
“A-aku tidak apa apa. Terimakasih nona telah menyelamatkanku” lelaki itu nampak tersipu.
Netra coklat lelaki dengan pakaian yang tebal dan cukup bagus tersebut tak berani menatap Milo. Mulut nya membisu saat merasakan debaran jantung nya yang kian cepat. pikirnya, Apakah ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama.
“Khmm...kita berdua juga nolongin kamu.” ucap Abi dengan ketus.
“Oh iya, terimakasih tuan tuan....aku berhutang budi pada kalian."
“Tudak masalah. Lagian mengapa kamu bisa tenggelam di sungai?” Tutur Gavi seraya menyilangkan kedua tangannya.
“A-aku tidak ingat pasti. Yang kuingat saat itu sedang menunggang kuda ditepi sungai, tiba tiba kuda ku mengamuk dan berjalan kesana kemari tak terkendali. Hingga aku terpental ke sungai dan kepalaku terbentur batu” jelas lelaki itu.
“Siapa namamu?” Gavi bertanya.
“Ah iya, namaku hard... Maksudku namaku Arya." Sahut Arya.
“Ahhh” erang Arya saat akan berdiri namun melihat kaki kanannya yang sedikit bengkak dan berwarna keunguan.
“Kakimu sepertinya terbentur batu, bangunlah aku akan membawamu ke tenda ku dan mengobatinya.” ucap Milo sembari mengalungkan tangan Arya ke pundaknya.
“Gak usah Lo, gue aja yang bawa dia” tutur Abi sembari memindahkan tangan Arya ke pundaknya. Terlihat jelas bahwa Abi sedang termakan api cemburu.
Milo berdesis kesal.
“Oiya, nama gue Milo. Itu Gavi dan ini Abi” imbuhnya.
“Baiklah Nona Milo, terimakasih atas bantuan kalian.” ucap Arya sembari diiringi senyum hangat pada Milo.
Setibanya di tenda, hari sudah sangat sore. Abi mendudukkan Arya disamping tenda, sementara Milo bergegas mengambil beberapa bubuk kunyit yang sempat diberikan Paulo.
“Sini gue aja yang ngolesin.” Ucap Abi sembari mengambil bungkusan kunyit dari tangan Milo.
Milo lagi lagi hanya bisa mendengus kesal. Kenapa dengan Abi, dia menjadi sangat overprotektif.
“Warna rambut kamu bagus ya, coklat keemasan gitu. Jarang loh aku bertemu dengan warga yang memiliki warna rambut sepertimu.” Milo berusaha mencari topik.
Lagi lagi Arya tersipu. Arya sudah sering mendengar pujian itu dari ribuan orang sebelumnya. Namun baru kali ini ia merasa sangat senang.
“Ayahku berambut coklat, sementara ibuku berambut pirang. Mungkin itu yang menyebabkan warnanya jadi seperti ini” sahut Arya seraya tersenyum tipis.
“Memangnya kmu tinggal dimana?” tanya Abi sembari mengoleskan kunyit dengan kasar.
“Ahh tolong lebih pelan sedikit, Abi. Atau aku saja yang mengoleskannya.” Arya berusaha meraih kunyit di tangan Abi.
__ADS_1
“Yaudah tuh.” dengan kasar Abi memberikan bubuk kunyit ditangannya.
“Aku tinggal tidak jauh dari sini kok, hanya sepertinya kudaku hilang. Jadi nanti aku akan pulang jalan kaki saja.” Arya berucap sembari mengoleskan kunyit pada kaki nya.
Milo, Abi dan Gavi saling bertatapan. Seolah bertelepati, mereka membicarakan status Arya yang pastinya bukan rakyat biasa. Sejauh pengamatan mereka selama ini, orang orang yang memiliki kuda hanyalah para saudagar kaya dan bangsawan.
“Sebenarnya kamu habis darimana atau mau kemana?” tanya Gavi yang nampak penasaran.
“Aku baru menemui kakakku, dia tinggal di desa dekat sini. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya, jadi aku sangat merindukannya.” Ucap Arya dengan tatapan berbinar.
Ketiga sahabat hanya terdiam dan mengangguki ucapan Arya. Dari tatapannya saja terlihat bahwa Arya sedang tidak ingin membahas mengenai hal tersebut.
Terlalu asik berbincang, mereka tidak sadar bahwa hari mulai larut.
Karena lapar, Mereka berempat memanggang ikan dan beberapa ubi yang sempat dicari siang tadi setelah mengobati kaki Arya.
“Ini sudah malam, tidurlah disini. Besok saja melanjutkan perjalanan pulangnya.” ucap Milo.
“Jika kalian mengizinkan, aku akan sangat berterimakasih." Arya tersenyum canggung.
permohonan itu ditanggapi dengan anggukan oleh Abi dan Gavi.
......................
“Kalian tahu tidak. Dulu aku pernah menyelamatkan seorang nenek tua yang sedang dibegal perampok , lalu suatu hari nenek itu datang ke rumahku membawa cucunya yang sangat cantik” ucap Arya memecah keheningan.
“Nenek itu berkata nak aku membawakan hadiah untukmu, sebagai balas budi telah menolongku waktu itu. Aku kaget kan, lalu ku jawab ah tidak perlu repot repot nek aku belum berkeinginan menikah. Lagipula cucu nenek itu terlalu muda untukku. Mendengar itu si nenek dan cucunya tertawa terbahak bahak” imbuhnya.
“Loh kenapa mereka malah tertawa?” tanya Milo
“Ternyata hadiah yang akan diberikan nenek itu adalah beberapa buah buahan dan sayuran yang dibawa cucunya, bukan cucunya hahaha. Malu sekali aku saat itu” jelas Arya
“HAHAHA ada ada saja kamu ini”Abi, Gavi dan Milo tertawa lepas
“Oiya, jika kalian masih berada disini. Tunggulah aku 3 hari lagi, aku akan kembali kesini menemui kakakku. Sekalian aku akan memberikan sesuatu sebagai tanda terimakasih” ucap Arya.
“Kami tidak menjamin saat itu masih berada disini, karena kami hanya pengembara yang bercita cita mengelilingi daratan.” sahut Abi.
Sebenarnya, mereka belum mengungkapkan identitas aslinya pada Arya. Sebelumnya mereka telah berbincang dan sepakat untuk merahasiakan apapun tentang mereka, identitas mereka di dunia saat ini hanya sebagai pengembara yang tidak hidup menetap.
“Baiklah, tapi aku mohon, tunggulah aku. Setidaknya kita bisa mengucapkan salam perpisahan untuk terakhir kalinya.” ucap Arya.
“Mil , kita bisa bicara sebentar tidak? Ikuti aku.” imbuhnya.
__ADS_1
“Mau ngomong apa? Disini aja.” sahut Abi sembari menarik tangan Milo.
“Gapapa Abi, Cuma sebentar ko.” sahut Milo.
Merekapun berjalan lebih dulu didepan.
“Mil, ini kau pegang cincin ku, aku akan mengambilnya saat kita bertemu lagi.” ucap Arya sembari menyodorkan cincin emas dengan berlian merah muda diatasnya.
“Wahhh cincinnya cantik bangettt, tapi kenapa kamu kasih ini ke aku.”
“Jujur saat pertama kali aku terbangun ditepi sungai, aku langsung jatuh cinta padamu.”
“Hmmm...kalau begitu aku minta maaf ya. Aku sudah mencintai laki laki lain.” ucap Milo sembari melirik kebelakang dan menatap Gavi.
“Tidak apa apa, pakailah dulu. Kau berikan jawabanmu saat kita bertemu lagi.” ucap Arya sembari memberikan cincin itu pada Milo.
“Baiklah kawan, sampai sini saja kalian mengantarku. Terimakasih atas kemurahan hati kalian, sampai jumpa 3 hari lagi ya.” ucap Arya sembari berpelukan dan pergi berpamitan.
“Iyaa...hari hati di jalan ya...dahh.” ucap Abi, Gavi, dan Milo mengiringi kepergian Arya.
Setelah Arya berjalan jauh dan bayang bayangnya sudah tak terlihat, Gavi Abi dan Milo bergegas kembali ketenda. Seperti biasa diperjalanan pulang pasti mereka berbincang bincang hal konyol. Namun topik kali ini sepertinya berbeda.
“Wahh cincinnya keren banget tuh sampe dipake terus” sindir Abi yang nampak kesal.
“Tadi Arya ngungkapin perasaannya, Cuma gue tolak karena kita baru kenal” elak Milo.
“Kalo lo tolak, kenapa Lo terima cincinnya, mana dipake lagi” sahut Gavi
“Sayang woi, cincinnya bagus gini. Lagian dia juga bilang pake aja dulu, nanti dia mau minta jawaban lagi dari gue pas balik lagi kesini” imbuh Milo
“Oooooo iya iya tuan putri....inget kita disini Cuma sementara. Jangan jatuh cinta sama orang sini nanti sakit hati kalo tau bakal berpisah” Abi kian terbakar api cemburu
“Yaelahh ngga santai aja” sahut Milo
Seperti biasa mereka menunggu kedatangan Paulo untuk mendapatkan perkembangan informasi tentang kasus hilangnya Nyimas Rarapati. Siang itu mereka memanggang beberapa buah jagung dan memotong beberapa buah pepaya yang didapat dari kebun didepan gubuk Paulo
Sudah 3 hari mereka tidak bertemu lagi dengan Paulo, ntah kemana dia. Benar benar membuat Gavi Abi dan Milo merasa sedikit khawatir
Tiba tiba seekor burung merpati berwarna hitam hinggap diatas tenda. Abi yang menyadari nya hendak mengusir burung tersebut, namun dia malah fokus pada kaki burung merpati itu yang tampak seperti ada kertas terikat disana. Diapun mengambil kertas itu dan membukanya
“Gavi, Milo... lihatlah ada surat dari Paulo” teriak Abi
“Apa isinya?” tanya Milo
__ADS_1
......................