
Setelah upacara penobatan rampung. Kini seluruh dewan menteri, Raja dan putri mahkota tengah duduk dalam perjamuan sederhana. Banyak menteri yang mulai menyapa Rarapati dan berusaha ambil muka dihadapannya.
“Oh iya, Aku telah bersalah karena memenjarakan ketiga teman mu yang tidak bersalah. Pergilah ke penjara, dan sampaikan titahku untuk membebaskan mereka dengan terhormat. Berikan pelayanan istana yang terbaik dan besok panggil mereka ke aula untuk mendapatkan penghargaan.” Ujar Raja.
Mata Rarapati seketika berbinar terang diiringi senyum lebar yang menunjukkan deretan gigi putihnya yang berseri “B-benarkah ayahanda? A-aku akan segera membebaskan mereka. Terimakasih Yang Mulia."
"Hidup Yang Mulia Raja!!"
"Hidup!!"
Mendengar keputusan tersebut para menteri mulai bersorak, Rarapati merasa sangat senang bahkan ia tak mau menunggu lagi hingga acara perjamuan selesai. Ia bergegas lari menuju ke lapas penjara, tempat ketiga sahabat nya sudah menunggu untuk dikeluarkan.
Di sisi lain, Gavi dan Abi tengah berbincang membahas kelanjutan nasib mereka yang sepertinya terlupakan oleh keluarga kerajaan. Selama di dalam penjara sendiri mereka mengetahui info info kejadian diluar istana dari para prajurit yang selalu bergosip dengan suara keras.
“Gue udah bilang kalau gue gak salah. Liat sekarang buktinya, yang bersalah pasti bakal nerima karma yang setimpal!” Ujar Abi dengan optimisme yang kembali hidup.
“Iya, kita kan juga percaya sama Lo. Sekarang tinggal mikirin aja kapan kita bisa keluar dari sini, gue kangen banget sama cahaya matahari.” Sahut Gavi.
“Ntah kenapa gue ngerasa bahagia banget, seakan beberapa saat lagi akan segera ada kabar baik.” Seloroh Milo.
“Semoga aja yang Lo ucapin ada benarnya, mil.”
Dari kejauhan nampak seseorang berjalan menuju sel mereka, jalannya sungguh anggun dan tertata namun sedikit tergesa-gesa. Pakaian dan mahkota nya bersinar ditengah gelapnya jeruji penjara. Sosok yang tak asing itu berdiri tepat diambang sel ketiga sahabat sembari tersenyum sumringah. Dua prajurit dibelakangnya juga mulai membuka gembok sel.
"Rarapati? Kenapa ini, apa kami sudah bebas?" Seloroh Gavi.
"Hey berani sekali kau memanggil nama yang mulia secara langsung, sekarang beliau adalah Putri mahkota Kerajaan. Jangan bersikap tidak sopan!" Celetuk Pancali-Pelayan setia Rarapati.
"Putri mahkota? Sepertinya kita melewatkan banyak hal yang terjadi di dalam istana." Ucap Milo sembari keluar dari dalam sel. Begitu juga Abi dan Gavi.
"Maaf sudah membuat kalian menderita didalam sel kotor ini. Aku berjanji mulai saat ini kalian akan hidup damai dan mendapatkan semua kenyamanan yang ada di istana dengan bebas." Ujar Rarapati.
Ketiga sahabat saling bertatapan dengan ekspresi datar, mereka sebenarnya percaya tidak percaya dengan ucapan Rarapati. Sebab dari pengalaman mereka selama ini, tuhan selalu menarik turunkan kehidupan mereka, hingga untuk kali ini pun mereka tidak mau berekspresi berlebihan.
__ADS_1
"Pada dasarnya kami dibebaskan dari dalam penjara ini kan?" Abi meyakinkan.
"Tentu."
"Ntah kemana kami harus pergi, meskipun dibebaskan tetapi nama baik kami sudah kotor. Mungkin di seluruh tanah Nusantara ini tidak ada masyarakat yang mau menerima kami." Timpal Milo.
"Tidak usah memikirkan akan tinggal dimana, Raja memberikan perintah untuk mengundang kalian tinggal di istana dengan layak mulai dari sekarang. Dan lagi, besok kalian akan menerima penghargaan dari Yang Mulia."
"Apa!!?" Ketiga sahabat kompak.
Dengan mata membulat sempurna, ketiganya lagi lagi mendapatkan kabar mencengangkan tiba tiba. Kemarin dituduh pembunuh sekarang dianggap pahlawan. Namun disamping itu, ketiganya tetap senang, setidaknya mereka bisa bernafas lega dan hidup lebih tenang daripada tinggal di luar istana yang masih harus bertahan hidup mencari makan sendiri.
"Mari ikutlah bersama ku. Aku akan membawa kalian ketempat tinggal kalian yang baru."
Gavi, Milo dan Abi mengangguk dengan girang. Mereka bertiga berjalan mengikuti langkah Rarapati. Seluruh penghuni penjara nampak mengintip mereka dari balik jeruji besi dengan tatapan iri.
Sesampainya di luar lapas, mata Gavi Milo dan Abi berbinar menatap langit yang indah bermandikan taburan bintang dan cahaya rembulan. Mereka saling berpelukan dengan air mata yang mulai turun bercucuran.
Benar benar mengenaskan, kehidupan ketiganya penuh lika liku. Kadang naik kadang turun, kadang bahagia kadang sedih, kadang bertengkar kadang kompak dan saling menyayangi. Untuk sesaat mereka kembali merasakan semangat hidup yang telah lama hilang.
Tak mau larut terlalu lama, mereka kembali mengikuti langkah Rarapati menuju ke istana samping yang bernama Ruoyang. Di dalam istana tersebut dihuni oleh para putri dan pangeran yang tersebar dibeberapa rumah besar, bagaikan sebuah distrik yang luas.
Pandangan ketiganya menyusuri setiap sudut Istana Ruoyang dengan mata berbinar, sebab bangunan megah tersebut sangat mirip dengan candi candi di peradaban mereka berasal. Bahkan pilar pilar menjulang tinggi yang berjejer rapi di setiap pinggir jalan sangat ikonik bak dalam film-film.
"Besok aku akan memperkenalkan rumah rumah disini milik siapa saja, untuk sekarang klian boleh memilih ingin tinggal sendiri sendiri atau dalam satu ruangan?"
"Satu ruangan!" Ucap Abi dan Gavi.
"Sendiri sendiri!" Ucap Milo.
Ketiganya kompak menjawab serempak.
"Heh enak aja gue cewek! masa iya tidur bareng Lo berdua!" Tukas Milo.
__ADS_1
"Kita kan udah sering tidur bareng, sekarang juga samain aja." Celetuk Gavi.
"Supaya kalau ada apa-apa gampang, mil." Bisik Abi memberikan isyarat.
Milo mengangguk paham, "Iya di satu ruangan aja, putri."
Rarapati tersenyum kecil, ia cukup gemas dengan tingkah ketiga sahabatnya tersebut. "Baiklah, ini rumah kalian. Didalamnya sudah disiapkan berbagai keperluan kalian, silahkan beristirahat dulu besok jam 7 pagi akan ada pelayan yang menjemput kalian."
Ketiga Sahabat memberikan hormat seraya melihat kepergian Rarapati.
Setelah dirasa Rarapati sudah tak ada dalam jangkauan pandangan mereka lagi, Gavi Milo dan Abi beranjak masuk kedalam rumah megah dari bata merah dan kayu Kokoh dengan ukiran tangan yang khas tersebut. Mata ketiganya membulat sempurna saat melihat interior rumah yang menakjubkan. Tak kalah indah dengan interior rumah mereka sebelumnya yang diluar ibukota.
Di ruangan pertama terdapat tempat duduk lesehan yang berlapis emas dan bulu lembut sebagai alas. ruangan kedua terdapat 4 kamar yang saling berhadapan, ruangan ketiga adalah kamar mandi yang tertata rapi.
"Gilak! ini sih mirip hotel bintang lima di Bali!" Celetuk Milo.
"Bukan Bintang 5 lagi ini sih, 10 cocok nya." Tukas Abi.
"Tapi kok gak ada dapur ya, ntar masak gimana?" Timpal Gavi.
"Yakali tinggal di istana masak sendiri, pasti di masakin lah kayak gak pernah liat film fil sejarah aja Lo." Cibir Milo.
"Iya juga ya, hehe."
"Udahlah gue duluan mandi, udah gerah banget berapa hari gak ganti baju." Ucap Milo sembari beranjak memasuki kamar mandi.
Sementara Gavi dan Abi memilih duduk santai di ruang tamu yang cukup terbuka menunjukkan pemandangan perumahan dalam istana Ruoyang yang tersusun rapi. Sembari merasakan udara segar di kesunyian malam hari, samar samar aroma semerbak bunga Peony perlahan mendekat dan semakin menusuk.
"Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di dalam istana Ruoyang?"
Suara lembut memecah keheningan, Sontak Gavi dan Abi menoleh pada sumber suara. Seorang gadis cantik berbalut dress kerajaan berdiri tepat di samping mereka.
......................
__ADS_1