Terjebak Konflik Dinasti Hylva

Terjebak Konflik Dinasti Hylva
48. Dendam terbalaskan


__ADS_3

Abi beranjak mendekati Paulo. Dia mengelus punggung Paulo berusaha menenangkan amarahnya yang sedang membara hebat. Laki laki mana yang tidak marah ketika mengetahui wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya diperlakukan seburuk itu.


“Tenang paulo, aku tahu masalah ini sangat berat namun disini masih ada para warga. Lebih baik kita bubarkan mereka dulu.” Bisik Abi sembari mengelus punggung Paulo.


Mendengar ucapan Abi tersebut, Paulo nampak menghela nafas dan memukul dinding kayu dengan keras.


“HAHKK!”


“Mohon maaf para tamu yang telah menyempatkan waktu untuk hadir, sepertinya acara hari ini kami tunda dulu karena urusan keluarga yang mendesak, silahkan para tamu meninggalkan ruangan.” sahut Gavi yang cekatan saat memahami situasi mulai memanas.


Para warga pun pergi meninggalkan ruangan satu persatu, nampak mereka keluar dengan wajah kesal dan bergunjing mengenai kehidupan keluarga pemimpin suku.


Saat ruangan kosong termasuk Tantri yang ikut keluar karena tidak tahu apapun, Gavi segera mengunci pintu dari dalam dan hanya menyisakan tiga sahabat, Fathur, Zisa, Paulo, Huda dan Astra.


“Apa yang kau inginkan sekarang dariku?! Kau sudah mengacaukan hari bahagia ku, dasar perempuan ******!” maki Astra.


“Yah aku memang ******! tapi tidak pernah memakan makanan bekas sahabatnya sendiri! Jika aku ******, lalu apa kau? Anjing?” sahut Zisa.


“Kauuu...!”


Astra menghampiri Zisa dan berusaha menamparnya, namun tangannya dipegang dengan keras oleh Paulo.


“Apa lagi yang mau kau lakukan pada ibuku?!”


Tatapan Paulo nampak sangat melotot tajam, Astra juga terdengar merintih kesakitan saat tangannya dipegang dengan sangat kuat.


“Plakk... Lepaskan dia! Berani sekali kau menyakiti istriku.”


Ucap Huda sembari menampar Paulo hingga dia jatuh tersungkur.


“Hentikan semua ini! Bicarakan semuanya dengan kepala dingin. Jika terus seperti ini kapan masalah yang ingin dipecahkan bisa selesai?!” Abi berusaha melerai suasana yang kian panas.


“Apalagi yang perlu dipecahkan?! semuanya sudah jelas! Dia berusaha membunuhku dan sekarang dia berubasaha menyakiti anakku!” sahut Zisa.


“Apa yang ingin kau lakukan padanya Zisa, beritahu aku. Aku akan melakukannya untukmu!” tanya Fathur.

__ADS_1


“Aku ingin dia hidup dalam kesengsaraan hingga dia memohon mohon untuk mati!” sahut Zisa sembari menatap tajam.


“Baik, jika itu yang kau inginkan!” Ucap Fathur.


“Penjaga! Masuk!!” imbuhnya.


Mendengar perintah Fathur tersebut, sekelompok besar prajurit datang dan mengepung Huda serta Astra yang masih tersungkur di lantai. Fathur mengeluarkan sebuah gulungan kertas emas dari balik jubahnya.


“Titah raja!”


Mendengar itu semua orang dalam ruang langsung duduk bersimpuh.


“Atas kejahatan yang dilakukan oleh kepala suku Asmat beserta bawahannya yang paling setia, telah membunuh sekelompok besar masyarakat yang tidak bersalah dalam perebutan wilayah kekuasaan tiga tahun silam, serta percobaan pembunuhan terhadap istrinya sendiri, dan pengkorupsian sejumlah besar tanah di Utara Hylin. Maka dengan ini, Aku Candrayana II putra Candrayana I menjatuhkan hukuman gantung hari itu juga kepada kepala suku dan bawahannya yang setia!” Demikian isi titah raja yang dibacakan oleh Fathur.


Mendengar titah tersebut, Astra dan Huda menangis sejadi-jadinya. Mereka memohon bahkan berlutut dihadapan Zisa untuk menyelamatkan mereka. Namun apa daya, dendam adalah dendam, membalaskan nya ada sebuah ketenangan, begitulah yang terbesit dihati Zisa.


Para prajurit menangkap kemudian menyeret tubuh Huda serta Astra menuju ibu kota, sepanjang jalan seluruh warga menatap mereka dengan tatapan jijik bercampur kebencian sebab sebelumnya Fathur telah menyebarkan informasi mengenai apa yang dilakukan Huda dan bawahannya tersebut.


“Aku tidak menyangka bahwa keluarga Paulo ternyata akan sehancur ini mil” bisik Abi.


Kini Huda dan Astra telah sampai di aula hukuman mati. Nampak dua algojo sedang menunggu kedatangan mereka. Astra dan Huda pun berdiri didepan tiang gantung.


Yang menyaksikan hukuman Itupun hanya Paulo, Zisa, Fathur dan ketiga sahabat. Dua orang prajurit datang menghampiri mereka dan mempersiapkan tali serta tiang gantung.


“Astra, terimakasih selalu menemaniku bahkan hingga detik terakhir seperti sekarang. Maafkan aku bila semasa hidupmu hanya kamu habiskan dengan sia sia bersama ku.”  ujar Huda berkaca kaca sembari meraih tangan Astra.


“Sia sia? Tidak. Hidupku terasa sangat indah bersamamu. Tidak ada lagi yang harus ku sesali, kelak kita bertiga akan terus bersama dikehidupan selanjutnya.” sahut Astra sembari menggenggam erat tangan Huda dan mengelus perutnya lembut


"Apa maksudmu bertiga Astra? Apakah kamu..?"


"Iya, sudah dua bulan." ujar Astra sembari tersenyum dan menangis haru.


Huda pun tersenyum lebar dan mulai meneteskan air mata hingga wajah mereka perlahan ditutupi sebuah kain hitam. Tali kasar dan dingin terasa mulai menempel pada leher. Matanya terpejam menahan deruan nafas yang mulai tak teratur.


"Hidup ini terlalu mengecewakan, terimakasih kamu telah memanggilku pulang lebih awal, tuhan."

__ADS_1


“brakkk”


penjaga mendorong kursi yang mereka tumpangi, dalam hitungan menit tubuh mereka tak berkutik sama sekali menandakan mereka telah tiada. Orang orang yang melihat itu nampak kaget dan menutupi mata sembari tertunduk.


Paulo dan Zisa juga nampak saling berpelukan dan menangis tersedu sedu tatkala melihat orang yang pernah paling mereka andalkan sebelumnya malah memilih pergi dan bahkan mati dalam keadaan bergandengan tangan dengan penghancur keluarga mereka.


Sungguh ironis, sesungguhnya kematian Huda tersebut terbilang tidak terlalu setimpal dengan perbuatannya yang lebih keji sebelumnya. Namun ini merupakan permohonan terakhir dari Zisa terhadap Fathur sebelumnya yang memaksa agar suaminya itu bisa beristirahat dengan penyesalan bukan kebencian.


“Paulo aku turut berduka cita ya, semoga kalian selalu hidup bahagia.” ujar Milo sembari bergantian memeluk Paulo dan Zisa, begitu juga Abi dan Gavi.


Tak sadar seseorang dengan tatapan berkaca kaca menatap mereka dari gedung atas aula, nampak orang tersebut menggenggam erat tangannya dan berlalu meninggalkan ruangan.


“Sebelumnya aku sudah berbicara dengan raja, dan dia memberikan ini kepadamu sebagai wasiat.” ujar Fathur sembari menyerahkan segulung kertas.


“Apa ini paman?” tanya Paulo.


“Bacalah, dan beri tahu tetua desa bahwa ini adalah anugrah langsung dari raja.”


Paulo membuka kertas tersebut, dia nampak kaget dengan isi yang tertera dalam kertas.


“A-apa ini? Raja mengangkatku sebagai kepala suku secara langsung?”


“Wahhh selamat ya Paulo...eh ketua suku.” ujar Milo, Gavi, dan Abi yang langsung memeluk Paulo.


“Terimakasih Tuan, aku sangat berhutang budi padamu. Tanpamu mungkin aku tidak akan merasakan semua ini.” ujar Zisa sembari memeluk Fathur.


“Tidak masalah, ini semua adalah balasan atas jasamu telah bekerja dengan sangat baik kepadaku.” ujar Fathur.


“Sebenarnya aku merasa sangat heran dengan identitas Tantri, terutama kau Fathur. Siapa kau sebenarnya?” tanya Abi.


“Betul, tidak mungkin orang biasa bisa membawa titah raja.” imbuh Gavi.


“Kalian akan segera mengetahuinya nanti. Temui aku besok sore di gua tempat pertama kalian keluar dan masuk kedunia ini sebelumnya jika kalian ingin tahu jawabannya.” ujar Fathur sembari berlalu pergi.


Mendengar itu, ketiga sahabat saling bertatapan heran, ntah apa yang akan mereka hadapi lagi selanjutnya. 

__ADS_1


......................


__ADS_2