pas. Matanya terbelalak lebar saat melihat custom tulisan dibawah cincin tersebut, yang satunya bertuliskan nama Aryatama-Nama Marga Abi, dan yang dia gunakan bertuliskan Van De Boran-Nama marganya Milo. Melihat itu Milo kembali menangis terisak sembari mencium cincin yang dia gunakan.
Untuk sesaat Milo mengingat setiap kejadian kecil saat dia bersama Abi. Milo benar-benar merasa sangat bodoh karena terlambat menyadari perasaan Abi padanya.
"Abi pasti sangat menderita. Dia pasti pernah merasakan apa yang kurasakan terhadap Gavi sebelumnya hshshs." tangis Milo kian menjadi jadi.
Pada saat dia menyadari perasaan Abi terhadapnya ternyata benar-benar serius, dia hanya bisa menangis dan merasa teramat bersalah. Bagiannya, semuanya sudah terlambat.
“Kenapa tuhan bantuin lo nunjukin perasaan Lo disaat dirinya ingin ngambil Lo dari gue bi?!” lirihnya.
“Lelucon macam apa ini?! Gue terus nyeritain kisah cinta gue dihadapan orang yang cinta sama gue. Dan sekarang apa? Orang yang gue cintain dan orang yang mencintai gue keduanya gak gue dapetin. Yang kita dapetin cuma persahabatan yang hancur karena perasaan.” Imbuhnya.
Kilau cahaya dari cincin yang dia gunakan dalam sekejap membantu Milo mendapatkan kembali semangat nya yang hampir hilang. Milo berusaha bangkit dari keterpurukan dan bergegas lari menuju ruang OK.
“Tidak! Aku pasti bisa mendapatkan hal yang seharusnya aku dapatakan.” ujar Milo sembari menyeka air matanya.
Sesampainya diruang OK, Milo melihat sekelilingnya yang sepi, ntah kemana orang-orang yah seharusnya tengah menunggu kabar Gavi dan Abi . Milo mencoba menerawang kedalam ruangan tersebut namun nampak tak ada orang sama sekali. Berulang kali dia mencoba menelpon Zahra,Hardin, dan Karin namun tak ada jawaban.
Ntah perasaan apa yang membuatnya merasa ingin mencari ke ICU . Dan benar saja, dari luar pintu, Milo melihat Hardin tengah membereskan pakaian Abi dan Gavi.
“Om, dimana yang lainnya?” tanya Milo dengan gugup
“Milo kamu dari mana saja? Gavi dan Abi baru siuman, sekarang mereka dipindahkan keruang rawat inap Kantil No 25.”
Mendengar ucapan Hardin tersebut, beban dipundak Milo terasa berkurang drastis. Senyum lebar kembali merekah di wajah cantiknya. Dengan sekuat tenaga Milo berlari menuju kamar yang di beritahukan padanya. Sesampainya di depan pintu, Milo berusaha merapikan pakaian dan wajahnya yang kacau karena terlalu banyak menangis.
“Gavi...Abii!” Lirih Milo sembari menghampiri kedua sahabatnya yang tengah duduk mengobrol dan memeluk mereka dengan erat.
“Mil...kita gakpapa. Lo kok nangis, terus kayanya kurusan deh.” ujar Gavi.
__ADS_1
Mendengar ucapan Gavi itu Milo benar-benar tak kuasa lagi menahan air matanya, beban yang dia rasakan akhirnya berakhir juga. Tangis bahagianya pecah dalam pelukan kedua sahabatnya itu. Gavi dan Abi juga membalas pelukan Milo dengan hangat.
......................