
Berulang kali Milo menghubungi nomor ibunya namun tak ada jawaban. Ia mengecek stelan Ponsel sebelum terperanjat kaget hingga ponsel ditangannya jatuh ketanah.
“Vi, Bi, coba cek hp kalian ini tanggal berapa!” ucap Milo yang nampak kaget hingga melotot.
“Apa sih mil, biasa aja kali meskipun kita emang udah kedampar lama di dun.....hahh?? I-iniii...?” Gavi ikut kaget.
“Kenapa masih tanggal 15 mei 2023? Kita kan udah ngilang selama 6 bulan!?” imbuh Abi.
“Mungkin eror kali, karena mati kelamaan gak dibuka.” ujar Gavi sembari mengutak atik ponselnya.
”Ngga! Sekarang emang masih tanggal 15 mei, liat nih notif di Instagram gue, semuanya gak ada perubahan. Ini sama aja kayak kita ngilang Cuma 2 jam.” ucap Milo sambil menunjukkan ponselnya.
Menyadari bahwa mereka terjebak didunia pararel hampir selama 6 bulan namun saat berhasil kembali ternyata hanya menghabisi waktu 2 jam di dunia nyata, mereka benar benar nampak kaget tidak percaya.
“Kring..kring..kring” suara dering ponsel Milo yang menunjukkan ibunya menelpon balik.
“H-halo mahh?”
“Halo sayang, Bukannya kamu lagi mendaki sama Gavi dan Abi. Kenapa telpon mamah?”
Mendengar suara ibunya itu Milo langsung menangis terharu, suara yang benar benar ia rindukan akhirnya bisa kembali di dengar. Melihat itu juga Gavi dan Abi mengelus punggung Milo berusaha menenangkannya.
“Mah, mamah apa kabar hshshs?”
“Ya baik lah, tadi pagi kan kita baru pamitan. Kenapa kamu seperti menangis sayang?”
“Ngga mah, Milo rindu mamah."
“Lebay kamu ah. Udah mamah tutup dulu mau lanjut meeting.”
“I-iya mah love you."
“Love you to honey, have fun ya.”
Milo menjatuhkan ponselnya sebab tangannya mulai gemetar dan matanya terus mengeluarkan air mata haru. Mereka bertiga pun saling berpelukan untuk menguatkan satu sama lain.
Satu jam mereka habiskan untuk meratapi nasib yang begitu hebat mempermainkan mereka, tanpa sadar mentari sebentar lagi akan terbenam menandakan hari akan segera berganti malam.
“Gimana nih sekarang udah sore? Pulang atau nginep dulu semalam?” tanya Abi memecah keheningan.
“Gue ga sanggup, pengen cepet cepet pulang." sahut Milo.
“Kita pulang sekarang aja, lagian kalo kita bermalam disini kita ga punya stok makanan.” ujar Gavi.
Akhirnya mereka sepakat untuk turun bukit kala itu juga. Angin sepoi-sepoi hutan pohon pinus terasa sangat menyegarkan pikiran mereka yang benar benar semrawut, heningnya hutan dibumbui kabut tipis benar benar membuat mereka hanyut dalam lamunan di sepanjang jalan.
Di setengah perjalanan menuruni bukit, mereka bertemu seorang kakek tua yang nampak kewalahan membawa dua ikat kayu bakar.
“Kek mau kemana? Biar kami bantu bawakan.” Seloroh Gavi.
“Tidak usah nak, rumah kakek ada dibawah bukit dan cukup jauh."
“Gak masalah kek, kami juga mau turun bukit, biar sekalian.” sahut Abi yang langsung meraih kayu dipundak sang kakek, begitu juga Gavi.
__ADS_1
“Ahh yasudah terimakasih nak.”
“Kalian habis bermalam di puncak gunung toh nak?” Imbuhnya.
“Kira kira begitu kek hehe.” Sahut Milo.
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah kakek tua tersebut yang hanya terlihat sebuah gubuk sederhana dibawah bukit, hanya sekitar 30 menit berjalan akhirnya mereka sampai.
“Terimakasih nak, kalian anak yang baik. Mampirlah dulu, cuaca juga sedang gerimis."
“B-baik kek jika boleh ke numpang istirahat sebentar.” ucap Gavi.
“Tentu tentu. Silahkan duduk disini, maap rumah kakek kecil jadi tidak muat bila masuk kedalam rame rame.”
“Gapapa kek kami hanya sebentar kok hehe.”
kakek tersebut bergegas masuk nampak menyiapkan beberapa cangkir air hangat untuk ketiga sahabat.
“Ini minumlah, hanya ini yang bisa kakek suguhkan.”
“Terimakasih kek jangan repot repot.” ucap Abi.
“Apakah kakek tinggal sendiri dirumah ini?” imbuhnya.
“iya, istri kakek sudah meninggal sedangkan anak anak kakek merantau ke kota.” mata sang kakek nampak berkaca kaca.
“M-maaf kek, aku lancang bertanya hal pribadi seperti itu." timpal Abi.
Nampak ketiga sahabat benar benar prihatin dengan kondisi kakek tersebut, di usia nya yang tak lagi muda harusnya hidup bahagia bersama anak cucunya malah hidup sebatang kara jauh dari pemukiman warga di pelosok bukit seperti ini. Sampai tiba tiba pandangan sang kakek tertuju pada leher jenjang Milo yang menampakkan sebuah kalung liontin berwarna biru.
“Nak, dari mana kamu mendapatkan kalung itu?”
“Kalung ini diberikan seseorang kepada kami, katanya kalung ini memiliki banyak manfaat.” sahut Milo.
Mendengar jawaban Milo tersebut, kakek hanya diam tertunduk dan tersenyum kecil.
“Kakek punya sesuatu untuk kalian sebagai bentuk balas Budi.”
“Tidak usah repot repot kek, kami ikhlas melakukannya." Sahut Gavi diiringi anggukan dari Milo dan Abi.
Sang kakek bergegas masuk kedalam rumah dan mengambil sebuah kotak yang nampak terlihat sangat kuno.
“Ini, bukalah saat kalian sampai dirumah. Isinya tidak seberapa tapi semoga bermanfaat bagi kalian."
“Tidak usah kek tidak perlu."
“Sudah ambil saja!”
Karena sang kakek yang terus memaksa, akhirnya mereka menerima kotak tersebut.
“B-baik kek terimakasih.... gerimis juga nampak sudah reda, kami permisi pulang ya kek.” ucap Milo.
“Ah iya, hati hati di jalan ya!”
__ADS_1
Merekapun berpamitan dengan kakek tersebut dan kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak menuju desa tempat mereka memarkirkan mobil.
...----------------...
Setelah kepergian 3 sahabat.
“Aku tidak menyangka akan bertemu dengan orang orang terpilih lagi setelah ribuan tahun hidup digunung ini sebatang kara, benar benar mengejutkan.” ujar kakek.
“Kau sudah memberikan apa yang dititipkan oleh tuanku pada mereka?” ucap Fathur yang tiba tiba ada disamping kakek tersebut.
“Tentu saja, sekarang aku boleh pergi dari gunung ini kan? Aku ingin mengembara ke dunia lain.” sahut kakek.
“Tentu, terimakasih atas bantuanmu.” sahut Fathur memberi hormat.
Ucapan tersebut hanya disambut oleh senyuman hangat dari kakek hingga dalam sekejap mata seluruh gubuk dan isinya beserta sang kakek hilang ntah kemana bagaikan ditelan bumi.
“Akhirnya tugasku selesai juga. Sekarang tinggal satu lagi..." ujar Fathur sebelum ikut menghilang ntah kemana.
...----------------...
Nafas berderu keras, tubuh mulai bermandikan keringat. Hampir satu jam setengah mereka terus berjalan menuruni bukit hingga akhirnya mereka sampai didepan mobil yang mereka parkir ditempat penitipan.
“Gilaaa... akhirnya sampe juga!” Celetuk Milo yang langsung terkapar ditanah, begitu juga Gavi dan Abi.
“Ayo cepet buka pintunya vi, gue gak sabar pengen cepet cepet pulang!” imbuhnya.
“Bentar ngapa, gue nafas dulu!”
“Aduh gue kebelet lagi vi, mil. Bentar ya gue nyari toilet umum dulu.” Abi berlari meninggalkan mereka.
“Buset masih ada tenaga aja tuh anak buat lari." ujar Milo.
“Namanya juga panggilan alam haha.” sahut Gavi.
Sembari menunggu Abi kembali, Gavi mencari kunci mobil didalam tasnya. Namun aktivitas nya terhenti saat mendengar sapaan dari seseorang yang sepertinya warga setempat.
“Mba, mas. Baru pulang mendaki ya?” ujar seorang lelaki berkopiah yang nampak Hendak berangkat ke masjid.
“Iya mas hehe.” sahut Gavi.
“Mau pulang sekarang toh mas?”
“Iya mas soalnya udah malem dan pengen cepat cepat pulang juga.” ujar Milo.
“Owalah, kalo gitu hati hati ya mas. Keluar dari desa ini nanti kan ngelewatin kebun pinus, kalau malam biasanya berkabut tebal mas mba dan rawan begal.”
“Wahh makasih ya infonya mas.”
“Iya mas mba, saya permisi ya mari.”
“Iya mas monggo.”
......................
__ADS_1