
Sepulangnya Abi dan Gavi siang tadi, Milo sibuk di dapur mengupas sebuah jeruk sembari memikirkan bisikan abi yang masih terngiang ngiang di telinganya.
Di satu sisi dia masih membutuhkan waktu untuk melupakan Gavi, sementara disisi lain perasaannya terhadap Abi mulai tumbuh perlahan. Benar-benar situasi yang membingungkan.
Ning nong...Ning nong
Milo menghentikan aktivitasnya dan bergegas membukakan pintu.
“Milo sayang apa kabar...” Sapa seorang perempuan paruh baya yang nampak sangat cantik dan berpakaian dengan elegan menyapanya.
“Eh tante Karin, baik Tan. Tante apa kabar?”
“Tante baik juga kok sayang.” ujar Karin sembari cepika cepiki.
“Ayo Tante masuk. Kebetulan tadi Gavi baru saja pulang diantar Abi”
“Ahh anak itu, memang Tante kesini mau nyari dia sekaligus ketemu kamu dan maria. Lagian semalam tante telpon gak diangkat angkat sama tu anak, selalu bikin khawatir.”
“Sepertinya Gavi kelelahan Tante, kemarin baru pulang mendaki juga dia langsung tidur.”
“Yasudah syukurlah kalau dia baik-baik saja. Ngomong ngomong Maria pulang jam berapa? Tante mau ngajak ke bar.”
“Mamah kayaknya sebentar lagi pulang, tante tunggu aja dulu di dalam, bentar ya Milo buatkan teh hangat dulu.”
“Oke makasih ya sayang.”
Karin-Mama Gavi merupakan teman dekat Maria. Tak jarang mereka sering pergi liburan keluarga bersama dan menghabiskan uang dengan kegiatan anak muda seperti pergi ke bar, karaoke atau sekedar berbelanja santai di mall.
Disamping itu Karin nampak memperhatikan gerak gerik milo yang terlihat cukup lemah ditambah wajahnya yang pucat membuatnya sedikit penasaran.
“Milo sayang, wajah kamu pucat sekali. Kenapa nak, Kamu sedang sakit?” ujar Karin sembari menghampiri Milo yang tengah menuangkan air hangat.
“Lagi kurang enak badan aja tan, mungkin karena kecapean.”
“Ya ampun, tadi ada Gavi dan Abi apa mereka merawat kamu dengan baik?”
“Iya Tan, mereka ngerawat Milo dengan baik kok hehe.”
__ADS_1
“Tante harap hubungan kamu dan Gavi bisa jauh lebih dekat lagi ya. Tante akan terus mendukung hubungan kalian sampe naik ke pelaminan.” Celetuk Karin.
Mendengar ucapan itu, Milo hanya tertunduk menahan air mata yang hampir saja lolos.
“Apapun hubungan kami kedepannya, semoga kita bisa terus berkumpul bersama ya Tante.” Bibir ranumnya bergetar hebat, tak kuasa dia mengucapkan kalimat yang terasa bagaikan sayatan di setiap katanya itu.
Karin mengangguk seraya tersenyum tipis menanggapi ucapan Milo. Sementara tak lama dari pintu depan kembali terdengar suara bel berbunyi, Milo beranjak membukakan pintu.
“Mah, itu ada Tante Karin nungguin mamah sejak tadi.”
“Eh Karin ini, gak pernah bosen dia liatin berondong di bar. Hadeuhhh.” ujar Maria sembari masuk kedalam rumah dengan wajah lesu.
“Mar mar mariaaa, ayo kita ke bar lagii!”
“Aku cape banget Rin, besok aja. Lagian inget umur, udah punya anak yang seumuran berondong juga, batesin lah main ke bar nya.”
“Usia boleh tua tapi jiwa harus tetap muda. Lagian baru punya anak, belum punya cucu, jadi masih masuk kategori muda lah ya say.”
“Makanya suruh Gavi cepat nikah biar aku gak susah nyari alasan buat nolak ajakan kamu ke bar.”
“Yah itu tergantung anak kamu siap nya kapan, aku sih udah siapin segala keperluannya hehe.”
“Lihatlah calon menatu aku pemalu sekali."
Sakit bukan main, saat keluarga mereka suda sedekat ini bahkan sudah saling menjodohkan anak, tapi anak yang mereka jodohkan tersebut malah memiliki pilihan masing-masing. Milo mengunci pintu kamarnya dan duduk diatas ranjang sembari memeluk erat kedua lututnya, tak sanggup dia tahan lagi air mata yang begitu terasa perih, tangisnya akhirnya kembali pecah tanpa suara.
Jika bisa dia ingin berteriak meluapkan semua kata-kata yang menggunung dan membebani hatinya. Namun apa daya, tak ada yang bisa dipaksakan bila menyangkut perasaan.
“Gavi brengsek, gue harap dia ngerasain sakitnya perasaan gue yang rasanya lebih sakit dari tertabrak truk.” ujar Milo dalam isaknya.
Tak lama, liontin yang Milo kenakan nampak bersinar terang, Milo yang menyadarinya segera menarik kalung tersebut.
“Dasar kalung gak guna, cuma ngingetin gue kenangan manis yang menyakitkan pas kejebak di dunia lain bersama Gavi.” ucap Milo sembari melepas kalung tersebut dan menaruhnya di atas nakas.
Menyadari hari yang mulai menjelang sore, Milo pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Sementara disisi lain, hp nya memunculkan dering telpon berulang kali yang tidak sempat dia jawab. Sekitar 15 menit kemudian Milo selesai mandi dan tengah asik mengeringkan rambut.
“Mil mil, buka pintunya mil.” teriak Maria.
__ADS_1
“Kenapa mah? Buru buru banget.”
“Ayo cepat kita kerumah sakit! Kamu belum cek hp?” Panik Maria yang nampak sudah siap berangkat.
“Ke rumah sakit? Ngapain mah...” sahut Milo sembari bergegas mengambil hp nya yang tergeletak di kasur.
Matanya terbelalak lebar saat melihat notif 8 panggilan tak terjawab dari Abi
“Mah kenapa sebenarnya ini? Abi nelpon Milo berkali-kali Cuma gak sempet diangkat karena lagi mandi." Milo yang mulai panik.
“Sudah kamu pakai dulu baju, mama tunggu di mobil nanti mama ceritain sambil jalan.”
Maria bergegas menuju garasi, begitu juga Milo yang bergegas menggunakan pakaian seadanya, hati dan pikirannya mulai kacau dan merasa tidak karuan, takut terjadi sesuatu hal yang buruk pada temannya itu.
Kini mereka tengah berada di perjalanan menuju rumah sakit, Maria mengendarai mobil dengan cepat membuat Milo semakin panik.
“Mah kenapa sih tolong jelasin!!”
“AbI dan Gavi kecelakaan, mereka masuk rumah sakit dan sekarang lagi di ICU. Mamah tadi mau berangkat ke bar sama Karin, tiba-tiba dia ditelpon polisi dan diminta datang ke rumah sakit. Dia langsung pergi ke sana dengan panik.” jelas Maria singkat dan padat.
“Apa?? Kecelakaan! Terus gimana mah kondisi mereka??” tangis Milo mulai pecah.
“Mamah juga gak tau, Karin gak bisa dihubungi” dengan panik Milo membuka kontak panggilan di hp nya, berusaha berulang kali menelpon nomor Gavi dan Abi namun tak ada jawaban.
“Siall, selalu siall! Kenapa sih dunia ini selalu ngasih cobaan yang gak ngotak sama kita berkali-kali." ujar Milo yang nampak benar-benar kacau, hatinya berdebar tak karuan, rasa takut, sedih, kaget dan panik yang bercampur aduk benar-benar membuatnya terlihat seperti kehilangan akal.
“Sabar ya sayang, berdoa aja semoga Gavi dan Abi baik-baik aja.” Maria berusaha menenangkan Milo.
“Ayo mah lebih cepat lagi, terobos aja lampu merahnya!” Sahut Milo yang semakin kalang kabut.
“Iya sayang sabar sebentar lagi sampe.”
Dengan penuh rasa kegelisahan, Milo mengutak Atik pesan yang ada di hp nya berharap mendapatkan info penting. Benar saja, setelah panggilan² dari Abi yang tak sempat terjawab itu, ada sebuah voice note dengan durasi yang cukup panjang yang tak sempat dia dengarkan.
“Ayo sayang turun, kita sudah sampai.” ujar Maria
Milo meletakkan hp nya kembali kedalam tas dan berlari dengan cepat menuju ruang ICU bersama Maria.
__ADS_1
......................