
Sepulangnya dari pasar, ketiga sahabat memutuskan untuk tetap tinggal di rumah lama mereka yang merupakan hadiah dari almarhum Raden Hardijaya. Mereka melihat sekeliling rumah yang nampak berdebu dan kotor karena telah lama tidak dibersihkan. Lain daripada itu, Milo malah duduk di kursi kotor yang terpasang diteras dengan tatapan kosong.
“Gue jadi inget dulu seceria apa Hardijaya pas bawa kita kesini." ujar Milo.
“Yang berlalu biarlah berlalu, dia juga mungkin udah tenang di alam sana.” sahut Gavi sembari menepuk punggung Milo.
“Gue juga masih ngerasa bersalah. Andai aja hari itu gue bisa raih tangan dia, mungkin dia masih bisa ketawa bareng sama kita sambil mancing ikan.” imbuh Abi.
“Gue mau pergi ke makam nya Hardijaya, kalian ikut ga?” Celetuk Milo sembari beranjak pergi.
“E buset, kita baru aja nyampe, ga beresin rumah dulu kek atau makan?” Seloroh Gavi.
Melihat Milo yang sudah berlalu pergi tanpa mendengarkannya, Gavi diikuti Abi pun bergegas mengejar gadis tersebut.
“Lo tuh bisa sabar dikit gak si, serindu itukah lo sama dia?” tanya Gavi.
“Gue masih ngerasa bersalah woi, selama hidup dia ga pernah sempat makan masakan gue. Dan bener aja tiap malem gue mimpiin dia kaya ngelambain tangan. Gue takut dia neror gue dan gentayangan jadi arwah penasaran.” Milo bergurau.
“Yaelah mimpi doang. Terus kita ke makamnya ini mau ngapain aja? Gada yang bisa doa juga Mil, Lo kira diantara kita ada yang spek agamis?”
“Doa ya doa aja bi, tuhan kan ahli bahasa. Yang penting kita niat aja pasti yang diatas ngerti ko.”
“Sejak kapan lo jadi percaya tuhan gini mil hahaha.”
“Apaan sih Gavi, spek setan gini juga gue masih inget yang nyiptain.”
“Hahahha iya iya.” Abi dan Gavi tertawa mendengar jawaban Milo tersebut
Lama berjalan menyusuri jalan setapak di tengah hutan, mereka kini sampai di ibukota. Karena cuaca yang nampak gerimis dan sepertinya akan hujan, mereka memutuskan untuk mampir terlebih dulu ke sebuah kedai teh di samping rumah hiburan. Ketiganya duduk di ujung kedai yang berhadapan dengan rumah hiburan tersebut.
“Tuan, teh hangatnya 3 ya, dan beberapa gorengan juga boleh.” ucap Gavi.
“Tuan, teh hangatnya 1.” sahut seorang perempuan yang datang memesan teh juga.
“Tuan, bolehkah aku bergabung dengan kalian? Aku lihat kedai ini sepi karena akan hujan, sementara aku sedang ingin mengobrol.” imbuhnya.
__ADS_1
Ketiga sahabat saling bertatapan bimbang, takutnya perempuan ini memiliki niat buruk terhadap mereka.
“Hmm baiklah nona, silahkan duduk disini.” ucap Milo.
“Wahh terimakasih, kalian benar benar baik hati.” ujarnya.
“Perkenalkan, namaku Gudia, aku tinggal di rumah itu.” Imbuhnya sembari menunjuk ke arah rumah hiburan.
”Hallo Gudia, kenalkan namaku Milo, itu Abi dan yang itu Gavi."
“Hallo tuan tuan salam kenal!”
“Oiya Gudia, sudah berapa lama kau tinggal disana? Dan apakah kau juga menjadi wanita penghibur disana?”
“Heh bi, kalo ngomong disaring dulu! Itu terlalu menyinggung.” bisik Milo.
“Ahh tidak masalah, aku memang bekerja disana sudah sekitar 6 tahun. Kebetulan aku anak yatim piatu, dan tidak punya keluarga lagi, jadi tuan rumah tersebut mau menampungku dan memberikan aku kehidupan yang layak. Yah meskipun aku harus bekerja untuknya.” Ujar Gudia sembari tersenyum palsu.
Saat mendengar cerita gadis tersebut, ketiga sahabat nampak merasa iba. Terlihat dari usia gadis itu yang masih nampak muda namun harus menjalani kehidupan yang lebih berat dari anak anak seusianya membuat mereka sadar bahwa hidup mereka masih patut untuk di syukuri.
Milo dan Abi juga nampak mengangguk mendengar pertanyaan Gavi tersebut.
“Hah, apakah boleh? Tapi bagaimana caraku menjelaskan pada tuan yang menampungku selama ini Tuan Gavi?”
“Beritahu saja dia sekarang, Ksatria lingkar langit ingin bertemu dengannya.”
“A-Apaa? Jadi tuan tuan ini adalah kstaria lingkar langit yang baru diangkat oleh Raja? M-maafkan hamba lancang berbicara, makan, bahkan duduk disamping kalian.” Gudia sembari berlutut dan memohon ampun.
“Tidak masalah, kami juga sedang tidak menggunakan pakaian resmi. Cepat, panggillah tuanmu.” Milo meraih bahu Gudia dan membantunya berdiri.
“B-baik Adipati.” sahutnya sembari bergegas pergi menerobos hujan.
Tiga sahabat saling bertatapan, mereka nampak iba dengan kondisi kehidupan Gudia. Gadis lugu yang nampak masih berusia belasan tahun itu terpaksa bekerja dirumah hiburan demi memenuhi kehidupan sehari harinya.
Lama berselang, akhirnya muncul seorang perempuan berbadan indah tak jauh seperti Milo yang bak gitar spanyol, kulit putih mulus bersinar, pakaian yang hanya menutupi dada dan setengah paha, slendang yang terikat sempurna, rambut panjang tergerai indah disertai hiasan manik manik dan bunga bunga, nyaris menyempurnai definisi kecantikan saat itu. Bahkan Abi dan Davi pun nampak tak mengedipkan mata saat melihat perempuan tersebut.
__ADS_1
“Ada perlu apa tiga Adipati memanggil Hania yang tak berpengetahuan ini?” ujar Hania.
(Hania adalah Kepala pengawas perempuan di rumah hiburan)
“Apakah kau adalah tuannya?” tanya Milo.
“Benar, dia adalah salah satu pekerja di rumah bordil ku." tuturnya lembut dan hangat di telinga.
“Ambilah semua koin ini, tapi berikan dia pada kami.” Gavi memberikan sekantong besar koin emas.
“Wahh... Sebenarnya tanpa Adipati memberikan koin koin ini Hania pasti memberikan gadis ini, namun karena sudah ditawarkan maka Hania terima koin ini. Terimakasih Adipati." Hania dengan sopan menunduk tersenyum memberi hormat.
Setelah itu, Hania langsung pergi kembali kerumah hiburan sementara Gudia mengikuti tiga sahabat menunggangi kuda menuju makam pangeran Hardijaya. Sepanjang perjalanan Milo terus menceritakan kisah mereka, termasuk hubungannya dengan sang pangeran supaya Gudia sedikit mengerti mengenai kehidupan para tuan barunya.
“Jadi kita akan menuju kepemakaman Raden Hardijaya tuan? Apakah aku bisa ikut bersama kalian.”
“iya, tentu saja kau bisa masuk jika datang bersama kami." sahut Milo.
“Mulai saat ini jangan pernah merasa rendah diri lagi, lupakan masalalu kamu dan mulai lah citra baru bersama kami." imbuhnya.
“Benar, kurasa kami harus mengganti nama kamu juga, betul tidak?” sahut Abi.
“Nahh, betul. Bagaimana dengan Tantri?” Ujar Milo.
“Wahh nama yang bagus tuan, aku menyukainya."
“Bagus bagus, mulai sekarang namamu adalah Tantri. Lupakan nama lamamu bersama kenangan masalalumu.” imbuh Gavi.
“Baik tuan, aku bersumpah akan mengabdi pada kalian seumur hidupku."
Tidak ada yang tahu asal usul pasti Tantri, seorang perempuan yang tiba tiba muncul menceritakan kisah hidupnya yang pahit kepada para Adipati. Tidak mungkin benar benar tidak memiliki niat apapun, mari kita simak apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Kini mereka telah tiba didepan pintu gerbang pemakaman para pahlawan dan keluarga kerajaan, terlihat 2 orang penjaga menghentikan mereka dan meminta tanda pengenal. 3 sahabat memberikan sebuah lempengan yang bertuliskan Adipati Lingkar langit dari tinta emas. Sontak melihat itu, kedua prajurit langsung membukakan jalan dan menerima kuda mereka. Kecuali Tantri yang tidak dibiarkan masuk.
......................
__ADS_1