
*5 HARI SETELAHNYA
Kini Gavi Milo dan Abi tidak perlu pergi jauh untuk mencari makanan, mereka hanya tinggal menanam benih dibelakang rumah baru mereka.
Pagi itu Milo sedang memasak ayam dan beberapa lauk pauk lainnya untuk mereka sarapan. Gavi sudah pergi sejak pagi menuju kota untuk membeli makanan dan keperluan mereka, sedangkan Abi tengah asik memancing ikan ditepi sungai disamping rumah.
“Abi masuk, makanan sudah siap” teriak Milo dari ambang pintu.
Mendengar itu, Abi segera bergegas masuk kedalam rumah bersama beberapa ikan yang berhasil ia tangkap.
“Wih baunya harum banget nih.” ujar Abi yang sudah sangat kelaparan.
“Ni makan...Gue jamin rasanya gak kalah jauh sama resto bintang 10” ujar Milo.
“Siap mah." goda Abi seraya menaik turunkan kedua alisnya.
"Cih.....Mmm ngomong ngomong Paulo kan belum tahu tentang kepindahan kita. Bagaimana kalau dia datang mencari kita ditepi sungai?” Milo mengalihkan pembicaraan.
“Mmmm...tanganmu memang juaranya hehe.."Gumam Abi
"Aku juga sudah memikirkannya, mungkin sore ini aku akan pergi ke rumah Isyah dan mencarinya.” Sahut Abi sembari melahap makanannya.
Ditempat lain, Gavi tengah sibuk mencari bahan makanan di pasar. Ia terpaksa belanja seorang diri karena pagi tadi Abi sibuk memancing sedangkan Milo tengah memasak.
Gavi sebenarnya tidak tahu jenis jenis makanan yang di jual disini. Namun ia berusaha mencari bahan makanan yang pernah ia lihat dan tau namanya saja.
“Pa saya mau beli sayur sayur ini masing masing sekilo, ikan sekilo, dan buah buahan ini masing masing sekilo.” Gavi menunjuk beberapa sayur dan buah yang telah ia renunginsedari tadi, apakah butuh atau tidak.
“Baik tuan” sahut penjual.
Gavi mengamati sekeliling pasar yang terlihat sangat ramai karena masih pagi. Para penjual disana saling bersahutan menawarkan barang dagangan mereka, Ibu ibu saling bercengkrama disamping tukang sayur, pasangan pasangan muda berkeliaran mencari kebutuhannya, dan beberapa penjual sibuk membereskan toko nya yang baru buka. Benar benar situasi yang sangat damai.
TAK TAK TAK...
Tiba tiba terdengar suara banyak kaki kuda dari pintu masuk pasar.
“BERIKAN JALAN BAGI PANGERAN!” Teriak seseorang prajurit.
Gema perintah itu sontak membuat semua warga menepi dan duduk berlutut sembari tertunduk. Gavi yang tidak mengerti adat istiadat disana hanya ikut ikutan saja.
Dari gerbang masuk terlihat segerombolan prajurit dibarisan pertama dengan gagah berani berjalan melintasi pasar. Di barisan kedua nampak seorang yang tampan rupawan menaiki kuda hitam.
__ADS_1
Pakaiannya benar benar indah dengan perpaduan merah maroon serta emas, sebuah mahkota dengan 3 permata putih menghiasi kepalanya. Rambutnya yang berwarna hitam pekat, mata coklat tua, alis tebal, bibir merah muda, bentuk wajah yang tegas disertai badan yang tegap benar benar nampak sempurna berlenggok angkuh dengan kudanya.
Sedangkan di barisan ketiga nampak segerombolan pelayan berpakaian rapi dan sopan berjalan kaki dibelakang sang pangeran. Disisi lain para perempuan nampak tersenyum berbisik bisik seperti memuji ketampanan sang pangeran
“Permisi tuan, siapa yang menunggangi kuda itu?” tanya Gavi pada seorang warga.
“Apakah kau tidak tahu? Dia adalah anak dari Raja Candrayana II dan Selir Nimaran namanya Raden Ambarawa” Ujarnya.
“Dia adalah anak Raja yang ke dua” imbuhnya.
“Kenapa mereka tidak lewat jalan lain saja supaya tidak mengganggu aktivitas warga.” Gavi berangguk seraya berdecak kesal.
Saat Gavi mengangkat kepalanya dan berusaha melihat wajah sang pangeran dia sangat kaget dan langsung menurunkan pandangannya saat menyadari bahwa sang pangeran tengah menatap tajam kearahnya sedari awal.
“Berhenti! Siapa namamu? Laki laki berbaju hitam!” tanya Raden Ambarawa yang berhenti tepat dihadapan Gavi.
Perintahnya itu sontak membuat semua warga semakin menunduk takut.
“N-namaku Gavi, aku hanya pengembara tuan.” Ucap Gavi dengan ragu.
“Oh hanya seorang pengembara. Lanjutkan!” ujar Raden Ambarawa dan bergegas melanjutkan perjalanan
“Bersyukurlah kau tadi hanya menjawab seorang pengembara, jika kau menjawab warga desa ini mungkin kau akan diseret ke istana.” ujar salah satu warga sembari menepuk pundak Gavi.
“H-hahhh kenapa?”
“Apakah kau tidak menyadari ketampanan mu? Lihatlah seluruh pandangan perempuan di pasar ini tertuju padamu. Raden Ambarawa yang berambisi menjadi pria tertampan di tanah Nusantara, bisa saja kesal dan membunuhmu.” ujar warga
Gavi meneguk saliva nya, hampir saja kemalangan menimpa dirinya lagi.
Dipertengahan pasar, rombongan kembali terhenti, terlihat Raden Ambarawa mengacungkan tangannya dan menunjuk seorang gadis yang tengah berlutut.
“Angkat kepalamu!” perintahnya.
Dengan perlahan dan gugup gadis itu mengangkat kepalanya. Melihat wajah nya yang putih mulus dan cantik membuat pangeran tersenyum lebar.
Dia menepuk tangannya memberikan isyarat pada prajurit. Prajurit yang mengerti pun segera menarik gadis itu dan membawanya ikut bersama rombongan.
“T-tidak pangeran, aku tidak bisa ikut denganmu. Kumohon lepaskan aku, aku akan menikah besok hks hks hks” gadis itu menangis seraya meronta ronta dari cengkraman prajurit.
“Ratihh....tidak tuan kumohon jangan bawa dia, dia adalah calon istriku.” ucap seorang pria yang sedari tadi bersama gadis itu.
__ADS_1
Mereka tak mau melepaskan pegangan tangan, membuat emosi Raden Ambarawa tersulut. Dia turun dari kuda dengan langkah tegas menuju kearah sang pemuda.
“Plakk...bragg” sebuah tamparan dan tendangan dia lepaskan kepada sang pria. Sontak membuat pria itu tersungkur ketanah tak berdaya.
“Jika kau berani menyentuhnya lagi, ku pastikan kau tidak akan bisa menyentuh apapun lagi” ujar sang pangeran dengan tatapan tajam.
Diapun kembali menaiki kuda dan melanjutkan perjalanan tanpa menghiraukan sang gadis yang terus menangis dan sang pria yang nampak tersungkur tak berdaya.
“Benar benar keji, dengan kekuasaan dia memisahkan sepasang kekasih yang sedang berbahagia” gerutu Gavi.
“Dia memang seperti itu, selain haus ketampanan tetapi juga memiliki banyak selir dan pelayan. Sering kali jika dia melihat gadis cantik di desa pasti segera membawanya keistana” jelas seorang warga.
Setelah melihat punggung sang pangeran tidak terjangkau pandangan lagi, situasi di pasar kembali ramai dan damai, para warga melanjutkan aktifitas berjual beli nya.
“Tuan, ini semuanya 150 keping perak.” ujar pedagang.
“Oh iya, terimakasih tuan” sahut Gavi sembari memberikan koin dan mengambil barang barangnya lalu bergegas pulang.
Saat hendak menaiki kuda, Gavi melihat Paulo dari kejauhan tengah berjalan ditengah tengah pasar, Gavi pun segera menghampiri Paulo.
“Paulo...Apa kabar?” Gavi bergegas menghampiri Paulo.
“G-gavi, aku baik...b-baru saja kemarin sembuh hehe...” Paulo terperanjat kaget, ia ingin kabur namun Gavi sudah sampai lebih dahulu dihadapannya.
“Syukurlah, ayo ikut bersamaku kerumah baru kami." Ucap Gavi seraya menepuk pundak Paulo.
“Rumah baru?apa kalian sudah pindah?” Paulo mengeriyatkan dahi.
“Nanti ku jelaskan diperjalanan”
Merekapun menghampiri kuda Gavi yang terikat di tepi pasar “Kuda siapa ini?” tanya Paulo.
“Sudah naik saja dulu nanti ku ceritakan.” ujar Gavi
Mereka pun berjalan menyusuri hutan, Gavi mulai menceritakan semua kejadian yang menimpa mereka beberapa hari terakhir saat Paulo tidak ada. Paulo yang mendengarkan kisah yang dibicarakan oleh Gavi pun langsung tertegun.
“Kalian sangat beruntung bisa bertemu dengan laki laki itu, hidup kalian sekarang jadi jauh lebih baik” Jawab Paulo
“Aku hanya penasaran dengan laki laki itu, konglomerat dari desa mana ya” imbuhnya
......................
__ADS_1