
Fathur berkomat kamit, dan dalam sekejap sosok yang menjadi tuan nya itu muncul. Seorang perempuan berparas cantik rupawan mengenakan jubah hitam yang menutupi ujung rambut hingga ujung kakinya muncul dari dalam gua.
Rambut pirang, bibir merah merekah, mata tajam bak kijang, kulit putih bersih berseri disertai tubuh sempurna bak gitar spanyol melenggok dengan anggun menuju kearah mereka. Harum tubuhnya semerbak membius hidung, bunga bunga disekitarannyapun tertunduk layu merasa malu, begitu pula dengan Fathur yang langsung berlutut memberi hormat.
“Ratu Durwiasih!?!” Ucap ketiga sahabat serempak.
Mereka nampak benar benar kaget dan tidak menyangka, mengingat dia adalah seorang ratu, bagaimana mungkin bisa memelihara jin.
“Salam ratu! Apa maksud dari semua ini? Mengapa Ratu bisa menjadi tuannya?” Tanya Abi.
“Lama tidak berjumpa dengan kalian. Masuklah, aku akan menjelaskan semuanya di dalam.”
Mendengar itu, ketiga sahabat dan Fathur dengan patuh memasuki gua yang becek dan berbau lumut itu, beruntung Fathur dengan kekuatan bisa menghadirkan beberapa obor dalam sekejap. Mereka terus berjalan masuk hingga ke dasar gua dimana disana ada sebuah telaga bening, persis seperti pertama kali mereka datang.
“Duduklah disini.” ucap ratu Durwiasih yang langsung duduk diatas batu koral tanpa alas apapun.
“Sebelumnya aku meminta maaf kepada kalian. Semua ini terjadi karena kesalahan yang ku perbuat....”
...----------------...
Kilas balik 6 Bulan lalu
POV : Ratu Durwiasih
Kala itu Aku sedang terlelap, ntah mengapa tidurku tak pernah nyenyak. Hingga suatu malam seorang kakek tua berpakaian putih bersinar memegang sebuah tongkat menyinggahi mimpiku.
“Nak, anak anakmu dalam ancaman. Pergilah ke gua diujung hutan utara, bertapalah selama 3 hari. Orang yang akan membantumu akan keluar dari sana!”
aku bangun dengan bercucuran keringat, rasanya bertemu dengan kakek tersebut seperti bertemu dengan hamba tuhan. Tekanan energi yang dia berikan benar benar kuat menandakan bahwa peringatan yang dia berikan benar adanya.
Lantas aku bergegas menemui raja untuk meminta izin keluar beberapa hari dengan alasan untuk menyegarkan diri dipemandian air panas , beruntung yang mulia memberikan izin.
“Fathur, bawa aku menuju ujung hutan Camellia, disana terdapat sebuah gua. Aku harus bertapa disana.” ucapku pada Fathur.
Diapun dengan segera membawaku dalam sekejap menuju tempat tersebut. Aku terus berjalan menuju kedalam gua hingga kudapati batu koral yang besar disamping sebuah telaga.
“Aku tidak menyangka ada tempat seindah ini di pelosok kerajaan Hylva.”
“Ini bukan tempat biasa ratu, aku merasakan tekanan misterius dibawah danau ini. Aku rasa ini merupakan tempat gaib yang muncul dan hilangnya tidak diketahui."
“Hmmm begitu.” ucapku mengeriyatkan dahi.
“Dengarkan aku Fathur, kemarin seorang kakek tua muncul dalam mimpiku. Dia memintaku kesini untuk bertapa dan memohon keselamatan bagi anak anakku. Tugasmu sekarang hanya mengamankan sekeliling ku saat aku sedang bertapa."
__ADS_1
“Dengan hormat ratu!”
Akupun mulai menutup mata dan membaca doa doa keselamatan selama hampir dua hari, hingga dihari ketiga aku tiba tiba tersadar dari alam bawah kesadaran. Ntah apa yang menggerakkan mulutku untuk meminta Fathur masuk kedalam air, Fathur sendiri nampak mengerti dengan apa yang kumaksud.
Dia masuk kedalam air dan tak lama hanya sekitaran satu jam dia kembali dan menutupi tubuhku dengan sihir tembus pandang. Beberapa saat kemudian tiga orang muncul dari dalam danau, aku benar benar kaget mengingat semenjak awal hanya ada kami berdua didalam gua.
“Siapa mereka?”
“Mereka adalah orang orang terpilih yang diilhamkan oleh tuan agung.”
“Tuan agung? Siapa yang kau maksud?”
“Dia adalah leluhur keluarga ratu, aku pernah menjadi jin penjaganya."
Mendengar ucapan Fathur tersebut aku langsung bersimpuh dan memohon ampun serta berterimakasih atas segala kemurahan hati yang diberikan oleh leluhurku.
“Mereka tampak asing, darimana mereka berasal?”
“Mereka berasal dari masa depan ratu. Aku hitung kurang lebih mereka berasal dari 1.500 tahun kedepan.”
“A-apaa? Bagaimana bisa?”
“Atas berkat kehendak Tuhan, yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin Ratu.”
“Tugasmu sekarang hanya membimbing apa yang harus mereka lakukan. Berikan saja mereka petunjuk melalui mimpi.”
...----------------...
Kembali ke tiga sahabat.
Mendengar penjelasan yang diceritakan ratu Durwiasih tersebut, ketiga sahabat benar benar terkejut dan kehabisa kata kata untuk mengungkapkan perasaan mereka.
“Tapi kenapa harus kami!?” tanya Milo dengan kesal.
“Kalian adalah orang orang terpilih, aku tidak tahu alasannya. Hanya dengan ini, tugas kalian telah selesai.” sahut Ratu
“Lalu apa yang harus kami lakukan selanjutnya? Jika benar misi kami telah selesai, bisakah kami kembali kedunia kami?” tanya Gavi.
“Tentu saja, kalian pakailah jimat ini. Ini adalah bentuk rasa terimakasih dari ku."
Ratu Durwiasih memberikan tiga kalung liontin berwarna biru kepada tiga sahabat, kalung tersebut nampak berkilau dengan indah ditengah gelapnya gua. Tiga sahabat langsung menggunakan kalung tersebut meskipun nampak ragu.
“Untuk apa kalung ini?” tanya Gavi.
__ADS_1
“Itu bukan kalung biasa. Kalung itu akan berguna dikehidupan kalian selanjutnya, nanti kalian akan mengetahuinya sendiri.” sahut ratu.
“Pintu dimensi di dalam danau ini akan terbuka sebentar lagi. Sebelum kalian kembali apakah ada yang kalian inginkan?”
“Hmm...Kami tidak bisa pulang dengan keadaan seperti ini.” ucap Milo.
“Fathur segera ambilkan barang barang mereka dalam keadaan utuh seperti semula!”
“Baik Ratu."
"Twinkk”
Dengan sekali jentikan jari, ketiga sahabat kembali menggunakan pakaian yang mereka kenakan sebelumnya, lengkap dengan ransel dan peralatan yang masih utuh.
“Wahh bukankah tikar ini hanyut di sungai? Baju ini juga harusnya kotor dan sobek?” ucap Abi yang nampak heran.
“Semua itu bisa dengan mudah ditemukan dan diperbarui oleh Fathur.”
Mendengar itu ketiga sahabat tersenyum kegirangan, mereka saling berpelukan dan menangis terharu, setelah mengalami berbagai rintangan dan tragedi akhirnya mereka bisa kembali kedunia asal mereka dengan selamat.
“Cringg....” cahaya yang sangat terang tiba tiba muncul dari bawah danau, mereka lekas berdiri dengan tatapan berbinar.
“Ratu, aku titipkan semua yang kami dapatkan pada Tantri. Dia adalah gadis yang sangat baik hati. Titipkan juga salam kami pada Nyimas Rarapati dan Paulo.” ucap Abi sembari tersenyum sumringah.
“Baik, akan kusampaikan pesan kalian! Berenanglah kedasar danau! Dan sentuh batu putih didasarnya baru kalian berenang kembali ke atas!” ujar ratu dengan senyum hangatnya.
Senyum hangat ratu tersebut disambut dengan senyum lebar dan lambaian tangan dari ketiga sahabat.
“Bruss...Bruss....Bruss...”
Mereka menyelam kedasar telaga. Setiap kayuh tangannya adalah perasaan yang saling bercampur halus. Harapan yang menjadi sebuah candu dalam doa kini terkabul jua.
Gegas tangan mengayuh kembali menuju permukaan, sinar mentari terlihat samar sayup menerpa wajah mereka yang berseri. Mereka pun berhasil pulang kembali.
Sesampainya dipermukaan telaga, mereka mengamati sekeliling yang masih merupakan gunung tempat mereka mendaki sebelumnya. Handphone abi juga nampak masih ada tergeletak disamping telaga.
Mereka keluar dari air kemudian berpelukan hingga jatuh dalam Isak tangis bahagia.
“Kita akhirnya kembali hshshs.” ujar Milo.
“Gue gak nyangka kita benar benar masih bisa selamat.” sahut Gavi.
“Luka luka dibadan gue juga pada ilang, rasanya fresh kaya ga terjadi apa apa Mil, Vi.”
__ADS_1
“Nyokap! Gue harus ngabarin nyokap gue, kita udah ilang enam bulan takutnya malah dikira udah meninggal.” ucap Milo yang dengan panik menghidupkan ponselnya, begitu juga dengan Abi dan Gavi.
......................