
Kini Rarapati dan Hardijaya tiba didepan gerbang istana. Langkah kuda mereka terhenti karena terhadang dua orang prajurit.
“Tunjukan kartu tanda anggota keluarga atau dewan istana, Tuan, Nyonya." Ujar salah satu penjaga.
Hardijaya membuka penutup kepalanya dan menunjukkan sebuah pin tanda kelurga kerajaan. Sontak melihat itu membuat para penjaga mundur dan berlutut. “Maaf atas kelancangan hamba pangeran, silahkan masuk.”
Hardijaya menggandeng tangan Rarapati dan membawanya masuk menuju aula istana. Dengan sebuah tudung yang masih menutupi kepala Rarapati, seluruh pelayan istan mulai membincangkan siapa gadis yang dibawa oleh Raden Hardijaya
Istana yang luas nan megah itu dipenuhi dengan corak berwarna oranye dan emas . Tiang tiang tinggi menjulang kokoh keatas berjejer disepanjang jalan menuju aula utama. Gorden gorden besar berwarna putih dan kuning yang transparan tersusun indah menjuntai disetiap sudut tiang. Kolam ikan dan taman bunga berwarna warni menambah kesan keindahan yang disuguhkan.
“Lama tidak kesini, semuanya nampak terlihat berbeda, Rai.” ujar Rarapati.
“Tidak Nyimas, semuanya masih sama saja seperti 3 tahun lalu” sahut Hardijaya seraya tersenyum tipis.
“Apa yang akan Nyimas katakan saat bertemu Ayahanda nanti?” imbuhnya.
“Banyak sekali yang harus dikatakan sampai Nyimas sendiri bingung harus memulainya darimana.”
Kedua kakak beradik itu hanya bisa menghela nafas panjang.
Setelah berjalan cukup lama menembus lorong kerajaan, Rarapati dan Hardijaya akhirnya sampai di depan sebuah pintu tinggi dan besar, merupakan pintu utama memasuki aula kerajaan.
“Umumkan kehadiranku!” ucap Hardijaya pada seorang Kasim.
"Maafkan hamba pangeran, tapi di dalam sedang ada rapat dewan." sahut sang kasim seraya bersimpuh.
"UMUMKAN KEHADIRANKU SEKARANG!"
“B-baik pangeran” sahutnya.
“PUTRA MAHKOTA MEMASUKI AULA KERAJAAN!”
Pintu perlahan dibuka, menampakkan sebuah ruangan yang luas berbentuk bundar. Ditengah tengahnya terdapat sebuah kolam kecil dengan air mancur bertingkat, disebelah kanan dan kiri ruangan terdapat banyak kursi emas yang diduduki para dewan Mentri dan bawahannya sementara sang raja duduk di sebrang aula dengan kursi emas berbentuk harimau yang tertidur.
Sang raja yang tengah duduk itu menatap tajam kearah Hardijaya dan Rarapati.
“Ada perlu apa pangeran sampai harus memotong sidangku bersama para dewan Mentri?” Ucap Raja.
Penguasa tanah Nusantara sekaligus penerus keturunan Dinasti Hylva itu memiliki badan yang tegap gagah, mata setajam elang dan suara yang lugas. Wibawa nya bisa dirasakan bahkan hanya dengan mendengar suaranya saja.
“Salam yang mulia.” ucap Hardijaya dan Rarapati sembari bersujud.
__ADS_1
“Maafkan Raden yang mulia, tetapi Raden membawa seseorang yang akan memberi yang mulia kabar penting.” Imbuhnya.
Rarapati berdiri dan menyingkap tudung yang menutupi kepalanya.
Deg
Waktu seakan berhenti sejenak, bukan hanya para menteri yang mematung. Pun sang raja sedang mengamati perempuan yang berdiri di depan tersebut. Menelaah ujung kaki sampai ujung rambut apakah benar putri kesayangannya.
Seluruh Mentri mulai riuh karena kaget mendapati orang yang telah mereka kira mati ternyata masih hidup. Sang raja angkat dari singgasananya, ia berjalan menghampiri Rarapati dengan tatapan lekat.
“Putriku, benarkah ini dirimu?” ucap sang raja.
Matanya berbinar. Seraya memegang kedua sisi bahu Rarapati, ia mengamati penampilan nya yang compang camping.
“Ayahanda, ini Nyimas. Maafkan Nyimas sudah pergi terlalu lama.” ucap Rarapati dengan air mata yang mulai bercucuran.
Raja Candrayana langsung memeluk putrinya itu dengan erat “Apa yang terjadi padamu selama ini, kemana saja kamu.”
“Ini adalah cerita yang sangat rumit ayahanda, Nyimas harus menceritakan semua ini didepan seluruh anggota keluarga kerajaan.”
“Baiklah putriku. SIDANG HARI INI SELESAI, KITA LANJUTKAN BESOK.”
Bagaimanapun setelah masa berkabung kematian sang putri, setiap hari para dewan menteri selalu mendesak yang mulia raja untuk mengangkat putra mahkota baru.
“RIDAN, PANGGIL SELURUH KELUARGA KERAJAAN MENGHADAPKU SEKARANG JUGA DI AULA ISTANA.”
“Baik yang mulia.” Ucap Ridan-Kasim khusus raja
Ridan segera bergegas memanggil seluruh anggota keluarga kerajaan, ia dibantu dua Kasim lain berkeliaran istana mengumpulkan seluruh anggota kerajaan yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing masing.
Selagi menunggu seluruh anggota kerajaan datang, Nyimas Rarapati berusaha mendapatkan atensi ayahnya agar tak terlalu mudah menghakimi siapapun.
“Ayahanda, tidak perduli apakah ayahanda akan mempercayai Nyimas atau tidak setelah pertemuan keluarga ini, namun perlu ayahanda tahu bahwa apa yang akan Nyimas katakan nanti adalah benar adanya. Dan itu telah Nyimas tanggung seorang diri selama tiga tahun ini."
“Kita akan segera mengetahuinya putriku." Raja menatap iba putrinya, seraya kembali duduk di singgasananya.
Dug
Dug
Dug
__ADS_1
Kendang ditabuh. Menggema di seluruh sudut kerajaan. Bukan hanya saat pesta ria saja benda tersebut di tabuh, melainkan saat kedatangan banyak anggota kerajaan dalam satu waktu.
Hal ini bertujuan untuk menghormati mereka yang didalam tubuhnya mengalir darah biru.
Begitu pintu aula dibuka, dapat dilihat dengan jelas keagungan keluarga Kerajaan. Dari segi pakaian yang bersih, mewah dan mencolok. bahkan dari rambut dan bentuk tubuh pun mereka semua berbeda dari rakyat biasa.
“Salam yang mulia.” hormat mereka serempak.
Satu persatu istri raja berdatangan menempati tempat duduk. Pertama tentunya Ratu Durwiasih sebagai istri pertama Raja duduk disebelahnya.
Sementara para selir duduk di sebelah kanan ratu. Ada Selir Nimaran sebagai istri kedua, Selir Marthani sebagai Istri ketiga, dan Selir Kirana sebagai istri Keempat, mereka duduk berjejer sesuai kedudukan.
Para putra putri raja juga datang berbarengan. Ada Raden Ambarawa putra Selir Nimaran, Raden Santana dan Nyimas Santani anak kembar Selir Marthani, dan Nyimas Ayuputri anak Selir Kirana. Mereka semua duduk berjejer sesuai kedudukan ibu mereka di samping kiri Raja.
Yang paling terakhir datang adalah Ibu Suri Ratnaningrat, ibu dari raja Candrayana II. Saat beliau datang semua orang wajib bersimpuh dan memberi hormat.
“Ada gerangan apa yang membuat Yang Mulia memanggil kami ke aula dengan segera?” tanya Ibu suri.
Aura mantan Ratu ini benar benar mencekam. Sikap Tegas dan lugasnya bahkan bisa di rasakan hanya dengan melihat ia diam saja.
“Lihatlah Ibu, Ratu, siapa yang datang.” ucap Raja sembari menunjuk kearah Rarapati
Semua orang menoleh pada gadis yang sedari tadi tertunduk disebelah Hardijaya.
“PUTRIKU? APAKAH INI BENAR KAU?” ucap sang ratu histeris sembari memeluk Rarapati.
Semua orang di aula nampak terkejut dengan kedatangan sang putri, bukan wajah senang yang mereka tunjukkan melainkan tatapan kebencian dan rasa kesal. Apalagi tatapan Ambarawa terhadap Rarapati, ekspresi kesal dan marahnya sangat dapat dilihat dengan jelas dari raut wajahnya.
Keluarga istana tidak pernah sesederhana yang dipikirkan orang luar.
“Nyimass, ayu sangat merindukanmu.” Ucap Nyimas ayu seraya menghambat Rarapati.
“Ayu, kamu nampak sudah lebih besar. Nyimas juga merindukanmu." Pun Rarapati memeluk Nyimas Ayu.
Disisi lain, dengan tatapan tajamnya Ambarawa bersilang kaki dan mengarahkan tatapan tajamnya pada Rarapati.
“Kemana saja Nyimas selama ini, Apakah Nyimas memalsukan kematian Nyimas? Bukankah itu tindak kejahatan membohongi raja!”
Lelaki berambut hitam pekat itu berucap dengan penuh penekanan, seolah menuding Rarapati tindak kejahatan. Memang benar adanya jika Ambarawa sangat membenci Kakak tiri nya tersebut, baik dari dulu sampai sekarang Ambarawa tidak pernah berubah.
......................
__ADS_1