Terjebak Konflik Dinasti Hylva

Terjebak Konflik Dinasti Hylva
27. Sidang Istana


__ADS_3

Hardijaya dibuat geleng geleng dengan pertanyaan Ambarawa. Ia tahu bahwa Ambarawa membenci Rarapati karena ia menginginkan tahta putra mahkota. Bahkan sesaat setelah kematian Rarapati, para menteri mendesak Raja untuk segera mencari pengganti.


Dan tak lain yang mereka ajukan adalah Raden Ambarawa sebagai putra kedua Raja. Hal ini disebabkan sang ibu yaitu Selir Nimaran merupakan putri dari menteri pembangunan ekonomi, tentu saja sangat mudah baginya untuk mengumpulkan sekutu di dalam istana.


Namun sayangnya yang terpilih adalah Hardijaya, sebab aturan istana tidak membolehkan anak selir menjadi penerus tahta kecuali ratu sebagai istri sah tidak memiliki keturunan lain.


“APA APAAN KAU INI, NYIMAS BARU PULANG BUKANNYA KAU MENANNYAKAN KABARNYA DULU MALAH MENODONGNYA DENGAN UCAPAN TIDAK MASUK AKAL!” Hardijaya mulai naik pitam


“Kenapa kau harus menaikkan suaramu Rai, aku lebih tua darimu. Jaga bicaramu!” ujar Ambarawa dengan angkuh.


Ketenangan di raut wajahnya serta suara yang tetap stabil menunjukkan seberapa manipulatif nya lelaki yang tengah bersilang tangan tersebut.


“Apa kabar Rai Amba? Lama tidak berjumpa denganmu.” ucap Rarapati seraya tersenyum miring.


“Pertanyaan yang sangat sempurna, aku akan menjelaskan hal yang kualami selama tiga tahun terakhir.” imbuhnya.


Disisi lain, tepannya di samping ratu. Selir Nimaran sedari tadi menggenggam erat gaun nya, sesekali tatapannya meliar dengan canggung. Seolah terlalu gugup hingga keringat dingin bercucuran ditambah wajah yang memucat.


“M-maafkan aku yang mulia, aku merasa tidak enak badan. Biarkan aku beristirahat ke kamar.” ujar Selir Nimaran.


“Kenapa Selir Nimaran? Sepertinya kamu tidak nyaman dengan situasi saat ini?” Cibir Rarapati.


"A-aku-"


"Tunggulah sebentar lagi, Nima. Putriku segeralah ceritakan apa yang sebenarnya terjadi." Sambung Raja.


Rarapati lagi lagi tersenyum miring, menatap tingkah menjijikan ibu tirinya tersebut. Ia lalu mendelik dan menanggapi ucapan Raja dengan anggukan.


“Tiga tahun lalu Nyimas sedang berendam di pemandian air panas dalam hutan untuk mengurangi rasa sakit ditubuh sebab telah pergi berburu bersama Rai Hardijaya kala itu. Tak disangka seseorang menaruh wewangian yang membuat Nyimas merasa sangat pusing. Tepat saat nyimas membuka mata, Nyimas melihat Rai Ambarawa sedang mabuk dan berusaha melecehkan Nyimas yang sedang tak sadarkan diri.” Ujar Rarapati.


Semua orang di aula tentunya kaget mendengar penjelasan dari Rarapati tersebut. Mereka seolah tak percaya Ambarawa akan melakukan hal seperti itu pada kakak nya sendiri.

__ADS_1


Ambarawa tersentak dengan ujaran Rarapati, ia segera turun dari singgasananya dan bersimpuh tepat di samping Hardijaya seraya memberikan hormat pada Yang Mulia Raja.


“A-APA YANG NIMAS RARAPATI KATAKAN ITU TUDAK BENAR YANG MULIA! AMBA TIDAK PERNAH MELAKUKAN HAL SEPERTI ITU” Tukas Ambarawa.


Suara lelaki 21 tahun tersebut mula nya dingin dan stabil. Tepat setelah Rarapati menceritakan kisah hari itu, raut wajahnya berubah drastis dengan suara yang gagu.


“Kenapa kau harus menaikkan suaramu Rai, aku lebih tua darimu. Jaga bicaramu!” Rarapati mengucap ulang perkataan yang dilontarkan Ambarawa sebelumnya kepada Hardijaya.


Mendengar jawaban sang kakak, Hardijaya tersenyum lebar, ditambah lagi dengan melihat kejengkelan yang dipendam Ambarawa membuatnya semakin sumringah


“Tidak habis sampai disitu, setelah Nyimas berhasil lolos dari cengkeraman nya, seseorang dengan wangi bunga Lily memukul kepala Nyimas dengan sangat keras. Bahkan bekasnya masih ada sampai sekarang-"


Ucapan Rarapati terhenti, ia menghela nafas panjang terlebih dahulu. Ditambah wajah semua orang di dalam ruang aula yang menengang.


"Setelah itu...aku bangun dipangkuan seorang petani yang mengatakan menemukaku ditepi jurang. Yap, orang itu melempar tubuhku kejurang” tegas Rarapati.


Semua orang di aula semakin terbelelak mendengar perkataan Rarapati. Mereka langsung menatap kearah Selir Nimaran saat mengingat bahwa dia yang paling menyukai wangi bunga Lily.


“Diam Nimaran! Berani sekali kau mengucapkan hal memalukan seperti itu dihadapan anak anakmu, Dimana etika mu sebagai seorang selir?!” tegas ibu suri. Perempuan itu akhirnya bicara juga setelah sedari tadi hanya menyimak pertengkaran cucu cucunya.


“Jika memang Ambarawa melakukan itu padamu, bukti apa yang bisa Nyimas berikan?” Seloroh Raja.


“Ayu saat itu ikut bersamaku ke pemandian. Aku yakin dia melihat sesuatu.”


“Bagaimana ayu putriku, apakah kau melihat sesuatu yang mencurigakan sebelum Nyimas menghilang?”


Nyimas ayu bangkit dari singgasananya, ia berjalan ketengah dan duduk bersimpuh memberi salam.


“Salam Ayahanda....Hari itu Ayu hanya sempat melihat Raka Ambarawa masuk kedalam pemandian dengan berjalan sempoyongan dan gelas minuman ditangannya. Ayu tidak mengikuti Raka masuk kedalam karena harus mengambil bunga. Namun saat ayu kembali ke pemandian, semuanya sangat sepi.” Ujar ayu.


"Setelah tiga jam mencari keberadaan Nyimas Rarapati menyisir pemandian air panas dan hutan di sekitaran, Ayu tetap tidak menemukan jejak apapun, sehingga Ayu segera pulang dan melapor kepada Ayahandanya." imbuhnya.

__ADS_1


“T-TIDAK AYAHANDA, RARAPATI DAN AYU PASTI BERSEKONGKOL UNTUK MENJEBAK AMBA. MEREKA TIDAK MEMILIKI BUKTI APAPUN!” Sangkal Ambarawa.


“Bukti, bukankah sobekan baju mu ini cukup menjadi bukti?!” Ucap Rarapati sembari menunjukkan robekan baju resmi kekeluargaan milik Ambarawa.


Seluruh anggota keluarga kerajaan memiliki baju resmi tanda keanggotaan mereka masing masing. Baju mereka diukir dengan motif, warna dan bahan yang berbeda beda sesuai tingkatan dan karakteristik masing masing.


Rarapati berjalan merunduk, perlahan menaiki anak tangga menuju singgasana raja dan memberikan sepotong kain tersebut pada Kasim. Kasim pun memberikannya pada Raja.


Raja sendiri tengah menelaah keaslian sehelai kain tersebut.


“K-KAU PASTI MECURINYA DAR....” ucapan Ambarawa terpotong.


"Sudahlah Raka, bukti dan saksi sudah jelas. Apa perlu Rai juga ikut bersaksi untuk kejadian hari itu." Ujar Raden Santana.


Ambarawa mendelik, menelisik netra coklat Santana dengan tatapan sangat tajam. Santana sedikit takut, Namun ia tidak menyukai Ambarawa. Dan momen ini adalah kesempatan emas baginya.


"Apakah Santana juga berada disana hari itu?" Ucap Raja.


Santana berjalan dengan angkuh seraya menatap Ambarawa yang masih menelisik nya dengan tajam. Ia duduk bersimpuh disamping Nyimas Ayu dan memberi hormat pada yang mulai.


"Salam Yang Mulia....Hari itu Santana dan Raka Amba tengah berkuda di sekitaran pemandian air panas. Raka Amba meminta turun di villa pemandian, memang hari itu Santana menemani Raka Amba minum sampai mabuk berat. setelah itu Santana tidak ingat lagi yang mulia, tiba tiba saat terbangun sudah berada di kamar istana." Ujar Santana.


"Sialan kau Santana-" Umpatan Ambarawa terpotong.


"DIAMMM! SEMUA INI SUDAH JELAS! SEPERTINYA AKU TERLALU MEMANJAKAN MU AMBA!” tegas Raja


“Atas perbuatan mu tiga tahun silam berhasil menyebabkan Rarapati terluka dan harus menyembuhkan lukanya seorang diri, aku akan menghukum mu dengan sangat berat!" Tegas Raja.


"T-tidak yang mulia, ini pasti hanya sebuah kesalahan pahaman. Nima yakin yang mulia, bagaimanapun dia adalah anak kita hks hks hks..." Lirih Nimaran seraya bersimpuh di kaki suaminya.


Tingkah sang selir tersebut hanya membuat Rarapati dan Hardijaya saling bertatapan seraya bergidik jijik

__ADS_1


......................


__ADS_2