Terjebak Konflik Dinasti Hylva

Terjebak Konflik Dinasti Hylva
21. Kesetiaan


__ADS_3

"Entahlah, tapi dia terlihat benar benar tampan dan bijak. Aku rasa karena dia mulai menyukai Milo jadi dia akan terus berkunjung ke rumah haha” gurau Gavi


“Haha jujur saat pertama kali aku melihat Milo aku langsung terpikat dengan kecantikannya, namun saat mengingat Isyah, dia masih tetap jadi pemenangnya haha. Tapi sangat disayangkan jika Milo menolak seorang konglomerat sepertinya. Sama saja dia menolak keberuntungan seumur hidup” ujar Paulo


“Bagaimanapun kami bukan dari sini Paulo, kami tidak bisa berharap atau memberikan harapan pada siapapun disini. Ngomong ngomong gimna perkembangan informasi mengenai Nyimas Rarapati?” tanya Gavi


“Mm...itu-itu ya, ak-aku tidak bisa menemukan informasi apapun” ujar Paulo yang nampak gugup


“Begitu ya, yasudah nanti kita bicarakan lagi dirumah” sahut Gavi


Lama berjalan akhirnya mereka tiba didepan rumah, Paulo yang melihat itu hanya bisa menganga melihat rumah baru mereka yang terlihat besar dan eksotis.


“Wahh lagi pada makan nih, kebetulan gue juga udah laper. Ayo Paulo kita makan bersama sama” ucap Gavi yang melihat Abi dan Milo tengah makan bersama


“Paulo, bagaiman kondisimu? Kami baru saja membicarakan cara untuk bertemu denganmu” ujar Abi


“Aku sudah lumayan berasa baikan, tadi bertemu dengan Gavi dipasar dan dia mengajakku kemari” sahut Paulo


“Syukurlah, akhirnya kita bisa kembali berkumpul seperti ini lagi. Ayo makan makan”


ucap Milo sembari menyodorkan masakannya


Mereka menyantap makanan bersama sama, menghabiskan masakan Milo hingga tak tertisa sedikitpun


“Gavi sudah menceritakan semua cerita tentang kalian hingga mendapatkan semua ini. Kalian benar benar beruntung bertemu dengannya” ujar Paulo


“Ntahlah, ini keberuntungan pertama kami disini” sahut Milo


“Oiya, apakah kamu sudah menemukan informasi lain tentang hilangnya Nyimas Rarapati” tanya Abi.


Paulo bungkam. Ia tak berkata apapun saat membahas mengenai kasus Nyimas Rarapati yang harus segera mereka selesaikan. Bungkamnya Paulo ini membuat Gavi, Milo dan Abi merasa heran.


Apakah sebenarnya Paulo menyembunyikan sesuatu dari mereka.


“Apa kalian benar benar tidak ada niatan untuk menetap saja di dunia ini?” Paulo berusaha mengubah topik pembicaraan.


“Kami awalnya ada niatan seperti itu, hanya saja di dunia kami ada orang orang yang kami rindukan. Bagaimana perasaanmu bila tiba tiba pergi meninggalkan mereka tanpa memberi kabar sama sekali?” Ujar Gavi.

__ADS_1


Paulo yang mendengar perkataan dari Gavi itu hanya terdiam dan menunduk. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi.


“Kenapa Paulo, aku merasa kau menyembunyikan sesuatu dari kami?” Abi menepuk pundak Paulo,


Seperti biasanya, Abi selalu blak blakan dalam mengungkapkan isi pikirannya. Paulo sendiri mengangkat kepalanya, dan mulai menatap netra Milo, Abi dan Gavi dengan berbinar.


Paulo menghela nafas panjang. Hatinya sedang berperang, kemana dia harus berpihak.


“Maafkan aku teman teman, aku tidak bisa membantu kalian beberapa Minggu kedepan. Aku harus berkunjung kerumah pamanku yang sedang sakit di luar kota.” ucapnya.


“Ohh ternyata karena itu, tidak masalah Paulo. Pergilah. Jangan hanya karena kami kamu harus menunda urusan yang penting.” ucap Milo, dibarengi anggukan kecil dari Abi dan Gavi.


Paulo semakin terpuruk melihat sikap teman temannya yang begitu baik namun dia harus membohongi mereka demi gadis yang ia cintai.


“Sepertinya hari sudah siang, aku pulang saja. Takutnya orang orang ayahku mencari ku.” ucap Paulo.


“Kenapa buru buru sekali, menginap lah sehari saja, disini juga ada satu kamar kosong.” sahut Gavi


“Tidak usah, lain kali saja”


Paulo terlihat buru buru, ia segera beranjak pergi meninggalkan rumah ketiga sahabat. Seolah tidak tahan berada di dalam ruangan itu terlalu lamam


Saat itu, sepanjang perjalanan pulang Paulo terus meratapi dirinya yang benar terlihat menjijikkan untuk dianggap sebagai teman. Namun semua ini juga terpaksa ia lakukan.


Paulo duduk ditepi danau yang ia lalui, melihat bayang bayang dirinya terpantul diatas air. ia mengangkat kepalanya dan menatap cerahnya langit seraya memejamkan mata.


“Aku memang bukan teman yang baik, tapi aku akan berusaha menjadi teman yang pantas.” gumam Paulo dalam renungannya


Paulo kembali menurunkan pandangannya dan menelisik lingkungan sekitar yang sangat damai hingga pandangan Paulo kini tertuju pada dua orang di seberang danau yang tengah berbincang ria sembari tertawa lepas.


“Apakah itu Isyah....aku yakin itu Isyah.” ucap Paulo sembari memastikan pandangannya


“Tapi siapa laki laki yang bersamanya itu.” imbuhnya seraya menyipitkan pandangan, berusaha menelisik gerakan dua orang tersebut.


Laki laki itu tampak menggunakan jubah hitam yang menutupi kepala hingga lututnya, tentu saja Paulo tidak bisa melihat siapa sebenarnya laki laki itu. Namun yang jelas, laki laki bertubuh tinggi itu berambut coklat keemasan dan bertubuh kekar.


Perasaan Paulo kian bercampur aduk saat melihat mereka berdua berpelukan dan pergi bergandengan tangan meninggalkan danau. Api cemburu membara dimatanya, tangan mengepal dengan keras, hatinya kini tengah terbakar hebat.

__ADS_1


“Perempuan yang ku bela dan kucintai sepenuh hati malah berbuat seperti ini? Rela aku mengkhianati teman temanku demi dirinya, namun ini balasan yang kudapat?” ujar Paulo yang nampak benar benar marah seraya mendengus kasar.


Tanpa pikir panjang ia segera berlari menelusuri pinggir danau, mengejar sang pujaan hati yang tengah bermesraan bersama lelaki lain.


Setiap hentakan kakinya berisi kemarahan yang Paulo salurkan. Semakin dia mengingat kebersamaan mereka, semakin cepat dia berlari.


Setelah mengitari danau yang cukup luas itu, Paulo akhirnya sampai di seberang sungai. Ia kembali melihat adegan perpisahan antara Isyah dan laki laki yang tak dikenalnya itu, mereka berpisah dengan saling berpelukan erat, terlihat seperti sangat akrab.


“Hati hati dijalan, sampai jumpa tiga hari lagi.” ucap laki laki itu sembari menaiki kudanya.


“Iya hati hati, sampai jumpa!” sahut Isyah dengan senyum lebar terpancar.


Paulo yang melihat kedekatan mereka semakin terbakar api cemburu, ia menggenggam erat sebuah pohon disampingnya dan merauknya dengan kuat hingga ujung ujung jarinya bercucuran darah.


Melihat Isyah yang akan beranjak pergi dari tempat i.tu tiba tiba Paulo keluar dengan tatapan tajamnya


“Isyah, apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya Paulo dengan datar


“P-paulo, kenapa kamu bisa berada disini? Ak-aku hanya sedang berjalan jalan saja” Isyah terperanjat kaget, matanya membulat sempurna.


“OOH HANYA BERJALAN JALAN SAJA?” Ketus Paulo sembari mencengkram kuat pundak Isyah dan menyudutkannya ke sebuah pohon.


“AKU JELAS JELAS MELIHATMU BERPELUKAN DENGAN LAKI LAKI LAIN!”


“A-Apa maksudmu?" Isyah nampak gugup, ia memutar bola matanya tak berani menatap Paulo.


“Tidak mau mengaku? Spertinya kalian berdua memang memiliki hubungan.” ujar Paulo sembari berlalu meninggalkan Isyah.


“Tunggu Paulo, aku bisa menjelaskan semuanya.” ucap Isyah seraya berlari dan memggenggam erat tangan Paulo.


Paulo enggan menatap Isyah sama sekali. Ia pun menepis kasar tangan isyah dan mengalami pandangan.


“Apa lagi yang perlu di jelaskan, semuanya sudah jelas!”


Paulo mempercepat langkah kakinya karena tak kuasa menahan amarah dan kekecewaan yang mendalam terhadap Isyah.


“DIA ADALAH ADIKKU!”

__ADS_1


Teriakan Isyah yang langsung membuat Paulo menghentikan langkahnya.


......................


__ADS_2