
Ditempat lain Milo tengah berjalan mencari pakaian untuknya di salah satu brand internasional di mall tersebut. Karena lelah berjalan terlalu lama, Milo memutuskan untuk duduk sebentar sembari melihat lihat sekeliling toko. Pandangannya kini tertuju pada Gavi yang tengah mengobrol ria bersama seorang perempuan yang nampak tak asing baginya.
Milo tertegun dengan tatapan tajam sembari mengamati pergerakan mereka. Rasa cemburu mulai membara saat perempuan itu memegang tangan Gavi dan mereka tertawa lepas seolah bagaikan sepasang kekasih yang tengah berkencan di mall. Dengan amarah yang kentara, Milo berjalan dengan cepat menghampiri mereka.
“Kalian lagi ngapain?” ucap Milo datar.
“Eh mil, kebetulan, tadi gue ketemu sama Ariel pas lagi belanja. Lo inget dia kan?” tanya Gavi dengan senyum lebarnya yang khas.
“Hallo mil, apa kabar.” Sapa Ariel.
"Ingetlah! Lo cewek yang putus nyambung pas SMA sama Gavi kan?” Ketus Milo.
“Hehe iya mil, itukan masalalu.” Sahut Gavi.
“Dulu gue lagi polos polosnya.” Ariel tersipu.
“Oh jadi sekarang Lo udah gak polos lagi? Udah berwarna ya sekarang, polkadot atau monokrom nih?” sinis Milo.
“Mil apaan sih Lo!”
Mendengar jawaban Gavi yang terus membela Ariel tersebut, Milo benar-benar marah. Dia bergegas meninggalkan Gavi dan Ariel dengan wajah masam begitu saja.
“Kenapa lagi dengannya, dasar perempuan!” ketus Gavi.
“Mungkin suasana hatinya sedang buruk, biarkan saja.” Sahut Ariel.
Disisi lain, Milo malah menghampiri sebuah kedai es krim yang dia lewati di lorong mall. Dengan kesal dia segera memesan es krim strawberry dan duduk di kursi paling pojok. Abi yang tak sengaja lewat situ melihat Milo tengah memakan es krim nya dengan muka yang sangat masam, Abi paham jika Milo memakan es krim rasa strawberry berarti suasana hatinya sedang benar-benar buruk.
“Wihh makan sendiri aja nih gak ngajak-ngajak.”
“Diem bi, gue lagi kesel gak mau di ganggu. Mending Lo pergi aja sana lanjutin belanja!”
“Dih Tante Milo kenapa gitu, muka nya jadi makin kiyowo kalau lagi ngambek tauu.” goda Abi sembari mencubit hidung Milo.
“Ihh Abi! Gue bilang diem yaa!”
“Iya iya tuan putri.” Sahut Abi sembari mengoleskan eskrim di hidung Milo.
“Abiii, awas Lo yaa!!” Milo membalas perbuatan Abi.
Begitulah mereka saling membalas mengoleskan es krim hingga tertawa bersama dan saling mengejar kesana kemari dan menjadi tontonan publik.
“Nah gitu dong senyum. Kan baru keliatan cantiknya.”
“Dihhh, tapi muka gue jadi kaya adonan bolu!”
__ADS_1
“Tapi masih cantik, lah gue?”
“Kaya bokong wajan.” Sahut Milo diiringi gelak tawanya yang lepas.
“Lo udah belum belanjanya, kalo udah ayo balik.” Tanya Abi.
“Udah, Lo beli apa ko dikit banget?”
“Rahasia mil, perempuan gak boleh tauu.”
“Dih narsis.”
Mereka pun berjalan bersama menuju mobil.
Samar-samar dari kejauhan mereka melihat bayangan di dalam mobil Abi dari luar. Mereka melihat sebuah pemandangan yang sangat mengejutkan, terlihat Gavi dan Ariel sedang berciuman dengan panas didalam mobil, sontak Abi yang menyadarinya segera menutupi pemandangan tersebut dan membalikkan badan Milo. Namun terlamba, Milo sudah melihat pemandangan itu.
“Emmm...Mill kayaknya gue ada sesuatu yang belum di beli, temenin gue nyari lagi yu!”
Milo hanya diam tertunduk tak menggubris ajakan Abi tersebut, hatinya terasa benar-benar sangat hancur. Perjalanan bersama selama 6 bulan itu masih tidak membuat Gavi menyadari perasaan Milo terhadapnya selama ini.
Remuk, namun apa daya. Masalalu selalu menjadi pemenangnya. Milo melangkahkan kakinya dengan berat tanpa arah, Abi yang menyadarinya hanya mengikuti gadis tersebut dari belakang.
“Mil, ayo kita pulang aja!” lagi-lagi Milo tak menjawab ajakan Abi tersebut, dia terus berjalan kaki keluar dari mall.
“Bajingan lo Vi. Pulang duluan aja sana sama cewek baru Lo itu, gue udah duluan sama Milo!”
Tanpa mendengar jawaban Gavi, Abi langsung mematikan telpon dan kembali mengikuti Milo.
Hujan mulai mengguyur deras, Milo masih tetap berjalan tanpa arah tujuan. Buru-buru Abi melepas jaketnya dan menggunakannya untuk menutupi kepala Milo dari derasnya air hujan. Kini mereka duduk di halte busway tanpa sepatah katapun, hanya menatap kosong pada deruan air hujan yang turun.
“Gimana udah baikan belum perasaan Lo?" Tanya Abi memecah keheningan.
“Emang kenapa? Gue gakpapa.”
“Gak usah boong. Gue udah kenal Lo lama!”
“Terus? Kenal lama gak menjamin perasaan tetap sama.”
“Iya gue paham, Kalo sama gue Lo gausah pura pura kuat gini. Lepas aja topeng Lo yang gak berguna itu.”
Mendengar ucapan Abi, Milo nampak tertunduk, suaranya mulai terdengar bergetar dengan Isak tangis yang sedari tadi tertahan.
“Gue kira setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun bersama, dia bakal ada sedikit aja rasa cinta dan menganggap gue lebih dari sahabat. Tapi apa? Dia masih gak bisa lupain masalalu nya!” Tangis Milo mulai pecah.
“Iya mil, gue paham perasaan Lo.” ujar Abi sembari mendekapnya erat
__ADS_1
“Lo gak bakal paham perasaan gue!”
“Gue paham ko.” Ucap Abi sembari tersenyum hangat dan menatapnya dengan lekat dan Milo juga membalas tatapan Abi, sepertinya dia menyadari sesuatu.
Mengucapkan kalimat tersebut membuat Abi hanya tertunduk dan tersenyum kecil. Hati kecilnya mungkin sangat tersayat saat mendengar orang yang dia cintai mencintai orang lain dan menganggap dirinya tidak pernah mencintainya. Namun rasa sakit itu berusaha dia kesampingkan dahulu.
“Ah sudahlah. Dunia ini terlalu kacau, ayo bersenang-senang dan nikmati hidup yang singkat ini!” imbuh Abi sembari berlari menuju derasnya air hujan dan menari nari disana
“Ayo mil!”
Melihat itu Milo nampak tersenyum dan menghapus air matanya, dia berlari menghampiri Abi dan ikut berdansa bersamanya ditengah derasnya hujan
Satu jam kemudian
Kini Abi dan Milo yang basah kuyup telah sampai didepan rumah Milo dengan pulang mengendarai taksi online, mereka melihat mobil Abi terparkir di halaman depan.
“Pak sudah sejak kapan Gavi sampai di rumah?” Tanya Milo pada pak satpam.
“Baru saja sampai non, mungkin sekitar 5 menit lalu.”
Milo dan Abi bergegas masuk kedalam rumah, mereka melihat Gavi tengah asik mengupas jeruk sembari tersenyum lebar menatap ponselnya.
“Eh mil, bi. Kalian ko baru pulang? Lahh, ko basah kuyup?” tanya Gavi dengan kaget. Milo hanya menatap Gavi sekilas dan bergegas naik keatas dengan tatapan kesal.
“Dia kenapa si?” Tanya Gavi.
“Bodoh lu!” Sahut Abi sembari ikut keatas dan menuju kamarnya.
Gavi yang nampak keheranan terus mengikuti Abi “Oiya bi, tadi gue di mall ketemu Ariel. Dia ternyata masih jomblo dan masih ada rasa sama gue, kayanya besok kita mau ngegdate lagi terus gue mau nem....”
“Diem! Gak punya perasaan emang Lo ya!” sentak Abi.
“Apasih masalah Lo berdua?! Dari pagi marah marah terus, gue gak ngerti sebenarnya apa yang udah terjadi!!”
“Milo suka sama lo udah sejak SMP. Dan Lo? Apa balasan Lo? Ciuman sama cewek lain langsung dihadapan Milo?” sentak Abi yang langsung masuk ke kamar mandi.
Mendengar jawaban Abi tersebut Gavi nampak tertegun tak percaya, perlahan dia berjalan mundur hingga menuju tembok. Dia mengarahkan tubuhnya menuju pintu dan bergegas berlari menghampiri kamar Milo yang terkunci rapat.
“Mil... Buka pintunya dulu mil, gue mau bicara sama Lo...tok tok tok” Gavi terus menggedor gedor pintu kamar Milo namun tak ada jawaban.
“Jendela, iya gue bisa lewat jendela balkon!”
Gavi langsung berlari menuju balkon kamarnya yang bersebelahan langsung dengan balkon kamar Milo, dia berusaha merayap di dinding dan masuk kedalam kamar Milo melalui pintu balkon.
......................
__ADS_1