Terjebak Konflik Dinasti Hylva

Terjebak Konflik Dinasti Hylva
40. Berturut-turut


__ADS_3

Membaca surat tersebut membuat selir Nimaran menjerit dengan sekuat kuatnya hingga akhirnya jatuh terkapar tak sadarkan diri. Begitu juga Raja semakin menangis terisak meratapi diri yang kembali gagal menjadi seorang ayah.


"T-tidak, ini bukan tulisan tangan Amba! I-ini pasti ulah seseorang!" Racau Nimaran.


"Tenang Nima, Tenang!" Ucap Raja.


"Sebarkan kabar ini agar warga mulai berkabung kemudian segera persiapkan upacara pemakaman Ambarawa." Sambung Raja berusaha tegar.


Sesuai titah, kabar kematian Raden Ambarawa tersebar dengan cepat ke seluruh penjuru Nusantara. Selir selirnya dipulangkan dengan senyum bahagia ke rumah mereka sebab semasa Ambarawa hidup pun mereka hanya dijadikan pemuas nafsu semata. namun beberapa selir yang sudah memiliki anak diharuskan tinggal di istana dan merawat mereka hingga dewasa.


Saat pemakaman Raden Ambarawa tak ada seorangpun warga yang menghadirinya, mengingat semasa hidup Raden Ambarawa terkenal kejam terhadap wanita, dan mati pun dalam keadaan setelah membunuh saudaranya sendiri. Hanya terlihat Raja, beberapa keluarga kerajaan dan tentunya Narama yang terisak mengenang keponakan tercintanya, hanya mereka yang menghadiri pemakaman Raden Ambarawa. Selir Nimaran sendiri tidak mengikuti pemakaman putra semata wayangnya tersebut Karena tidak percaya bahwa Ambarawa telah meninggal.


Disaat seluruh istana kosong, Ratu Durwiasih tidak mengikuti pemakaman dan malah pergi menghampiri selir Nimaran yang duduk dengan tatapan kosong diujung ranjang kamarnya sembari memeluk pakaian Pangeran Ambarawa semasa bayi.


“Nima, makanlah ini. Kau harus tetap kuat. Ikhlaskan kepergian Ambarawa.” Ucap Ratu yang datang sembari menyodorkan sepiring makanan.


“Wanita iblis. Kau pasti yang menjebak dan membunuh Amba kan!? Dasar ****** bersisik ular!”


“Apa yang kau katakan Nima? aku berbelas kasih mengantarkanmu makanan saat aku tahu bahwa anakmu telah membunuh anakku. Namun apa yang kau katakan barusan?”


“Tidak usah banyak alasan. Jujur saja jika KAU yang membunuhnya! PEREMPUAN PEMUJA SETAN! KEMARI KAU!” ujar Nimaran sembari mencekik Ratu.


Plakkk


"Berani sekali kau mencekik ku. Aku sudah berusaha sabar denganmu Nimaran!”


Ratu menangkis tangan Nimaran dan menamparnya dengan kuat kemudian mencekiknya balik hingga Nimaran tersudut ketembok sampai kesusahan bernafas.


“Sepertinya kau sudah sangat tidak sabar untuk menemui anakmu yang tersayang itu. Kau pikir aku tidak tahu bahwa kalian selama ini berusaha membunuh putriku berkali kali dengan menggunakan suku Tamboyan? Dan sekarang kau telah melampaui batas dengan membunuh putraku.” Ucapnya sembari mengeraskan cekikan.


“A....A..... lepaskan...t-tolongg” sahut Nimaran

__ADS_1


Matanya hampir keluar karena nafas yang tertahan hingga akhirnya selir Nimaran mengembuskan napas terakhir dengan kondisi mata terbelalak


“Matilah kau iblis!” ujar ratu Durwiasih.


Ini adalah rencana kedua dari ratu untuk membunuh musuh musuhnya. Ia benar benar puas telah membunuh mereka dengan tangan sendiri, namun pembunuhan ini bukan yang terakhir dalam daftar pembalasan dendamnya.


Prok


prok


Brushh


"Aku disini yang mulia, ada perlu apa?" Hanya dengan dua kali tepukan tangan Fathur bisa sampai dimanapun tempat sang ratu berada.


"Urus jasadnya!"


"Baik Yang mulia."


“Permisi selir, waktunya makan siang, izinkan hamba masuk” ujar salah satu pelayanan yang datang membawa makanan di hadapan pintu kamar selir Nimaran.


Lama mengetuk pintu, sang pelayan tidak mendapat balasan apapun. Dia pun membuka pintu yang ternyata tidak terkunci.


“Brakkk......Aaaaaaaaaaaaa” pelayan tersebut menjatuhkan makanan ditangannya dan berteriak ketakutan hingga jatuh tersungkur.


Mendengar teriakkan sang pelayan, seluruh prajurit di area tersebut datang berbondong bondong “Apa yang terjadi pelayan?!”


Pelayan tersebut hanya menunjuk keatas dengan tatapan ketakutan dan menangis histeris. Ternyata ia melihat selir Nimaran yang sudah tak bernyawa dengan posisi gantung diri di dalam kamar. Para prajurit terperanjat kaget dan bergegas memberitahu raja yang sedang hidmat dalam upacara pemakaman Ambarawa.


Benar benar hari yang menyedihkan bagi kerajaan Hylva khususnya bagi sang Raja saat itu. Seminggu lalu baru saja mereka kehilangan putra mahkota, kemudian disusul kematian Raden Ambarawa dan Selir Nimaran yang berdekatan.


Raja langsung jatuh sakit selama beberapa hari.

__ADS_1


Hal ini memicu pro kontra internal kerajaan. Mereka terus mendesak Raja agar segera menetapkan putra mahkota yang baru. Hiruk pikuk kerajaan selalu seperti ini, tegas dan tanpa belas kasih. Sekalipun Raja tengah terbaring lemah, tugas tugas kerjaan tidak bisa ditelantarkan begitu saja.


Yang membantu menjalankan tugas tugasnya hanyalah Rarapati. Gadis itu bersedia dengan rajin menemani dan membantu pekerjaan sang ayahanda.


“Aku telah memimpin kerajaan ini selama belasan tahun, namun Minggu Minggu ini adalah Minggu terberat dalam masa pemerintahan ku. Ntah aku yang gagal menjadi seorang ayah atau aku yang gagal menjadi seorang Raja. Aku telah mengecewakan para leluhur.” ujar raja yang terbaring lemah ditempat tidurnya sembari memegang lengan Rarapati


“T-tidak ayahanda, ayahanda telah berhasil menjadi seorang Raja. Yang terjadi belakangan ini biarlah berlalu, semua ini mungkin memang kehendak yang maha kuasa. Segeralah ayahanda sehat kembali.” Rarapati mulai berkaca kaca.


“Sudahlah, Bila aku pergi sekarang pun aku sudah ikhlas karena ada kamu yang bisa memimpin kerajaan ini, putriku sayang” sahut raja sembari membelai rambut putrinya itu.


"Kasim, siapakan acara penobatan Putri mahkota malam ini juga!"


Rarapati dan Kasim hanya bisa patuh pada titah Raja. Mereka segera menyiapkan semua kebutuhan upacara yang seadanya saja karena sangat mendadak.


Tentunya para menteri yang dikabari mengenai hal tersebut merasa sangat senang dan bersemangat untuk hadir, terkecuali Narama tentunya.


Malam hari itu upacara penobatan Rarapati sebagai Putri Mahkota dilakukan dengan sederhana mengingat mereka masih dalam masa berkabung kematian tiga orang anggota keluarga kerajaan. Upacara itu hanya dihadiri segelintir keluraga istana, pemuka/ tetua dan para menteri kerajaan.


Rarapati masuk menggunakan jubah merah dengan lambang empat simbol kehidupan (Air, udara, bumi, dan langit). Gadis itu nampak anggun dan serasi dengan pakaian kebangsaan yang di gunakan. Saat dia berjalanpun seluruh Mentri dan saksi upacara tunduk menghormat.


Setibanya dihadapan raja, pemuka istana membacakan beberapa titah leluhur, sumpah sumpah pengabdian dan doa doa kelancaran yang harus diikuti oleh Rarapati. Setelah selesai, saatnya Raja menyematkan mahkota indah yang tersusun atas 4 batu permata merah, disematkan juga padanya sebuah lencana burung Phoenix yang menjadi ciri khas turun temurun seorang pewaris tahta kerajaan Hylva.


Rarapati memberikan salam dan hormatnya kepada sang raja kemudian pada seluruh Mentri kerajaan.


“Aku bersumpah akan menjaga nama baik dari setiap leluhur yang pernah menggunakan lencana Phoenix ini, dengan mahkota dikepalaku berarti aku harus menaruh seluruh hal tentang rakyatku terlebih dahulu ketimbang urusan pribadi. Aku Rarapati keturunan Raghyaningrat, putri dari Raja Candrayana II bersumpah akan mengabdi pada tanah air untuk selamanya.”


Semua orang di dalam aula tersenyum dan bersorak “Hidup putri mahkota!” sang raja dan Rarapati bertatapan dan saling tersenyum


Aku tidak akan mengecewakan mu Rai, aku akan menjaga kerajaan kita dengan baik!


Dibalik sorakan tersebut, terdapat sepasang mata yang menunjukkan kebencian kentara di bola matanya. Orang bertudung hitam itu mengepal tangan seraya mendengus kasar dan berlalu meninggalkan aula kerajaan.

__ADS_1


__ADS_2