
Milo pergi meninggalkan ruangan dengan wajah masam menuju toilet umum yang lumayan jauh dari ruang ICU. Dia Berjalan sembari bergerutu memaki perempuan yang merembut cinta pertama nya itu benar-benar membuat Milo merasa kesal.
Di tengah lorong, langkah kakinya terhenti didepan sebuah ruangan dokter kandungan. Matanya terbelalak lebar saat melihat sepasang suami istri yang tengah duduk menunggu antrian terlihat benar-benar mirip dengan Paulo dan Isyah namun dalam balutan pakaian modern. Untuk sesaat Milo mengucek-ngucek matanya sebab takut salah lihat.
“Gak. Gak mungkin pasti gue salah liat.” ujarnya sembari berjalan menghampiri dua orang tersebut.
“P-paulo? Isyah? Ini kalian bukan?” mendengar pertanyaan Milo itu, kedua orang yang benar-benar mirip dengan Paulo dan Rarapati tersebut saling bertatapan heran.
“Maaf mba, salah orang mungkin.” ucap si pria sembari berusaha berpindah tempat menghindari Milo yang masih tertegun heran.
“T-tapi mas, mbak. Kalian bener-bener mirip sama teman saya.” ujar Milo menghentikan langkah dua orang tersebut.
“Maaf mbak kami bukan orang sini, hanya sekedar mampir untuk periksa ke dokter. Sepertinya mbak salah orang.” sahut si perempuan.
“Oh gitu ya, ya sudah mbak maaf ya sudah mengganggu.” Seloroh Milo sembari beranjak meninggalkan mereka.
“Waduh, kok bisa ya mirip banget. Apa jangan-jangan mereka reinkarnasi dari Paulo dan Isyah di masa sekarang? Kalau bener sih syukurlah, seenggaknya di dunia ini mereka bisa hidup bersamam” gumam Milo sembari melanjutkan langkahnya menuju toilet.
Sesampainya di toilet, Milo membasuh mukanya dengan air, matanya menatap tajam wajahnya yang nampak masih memunculkan ekspresi kesal tatkala mengingat kejadian sebelumnya di ruang rawat inap.
Saat hendak beranjak mengambil tisu, pandangan matanya nampak kabur. Kepalanya terasa berputar dan tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dan barkkk, Milo jatuh tak sadarkan diri.
...----------------...
POV : alam bawah sadar Milo
“hahh dimana ini?” Ucapku sembari mengamati sekeliling yang nampak gelap gulita.
Samar-samar kulihat bayangan setitik cahaya menyala diujung tempat itu. Aku bergegas menghampiri setitik cahaya tersebut. Kuamati sekeliling benar-benar gelap, rasanya seperti berada ditengah hutan belantara yang rimbun pada malam hari.
Dengan tanah yang becek dan berbau lumut, aku terus melangkahkan kaki menuju setitik cahaya itu. Langkahku mulai melambat saat kulihat dua orang tak sadarkan diri yang benar-benar kukenal terikat kuat di sebuah pohon.
“Gavii...Abii!” aku berteriak histeris sembari menghampiri mereka.
__ADS_1
“Vi, Bi...bangun hshshs”
Aku terus berusaha membuka ikatan tali yang mengikat tubuh mereka. Ku cari benda yang dapat membantuku melepasnya namun tak ada apapun. Berbagi cara telah kucoba namun apa daya, semuanya sia-sia. Malah tanganku mulai lecet hingga berdarah.
“Vi....bi....bangun! gue mohon, jangan kayak gini hshshs."
Saat harapan ku mulai hilang bersamaan dengan suara ku yang sudah habis, kudengar langkah kaki datang mendekat kearah ku.
“Bukankah aku sudah bilang, jika kau ingin menyelamatkan mereka kau harus memohon pada liontin itu!?” ujar Fathur yang tiba-tiba muncul di belakang Milo.
“Fathur? Aku sudah mencobanya berulang kali namun liontin itu tak bereaksi apa-apa hshshs.Ku mohon bantu lepaskan mereka. Ini semua adalah salahku. Aku mohon hshshs.” Milo memelas.
“Aku tidak bisa melepaskan mereka. Jiwa mereka sudah diambil oleh liontin itu!”
“Hah? Lalu apa yang harus aku lakukan untuk mengambil kembali jiwa mereka? Aku bersedia melakukan apapun?”
“Apakah kau yakin?”
“Ya aku yakin. Benar-benar yakin. Aku mohon beritahu aku caranya Fathur hshshs.”
“Kembalilah. Kumpulkan tiga liontin itu lalu bakar. Kau hanya punya waktu 2 jam dari sekarang sebelum liontin itu menelan jiwa mereka secara permanen."
“Baik aku akan segera melakukannya.” ujarku dengan penuh keyakinan.
Mendengar jawabanku itu, Fathur menjentikkan jari nya dan dalam sekejap cahaya yang sangat terang bersinar kuat menusuk mata hingga akhirnya aku tersadar dan menemukan diriku sudah berada dipangkuan seorang pengunjung rumah sakit yang saat itu datang ke toilet.
...----------------...
“Mbak?? Mbak gakpapa kan?” tanya perempuan itu.
Milo dengan remang-remang menatap sekeliling berusaha menstabilkan pandangan.
“Liontin itu! Maaf mbak terimakasih. Aku gakpapa.” ucap Milo sembari bergegas bangun dan berlari menuju ruang ICU meninggalkan perempuan yang menolongnya dalam keadaan tertegun keheranan.
__ADS_1
Setibanya disana, Milo melihat Karin dan Ariel tengah menangis tersedu sedu di depan pintu.
“Tan, kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Milo dengan panik.
“Mil kamu kemana aja? Gavi dan Abi tiba-tiba kejang dan mereka sekarang lagi masuk ruang operasi hshshs.” ujar Karin sembari berlinang air mata dan memeluk Milo.
“Hah? Ruang operasi? Bukannya mereka sebelumnya baik-baik aja Tan?” sahut Milo dengan panik.
“Tante juga Gak tau. Tante nunggu kamu. Ayo kita kesana hshshs.” Merekapun bergegas menuju ruang operasi.
Tak lupa diperjalanan Milo menghubungi Hardin dan mamanya untuk segera datang. Suasana benar-benar tegang kala itu, Milo melihat jam ditangannya dan menghitung waktu mundur dari terakhir dia berada di toilet. Kini jam menunjukkan waktu yang tersisa baginya hanya tinggal satu jam setengah.
“Tan, maaf Milo mau tanya. Dimana liontin biru yang digunakan Gavi dan Abi? Yang sama persis seperti yang Milo gunakan sekarang.” tanya Milo sembari menunjukkan liontin yang tergantung di lehernya.
“Sepertinya liontin itu ada di tas Tante. Tasnya Tante tinggal diatas meja diruang ICU tadi. Untuk apa kamu mencari liontin itu?”
“Ceritanya panjang tan, nanti Milo jelasin. Riel, tolong jaga Tante Karin dulu, Gue ada urusan sebentar.” ujar Milo sembari berlari dengan panik menuju ruang ICU.
Dia mengorek ngorek tas Karin hingga menemukan kalung tersebut.
“Kalung Gavi ada. Tinggal kalung Abi!”
Milo membuka ponselnya dan berusaha menelpon Hardin berkali-kali namun tak ada jawaban. Begitu juga Zahra. Milo semakin kalang kabut saat melihat waktu yang dia punya hanya tinggal kurang dari satu jam lagi namun kedua orang tua Abi itu tak kunjung datang atau bisa dihubungi. Pesan yang dia kirim juga belum terbaca sama sekali. Ditambah baterai hp yang dia gunakan hanya tinggal 2% membuatnya semakin frustasi.
“Ahhhh!!! Anj**** Bang**t gak jelas!” Maki Milo sembari membanting hp nya yang mati kehabisan daya.
Kini dia duduk sembari mengacak ngacak rambut dihadapan ruang ICU dan menangis tersedu sedu. Sungguh benar-benar malang nasibnya. Ntah kesialan apa yang mengutuk kehidupan mereka ditahun ini.
Namun Milo tak mau menyerah, ia kembali melihat jam ditangannya yang menunjukkan waktunya hanya tinggal 30 menit lagi. Degan Isak tangis dia kembali berlari menuju ruang operasi menghampiri Karin dan Ariel
Dari kejauhan nampak Karin tergeletak bersimpuh diatas lantai dengan tatapan kosong. Ariel disampingnya nampak memeluk erat Karin sembari menangis. Langkah Milo mulai melambat, kakinya terasa benar-benar lemas untuk dilangkahkan. Pikirannya mulai kacau hingga berpikir hal yang buruk telah terjadi. Dengan sempoyongan dia berjalan menuju Karin dan Ariel.
“Tante, Ariel, Apa yang terjadi?” Milo mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
......................