
"Kemana Nyimas Rarapati pergi selama 3 tahun ini? Jika memang benar terluka, mengapa tidak segera pulang ke istana?" Celetuk ibu suri.
"Nyimas tidak punya pilihan lain, cedera di kepala Nyimas terlalu parah dan ada kemungkinan lama sembuh. Jika Nyimas langsung kembali ke istana, ntah berapa banyak orang yang akan mengincar nyawa Nyimas tanpa ragu."
Ujaran Rarapati memang masuk akal. Semua orang menatapnya dengan iba, menjadi putri mahkota bukanlah hal yang mudah. Apalagi ditengah tengah keluarga yang memiliki tujuan kuat masing masing.
Disisi lain, Ratu mendelik pada Nimaran yang masih bersimpuh memegang erat kaki Raja. Ia tersenyum miris seraya berkata "Kaki raja terlalu suci untukmu, Nima."
"Kakak! Apakah kakak tidak percaya padaku?" Lirih Nimaran.
Perempuan berusia 39 tahun itu bangkit dari persimpuhan, berdiri menghadap sang ratu dengan tatapan berkaca kaca. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia tengah meringis kecewa dengan semua yang terjadi.
"Lalu? Apa aku harus memilih tidak percaya pada putriku sendiri?" Cibir Ratu.
"Sudah sudah! Aku sudah memikirkan semuanya!" Tukas Raja.
"Aku benar benar tidak menyangka, Amba!? Kau...Kau....Argh..." Ucapan Raja sempat terpotong, mengingat Amba adalah putranya yang telah membantu banyak pekerjaan istana. Namun disisi lain dosa Amba sudah benar benar melewati batas.
Raja berusaha menarik nafas panjang dan menjernihkan pikirannya. "APA YANG KAU TUNGGU AMBA! SEGERA BERSIMPUH PADA KAKAK MU!"
"A-amba tidak mau, Lebih baik Amba dihukum daripada harus bersimpuh padanya!" Tegas Ambarawa.
"Anak bodoh! Minta maaf sekarang!" Teriak Nimaran.
Lancangnya Ambarawa tidak menanggapi ucapan ibu dan ayahnya. ia lebih membuang muka ke sembarang arah. Ego nya lebih memilih di hukum ketimbang bersimpuh mengucap maaf yang akan menurunkan harga dirinya.
"Baiklah kalau itu yang kau mau! demi mendisiplinkan mu, Aku memutuskan untuk mengasingkan mu keluar istana selama 3 tahun dan merenungi perbuatanmu. Terserah kau pergi kemana pun, asalkan jangan menginjakkan kaki di ibukota!"
"Untuk Nima, aku akan pertimbangkan lagi karena belum ada bukti fisik." sambungan.
Raja merasa telah gagal menjadi seorang ayah sekaligus seorang suami. Pun setelah itu raja langsung pergi begitu saja meninggalkan ruang aula dengan perasaan sedih, marah, dan kecewa yang bercampur aduk.
__ADS_1
Semua orang menunduk memberi hormat.
Kepergian Raja diikuti oleh Ibu suri, Ratu dan para selir. Tentunya mereka menatap Ambarawa dengan tatapan yang kesal dan menghina. Hal ini menjadi Boomerang dalam hidup Ambarawa sejak saat ini. Ditambah Nimaran, ibunya sendiri juga pergi begitu saja tanpa menatap Amba sama sekali sembari dipapah oleh dayang setianya.
Rarapati dan Hardijaya saling bertatap kecewa. Hukuman ini masih terasa kurang bagi mereka, apalagi selir Nimaran yang bisa jadi dalang dari semua ini malah belum dipastikan hukumannya.
"Kau menang sekarang, Rarapati! Tunggulah aku akan kembali dan merebut semuanya!" gumam Ambarawa sebelum akhirnya pergi dengan amarah.
...----------------...
Pagi itu akhirnya datang, Rarapati dan Hardijaya berpenampilan rapi dan berpakaian resmi kerajaan pergi bersama pelayan dan prajuritnya untuk menemui 3 sahabat.
Di sepanjang perjalanan Hardijaya terus tersenyum dan menampilkan raut wajah ceria. Melihat tingkah adiknya itu, Rarapati sadar bahwa Hardijaya berubah, dari yang kaku dan dingin kini lebih banyak bicara dan tersenyum.
“Wahh Rai, lihatlah wajahnya yang sangat bersinar terang itu. Sepertinya matahari memiliki saingan baru.”
“Apa yang Nyimas katakan, jangan mengganggu suasana hatiku Nyimas.”
“W-wanita apaa?” sahut Hardijaya yang mulai gelagapan.
“Wanita yang membuat adikku yang tidak pernah peduli dengan perempuan bisa jadi takluk oleh cinta seperti ini, cepat katakan siapa dia!”
“A-aku rasa, Nyimas sudah mengenalnya, hehe.”
“Sudah kuduga pasti dia! Saat melihat cincin warisan keluarga kita ada di jarinya, aku langsung teringat padamu.” Seloroh Rarapati.
“Sejak pertama kali melihatnya, aku dibuat seolah tak bisa jauh darinya. Mendengar suaranya adalah penenang instan, sentuhannya adalah rasa nyaman, dan melihatnya bahagia adalah sebuah tujuan. Bayang bayangnya selalu melintas tiap detik dan detak, Aku benar benar dibuat gila karenanya." Ujar Hardijaya seraya menatap langit, membayangkan beberapa memori kebersamaan nya dengan gadis tersebut.
"Jadi seperti ini yang rasanya jatuh cinta." Sambungnya.
“Tapi bukankah dia mencintai laki laki lain?”
__ADS_1
“Aku tahu. Dia sudah menjelaskannya berulang kali, dan aku menjawab tidak masalah. Karena aku sadar dia tulus padanya, dan dia juga sadar bahwa aku tulus padanya.” Sahut Hardijaya diplomatis.
“Hmm lihatlah, adikku ini sudah tumbuh dewasa. Tidak masalah jika Rai tulus padanya, asal ingat saja cincin yang Rai berikan itu adalah warisan turun temurun yang diberikan raja kepada calon pasangan penerus tahta, bagaimana jika dia bersikukuh tetap tidak mau berpaling dari laki laki yang dia cintai?”
“Tidak masalah, dia sudah menghabiskan seluruh rasa cintaku sampai aku tak bisa berbagi apa apa lagi pada orang baru. Jika memang kami tidak ditakdirkan bersama maka takdir ku selanjutnya berarti adalah mati.” ujarnya.
Rarapati sangat tersentuh dengan ucapan adiknya. Jauh didalam Lubuh hatinya ia tahu bahwa Hardijaya dan Milo tidak mungkin bersatu. Bagaimanapun Milo bukan berasal dari dunia ini, akan ada masanya ia kembali ke dunia asal dan hanya meninggalkan kenangan di dunia ini.
“Huss jangan berkata seperti itu! Nyimas yakin saat keadaan seperti yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan, Rai akan bisa memutuskan suatu keputusan yang bijak.” ujar Rarapati.
Rarapati sangat ingin berkata jujur mengenai asal usul Milo. Namun melihat adiknya yang tengah dalam situasi berbahagia Rarapati memilih bungkam untuk sementara waktu. Syukur syukur tiga sahabat memberitahunya lebih dahulu.
Sementara itu setelah beberapa lama menyusuri hutan dan desa desa, Kini Rarapati dan Hardijaya telah sampai didepan rumah 3 sahabat.
Milo yang sedang menyapu halaman nampak terperanjat kaget dengan kedatangan rombongan orang orang berpakaian mewah berjubarkan bendera kerajaan.
“Permisi nona, kami dari kerajaan Hylva membawa Nyimas Rarapati dan Raden Hardijaya datang untuk berkunjung.” ujar salah satu prajurit.
“H-hah bukankah Nyimas Rarapati hilang? Dan untuk apa mereka berkunjung, kami tidak terlalu dekat dengan keluarga kerajaan.” sahut Milo.
Rupanya ketiga sahabat masih belum juga sadar bahwa orang yang selama ini mereka tolong berkali kali adalah putri dan pangeran dari kerajaan Hylva, Nyimas Rarapati dan Raden Hardijaya.
“MILO APA KABAR??” ucap Hardijaya sembari berlari dan memeluk Milo.
“A-arya? Isyah? Kenapa kalian bisa datang dengan rombongan kerajaan?........tunggu, pakaian kalian? Mahkota itu? Apa maksudnya semua ini?”
Mata Milo membulat sempurna, nyaris loncat keluar dari tempatnya.
Yang terlintas dipikiran gadis itu sekarang hanyalah sebuah pertanyaan, apakah dua orang dihadapannya tersebut adalah orang yang ia dan kawan kawannya cari selama ini.
......................
__ADS_1