
2 hari kemudian
Ditempat lain, disebuah desa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk ibukota, seorang pemuda berjubah hitam dan bertubuh kekar tengah menghimpit seorang perempuan cantik di tengah tengah dinding kayu yang terdapat diujung gang pedesaan.
Pria itu melahap dengan ganas bibir merah merona gadis tersebut. Sang gadis juga nampak kewalahan mengimbangi permainan. Berkali kali ia kehabisan nafas namun lelaki itu tak menghiraukan selama ia belum puas.
Tangan gadis itu meronta memukul dada bidang si pria yang membuatnya semakin kehabisan nafas. Pria itu segera melepaskan jubah yang menutupi tubuh kekarnya dan mengangkat tubuh gadis itu diatas pangkuannya.
Ciuman mereka kian memanas dan tak karuan ditengah heningnya gang malam pedesaan.
Saat mereka tengah berada dipuncak nafsu yang kian membara, seorang laki laki muncul dari balik pintu rumah dan menyergap kemudian menutup kepala laki laki yang tengah dikendalikan nafsu itu dengan kain hitam. Gadis yang bersama laki laki itupun ikut memukul kepala laki laki yang tengah lunglai tersebut dengan sebuah kayu hingga membuatnya jatuh terkapar ke tanah.
“Segera bawa penghianat ini ke markas. Sepertinya beliau sudah sangat menunggu kedatangannya.” Ucap si gadis.
“Ayo, kau juga ikutlah dengan aku. Setidaknya untuk mengucap salam pada beliau.”
“Titipkan saja salamku pada beliau, aku akan terus hidup disini sebagai wanita penghibur dan melayaninya dari jauh.” Sahutnya.
Segera setelah menangkap pria tersebut, ia bergegas membawanya ke markas tersembunyi di dalam hutan. Tengah malam gelap gulita sang laki laki mengendarai kudanya dengan cepat menerobos udara dingin, jalanan becek sehabis hujan dan heningnya suasana hutan.
Dia memacu kudanya selama 1 jam menuju ke arah timur, hingga menemui sebuah sungai yang disampingnya terdapat sebuah rumah yang cukup besar. Siapa sangka akan ada rumah besar dan indah seperti itu ditengah tengah hutan belantara. Rumah tersebut dijaga ketat oleh ratusan pasukan berbadan besar, tegap dan liat dengan otot.
"Berhenti!" Satu penjaga menodongkan sebuah pedang pada lelaki tersebut sontak ia menghentikan langkah kudanya.
"Tunjukkan identitas mu!"
Laki laki itu tersenyum miring seraya menunjukkan tato bergambar kepala rusa di betisnya, si laki laki langsung diberikan izin masuk.
Lelaki tersebut langsung masuk kedalam rumah. Seperti sudah sangat hafal Lika liku lorong di dalam rumah tersebut, dengan cekatan ia membawa lelaki yang masih belum sadarkan diri dalam gendongannya ke ruang utama rumah.
Sesampainya disana, seorang perempuan duduk sembari bersilang kaki keatas meja duduk membelakangi laki laki tersebut. Disampingnya berdiri lagi seorang laki laki berbadan besar dan tinggi menggunakan stelan jas modern disertai dengan topeng rubah berwarna emas menutupi setengah wajahnya.
Brukk
__ADS_1
Lelaki tersebut menjatuhkan orang dalam gendongannya dan langsung bersimpuh memberi hormat.
“Salam Bibi! Aku berhasil menangkap nya dengan bantuan gadis penghibur yang mengabdi padamu diujung desa.” Ucap si laki laki.
Ternyata kedua orang tersebut adalah orang orang bawahan perempuan tersebut yang tersebar disetiap sudut tanah Nusantara. Mereka adalah pengabdi setia dan selalu menjadi tangan kanan nya dalam mengawasi pergerakan masyarakat dan musuh musuh keluarga.
Beberapa hari lalu mereka semua dikirimi tugas oleh perempuan tersebut untuk menemukan dan membawa laki yang masih tak sadarkan diri itu secepatnya. Siapa sangka hnya dalam waktu dua hari, mereka berhasil menangkapnya dengan pancingan wanita penghibur.
“Kerja bagus Dewa, kau adalah keponakan ku yang paling berbakti. Suatu saat jika kau benar benar sudah siap aku akan menaikkan pangkatmu di kerajaan.” Sahut perempuan tersebut.
“Dewa tidak mau kembali ke kerajaan bibi, Dewa ingin tetap disini dan menjadi kaki tangan bibi dalam kegelapan.”
“Jangan seperti itu keponakanku tersayang, kau harus ke istana dan membantu bibi serta ayahmu menegakkan kembali keluarga kita.” Perempuan tersebut beranjak menghampiri Dewa.
“Kau sangat berbakti Dewa, tuhan pasti memberkatimu.” ujar laki laki disamping perempuan tersebut.
“Terimakasih Paman Fathur, aku akan sangat senang bila paman mau menjadikan aku murid keabadian anda.” sahut dewa.
"Apa yang bisa kau berikan untukku jika aku bersedia mengangkat mu sebagai murid?" Fathur tersenyum miring.
"Haha bagus anak pemberani!" Fathur malah terkekeh.
Sementara Dewa malah memandangi pria berusia 1200 tahun tersebut yang nampak masih berusia 30an dengan heran padahal ia berkata dengan serius.
Ya, Fathur adalah jin yang memiliki ilmu tinggi dan bisa hidup dalam keabadian. Ia hidup dari tahun ke tahun mengabdikan diri pada keluarga Rughyaningrat, dan saat ini yang dipilih Fathur dari keluarga tersebut adalah perempuan yang duduk bersilang kaki disampingnya, Ratu Durwiasih.
“L-Lepaskan aku! Siapa kau berani menangkap ku! Aku adalah putra Raja Candrayana II. Lancang sekali kau!!” Racau laki laki tersebut yang ternyata adalah Ambarawa.
Kepala Ambarawa yang masih ditutup kain hitam serta tangan dan kakinya yang masih terikat kuat kebelakang membuatnya hanya mampu memberontak kesana kemari mencoba melepaskan ikatan dan penghalang wajahnya itu.
Plakk
Sebuah tamparan keras melayang di wajah mulus Ambarawa yang masih tertutup kain.
__ADS_1
“Laki laki bajingan! Aku terlalu lembut padamu, biar kulihat siapa yang akan menyelamatkanmu” Ketus Ratu Durwiasih.
“Cepat bawa dia ke tiang, aku sudah tidak sabar menyiksanya!” Sambungnya.
Mendengar perintah itu Dewa dan Fathur segera membawa Ambarawa kedalam ruangan yang gelap hanya bercahayakan sebuah obor, disana nampak terdapat banyak sekali alat siksaan. Mereka mengikat tangan Ambarawa keatas dan merantai nya dengan kuat.
“Lepaskan aku, bajingan kalian. Aku pastikan ayahku akan menguliti dan memotong motong tubuh kalian karena telah menyeret ku seperti ini. Lepaskan!!”
“Apa kabar Ambarawa?” Ucap Ratu sembari melepas kain hitam yang menutupi wajahnya
“R-ratu? kenapa yang mulia bisa berada disini melakukan semua ini padaku?”
“Setelah semua yang kau lakukan pada putraku, mana mungkin aku tidak membalasnya. Aku disini untuk membalas semua perbuatanmu, Amba!"
“A-apa yang sudah aku lakukan? aku tidak berniat mendorongnya dengan sengaja”
“Lihatlah, tidak perlu ku siksa dengan kejam, kau sudah mengatakannya sendiri!”
“A-akuu...”
“Diamlahh! Aku sangat ingin mencincang, memotong, dan merebus daging daging mu itu satu persatu lalu ku persembahkan pada suku Tamboyan yang sebelumnya kau gunakan untuk membunuh putriku” ujar ratu sembari mengasah pisaunya
"Atau lebih baik aku berikan kau dalam keadaan hidup seperti ini?"
“A-apa yang ratu katakan...aku tidak tahu apapun tentang kejadian itu”
Keringat dingin mulai bercucuran, nada bicara Ambarawa juga mulai tak beraturan. Ia semakin dirundung ketakutan saat melihat ratu juga mulai mengasah benda benda tajam lainnya.
“Apakah kau masih mau berbohong pada ibu tirimu ini?” Srett....Srettt... Sahut ratu sembari mengasah pisaunya
“A-aku....” Ujarnya semakin gugup.
“Aku apa? Ingin dipotong dulu atau dikuliti dulu?” Ratu mengarahkannya pisaunya ke leher Ambarawa “Atau ingin kutikam dulu jantungmu berulang kali seperti yang kau lakukan pada putraku?” imbuhnya sembari tersenyum licik.
__ADS_1
......................