
Hardijaya meminta izin kepada Rarapati untuk menginap di rumah 3 sahabat sebab ia memiliki sebuah urusan yang harus diselesaikan. Sementara itu Rarapati dan sebagian dayang dan prajurit nya kembali ke istana menyampaikan kabar kepada Ratu.
“Milo, aku menunggumu malam ini di tepi sungai.” bisik Hardijaya sembari beranjak dari tempat makan.
Abi yang melihat tindakan Hardijaya itu hanya bisa berdrsis kesal dengan tatapan tajam kearah mereka. Disisi lain Gavi hanya terkekeh melihat ekspresi cemburu Abi.
Tak bisa dipungkiri, sekarang Abi memiliki saingan baru.
Hardijaya bergegas menuju sungai disamping rumah, ia duduk berselonjor ditepian menatap langit malam yang gemerlap dengan bintang dan kunang kunang. Ditengah ketenangan ini, jauh di lubuk hatinya tengah memperdebatkan perasaannya terhadap Milo.
Sesuatu yang Hardijaya sangat kecewakan yaitu Milo yang bukan berasal dari dunia ini. Tentu saja Milo pasti akan dan ingin kembali ke dunianya suatu saat nanti, dan di saat itu tiba maka Hardijaya harus merelakan kepergiannya dengan suka rela.
“HUHHH.... Suasananya nya sangat sunyi dan tenang, kenapa aku malah berpikir yang tidak-tidak.” monolog Hardijaya sembari menutupi wajahnya dengan satu lengan.
Lelaki berjubah merah tua itu sesekali menatap kearah rumah menunggu kedatangan sang pujaan hati. Ia sebenarnya juga gundah apakah Milo bersedia datang atau tidak. Namun Hardijaya tetap yakin, ia akan terus menunggu walaupun harus duduk di cuaca dingin seperti ini hingga besok pagi.
Disamping itu Hardijaya hanyut dalam pikirannya sendiri sampai tidak terasa satu jam telah berlalu. Hardijaya masih tidak mendapati orang yang ia tunggu datang menghampiri.
“Kemana dia, kenapa masih belum datang juga.”
Hari mulai semakin larut, angin mulai berhembus semakin kencang, Hardijaya masih bersikukuh dengan pendiriannya menunggu Milo untuk datang.
Di seluruh sudut tanah Nusantara, mungkin hanya Milo yang berani membuat sang putra mahkota menunggu lama. dan hanya Milo juga yang berhasil membuat sang putra mahkota mau menunggu lama.
“Pangeran pakailah jubah ini! diluar sangat dingin ayo kita masuk.” Ucap Hima seraya menambahkan satu jubah di pundak lelaki tersebut.
Memang benar Hima adalah tabib khususnya, namun bisa dibilang hubungan Hardijaya dan Hima cukup dekat dan sering berbagi cerita hingga mereka menjalin pertemanan.
“Tidak Hima, aku masih mau menunggunya. Kau lihatlah kedalam, apa sebenarnya yang membuat dia tidak segera menemuiku!” Hardijaya sedikit pesimis.
Mendengar itu Hima segera masuk kedalam rumah dengan kesal. Ntah kenapa ia merasa sedikit marah saat melihat Hardijaya bersikukuh untuk menunggu Milo.
Gadis itu berusaha mencari keberadaan Milo namun hanya mendapati Gavi tengah memakan goreng pisang ditengah rumah.
“Permisi tuan, apakah tuan melihat nona Milo?”
__ADS_1
“Eh Hima, tidak aku tidak melihatnya semenjak meninggalkan ruang makan. Aku kira dia sedang menemui pangeran.” sahutnya.
...----------------...
Satu jam lalu
Milo tengah berada dikamar nya dan memikirkan kata kata yang harus dia keluarkan saat bertemu dengan Hardijaya. Memang benar adanya jika Milo ingin berusaha menolak Hardijaya dengan baik baik dan mengungkapkan isi hatinya yang sudah diisi oleh laki laki lain.
Namun Abi tiba tiba datang dan mengunci pintu dari dalam.
“A-apa apaan Lo bi ngagetin aja. Main masuk sembarangan ke kamar cewek, minimal ngetuk pintu dulu kek.” sentak Milo.
“Lo mau kemana sampe dandan segala?”
Abi terus melangkah mendekat hingga berada tepat didepan Milo. Dia menatap Milo dengan tatapan yang dalam, tentu saja milo sedikit gelisah dengan tindakan Abi.
“S-siapa yang dandan, gue Cuma lagi duduk doang depan kaca” Milo memutar bola matanya dengan canggung.
“Pas gue keracunan, Gue inget kalo lo denger gue ngungkapin perasaan. Dan gue diem sampe sekarang berharap Lo nyamperin gue dan ngasih tau jawabannya. Sekarang gue mau nuntut itu!"
"Minggir bi gue harus nyelesain urusan gue sama pangeran." Sambungnya.
Abi yang mendengar pernyataan Milo itu terlihat sangat marah. Dengan kasar lelaki jangkung itu menyudutkan tubuh Milo ke dinding
Kini wajah mereka saling berdekatan, mungkin hanya berjarak 2 cm. Tak ayal Abi menatapnya dengan tajam sembari berkata pelan namun penuh penekanan
"GUE CINTA SAMA LO! APA GAK ADA SEDIKIT AJA RSA CINTA DI DALAM HATI LO BUAT GUE!?"
"GUE UDAH NGELAKUIN BANYAK HAL BUAT LO, DAN GUE BERHARAP SUATU SAAT LO BAKAL MEMBALAS SEMUA YANG GUE LAKUKAN DENGAN CINTA."
Mata Milo membulat sempurna, ia tidak menyangka Abi akan sangat berkata jujur.
Sekarang Milo kembali bingung bagaimana menjawab pertanyaan Abi, bagimanpun Milo hanya menganggap nya sebagai sahabat karib semata.
“NGOMONG MIL! jangan bikin gue nambah kebungkaman lo!”
__ADS_1
ucap Abi sembari mengelus bibir ranum gadis dalam Kungkungan nya tersebut.
“JAWABBB!” sentaknya.
“GUE CINTA SAMA LO!! Tapi cuma sebagai sahabat, hati gue udah diisi sama laki laki lain, dan gue rasa lo tahu siapa dia!” mata gadis itu mulai berkaca kaca.
“Gak masalah Bi, gue ngerti perasaan lo. Setelah ini hubungan kita masih sama seperti sebelumnya.” Imbuhnya.
Abi hanya tertegun, rupanya dugaan ia tentang hubungan Gavi dan Milo memang benar. Ia merasa sangat kecewa dengan pernyataan Milo, hingga hanyut dalam pikirannya sendiri.
Di sisi lain Milo yang melihat Kungkungan Abi mulai melonggar, ia bergegas keluar dan menuju ke tepi sungai untuk menghampiri Hardijaya.
...----------------...
Milo merapikan pakaian dan berusaha menetralkan pikiran dari kejadian yang baru saja menimpanya.
“Maaf, aku telah membuat pangeran menunggu lama ditengah cuaca dingin seperti ini.” ujarnya memecah keheningan
“Tidak masalah duduklah." Hardijaya nampak sumringah menyambut kedatangan Milo.
“Aku tadi lama karena harus menyelesaikan beberapa masakan yang tertunda.” Milo berdalih.
“Hmm, suatu saat aku tidak akan membiarkan tangan lembut mu ini menyentuh benda-benda dapur lagi.” Lelaki jangkung itu betutur seraya melepas jubah dan menyeka nya pada bahu Milo.
“Kenapa pangeran malah memberikannya padaku, pakailah sendiri! Tidak lucu nantinya jika aku sampai harus dihukum karena membuat calon raja masuk angin."
“Haha, siapa yang berani menghukum kamu. Lagipula aku tidak akan membiarkan angin malam menyentuh tubuhmu dengan sesusakanya. Aku bisa cemburu.”
Milo menatap Hardijaya dengan dalam, hatinya kini tengah berkecamuk. Apa yang harus iia lakukan sebab hatinya masih menginginkan Gavi, sementara di lain hal ia tidak enak bila harus menolak orang yang telah memberinya banyak bantuan.
Lama kelamaan saling bertukar tatapan, Hardijaya mulai mendekatkan wajahnya, matanya sesekali meliar kearah bibir merah muda Milo yang nampak sangat menggoda. Tangannya juga mulai merangkul pinggang ramping gadis tersebut.
Disisi lain mereka tak menyadari bahwa dua pasang boleh mata tengah menatap mereka dari kejauhan dengan rasa cemburu dari tempat yang berbeda. Namun apa daya, dua orang tersebut hanya bisa melengos kearah masing masing dengan kesal.
......................
__ADS_1