Terjebak Konflik Dinasti Hylva

Terjebak Konflik Dinasti Hylva
06. Datangnya teman baru


__ADS_3

“Apa sih mil, jangan yang aneh aneh deh gue takut kenapa kenapa lagi” tolak Gavi.


“Ngga, ini tempatnya kaya punya daya tarik gitu. Gue sendiri hampir masuk kesana tadi” imbuh Milo meyakinkan Gavi dan Abi.


“Yaudah nanti kita kesana” ucap abi.


Selesai makan mereka bergegas menuju tempat yang diceritakan Milo. Tempat itu tampak seperti gua, namun disebelah kanan kirinya terdapat obor yang masih hangat, seakan baru saja dipadamkan tadi pagi. Dengan begitu mereka berfikir mungkin ada orang yang akan kembali lagi kesini dan bisa memberikan mereka pertolongan.


“Obor ini masih anget, berarti ada orang yang mungkin pulang pergi kesini. Apa kita masuk aja ke dalam?” ucap Abi.


“Jangan, gimana kalo yang tinggal di dalam gua itu bukan orang baik?” tolak Milo.


“Bener mil, lebih baik kita liatin aja dari samping sana pergerakan orang yang tinggal didalam gua ini” sambung Gavi.


Mereka bertiga akhirnya memutuskan duduk dibalik batu besar disamping gua menunggu kedatangan orang yang tinggal disana.


Hampir 2 jam mereka menunggu akhirnya nampak 2 orang pria berusia sekitar 30 tahun datang dan memasuki gua tersebut bersama seorang wanita yang nampak pingsan dalam gendongan dipundak salah satu laki laki tersebut.


“Akhirnya kita akan merasakan kenikmatan wanita lagi malam ini kakak hahah” ucap salah satu laki laki itu.


Dengan jelas dapat diambil kesimpulan bahwa kedua laki laki itu bukan orang baik, mereka menculik gadis berambut pirang itu untuk dijadikan pemuas nafsu.


“Apa yang harus kita lakukan? Apa kita harus menolong gadis itu?” tanya Milo.


Tanpa basa basi dan diskusi Gavi segera bangun dan mengendap perlahan lahan mengikuti kedua laki laki itu masuk kedalam gua.

__ADS_1


“Sialan Gavi selalu bertindak gegabah” gerutu Abi yang terpaksa mengikuti Gavi dari belakang, diikuti Milo yang terus memegang baju Abi karena takut.


Mereka masuk kedalam gua yang tanahnya becek dan berbau amis, mengendap perlahan lahan hingga mereka sampai di inti gua yang berisi benda benda rumahan dan seperti ruangan dalam rumah pada umumnya namun dalam gua. Melihat kedua orang laki laki tengah makan dan meninggalkan gadis berambut pirang terkapar di tanah adalah kesempatan bagus bagi Gavi untuk menyelamatkannya.


Tanpa pikir panjang Gavi mengambil sebuah kapak besar disebelah kanan dan memukulkan pegangan kapak tersebut ke kepala dua laki laki itu sampai terkapar pingsan. Dalam kesempatan seperti itu buru buru Abi dan Milo menggendong gadis pirang itu keluar dari gua.


Namun mereka tak sadar bahwa Gavi tak mengikuti mereka keluar, Milo yang panik berusaha masuk kembali kedalam gua namun ditahan oleh Abi.


“GAV, GAVIIII KELUAR GAV CEPETAN! LEPASIN GUE BI, GUE MAU NYARI GAVI” teriak Milo sambil memberontak, sementara Abi terus berusaha memeluk erat Milo agar tenang.


“Diem mil, diem....Lo mau masuk kedalam gua itu lagi? SINTING LO? MAU IKUT MATI LO DISANA SAMA GAVI? Ayo mil kita pergi dulu dari sini buat cari bantuan. Percaya sama gue Gavi itu bukan cowo remeh” ucap Abi menenangkan Milo.


“Lo gila bi? Gavi itu sahabat kita. Lo mau ninggalin dia gitu aja dalam bahaya? Ga waras Lo!!” sentak Milo dengan suara yang semakin panik diikuti air mata yang mulai bercucuran.


“Lo kira gue gak mau nyelamatin Gavi? Inget gue lebih dulu kenal sama dia, meskipun gue sering berantem sama dia tapi dia udah gue anggap sodara mil. Dan sekarang situasinya lagi genting, emang kalo lo masuk lo bisa ngelawan dua orang cowo itu? Ngga kan. Daripada nyawa melayang sia sia lebih baik kita pergi dari sini sekarang dan cari bantuan. Nanti kita balik lagi selamatin Gavi. Plis pake otak lo dulu!” sahut Abi berusaha menyadarkan Milo.


Abi dan Milo terus berlari menerobos kedalam hutan, tidak memperdulikan apa yang mereka injak atau apapun yang menghalangi mereka. Saat ini hanya rasa takut yang terus menyelubungi mereka.


Sesekali Milo melirik kebelakang, meskipun tak terlihat siapapun mengejar tapi mereka terus lari menjauh menghindari kemungkinan terburuk bertemu penjahat itu.


Abi yang sudah tak sanggup lagi berlari karena menggendong gadis berambut pirang itu di punggungnya akhirnya jatuh tersungkur ke tanah. Milo yang menyadari itu segera mengangkat gadis berambut pirang yang menimpa tubuh Abi, mereka memutuskan bersembunyi dibalik semak semak sembari beristirahat.


“Ini semua salah gue. Harusnya gue ga maksa kalian buat liat gua itu. Harusnya kita langsung pergi setelah makan. Hiks hiks hiks maafin gue Gavi, Abi, gue bukan temen yang baik” ucap Milo sambil menangis terisak dan memeluk Abi.


“Gakpapa mil, tenang aja. Gue yakin Gavi baik baik aja, dia gak selemah itu. Sekarang kita istirahat dulu sambil mikirin rencana kedepannya” balas Abi sambil mengusap ngusap punggung Milo untuk menenangkannya.

__ADS_1


Milo melepaskan pelukannya dan hanya mengangguk membalas perkataan Abi. Terlihat dari tatapan matanya yang kosong namun air mata terus keluar membuat Milo benar benar terlihat seperti mayat hidup. Abi yang tidak tahu harus melakukan apa pun juga hanya duduk melamun.


Tak lama gadis berambut pirang itu bangun dan langsung bergerak menjauh.


“Si-siapa kalian...tolong lepaskan aku, to-tolong jangan bunuh aku” ucap gadis berambut pirang itu dengan suara gemetar dan raut wajah ketakutan.


“Tenanglah nona, kami yang sudah menyelamatkan kamu dari dua orang penjahat yang berusaha menculik kamu. Namun satu temanku masih terjebak didalam gua” ucap Abi sambil mendekati gadis itu.


“Hah??Ji-jika benar, Terimakasih tuan, nyonya. Aku akan mengabdi pada kalian dan berjanji akan membantu tuan menyelamatkan teman tuan” Ucap gadis itu sambil bersujud dihadapan Abi dan Milo.


“Hey apa yang kau lakukan nona, bangunlah! Tidak usah berlebihan seperti itu, jadilah teman kami dan bantu kami menyelamatkan Gavi dan keluar dari hutan ini. Sebelumnya siapa namamu?”  ucap Abi sambil mengangkat pundak gadis itu.


“Terimakasih tuan, namaku Isyah” ucap gadis berambut pirang itu yang bernama Isyah.


“Ohh Isyah, namaku Abi dan itu Milo. Dimana rumahmu dan bagaimana kamu bisa ditangkap kedua penjahat tadi?” tanya Abi.


“Aku berasal dari suku Asmat, desaku tidak jauh dari sini. Saat itu aku sedang mengambil beberapa buah bersama temanku, tiba tiba seseorang memukulnya dari belakang lalu aku segera mendekat untuk menyadarkannya, namun aku juga dipukul. Dan setelah itu semuanya gelap aku tidak ingat apapun” ucap Isyah menerangkan apa yang dialaminya.


“Suku Asmat? Apa kamu mengenal Paulo?” tanya Abi.


“Tentu, dia adalah teman yang menemaniku mengambil buah. Tapi bagaimana tuan bisa mengenalnya?” tanya Isyah dengan mengerutkan dahi.


“Ah tidak, aku hanya mengenalnya saja” elak Abi takut menimbulkan masalah baru jika dia menceritakan semuanya. Perkataan Abi itu hanya di tanggapi anggukan oleh Isyah.


Disisi lain melihat keadaan Milo yang masih tak berkutik, tatapan kosong dan tak mau merespon apapun membuat Abi merasa benar benar khawatir.

__ADS_1


Ditengah tengah keresahan itu Isyah berpamitan untuk mencari makan, dalam situasi itu juga Abi mengiyakan permintaannya karena tidak mungkin meninggalkan Milo dalam keadaan seperti ini.


“Mil, inget ga dulu Gavi pernah bilang "Gue disini bakal jadi pemimpin yang baik, kalo gue gada secara fisik, gue masih ada di mental kalian," Plis mil sadar. Kita harus ada semangat hidup buat nolongin Gavi. Mungkin disana dia lagi nunggu kita” ucap Abi mencoba membangkitkan semangat hidup Milo.


__ADS_2