
"Gue inget dengan jelas pas gue mau lari seseorang ngedorong gue masuk kedalam ruangan yang gelap. Sebelum gue balik orang itu mukul gue pake sesuatu. Dan sebelum pingsan, gue sempet liat orang itu pake pakaian modern dari dunia kita yang keliatan kaya stelan jas formal. Tapi dia pake topeng rubah” ujar Gavi sembari mengusap kasar pipi nya yang basah.
“Jadi maksud lo, ada orang lain didunia ini selain kita yang berasal dari masa depan?” Milo mulai penasaran dengan cerita Gavi.
“Gue gak yakin. Kalau iya pun ada, kita gak tau niat dia jahat atau baik” tegas Gavi
Milo terdiam sendu mendengar penjelasan Gavi.
Gavi menghampiri Milo dan memeluknya “Nanti kita tungguin dulu Abi sadar supaya nyari solusinya bareng bareng. Yang penting sekarang kita udah kumpul lagi” Ucapan.
Milo hanya mengangguk kecil dan membalas pelukan Gavi.
......................
Di luar gubuk, Paulo yang tengah memetik buah pepaya melihat segerombolan pasukan suku datang berbondong bondong. Khawatir hal itu merupakan perbuatan ayahnya, Paulo segera berlari masuk kedalam dan mengunci pintu gubuk.
“Cepat kalian kemasi barang barang dan pergi dari sini melalui pintu belakang.”
Paulo berucap dengan gelisah dan panik seraya membereskan barang barang ketiga sahabat. Paulo sedikit lega karena Isyah sudah pergi sejak beberapa saat lalu.
“Apa yang terjadi, Paulo?” Tanya Gavi.
“Diluar ada segerombolan warga suku sedang menuju kesini. Aku takut mereka datang mencari kalian.”
Deg, dengan perasaan kaget bercampur takut, Gavi dan Milo segera mengemasi barang barangnya.
“Tok tok tok...Tuan muda keluarlah! Apa tuan muda ada didalam” ucap salah satu prajurit yang menandakan mereka telah sampai di depan gubuk.
Hal ini membuat Gavi dan Milo semakin mempercepat gerakannya membereskan barang barang dan kebutuhan yang mungkin akan mereka perlukan.
“I-iya aku ada didalam. Sebentar aku sedang berganti pakaian.” sahut Paulo agar para warga tidak memaksa mendobrak pintu.
Kini Gavi membopong tubuh Abi yang masih tak sadarkan diri, sementara Milo membawa barang barang mereka.
“Pergilah, berjalan lurus 500 kaki kedepan. Saat menemukan persimpangan jalan setapak ambil lah jalur kiri dan jalan lurus terus. Saat menemukan sungai diamlah disana, aku akan segera menyusul.” ucap Paulo sembari membuka pintu belakang.
“Terimakasih Paulo, kami menunggumu” tutur Gavi.
__ADS_1
Gavi dan Milo terus berlari menuju kearah yang ditunjukkan oleh Paulo. Langkah mereka perlahan lahan mulai melemah. Mengingat mereka belum sepenuhnya pulih.
Milo yang merasakan sakit ta tertahan di seluruh tubuhnya nampak tak sanggup memaksakan kakinya melangkah. Perlahan lahan Milo ambruk jatuh tersungkur ke tanah.
“Miloo” teriak Gavi.
Saat melihat Milo yang sudah terkapar tak berdaya ditanah itu membuat Gavi segera menyandarkan Abi pada sebuah pohon dan bergegas menghampiri Milo.
Segera Gavi membopong tubuh lemah Milo dan menyandarkannya di samping Abi. Gavi tak habis pikir apa sebenarnya yang terjadi pada Milo sampai wanita yang dia kenal tangguh itu bisa sampai selemah ini.
Saat hendak duduk, Gavi melihat pakaian Milo yang tersingkap. Berniat membenarkan pakaian tersebut, Gavi malah salah fokus pada luka memar yang ada disekujur tubuh gadis malang tersebut.
“Apa yang terjadi sama lo sebenarnya mil." gumam Gavi seraya menatap Milo dengan iba.
Gavi tidak tahu, bahwasannya Milo rela berkorban menjadi umpan demi menyelamatkan nya.
Namun Gavi tidak sebodoh itu, ia menduga bahwa semua ini terjadi karenanya. Semangat hidup Gavi pun perlahan lahan mulai berkurang. Dia duduk disamping Milo sembari meremas kasar ambutnya.
Sejenak saat dia melihat sebuah belati di tas ransel yang di bawa Milo, sempat terlintas di benaknya untuk mengakhiri hidup. Namun keinginan itu dia hempas jauh jauh saat melihat kedua temannya tak berdaya dan masih membutuhkan perlindungannya.
"Harusnya kalian gak usah nyelamatin gue, lebih baik gue mati kemarin." Rintih Gavi.
*****
“Dunia selalu menyajikan teka teki setiap hari. Tugasmu hanya mengkaji puisi. Seperti sang gagak yang terbang menuju mentari. Berniat mencari mangsa dipesisir padi. Malah mendapati diri mati terbakar api” Seorang pria berjas hitam dan bertopeng rubah tiba tiba muncul di hadapan Gavi. Matanya membulat sempurna, lelaki itu persis seperti yang ia jumpai saat di gua.
“Si-Siapa kamu.” Mulut Gavi bergetar, baru kali ini ia merasa takut saat berhadapan dengan seseorang.
“Sampai jumpa nanti” Ucap lelaki misterius tersebut.
Dalam sekejap, muncul cahaya yang sangat terang perlahan menyingkap pandangan Gavi, dan saat cahaya itu mulai redup ia terbangun. Gavi menyadari bahwa itu hanya mimpi. Namun ntah kenapa benar benar terasa nyata.
“Gav...Lo udah bangun?” tanya Milo yang ternyata sudah sadarkan diri lebih dahulu.
“Mil...Lo gapapa kan? Gak ada yang sakit kan?” Sejenak Gavi menghiraukan mimpi nya dan beralih menatap Milo dengan berkaca kaca.
“Khmmmm.....gue ga ditanyain juga nih?” Ucap Abi.
__ADS_1
“Abi?? Akhirnya Lo bangun juga” sahut Gavi sembari mendekat dan memeluk tubuh Abi “Syukur deh gue jadi ga perlu bopong Lo lagi, beras bopong sapi Gue” imbuhnya seraya berderai air mata bahagia.
Abi, Milo dan Gavi tertawa bersama dan berpelukan
*****
Ditempat lain, Paulo berusaha menelisik maksud kedatangan segerombol prajurit utusan ayahnya tersebut.
“Apa maksud kalian datang berbondong bondong ke tempatku seperti ini?” Paulo bertanya dengan tegas.
“Kami diperintahkan oleh tuan untuk membawa tuan muda kembali” ucap salah satu prajurit.
“Kenapa ayahku meminta kalian membawaku? Aku disini sedang memanen beberapa sayuran untuk persediaan musim dingin!” Paulo mengeriyatkan dahi.
“Kami juga tidak tahu, kami hanya melaksanakan perintah”
“Aku tidak mau. Kalian kembalilah! Aku punya urusan yang lebih penting!” Paulo berbalik, menghiraukan para prajurit.
“Sepertinya gadis haram itu lebih penting daripada perintah ketua” ucap Astra yang tiba tiba muncul di belakang pasukan “Atau, orang orang aneh yang asal usulnya tidak jelas itu juga lebih penting?” imbuhnya.
“Apa maksudmu, Astra!” tegas Paulo.
“Tidak usah bebasa basi. Aku tahu kamu menyembunyikan gadis terkutuk dan orang orang aneh itu didalam gubuk ini kan?” tanya Astra sembari bersilang tangan.
“Jangan main main denganku Astra atau kamu akan menyesal” ucap Paulo dengan tatapan tajam.
Hanya dengan isyarat jari yang diberikan oleh Astra, seluruh prajurit yang merupakan bawahan ketua suku masuk kedalam gubuk dan mencari keberadaan Isyah, Abi, Gavi serta milo.
Mengingat watak Astra yang merupakan perempuan berhati batu dan kejam, mungkin itulah salah satu alasan ayah Paulo mengangkatnya menjadi tangan kanan kepercayaannya sekalipun dia adalah perempuan.
Selain daripada itu, Astra juga sebenarnya sangat tidak menyukai Paulo, apalagi saat dia mengetahui bahwa Paulo sebenarnya tahu rahasia antara dirinya dan ketua suku.
“Tidak ada siapapun didalam tuan.” ucap salah satu warga.
“Bagaimana mungkin, coba periksa sekali lagi!” tegas Astra
“Tidak usah! Jika tidak ada ya berarti tidak ada! Apa sebenarnya yang kau cari Astra?” kesabaran Paulo hampir habis.
__ADS_1
“Hah... baiklah, kali ini kau lolos! Ayo kita kembali” ucap Astra sembari berlalu meninggalkan gubuk bersama para warga
......................