
Seketika Abi dan Gavi berdiri dengan tatapan terpana, melihat sosok gadis cantik berbalut jubah kerjaan yang tertiup angin malam hingga kulit putihnya bersinar terpapar cahaya rembulan. Wangi tubuh gadis tersebut samar samar memasuki rongga hidung, membius raksa dan pikiran para lelaki bujang ini.
"Siapa kalian? atau aku panggil prajurit?!" Tegasnya saat melihat Gavi dan Abi masih tak bergeming.
"E-eh tunggu Nyimas, kami adalah teman putri mahkota. Aku Abi, dan in-"
"Aku Gavi hehe. Nyimas siapa dan dari mana malam malam begini?"
"Ohh jadi kalian adalah orang yang telah menyelamatkan Raka Hardijaya itu?" Gadis itu berjalan mendekat seraya mematri senyum lebar di bibir mungil nya yang mempesona. Hal kecil ini membuat Gavi dan Abi semakin jatuh dalam kekaguman saja.
"I-iya Nyimas." Sahut Gavi.
"Namaku Santhani, rumah aku tepat di sebrang kalian, yang itu." Ucap Santhani seraya menunjuk sebuah bangunan tak kalah megah yang ada disebrang rumah mereka dan hanya terpisah sebuah sungai kecil yang diatasnya melingkar sebuah jembatan kokoh.
"Jika Nyimas tinggal disini berarti Nyimas...."
"Iya, aku putri selir marthani."
Abi dan Gavi saling bertatapan dengan ragu. "M-maaf putri, kami lancang berbicara dengan putri di tengah malam seperti ini." Tutur Gavi.
"Tidak masalah, aku hanya lewat saja. Silahkan kalian lanjutkan istirahat, jika sudah resmi tinggal disini jangan segan untuk meminta bantuan padaku bila kalian membutuhkan sesuatu."
"Baik putri, terimakasih." Abi dan Gavi memberi hormat sembari memandangi punggung gadis tersebut yang berjalan menjauh hingga luput dari pandangan mereka. Sangat anggun, cantik dan beretika adalah kata kata yang cocok untuk menggambarkan kepribadian sang putri ke-2 tersebut.
Namun disamping perasaan yang terlena ini, Abi sedikit bingung mengenai habis pergi darimana Santhani tengah malam seperti ini? Jubah tebal yang ia kenakan juga seolah menandakan bahwa ia baru pergi dari luar istana yang tengah berangin dan sangat dingin. Sebab yang Abi tahu keluarga kerajaan memiliki aturan yang ketat untuk keluar masuk dengan bebas ke dalam istana di malam hari.
__ADS_1
"Eh Vi, Lo ngerasa ada yang aneh gak sih kenapa-"
"ABI GAVI GUE UDAH SELESAI MANDI!" teriak Milo dari dalam rumah.
Sontak Gavi dan Abi berlari masuk, tentunya untuk berebut kamar mandi. Bagaimanapun mereka sudah sangat lelah, malam ini mereka akhirnya kembali merasakan air yang mengguyur tubuh dan membersihkan nya dari kenangan buruk penjara bawah tanah.
...----------------...
Keesokan harinya, gendang ditabuh menggema di setiap sudut kerajaan. Seluruh keluarga dan para dewan menteri kerajaan telah berkumpul di aula untuk menyaksikan penyematan penghargaan bagi tiga sahabat yang telah berjasa sebab berulang kali menyelamatkan nyawa Putri Mahkota dan almarhum Raden Hardijaya.
Gavi, Milo dan Abi duduk bersimpuh di tengah aula sementara sang raja mulai membacakan dekrit resmi nya.
“Bijak, penuh empati, rela berkorban demi penerus Kerajaan, berbudi luhur serta pengabdi setia. Atas kebijaksanaan dua pemuda, Gavi dan Abi serta seorang pemudi, Milo. Maka dengan ini atas nama kehormatan ku, aku Raja Candrayana II putra dari Raja Candrayana I, dengan terhormat menghadiahi kalian 30.000 koin emas, pangkat militer sebagai Adipati, dan sebuah rumah di kediaman Istana Ruoyang.
Mendengar dekrit tersebut tentunya Gavi Milo dan Abi tersenyum sumringah. mereka saling berpelukan sementara Milo malah menangis bahagia, akhirnya penderita mereka perlahan-lahan berangsur membaik. Disamping itu bukan hanya ketiga sahabat yang bahagia, tetapi Rarapati dan Ratu Durwiasih juga saling bertatapan seraya mengukir senyum kemenangan.
Pesta hari ini digelar meriah sekaligus merayakan perayaan penobatan Putri Mahkota yang sempat tertunda sebab masih dalam masa yang sangat berkabung. Perayaan tersebut bukan hanya wajib dirayakan didalam istana, tapi seluruh pelosok kerajaan Hylva wajib ikut berbagi kebahagiaan
Gendang kembali ditabuh, seruling ditiup, berbagai alat musik di mainkan menambah keramaian suasana perayaan. Para penari, akrobatik, dan para penghibur lainnya berarak arakan mengelilingi ibu kota bersama Nyimas Rarapati yang menaiki seekor gajah di barisan paling depan, seluruh warga yang berbaris disepanjang jalan terus melempari sang putri dengan beraneka ragam bunga yang harum semerbak.
Tujuan sang putri kali ini adalah untuk pergi ke balai pengumuman tepat di tengah ibukota sembari membawa titah raja. Ntah apalagi yang akan disampaikan raja kali ini, namun tiga sahabat yang ikut diharuskan berpakaian adat tradisional suku Hylva
Setibanya mereka di balai pengumuman yang luas bak stadion bola, Rarapati berjalan bersama para pelayannya ke menara tertinggi di balai tersebut. Tentunya diikuti Gavi Milo dan Abi di belakangnya. Menara dari kayu jati kokoh tersebut berdiri dengan tinggi sekitar 10 meter hingga menjadikan orang yang berdiri diatasnya dapat terlihat dari berbagai sisi dan suara dapat didengar dengan jelas.
Rarapati berdiri dengan tegak, menghadap ribuan rakyat ibukota yang tengah memandanginya di bawah sana. Tak lama seorang pelayan memberikan sebuah gulung kain emas pada nya.
__ADS_1
Rarapati membuka gulungan kain emas tersebut dan berteriak dengan lantang. "Dekrit Raja!"
Mendengar hal itu, seluruh masyarakat yang sedang bersuka cita ditengah perayaan langsung terdiam dan duduk bersimpuh dan memberi hormat pada dekrit yang akan dibacakan Rarapati, begitu juga ketiga sahabat yang ikut berlutut memberi hormat.
“Aku, Candrayana II putra dari Raja Candrayana I, memberikan gelar kehormatan kepada 3 orang pengembara yang telah berkali kali menyelamatkan putri mahkota dari ancaman nyawa. Gavi, Milo dan Abi Akan diberikan gelar Kesatria Lingkar Langit. Dan selamanya akan mendapatkan gelar Adipati. Semua orang wajib menghormati mereka layaknya menghormati menteri kerajaan.” Ujar Rarapati.
Gelar Ksatria lingkar langit adalah gelar kehormatan tertinggi atas sebuah jasa pribadi di kerajaan Hylva, orang orang yang menerima gelar tersebut biasanya akan mendapatkan perlakuan layaknya seorang dewan Mentri kerajaan dan akan mendapatkan hak untuk tinggal di istana. Menurut sejarah kerajaan sendiri, gelar ini diberikan untuk yang kedua kalinya, yang pertamakali menerima gelar ini adalah seorang perempuan yang menyumbangkan ginjalnya untuk mengobati penyakit raja candrayana 1. Tentu saja masyarakat banyak yang heboh dan terkejut dengan anugrah Raja tersebut.
“Hidup 3 Adipati Lingkar Langit!”
“Hidupp!” sorak para warga.
Gavi, Abi dan Milo yang menyadari mereka mendapatkan jabatan dan gelar yang tinggi hanya bisa saling bertatapan dengan mata berbinar kemudian saling berpelukan. Tidak menyangka? Tentu saja, setelah merasakan titik terendah hidup akhirnya hari ini mereka merasakan titik tertinggi hidup juga.
“Gavi, Milo Abi. Kemarilah, terima dekrit ini” ujar Rarapati.
Mendengar itu ketiga sahabat beranjak menghampiri sang putri dengan senyum lebar yang terus terpatri menunjukkan deretan gigi putihnya yang berseri. Kebahagiaan tiada Tara ini mereka dapat setelah melalui berbagai tragedi yang sangat buruk, tentu saja mereka merasa sangat bangga.
“Kami menerima dekrit raja. Semoga raja panjang umur.” ujar Abi sembari menerima kain tersebut.
“Hidup 3 Adipati Lingkar Langit!”
“Hidup!” sorak para warga tak henti hentinya.
......................
__ADS_1