Terjebak Konflik Dinasti Hylva

Terjebak Konflik Dinasti Hylva
47. Terbongkarnya masalalu


__ADS_3

~15 tahun yang lalu


Malam sunyi itu, Zisa tengah menunggu kedatangan suaminya yang belum pulang dari rapat desa. Hujan badai turun dengan sangat deras, disertai petir yang terus menerus menyambar. Hari semakin larut namun Huda tak kunjung pulang, Zisa semakin khawatir dibuatnya. Dari kejauhan dia melihat seorang tetua pulang dengan berlari ditengah hujan.


“Tuan tunggu! Apakah rapat desa sudah selesai?” tanya Zisa.


“Rapat sudah selesai sejak 2 jam lalu nyonya, aku baru pulang karena membeli sesuatu dulu ke pasar." ujar pria tersebut sembari bergegas pergi.


Degg


Tangannya memegang erat dada. Khawatir terjadi sesuatu terhadap suaminya membuat Zisa semakin kalang kabut.


“Sudah selesai dua jam lalu ya, baik tuan terimakasih.” teriak Zisa.


Buru buru Zisa mengambil mantel dari kulit harimau yang dia punya, menerobos derasnya hujan hingga seluruh badan dan pakaiannya  kotor karena cipratan lumpur. Dengan segera dia menuju ke balai desa berharap suaminya masih ada disana.


Sesampainya di depan pintu balai desa, Zisa melihat sekeliling yang nampak sepi tak ada Siapapun, dia mengetuk pintu yang tak dikunci itu beberapa kali namun tak ada jawaban. Zisa membuka pintu perlahan dan masuk kedalam ruangan, selangkah demi selangkah kakinya mencari ke setiap sudut, hingga langkahnya terhenti didepan sebuah ruang istirahat.


Brakk


Zisa jatuh tersungkur kelantai dengan tatapan berkaca kaca saat melihat suaminya sedang bersetubuh dengan sahabatnya sendiri, Astra.


Menyadari ada seseorang yang masuk dan melihat mereka tanpa busana, Astra segera menghentikan 'hal' yang sedang dia lakukan bersama suami temannya itu diatas kasur. Astra menatap kearah Zisa dengan senyuman licik, sementara Huda yang menyadari kedatangan istrinya itu segera mengenakan pakaian dengan panik.


“I-ini tidak seperti yang kamu bayangkan Zisa. Kami hanya sedang....ahhh sudahlah.”  ujar Huda sembari mendekati Zisa yang masih tersungkur dengan tatapan kosong.


“Zisa bangunlah, kumohon. Lantai itu kotor.” imbuhnya sembari memegang bahu Zisa.


“Lepaskan! Lantai ini lebih bersih daripada tanganmu.”  Zisa menepis tangan Huda dan berjalan pergi meninggalkan ruangan.


“Zisa tunggu aku bisa menjelaskan semuanya!”


Huda berusaha meraih tangan Zisa. Namun Zisa segera menepis tangannya dan berlalu meninggalkan mereka.


Zisa terus berlari ditengah derasnya hujan, air matanya tak sanggup dia tahan, tangisnya kian pecah bersama deru air hujan yang turun mengguyur. Di belakangnya juga nampak Huda yang terus mengejar Zisa.


“Zisa tunggu, berhenti! Kumohon!” teriak Huda.

__ADS_1


Sepanjang jalan, yang Zisa pikiran hanyalah hubungannya dengan sang suami yang hampir berjalan lima tahun lebih itu benar benar hancur karena sahabatnya sendiri. Hingga sesampainya di dalam rumah pun Zisa langsung duduk di ruang tengah dengan kondisi yang masih basah kuyup, kotor dan berantakan. Isaknya tak berhenti sampai Huda tiba dihadapannya.


“Ini tidak seperti yang kau bayangkan Zisa, kumohon percayalah padaku.” ujar Huda sembari bersimpuh memegang tangan Zisa.


“Aku tidak buta Huda! Masih berani mengelak saat semua kulihat langsung dengan mata kepalaku sendiri!? Bajingan!” sahut Zisa.


“Yahh baik! Aku memang sudah tidak bisa mengelak lagi, namun jangan salahkan aku. Kau yang selalu sibuk hingga tidak punya waktu untukku!”


“Bukankah kau selalu lebih sibuk dariku? Aku sangat mempercayai mu Huda, mengapa kau malah berselingkuh dengan sahabatku sendiri.” ujar Zisa sembari menangis tersungkur.


“Kau selalu sibuk mengurus Paulo sampai melupakan aku suami mu, yang mempunyai hasrat dan nafsu! Setiap malam aku menunggu mu dikamar, namun kau selalu mengeluh lelah dan tak bisa melayaniku. 4 tahun Zisa EMPAT TAHUN kau tak membiarkan aku menyentuhmu. Salah kah bila aku khilaf terhadap Astra yang selalu setia di sisiku setiap saat?!” sentak Huda.


“Tapi dia adalah sahabatku! sakitnya akan berbeda bila kau meniduri perempuan bayaran!” Isak Zisa.


“Aku tidak akan pernah memaafkan kalian hshshs.” imbuhnya sembari pergi meninggalkan Huda dan mengurung diri di kamar.


Keesokan harinya Zisa berpamitan pada Paulo untuk pergi ke hutan, niat hati sebelumnya Zisa ingin meredakan emosi dan pikirannya yang sedang kacau dengan mandi di sungai.


Langkah nya terhenti, matanya terbelalak lebar dan mulai kembali berkaca kaca saat kembali melihat suaminya sedang bercumbu dengan Astra di sebuah gubuk di tengah kebun milik keluarganya.


Huda dan Astra yang kaget mendengar suara Zisa itu langsung menghentikan aksi mereka.


“Plakk...Plakk”dua tamparan keras Zisa layangkan pada wajah mulus Astra


“Apa yang kau lakukan Zisa! Hentikan!” Huda berusaha melerai.


“Wanita setan! Cuihh, murahan dan tak punya harga diri, cantik mu tidak berguna malah terpikat dengan bekas sahabat sendiri!” maki Zisa.


“Plak plak...”


Zisa terus menjambak dan memukuli Astra, Astra sendiri nampak kesusahan memberontak.


“Buk...brakk” Huda memukul kepala Zisa dengan batu hingga dia tak sadarkan diri.


Huda melepaskan batu ditangannya dan jatuh tersungkur menatap istrinya yang telah terkapar ditanah, sebab tersulut emosi ia sampai lupa mengendalikan diri.


“A-aku tidak bermaksud membunuh kamu.” ujar Huda dengan gemetar.

__ADS_1


Melihat itu Astra langsung memeluk Huda dengan erat.


“Tenanglah Huda, semua ini mungkin memang takdirnya.” bisik Astra.


“Apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Apa yang akan dikatakan warga bila mengetahui aku sebagai calon pemimpin suku membunuh istriku sendiri?” ucap Huda.


“Semuanya akan semakin sulit jika ada yang tahu, kita harus berusaha menyembunyikan kejadian ini.” ujar Astra.


“Apa maksudmu?”


“Sudah, ayo angkat tubuhnya!”


Mereka mengangkat tubuh Zisa dan membawa nya ke sungai. Didepan sungai yang deras itu mereka sedikit ragu, hingga pada akhirnya mereka tetap membuang tubuh Zisa ke sungai sampai hanyut jauh ntah kemana.


Sepulangnya dari hutan, Astra dan Huda menyembunyikan kebenaran sesungguhnya dan menyebarkan rumor bahwa istrinya berkorban menjadi tumbal demi menghilangkan kekeringan serta menurunnya angka kelahiran kala itu. Dia  mengorbankan dirinya sendiri untuk menghentikan Kutukan yang diderita suku Asmat selama 2 tahun lamanya itu.


Ditempat lain sekitar 2 hari tubuh Zisa terombang ambing di sungai hingga akhirnya nyangkut pada sebuah pohon tumbang didekat pemukiman warga, Fathur yang kala itu tangah berjalan jalan dipinggiran sungai bergegas menyelamatkan Zisa dan membawanya pulang untuk diobati.


Setelah 3 hari terbaring tak sadarkan diri, Zisa akhir bangun dan menceritakan semua yang terjadi pada Fathur, Fathur sendiri menyarankan untuk menunggu mereka dalam situasi paling bahagia barulah datang kembali untuk membalaskan dendam.


Sejak saat itu, Zisa berganti nama menjadi Hania dan bekerja di rumah hiburan sebagai kepala kordinator.


~Kembali ke Acara pernikahan


Mendengar penjelasan dari Zisa tersebut semua orang diruangan nampak kaget, tak menyangka ketua suku yang mereka hormati ternyata melakukan hal yang sekeji itu terhadap istrinya.


“Kami tidak  mau memiliki ketua yang kejam sepertinya!” ucap salah satu warga.


“Betull!! Betull” sorak warga lain.


“Setelah apa yang aku lakukan untuk desa ini, apakah kalian lebih mempercayai cerita wanita!!” teriak Huda.


“Bajingan!! Plak, Bruk” ucap Paulo sembari memukul Ayahnya itu hingga tersungkur.


“Menjijikan! Rasanya saat ini juga aku ingin mengirim mu ke sisi Tuhan, berikan pedang itu padaku Abi.” imbuhnya dengan tatapan tajam.


......................

__ADS_1


__ADS_2