Terjebak Konflik Dinasti Hylva

Terjebak Konflik Dinasti Hylva
17. Balas budi


__ADS_3

Lama memacu kuda, akhirnya mereka sampai di tepi tenda. Segera mereka turun dan mengencangkan ikatan tali kuda pada pohon agar tidak mudah lepas.


“Mil...Mill aku membawa tabib.” ucap Gavi sembari masuk kedalam tenda.


Gavi terkejut melihat Milo yang sudah menangis sesenggukan dengan Abi yang tampak mengeluarkan busa.


“Permisi tuan biar kami memeriksakannya” ujar Hima . Gavi dan Milo pun keluar dari tenda.


Malam itu gerimis hampir reda, Milo masih saja menangis padahal tubuhnya tampak menggigil kedinginan. Gavi berusaha menenangkan Milo dengan memeluknya.


“Tenang mil, Abi akan baik baik saja” ucap Gavi.


Setelah satu jam mereka menunggu akhirnya Hima dan Gara keluar dari tenda. Menyadari itu, Milo dan Gavi bergegas mendatangi mereka.


“Bagaimana keadaan nya? Apakah dia baik baik saja?” tanya Milo berkaca kaca.


“Teman kalian baik baik saja, Dia hanya terkena racun tanaman gangsa. Tumbuhan itu memang terlihat seperti buah berry, jadi mungkin dia memakannya karena tidak tahu. Dihutan sana banyak tumbuhan yang berbahaya, jadi kalian harus hari hati.” ucap Gara.


“Ini ada beberapa obat yang harus direbus dan dia minum setiap pagi sampai tubuhnya benar benar pulih.” ujar Hima sembari menyodorkan beberapa kantong obat.


“Terimakasih tuan, tapi kami hanya pengembara yang tidak berpenghasilan. Kami tidak memiliki apapun untuk diberikan pada kalian.” ucap Gavi sembari tertunduk lesu.


“Kami hanya menjalankan tugas dari pangeran, tidak usah sungkan.” ucap Gara.


“P-pangeran, siapa yang kalian maksud.” tanya Milo.


“Tadi temanmu ini mempertaruhkan nyawanya menghentikan rombongan Pangerang Hardijaya yang baru pulang tamasya. Untungnya beliau sedang berbaik hati dan mengirimkan kamu sebagai bala bantuan.“ jelas Hima.


“Ji-jika memang begitu, tolong sampaikan ucapan terimakasih kami kepadanya. Kami akan sangat berhutang budi pada pangeran.” ujar Milo.


“Baiklah, karena temanmu sudah baik baik saja dan ini juga sudah dini hari. Lebih baik kami pulang ke istana.” ucap Gara sembari berpamitan.


Gavi dan Milo pun menemani mereka menuju kuda nya. Mereka mengantarkan kepergian kedua tabib muda itu dengan senyuman hangat.


Setelah memastikan bayangan kedua tabib itu tidak nampak lagi. Mereka bergegas kembali ketenda dan menghampiri Abi yang masih terbaring lemah. Namun, kondisi nya terlihat jauh lebih baik sekarang. Tubuhnya sudah tidak lagi membiru dan suhu tubuhnya juga sudah stabil.


Gavi dan Milo pun tidur disamping Abi. Mengingat mereka hampir saja kehilangan salah satu teman berharga mereka, cukup membuat mereka terpukul.


Saat ini Gavi dan Milo hanya menatap ujung tenda diatas mereka dalam keheningan. Mungkin yang riuh diotak mereka hanya tentang rasa tegang memikirkan hari esok yang akan mereka lalui seperti apalagi. Perlahan mata mereka terpejam, dan akhirnya tertidur.

__ADS_1


“Tok tok tok....Gavi, Milo, Abi...apa kalian masih tidur?” ucap seorang laki laki diluar tenda yang terdengar tidak asing.


Sayup sayup Milo membuka matanya, melihat bayangan diluar tenda yang sepertinya terlihat sudah siang. Diapun segera bangun dan membuka tenda “Iya tunggu sebentar” sahutnya.


“Arya!” ucap Milo yang kaget melihat keberadaan Arya didepan tendanya.


“Halo Milo apa kabar?” ucap Arya sembari merangkul Milo.


“Arya apa kabar? Aku baik baik aja.” sahut Milo sembari melepaskan pelukan.


“Dimna Gavi dan Abi? Apa mereka masih tidur.” tanya Arya.


“Abi masih tidur, kemarin dia keracunan dan kondisinya sempat memburuk. Untung ada orang baik yang mau menolong kami menyembuhkannya.” ucap Gavi yang tiba tiba keluar dari tenda.


“Hahh? Lalu sekarang bagaimana keadaannya?” tanya Arya


“Sepertinya aku datang terlambat, aku sebenarnya sempat memeperlajari ilmu pengobatan di desaku.” Imbuhnya.


“Tidak masalah, sekarang kondisinya sudah membaik.” ucap Milo.


“Syukurlah kalau begitu.” ujar Arya .


“Oiya, aku kesini membawa sedikit barang bagi kalian sebagai bentuk balas budi karena telah menyelamatkanku waktu itu.” imbuhnya.


“Wahh apa ini, sedikit darimna? Ini si terlalu banyak Arya!” ujar Gavi.


Mereka mendekati peti peti itu dan membukanya. Isinya adalah pakaian pakaian dan keperluan mereka, ribuan keping koin, Buah buahan dan sayuran serta banyak lagi. Pemberian dari Arya itu berhasil menyadarkan mereka bahwa Arya mungkin bukan orang sembarangan.


“Ya tuhan, darimana kamu mendapatkan semua ini? Aku tidak menyangka kamu  akan memberikan imbalan sebanyak ini.” tanya Milo yang masih tak percaya.


“Kebetulan keluargaku memiliki perkebunan yang luas, jadi kehidupan kami cukup terpenuhi hehe” ujar Arya “Ohh pantas saja kalau begitu.” sahut Milo.


“Ini untuk kalian” ucap Arya sembari menyodorkan sebuah kertas berwarna merah.“ Itu surat kepemilikan tanah dan rumah, aku memberikannya pada kalian.” imbuhnya.


“APAAA?” teriak Gavi dan Milo yang kaget mendengar pernyataan dari Arya itu.


“Tidak usah kami tidak membutuhkannya. Ini terlalu berlebihan.” sahut Abi sembari mengembalikan gulungan kertas itu ke tangan Arya.


“Tidak masalah jangan sungkan, aku hanya tidak tega melihat orang orang yang sudah menyelamatkan hidupku malah hidup terpencil dan hanya di dalam tenda seperti ini. Aku hanya ingin kalian bisa hidup lebih layak dan menetap disini.” ujar Arya.

__ADS_1


“Ta-tapi..” ucapan Milo terpotong.


“Sudah ambil saja, ayo berkemas, aku akan membawa kalian pada rumah baru. Dan ya, aku juga membawa beberapa orang untuk membantu kalian.” ucap arya.


Gavi dan Milo masih tertegun tak percaya dengan apa yang terjadi. Mengingat hari hari sebelumnya mereka lalui dengan berbagai kesialan, apakah ini balasan kebahagiaan yang mereka dapatkan.


Sementara mereka masih tertegun, orang orang bawaan Arya mulai mengemasi barang barang mereka. Milo dan Gavi hanya bisa saling bertatapan, mereka nampak benar benar kehabisan kata kata.


Setelah beberapa lama, barang barang dan tenda mereka berhasil dibereskan. Kini, Gavi membopong tubuh lemah Abi dan berjalan menuju Arya.


“Sekarang kemana kita harus pergi?” tanya Milo.


“Lihatlah dua kuda itu, aku memberikannya kepada kalian. Tolong rawat dengan baik.” ucap Arya sembari menunjuk dua kuda berwarna hitam dan putih yang tengah memakan rumput.


“Tidak Arya, kamu sudah memberi kami terlalu banyak. Aku takut malah kami yang berhutang budi padamu.” ujar Gavi.


“Aku punya terlalu banyak kuda, anggap saja itu pemberian dariku supaya kuda kuda itu lebih bermanfaat.” jelas Arya


“Oiya karena kalian kan bertiga, kurasa Abi bisa mengendarai kuda yang dibawa Gavi. Biarkan aku membawa Milo di kuda ku” imbuhnya.


“Hmm baiklah.” ucap Milo dan Gavi.


Kini, mereka menunggangi kuda. Berjalan perlahan menyusuri hutan, diikuti orang orang bawaan Arya dibelakang mereka membawa kereta barang.


“Mil bagaimana? Apakah kamu berubah pikiran?” Ucap Arya memulai pembicaraan.


“Hmmm...itu ya...ak-akuu.” ucap Milo yang nampak bingung menjawab pertanyaannya.


“Tidak apa apa jangan ragu. Jangan mengubah keputusanmu hanya karena aku memberikan semua ini pada kalian jadi kamu merasa tidak enak. Jujur saja, aku akan menerima keputusanmu.” ujar Arya.


“Ma-maafkan aku Arya. Aku tidak bisa berpaling semudah itu dari orang yang sudah lama kucintai. Aku tahu kamu tulus kepadaku, dan aku yakin kamu juga tahu aku tulus kepadanya.” jelas Milo.


“Hahaha baru kali ini seseorang menolak ku terang terangan mil, kamu benar benar menarik. Tidak masalah, asalkan kita masih bisa menjadi teman saja itu sudah cukup.” ujar Arya.


“Tentu, aku ingin kita terus seperti ini. Ini ambillah cincinmu.” sahut Milo sembari.


"Cincin itu sudah kuberikan padamu, maka akan selamanya menjadi milikmu."


"Tapi ini terlalu mahal."

__ADS_1


"Sudah terima saja..." Ucap Arya memaksa.


......................


__ADS_2