
Kini mereka meninggalkan aula dan pulang kerumah masing masing. Namun langkah kaki Paulo terhenti didepan gerbang kerajaan saat suara yang terdengar tidak asing memanggil dari belakang.
Tatapan Paulo terlihat berbinar melihat orang yang memanggilnya itu nampak sangat anggun dan cantik berbalut pakaian kerajaan.
Matanya terus mengamati penampilan perempuan yang masih dia cintai itu dari atas sampai bawah, hingga dia menghela nafas panjang saat bayangannya dulu yang dicampakkan saat dalam keadaan sayang sayangnya kembali membuat dia sadar.
Sementara itu Zisa sedari tadi sudah membungkukkan badan memberi hormat kepada putri mahkota.
“Paulo, menunduk! Dia adalah putri mahkota!” bisik Zisa sembari menarik tangan Paulo yang masih tertegun.
“Nyimas terlihat lebih baik dari sebelumnya.” ucap Paulo sembari memberi hormat.
“Bangunlah Bibi, Paulo! Bagaimana kabarmu?”
“Seperti yang Nyimas lihat, kami baik baik saja. Maaf Nyimas, kami tidak bisa berlama lama disini.”
Zisa hanya melongo kaget saat mengetahui putranya itu ternyata mengenal calon Ratu kerajaan Hylva, dia benar benar nampak tercengang.
“K-kalian saling mengenal?” bisik Zisa.
“Ya, sangat kenal."
“Ayo Bu, kita pulang. Permisi Nyimas.” imbuhnya sembari menarik tangan Zisa.
“Tunggu! Mengapa kalian sangat terburu buru. Kita baru bertemu setelah sekian lama, apakah kau tidak merindukanku?”
“Maap Nyimas, seorang rakyat jelata sepertiku jangankan merasa rindu, bahkan untuk membayangkan ujung kukumu saja aku tidak pantas.” ucap Paulo yang berhenti sejenak tanpa menoleh kearah Rarapati dan kembali melanjutkan langkahnya.
Mendengar jawaban Paulo tersebut Rarapati benar benar merasa bersalah terhadap perbuatan yang dia lakukan sebelumnya. Meskipun apa yang dia lakukan demi melindungi Paulo dari ancaman orang orang yang membencinya, namun tetap saja dia tidak mampu membohongi perasaannya sendiri.
Mereka berlalu menuju arah yang berlawanan, langkah mereka semakin jauh satu sama lain . Paulo yang telah menelan mentah mentah perasaannya saat dicampakkan itu telah memutuskan untuk melajang seumur hidup , sekalipun egonya lebih besar untuk tidak mengalah, sebenarnya dia masih menjadikan Rarapati sebagai perempuan satu satunya dalam hidupnya.
“Apa hubungan kalian sebenarnya.” tanya Zisa.
“Kami hanya pernah sangat dekat, benar benar dekat.”
“Lalu? Kenapa kalian terlihat jauh sekarang?”
“Dia yang melepaskan genggaman tanganku saat aku memegang satu tangannya dengan dua tangan.”
“Kenapa? Karena orang ketiga?”
“Bosan.”
__ADS_1
mendengar jawaban putranya itu Zisa nampak menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang dia katakan.
“Tidak mungkin! Nyimas tidak terlihat seperti orang yang mudah bosan!”
“Bercanda, sebenarnya Ceritanya sangat panjang. Nanti akan ku ceritakan semuanya saat kita sampai dirumah.”
mereka melanjutkan perjalanan pulang dengan berjalan kaki menuju rumah.
...----------------...
Disisi lain ketiga sahabat tengah berjalan pulang dengan mengendarai kuda.
“Heran banget gue, Isyah adalah Rarapati, Arya adalah Hardijaya, sekarang Hania adalah Zisa. Gatau nih nanti Tantri dan Fathur jadi siapa lagi. Muak banget sumpah!” keluh Milo.
“Gue yakin mereka ini pasti punya kaitan satu sama lain dalam misi kita di dunia ini. Satu persatu masalah mereka selesai dengan adanya kita yang selalu ikut andil dalam permasalahan mereka.” timpa Abi.
“Gue setuju, kayaknya mulai kedepannya kita harus mempersiapkan diri lagi buat kenyataan kenyataan mencengangkan lainnya.” Ucap Gavi.
Mereka menyusuri heningnya jalan setapak di tengah hutan menuju rumah sembari sesekali menatap sekeliling hutan yang mungkin akan mereka rindukan suasananya bila kembali kedunia asal suatu hari nanti.
“Awalnya gue ngerasa ga betah di dunia ini Vi, Bi. Tapi makin kesini gue makin terbiasa dengan suasana yang ada. Tapi kalo ada kesempatan untuk kembali, gue tetep mau kembali”
“Iya mil, gue sama Abi juga ngerasa gitu. Malah kepikiran gimana nanti harus berpisah dengan orang orang yang kita kenal di dunia ini.”
“Menurut kalian kita bakal masuk kedalam sejarah ga ya Vi, mil? Kita disini udah dapetin gelar tinggi dan nama yang baik di mata masyarakat loh hehe.”
“Berarti dengan adanya kita di dunia ini sama aja kita udah ngubah masa depan ya.” ucap Gavi mengeriyatkan dahi.
“Brakk...Srett...”
Tiba tiba orang berpakaian serba hitam melompat dari pohon kepohon dan mengambil pin tanda pengenal Adipati mereka dengan cepat dan bergerak dengan lincah diatas pohon.
“Woi woi, beraninya kau menyentuh pin itu!” ujar Abi.
Mereka langsung mengejar orang misterius tersebut hingga memacu kudanya dengan cepat.
“Woi berhenti! Kami akan meringankan hukumanmu bila berhenti sekarang!” teriak Milo.
Namun orang tersebut nampak tak menggubris perkataan Milo dan terus berlari dengan melompat dari pohon kepohon seperti kera.
“Sialan! Kami tidak main main.” ujar Gavi sembari menarik keluar pedangnya.
Lagi lagi sama saja, orang tersebut tidak mau berhenti dan malah mempercepat lajunya, begitu juga ketiga sahabat terus memacu kudanya. Mereka terus mengejarnya sampai menerobos masuk kedalam semak semak belukar dengan tanaman merambat yang menjunlang tinggi. Hingga tanpa sadar mereka telah memasuki area hutan rimbun tempat mereka pertama kali masuk kedunia ini.
__ADS_1
“Sialan, kita kehilangan orang itu!” maki Abi.
“Tapi liat, bukankah itu gua tempat kita keluar sebelumnya?” tanya Milo.
“B-bagaimana kita bisa sampai disini dengan cepat, bukankah tempat ini sangat jauh bahkan dari desa Asmat?” Gavi keheranan.
Mereka mengamati sekeliling yang terlihat tidak ada perubahan, bahkan gua tempat mereka datang pun sebelumnya nampak masih sama, indah dengan bunga bunga disekelilingnya. Pandangan mereka tertuju pada orang yang tadi mengambil pin mereka yang tiba tiba muncul seperti angin dihadapan gua.
“Itu dia! Berikan pin itu pada kami!” ujar Gavi sembari mengacungkan pedangnya.
Pria tersebut perlahan membuka tudung hitam yang menutupi wajahnya.
“Fathur!!” ucap ketiga sahabat serentak.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berbuat seperti ini pada kami?” tanya Abi.
“Tenanglah, aku hanya sedang ingin bermain main haha.”
“Bermain main? Ini tidak lucu Fathur! Lagian kau bilang ingin bertemu dengan kami disini besok sore, kenapa malah membawa kami kesini sekarang!?” tanya Milo.
“Aku mendengar percakapan kalian sebelumnya. Aku rasa kalian sudah benar benar ingin pulang.”
“Jadi kau mengikuti kami sedari tadi?” tanya Gavi.
“Tidak, aku hnya melihat kalian. Aku bisa berada dimanapun dan kapanpun aku mau.”
“Apa maksudmu, jangan bertele tele!” ucap Abi.
“Pertama, aku bukan manusia. Kedua aku adalah Jin penjaga dengan kekuatan tinggi. Aku bisa berwujud apapun, berada dimanapun dan melakukan apapun bahkan layaknya manusia biasa.”
“Hah apakah kau pikir kami akan percaya?” ujar Milo.
“Shttt” dalam sekejap mata Fathur menghilang bak ditelan angin.
“Tidak masalah bila kalian tidak percaya, aku tidak wajib membuat kalian mempercayainya.” ujar Fathur yang tiba tiba ada disamping Gavi sembari memakan sebuah apel.
Ketiga sahabat nampak kaget dengan apa yang terjadi itu, mereka nampak saling bertatapan heran.
“Baiklah, anggap saja kami percaya. Lantas, apa yang membuatmu memancing kami datang kesini?” tanya Gavi.
“Bukan aku yang menginginkannya, aku hanya mengikuti perintah tuanku."
“Tuan? Siapa tuanmu” tanya Milo.
__ADS_1
“Namanya terlalu agung dan suci untuk kusebut, namun kalian mengenalnya.”
......................