Terjebak Konflik Dinasti Hylva

Terjebak Konflik Dinasti Hylva
52. Begal?


__ADS_3

Tak lama suara adzan Maghrib berkumandang menandakan sore segera berganti malam. Sementara Gavi dan Milo sedari tadi menunggu kedatangan Abi yang tak kunjung datang terlihat cukup kesal.


“Duh ni anak lama bener sih, keburu malam nih!” ujar Milo.


“Yaudah ayo buruan kita beresin dulu bawaan ke bagasi.” sahut Gavi.


Sekitar 10 menitan mereka menunggu di dalam mobil akhirnya dari kejauhan nampak sayup sayup bayangan Abi berlari terbirit birit.


“Miloo....gaviii...a-ayo cepat kita pergi dari desa ini!” Ujar Abi yang ngos-ngosan langsung masuk kedalam mobil.


“Ngapa si Lo? Jangan bikin panik deh!”


“U-udah Gav, nanti gue ceritain di jalan. Sekarang jalan aja dulu!” Mendengar ucapan Abi tersebut Milo dan Gavi juga nampak ikut panik.


Gavi yang menyetir mobil segera menginjak pegas dan melajukan mobilnya keluar desa. Sekitaran 1 kilometer jauh dari desa, akhirnya Abi memberanikan diri untuk bicara


“Tadi gue ketemu sama mas mas di toilet masjid yang mau wudhu. Gue iseng nanyain kakek tua yang tinggal di kaki bukit itu.” ucapan Abi terpotong lama.


“Terus apa bi! Lanjutin kalo cerita jangan sepotong sepotong!” ujar Milo.


“T-terus dia kayak keheranan gitu dan bilang kalo di kaki bukit itu gak mungkin ada Kakek kakek yang tinggal apalagi seorang diri, itukan kawasan hutan lindung.” Mendengar ucapan Abi tersebut Milo dan Gavi cukup kaget.


“Aduh terus yang kita temuin tadi siapa? Jadi merinding gini gue.” celetuk Milo.


“Coba Lo liat kotak yang dikasih kakek itu bi, gue taro dibelakang tadi.” sahut Gavi.


Abi yang duduk dibelakang bergegas mencari keberadaan kotak kuno tersebut, tangannya nampak gemetar saat hendak meraih kotak misterius yang tergeletak dibawah tas ransel.


“Ini, gimana nih buka jangan?”


“Gimana kalau isinya jenglot atau ajian ajian santet?” Milo asal.


“Udah buka aja bi, lagian kita kan nolongin kakek itu. Gak mungkin dia ngasih yang aneh aneh." Gavi meyakinkan.


Abi menelan salivanya dengan keringat dingin yang mulai bercucuran. Perlahan lahan meskipun tangan gemetar ia berusaha membuka kotak tersebut.


“hahh?” mata Abi terbelalak lebar.

__ADS_1


“Ini?? Bongkahan emas dan berlian!?” Imbuhnya.


Mendengar ucapan Abi, Gavi langsung menginjak pedal rem dan menghentikan mobilnya dengan kaget, Milo juga langsung menoleh kebelakang dan mengambil kotak tersebut.


“Mana sini gue cek!” Sahut Gavi yang langsung mengambil baterai di laci mobil dan langsung mengarahkan pada emas serta berlian didalam kotak tersebut.


“Gila...ini emas sama berlian asli woi!” Ujar Gavi dengan kegirangan.


“Buset banyak banget woi kita bisa kaya!!”  ujar Milo yang nampak kegirangan.


Mereka bertiga saling berpelukan dan merangkul erat bongkahan emas serta berlian tersebut. Benar-benar sebuah kejadian yang tidak terduga sama sekali.


Namun tiba tiba mata Abi tertuju pada lambang naga emas dan elang yang ada diatas sisi kotak tersebut.


“Eh bukannya ini lambang bendera kerajaan Hylva?”


“Lah iya, mirip banget itu, Bi." Timpal Milo.


“Apa jangan jangan....” Gavi berusaha menerawang.


“Ahhh udahlah bodoamat darimanapun yang jelas sekarang kita kaya!!” Seloroh Abi.


Mereka kembali melajukan mobil menyusuri gelapnya hutan pohon Pinus yang diselimuti kabut, musik DJ mereka nyalakan dengan kencang hingga berjoget ria didalam mobil. Tak sadar dibelakang mobil nampak ada 3 motor mengikuti mereka. Beruntung Abi segera menyadarinya dan mengingatkan Gavi.


“Vi, coba liat dibelakang ada 3 motor yang ngikutin kita! Kayanya sekitar 2 orang dalam setiap motor!"


Mendengar ucapan Abi itu, Gavi dan Milo langsung teringat pada peringatan yang diberikan mas mas yang mereka temui sebelumnya. Tanpa pikir panjang, Gavi menginjak gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Suasana bahagia kini berganti tegang, motor dibelakang nampak tak kalah cepat dan hendak menyalip, beruntung Gavi mengendarai mobil dengan cekatan hingga motor motor tersebut nampak susah menyalip.


Tak lama suara motor motor itu kembali terdengar dengan keras dibelakang, Gavi kembali menginjak gas dan melaju cepat menembus gelapnya hutan yang diselimuti kabut. Samar samar Abi melihat bayangan motor motor itu dibelakang seperti mengarahkan sebuah tembakan kearah mobil mereka.


“Vi Vi mereka bawa senjata! Pistol itu lagi mereka arahin ke ban!” ucap Abi dengan panik.


“Kuatin sabuk pengaman dan pegangan yang erat!” ujar Gavi.


Tanpa mereka sadari, liontin yang mereka gunakan bersinar dan dan saling memantulkan cahaya. Ditengah ketegangan itu Abi melihat tiga motor tersebut tiba tiba hilang terkena runtuhan sesuatu dari tebing disamping kanan.


“Heh heh mereka jatuh ke jurang! Sepertinya terkena longsoran tanah!” ujar Abi sembari membuka jendela sebelah kiri yang menyuguhkan pemandangan jurang dalam.

__ADS_1


Gavi menghentikan mobilnya dengan segera, mereka turun terbirit birit melihat kondisi motor motor yang hampir membegal mereka tersebut.


Bledagg


Semburan ledakan bahan bakar terlihat sangat membara dibawah jurang.


“Lihat, sepertinya mereka benar benar jatuh, sangat mengenaskan.” Seloroh Abi.


“Hampir aja kita ke begal” Ucap Milo.


“Tangan gue lemes banget." Sahut Gavi sembari mengusap tangannya dan meraba dadanya yang terasa berdebar hebat.


Mereka berhenti sejenak di hutan tersebut untuk menghirup udara segar dan melepas lelah, perasaan bahagia sebelumnya tiba tiba diganti tegang, kaget dan takut benar benar membuat mereka merasa lelah. Malam juga nampak semakin larut, deruan angin dan lantunan suara burung hantu ditengah heningnya hutan kembali menyadarkan mereka dari lamunan.


“Ayo kita lanjutin perjalanan pulang, ini udah makin larut." ujar Milo memecah keheningan.


Merekapun kembali masuk dan bergegas pulang menuju ibukota.


“Ini udah malem banget, kalian nginep aja dirumah gue!” Ucap Milo.


“Yaudah gue juga ga sanggup bawa mobil lebih jauh lagi."


2 jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di Jakarta dan memasuki kawasan perumahan Andara menuju rumah Milo, sesampainya didepan rumah mereka langsung disambut hangat oleh pak satpam yang membukakan gerbang.


“Pak mamah saya sudah pulang belum?” Tanya Milo.


“Belum non, kabarnya nyonya pulang tengah malam jadi saya menunggu sampai Nyonya pulang.”


“Oh gitu baik pa."


“Yaudah yu masuk dulu.” imbuhnya


Nampak rumah Milo tersebut memiliki 2 lantai sangat megah dengan arsitektur bergaya Itali. Ini bukan kali pertama Gavi dan Abi menginap di rumah Milo, saking seringnya saat masukpun mereka sudah tahu kamar yang akan mereka tempati ada disamping kamar Milo dilantai atas.


“Kalian istirahat aja dulu. Nanti besok kita ngobrol ngobrol lagi. Kalo laper dibawah ada makanan makan aja.”


“Siap nona dengan senang hati."

__ADS_1


Malam itu mereka lalui dengan damai, ini adalah pertama kalinya setelah 6 bulan mereka bisa tidur diatas kasur empuk dari kapas lagi. Setelah bersih bersih Gavi dan Abi langsung tertidur lelap.


“Kalung itu bukan kalung biasa, dia akan melindungi kalian dari berbagai bahaya dan dia juga bisa mengabulkan 2 permintaan. Gunakan dengan sebaik mungkin”  Fathur tiba-tiba kembali menyambangi mimpi Gavi.


__ADS_2