
Pov: Milo
Langkahku terhenti di ujung lorong rumah sakit saat melihat Tante Karin bersimpuh sembari berlinang air mata dihadapan ruang IGD. Nampak Om Hardin dan Tante Zahra-Orang tua Abi juga tengah menangis tersedu sedu dan saling menguatkan satu sama lain. Dengan dirundung rasa takut kehilangan yang bercampur aduk, aku berusaha tetap terlihat tegar dan menghampiri Tante Karin yang nampak sudah tak berdaya.
“Tante, tenang yaa. Gavi pasti baik baik aja kok.” ucapku sembari memeluk erat tubuh Tante Karin yang melemah.
“Gimana kondisi mereka berdua Ra? Sudah ada kabar dari dokter belum?” Tanya Mama.
“Belum ada kabar apa-apa dari dalam Mar, gimana ini hshshs.” Tangis Tante Zahra kembali pecah.
“Maafin Milo om, Tante. Mereka pulang terburu buru dan sepertinya masih kecapean. Harusnya Milo tidak mengijinkan mereka pulang dulu.” Air mataku juga lolos, tak sanggup untuk ditahan lagi.
“Jangan nyalahin diri kamu sendiri mil, ini semua sudah merupakan kehendak dari yang diatas.” Ucap Om Hardin sembari menepuk bahuku.
Situasi menit permenitnya terasa benar-benar menegangkan, kami hanya bisa saling menguatkan sembari menunggu kabar dari dalam UGD dengan harapan kedua sahabatku itu keluar dalam keadaan selamat.
Lam berselang, akhirnya seorang dokter keluar.
“Apakah ini dengan Keluarga saudara Gavi dan Abi?”
“Iya dok, saya ayahnya Abi." Om Hardin dengan panik mendekat.
“Iya dok saya ibunya Gavi.” Ucap Tante Maria “Bagaimana keadaan mereka?” Imbuhnya.
“Kedua pasien sudah melalui masa kritis nya. Namun, Saudara Abi mengalami benturan yang cukup keras dibagian kepala sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali sadar. Sedangkan saudara Gavi mengalami cedera berat dibagi tengkuk, serta membutuhkan waktu untuk kembali memperbaiki sistem jaringan yang rusak didalamnya. Kami belum bisa memastikan kapan keduanya bisa kembali bangun.” Ujar dokter
“Untuk beberapa hari kedepan, kedua pasien berada dalam masa koma, sadar atau tidaknya kita lebih baik terus berdoa saja.” Imbuhnya.
Degg.... Jantungku terasa berhenti berdetak. Rasa sakit dan penyesalan yang bercampur aduk terasa menjalar dari jantung menuju mata, aku jatuh tersungkur dengan tatapan kosong. Kulihat situasi sekeliling benar-benar nampak kacau.
Tante Zahra yang pingsan, teriakan sayu Tante Karin dalam dekapan mama, Om Hardin yang merupakan laki laki bertubuh kekar itu juga nampak menangis tersedu memeluk tubuh istrinya yang tak sadarkan diri. Lalu aku? Hanya mampu menatap pintu IGD dengan air mata berlinang. rasa sakit ini tak mampu kuutarakan hingga hanya diam yang bisa kulakukan.
“Sayang bangun, kamu harus kuat! Kita harus menguatkan keluarga Gavi dan Abi.” Bisik mama sembari memapah tubuhku yang lemas untuk berdiri.
__ADS_1
“Mah, mereka bakal sadar kan? Mereka bakal baik-baik aja kan? Mereka bisa sembuh kan? Mereka bakal-"
“Iya sayang iya, mereka akan baik-baik aja. Kamu harus kuat, kalo kamu gak kuat siapa yang bakal ngerangkul Tante Karin dan Tante Zahra?”
Perkataan mama itu seolah bagaikan bumerang bagi diriku sendiri, dia memintaku menjadi kuat disaat aku sendiri adalah tiang yang paling lemah. Tak mudah bagiku untuk mengusap air mata dan mengesampingkan duka ini. Namun bagaimanapun aku tetap harus berusaha tegar, kuuusap kasar pipiku yang basah dan beranjak menghampiri Tante Karin.
“Tante, sabar ya. Gavi bukan laki laki lemah! Dia pasti Cuma lagi istirahat sebentar” ucapku sembari mendekapnya erat.
“Dia adalah satu satunya harta di hidup Tante, satu-satunya kenangan yang ditinggalkan ayahnya. Dia adalah hidupku, dia adalah duniaku. Jika dia terus seperti ini, untuk apa aku hidup?”
“Tan, liat Milo! Tante percaya kan sama Milo?! Kalo Tante putus asa gini, Gavi pasti sedih. Kita harus terus kuat buat nyemangatin Gavi!”
Mendengar ucapanku, Tante Karin nampak sedikit tercerahkan. Mata bengkaknya berbinar menatapku dan kembali memelukku erat. Tangis kami pecah bersamaan, namun aku tak menghentikan tangis itu. Kuharap ini adalah tangisan kesedihan yang terakhir bagi kami dalam meratapi keadaan yang menimpa kedua sahabatku itu.
Satu jam kemudian
“Kalian pulanglah dulu, kita bergantian saja menjaga mereka. Untuk sekarang biarkan aku dan Zahra dulu yang menunggu mereka, besok kalian kembali lagi.” Ujar Om Hardin memecah keheningan.
“Gak. aku mau terus disamping putraku!” tukas Tante Karin.
“Iya Rin, kamu ikut kami pulang saja. Nginep dirumahku, supaya gampang kesini nya kalau ada apa-apa.” Sahut mama.
Mendengar saran dariku dan mama, Tante Karin nampak termenung sejenak, tatapannya hanya tertuju pada pintu UGD.
“Tenang aja Rin, kalo ada apa-apa pasti kami kabarin.” Timpal Tante Zahra.
“Yasudah, aku titip Gavi ya. Ingat kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya, Ra.”
“Iya tenang aja.”
Aku, mama dan Tante Karin bergegas pulang. Sepanjang jalan Tante Karin tak melepaskan pelukannya dariku. Kurasa dia benar-benar terguncang dengan kejadian yang menimpa putra semata wayangnya itu.
Ayah Gavi merupakan seorang perwira TNI yang gugur dalam tugasnya 6 tahun silam. Aku masih mengingat raut wajah Tante Karin dan Gavi kala itu yang benar-benar terpukul hingga dipemakaman pun mereka tak melepaskan pelukan satu sama lain.
__ADS_1
“Tante mau makan apa? Nanti Milo masakin.”
“Tante gak mau makan.”
“Tante, inget yang Milo ucapin tadi apa pas di rumah sakit?”
“Nanti saja kalau sudah lapar Tante bilang.”
“Yaudah, jangan sedih lagi Tante. Senyum dong, jelek tau Tante kalo murung gituu."
“Bisa aja kamu.” Senyum tipis sedikit terukir di bibir pucat tante Karin. Hanya sebatas menghibur dia yang bisa kulakukan sekarang.
Tak lama berselang akhirnya kami sampai di depan rumah, hari itu waktu juga sudah menunjukkan waktu pagi buta sekitar pukul 1, kami langsung menuju ke kamar untuk beristirahat. Aku masuk ke kamar dan melihat liontin biru diatas meja serta beberapa foto kami bertiga yang tergantung di setiap sudut kamar.
Sakit rasanya, setelah seharian berusaha menahan air mata akhirnya hanya dikamar lah aku bisa bebas meluapkannya, bisaku hanya duduk disudut ruangan yang gelap, bertemankan pelukan hangat dari bantal dan dinginnya suasana hening, kuratapi setiap kenangan yang kami lalui selama 10 tahun ini.
Ku ulas kembali ribuan foto yang memenuhi galeri hp, tersirat rasa penyesalan mendalam yang benar-benar terasa bagaikan taburan garam diatas luka.
“Ah bukannya Abi mengirimkan sebuah voice note, bagaimana aku bisa lupa!” kuputar voice note yang terdengar sangat berisik dengan suara renyam renyam bagaikan telpon klasik.
“....Mil, gue Gak tau kapan kita bisa bertemu lagi. Kalau Lo ada waktu, Dateng ke Tempat yang aku minta sebelumnya, I Lov.....”
Ucapannya terputus, dan voice note itu masih terus berjalan beberapa menit hingga suara seseorang yang terdengar tidak asing menemukan mereka
“Gavi, Abi. Benar benar malang nasib kalian.....nut nut nut.” Ujar orang itu.
Mendengar voice note itu tangisku benar-benar kembali pecah, aku memeluk bantal dengan erat, sesekali ku cakar kasur lembut yang menjadi tempat pelampiasan terbaiku.
“Abiii, Gavii....”
Rintihku mulai tak bersuara karena rasa lelah yang benar-benar hebat . satu jam kuhabiskan untuk merenungi masalah yang terjadi hari ini, hingga perlahan mataku tertutup dan akhirnya tidur terlelap dalam. rasa sedih dan lelah yang kentara.
Semua ini adalah ulah permintaanmu terhadap liontin biru. Jika kau ingin menyelamatkan nyawa mereka, maka mintalah kembalikan nyawa mereka pada liontin itu. Namun harga yang diberi akan sesuai dengan barang yang di minta.....” Ujar Fathur.
__ADS_1
“...hahh. Apa itu!” ucap Milo yang terperanjat dari tidur lelapnya.
......................