
Tiga hari kemudian, ditempat yang jauh dari hiruk pikuk ibukota tepatnya di suku Asmat. Tempat yang pernah dihuni para ksatria Lintang Langit dan Putri Mahkota saat ini, Huda dan Astra tengah berbincang ria sembari meneguk segelas Hima.
“Saat ini aku sudah tidak memiliki beban apapun, putri itu sudah pergi. Setelah tiga tahun rasanya pundakku terasa sangat ringan.” Seloroh Huda.
“Syukurlah, masalah hari itu akhirnya bisa selesai juga. Setidaknya kita sekarang sedang berada dimasa damai. Apa rencana Tuan selanjutnya?” tanya Astra sembari memijit punggung Huda.
“Menikahimu....” Huda berbalik dan menatap Astra dengan lekat.
“A-Apa yang Tuan katakan, apa Tuan serius?”
“Tentu, sudah terlalu banyak yang mengetahui hubungan kita, dan aku juga ingin berterima kasih karena kamu selalu setia disampingku disituasi apapun.”
“Tapi bagaimana dengan Paulo, apakah dia akan setuju?”
“Anak itu setiap hari selalu pergi ntah kemana. Aku mengetahui perasaannya terhadap putri itu sangat dalam, namun mau bagaimana lagi memang tindakan putri benar menjauhi Paulo demi kebaikan nya sendiri, tapi anak ini sangat bodoh.”
Huda memegang tangan Astra. "Karena dia tahu seperti apa rasanya mencintai, aku yakin dia akan mengijinkan kita."
“Baiklah jika Tuan yakin, aku bersedia menikah denganmu."
Ucapan Astra itu disambut dengan senyuman lebar dari wajah Huda. Mereka pun berpelukan dan saling tersenyum kegirangan. Mengingat Cinta terlarang mereka telah berlangsung selama bertahun-tahun akhirnya akan segera berakhir dan memulai kembali dengan terang-terangan.
Tak lama dari luar pintu nampak Paulo masuk kedalam rumah tanpa berkata sepatah katapun. Dia hanya menatap sekilas ayahnya dan Astra yg tengah berpelukan itu kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar.
“Tunggu Paulo, ada yang ingin ayah bicarakan dengan kamu. Kemarilah!” Celetuk Huda.
Paulo masih menampilkan raut wajah datar, ia berbalik dan berani menghampiri mereka dengan tatapan kosong kemudian duduk di kursi.
“Ayah dan Astra akan menikah. Mungkin acaranya besok malam, kamu bersiap siaplah ambil uang ini dan beli baju baru.” imbuhnya sembari menyodorkan beberapa keping koin emas.
Paulo hanya mengambilnya dan kembali berdiri, pergi tanpa sepatah katapun.
“Kenapa kamu hanya diam Paulo? Apakah tidak ada yang ingin kamu ucapkan tentang pernikahan kami?”
“Apa yang harus aku katakan? Apakah keputusan aku sepenting itu?” Sekalinya Paulo bergeming ia langsung melemparkan tatapan tajam dan ujaran kasar.
__ADS_1
“Apa sebenarnya masalah kamu? Kenapa kamu jadi berubah seperti ini?”
“Aku tidak pernah berubah, kamu yang tidak pernah memperhatikan aku.” Paulo pergi begitu saja meninggalkan Astra dan Huda.
“Dasar kamu!!”
“Sudah sudah, mungkin suasana hatinya sedang buruk, nanti kita bicara lagi dengannya.” Bujuk Aetra.
Paulo terus berjalan menyusuri jalan setapak dengan tatapan kosong, warga yang sudah tidak aneh melihat pemandangan itu bahkan menjuluki Paulo sebagai mayat berjalan. Sebab hati Paulo sudah mati, yang hidup hanyalah badannya. Kehilangan Isyah sama saja dengan kehilangan setengah jiwa nya.
Kini, Paulo berjalan menuju pasar ibu kota, Tidak ada keperluan yang ingin ia beli di sana, namun ia selalu memiliki tujuan khusus mengapa setiap hari berlalu lalang ke pasar hanya untuk sekedar duduk diam dan merenung.
Disisi lain Ksatria lingkar langit tengah berjalan jalan di pasar ibu kota menikmati keramaian dan barang barang yang ditawarkan. Hingga tak lama mereka berpisah sebab Abi ingin membeli sesuatu sementara Gavi dan Milo sudah sangat kelaparan.
Abi yang tengah melihat lihat toko pandai besi mulai menyipit mata saat melihat sosok tak asing tengah duduk melamun dipinggir toko.
“Paulo? kamu sedang apa duduk sendirian disini?” Abi menepuk punggung Paulo dan duduk disampingnya.
“Abi? Mengagetkan saja! Lama tidak berjumpa, bagaimana kabar mu?”
"Hmm iya aku bisa melihat kondisi kamu dari pakaian dan benda benda mewah yang kamu gunakan itu." Cibir Paulo sembari tersenyum miring.
"Hehe, ayo ikut denganku menemui Milo dan Gavi, mereka tidak jauh dari sini sedang makan siang di warteg itu.”
Paulo mengeriyatkan dahi “Warteg? Apa itu?”
“Ahh itu, mmm.... Toko yang menjual makanan dengan beraneka ragam nasi tuh, aku tidak tahu julukannya apa disini."
“Ah maksudmu Kedai Sage.”
“Iyaa pokonya itu, ayo!” Ucap Abi sembari menarik lengan Paulo.
Paulo hanya bisa ikut saja, setidaknya hari ini ia akan bertemu dengan kawan lama yang akan sangat susah lagi untuk bertemu dengan mereka sebab jabatan dan kegiatan mereka diistana akan sangat banyak dan menyita waktu. Paulo juga sudah tahu mengenai apa saja yang menimpa ketika sahabat nya tersebut dari rumor yang beredar.
Sekitar lima menit mereka menyusuri ramainya pasar ibu kota, Abi dan Paulo sampai di depan sebuah gerai makanan cepat saji yang tempat makannya diluar ruang dan lesehan.
__ADS_1
Sekilas Paulo melihat Gavi dan Milo melambaikan tangan kearah Abi.
“Nah itu mereka, ayo!”
“Halo teman teman apa kabar?” Sapa Paulo.
“Wah Paulo, lama tidak berjumpa. Kabar kami baik, bagaimana denganmu?” Sahut Gavi diiringi senyuman dari Milo.
“Aku juga baik. Ngomong ngomong aku sudah tau tentang gelar yang kalian dapatkan, selamat ya aku benar benar bangga pada kalian."
“Hmm sepertinya kabar itu tersebar dengan cepat ya hehe.” Seloroh Milo.
“Tentu saja, kabar yang begitu menggemparkan tanah Nusantara seperti ini mana mungkin tidak menyebar dengan cepat.”
Celetukan Paulo tersebut langsung mengundang gelak tawa dari Gavi, Milo dan Abi. Mereka duduk bersanding berbincang hangat di tengah keramaian. Sebuah pertemuan kebetulan yang sangat jarang terjadi.
“Iya juga hehe. kamu tadi sedang mencari apa di pasar Paulo? Biar kami bantu.” Ucap Abi.
“Aku sedang mencari pakaian adat untuk pernikahan.”
“APA? kamu AKAN MENIKAH? DENGAN SIAPA? KAPAN?” Gavi, Milo dan Abi kompak.
“T-tidak bukan aku yang akan menikah, tapi ayahku dan Astra” Ujarnya sembari menunduk.
“Ahhh, Aku kira kamu sudah menemukan pengganti Nyimas Rarapati.” Celetuk Milo.
“Heh Hstt.” Gavi mencolek Milo, menandakan apa yang barusan dia katakan itu cukup sensitif.
“Hehe tidak masalah, sepertinya memang takdir kami tidak bersama. Aku hanya sedang berada di fase untuk mengikhlaskan kepergiannya saja.” Paulo tersenyum palsu.
“Oiya, kalian datang lah ke pernikahan ayahku besok malam jika sempat, aku akan sangat merasa terhormat bila kalian bisa datang.” imbuhnya
“Wah ide bagus, ayo kita kesana Vi, Bi. Aku rindu suasana desa suku Asmat.” Sahut Milo.
“tentu saja, ayoo!!” Gavi dan Abi kompak.
__ADS_1
Setelah berbincang bincang hangat sembari mengingat kisah kisah masalalu. Tak sadar seseorang mengawasi mereka sedari tadi dengan tatapan tajam di meja sebelah, kedua orang tersebut nampak asik memakan bubur sumsum yang disajikan namun pandangan dan telinga mereka berfokus pada apa yang sedang dibicarakan oleh 3 sahabat dan Paulo.