
Sementara itu, kegaduhan di dalam istana belum selesai. Karena kematian putra mahkota adalah hal yang besar dan akan sangat berpengaruh pada pilar kerajaan. Para dewan menteri sampai mengadakan sidang darurat dengan raja malam itu juga.
Saat ini di ruang aula istana, Raja duduk di singgasana nya dengan gagah. Sekalipun dalam masa berkabung ia harus tetap menjadi tauladan dan membimbing jalannya sidang dengan Hidmat. Sementara para menteri mulai mengeluarkan pendapat mereka tentang keputusan terbaik yang bisa diambil.
“Yang mulia, saat ini tahta putra mahkota sedang kosong. Mohon yang mulai untuk mempertimbangkan salah satu putra putri yang mulia untuk mengisi posisi putra mahkota.” Ucap Raghyang-Penasehat umum Raja.
“Hamba rasa raden Ambarawa yang paling pantas untuk posisi itu sekarang. Dia adalah putra tertua yang mulia, serta dia memiliki nilai dan kemampuan yang mumpuni untuk menjadi seorang putra mahkota.” Sahut Narama-kepala mentri Keuangan.
Narama merupakan kakak kandung dari selir Nimaran. Ia adalah pelopor sekaligus penyatu antara adiknya dengan sang raja. Tidak hanya itu, beberapa tahun lalu saat nyimas Rarapati menghilang, Narama adalah orang pertama yang mengusungkan Ambarawa menjadi putra mahkota. Begitu juga malam ini, ia masih melakukan hal yang sama.
“Setelah apa yang dia lakukan sebelumnya kenapa kau masih berani mengajukannya sebagai kandidat? Yah aku tahu dia memang keponakan mu yang tersayang.” sahut kepala Menteri Pertahanan.
Narama mendengus kasar dan memutar bola matanya dengan kesal seraya berdesis.
Memang selalu ada saja pertikaian internal kerajaan. Salah satunya hubungan antara Narama dan Dwicakra-Kepala menteri pertahanan, Ia merupakan Adik dari ratu Durwiasih. Terkenal jenius sejak dini hingga diangkat menjadi menteri pada saat usianya masih muda.
Hubungan kedua menteri ini tidak pernah akur, mereka hanya bisa bekerjasama dalam kebutuhan negara saja. Selebihnya hanya mengukir dendam dan pertikaian pribadi.
“Hamba setuju dengan apa yang dikatakan kepala Mentri Pertahanan yang mulia, Apa yang akan dikatakan Rakyat bila mengetahui Raden Ambarawa yang tengah diasingkan diminta pulang untuk menjadi putra mahkota?!" Timpal Darma-Jendral besar kerajaan.
"Hmm...Hamba mengusulkan putri tertua yang mulia, Nyimas Rarapati untuk menjadi putri mahkota. Nyimas adalah putri yang paling dewasa, bijak, gigih, cerdas serta memiliki tekad yang kuat. Ditambah lagi posisi ini memang sebelumnya dipegang oleh Nyimas dan Nyimas telah mengenyam pendidikan putri mahkota sejak kecil.” Usung Raghyang.
Saran dari Raghyang itu di terima dengan senyuman hangat oleh para menteri terkecuali Narama yang nampak kesal dengan usulan tersebut.
Jelas ia lebih setuju jika keponakan nya yang menjadi putra mahkota. Tentu saja ia memiliki banyak alasan, selain bisa mengharumkan nama keluarga, ia dan nimaran bisa berkesempatan mendapatkan lebih banyak kekuatan dan kekuasaan di dalam istana.
“Tapi Nyimas Rarapati adalah seorang perempuan. Bagaimana dia bisa menjadi seorang pemimpin yang tangguh?” Celetuk Narama.
“Pemimpin itu tidak memandang jenis kelamin, siapa yang memiliki dedikasi, kemampuan menggerakan hati serta bijak maka dia pantas menjadi seorang pemimpin. Hentikan pemikiran kuno mu itu!” sahut Cokro-kepala Mentri pendidikan.
__ADS_1
Memang pada kenyataannya banyak menteri yang tidak memihak pada pendapat Narama. Selain dirinya yang memang tidak disukai banyak dewan menteri, tetapi memang sudah sepantasnya Nyimas Rarapati lah yang menjadi putri mahkota.
“TENANG! Aku sudah mendengar saran dari kalian, dan aku akan membicarakan hal ini dengan keluarga kerajaan terlebih dahulu. Untuk sementara ini, selama kita masih dalam awal awal masa berkabung, aku akan mengosongkan posisi putra mahkota terlebih dahulu."
Seluruh menteri dan dewan kerajaan saling berbisik. Mereka cukup tercengang dengan keputusan yang dibuat Raja.
"Kenapa di kosongkan yang mulia? Bagaimana dengan tugas tugas putra mahkota? Lalu bagaimana jika terjadi sesuatu pada yang mulia?"
Semua orang saling bertatapan, mengangguki pertanyaan tersebut yang memang benar adanya.
"Untuk itu, aku punya rencana ku sendiri."
"Besok pagi kita akan mengadakan sidang penyelidikan kematian putraku!” Sambung raja sembari meninggalkan ruangan
Semua orang bersimpuh memberi hormat, mengantar kepergian sang raja. "Baik yang mulia."
Mereka tidak bisa menolak atau berbuat apa apa lagi selain menerimanya, karena keputusan raja adalah keputusan terakhir dan yang paling agung.
"Sudahlah jangan menangis lagi."
"Apakah yang mulia sudah melakukan apa yang aku minta?"
"Tentu saja, semuanya lambat laun akan terbongkar."
...----------------...
Malam berganti pagi, seperti biasa waktu berjalan cepat bagaikan angin sekelibat.
Pada pagi hari ini, semua keluarga kerajaan dan para menteri mengikuti sidang kasus kematian pangeran Hardijaya. Termasuk 3 sahabat yang sudah duduk tersungkur dengan keadaan menyedihkan ditengah aula.
__ADS_1
Pagi pagi mereka disiram dengan air dingin agar bangun kemudian diseret dengan kasar menuju aula istana. Keadaan mereka memang semakin memprihatinkan, pakaian compang camping, rambut kusut berdebu, kulit pucat kekurangan minum dan tubuh yang dipenuhi luka goresan.
Semua orang di aula menatap ketiga sahabat tersebut dengan jijik dan menghina, terkecuali Ratu dan Rarapati. Mereka merasa bersalah hingga untuk menatap ketiga sahabat pun mereka tidak berani.
“Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi kala itu!” ucap raja memecah keheningan.
Dengan mulut bergetar, Abi berusaha menyusun kalimat yang tepat. Bagaimana pun nyawa nya dan nyawa kawan kawannya sedang dipertaruhkan.
“S-saat itu, kami hanya sedang berlomba mencari rusa. Lalu kami berpisah. Kemudian tanpa sengaja aku melihat pangeran sendang berkelahi dengan seseorang dipinggir tebing. Aku bergegas menghampiri pangeran untuk menolongnya karena orang yang mengenakan jubah hitam itu membawa belati sebagai senjatanya. Sempat terjadi perlawanan sengit antara kami berdua melawan orang tersebut, aku juga menderita banyak sayatan karenanya, lalu-”
“Dasar pembohong, Yang mulia apa yang diceritakan pemuda ini berbeda dengan cerita Rarapati! MANUSIA KOTOR! Berikan pedang itu padaku, sudah cukup aku mendengarkan penjelasanmu. Biarkan aku membalaskan dendam putraku.” Seloroh Selir Nimaran
Mendengar itu hanya membuat Abi semakin tertunduk menyesal sementara Gavi dan Milo merasa sangat kesal dan marah mendengar ucapan perempuan tersebut.
“Siapa sebenarnya perempuan dengan riasan menor itu, ucapannya sangat menjengkelkan.” bisik Milo.
“Dilihat dari mahkotanya, dia menggunakan 2 permata merah. Mungkin saja dia adalah selir raja.” Sahut Gavi.
“Sabar kakak. tunggu dia belum menyelesaikan pembelaannya. Kenapa kau jadi gegabah seperti ini!” Selir Kirana berusaha menenangkan Nimaran.
“Ibu selir, kenapa menjadi sangat terburu buru menghukum tersangka. Lagipula ibu selir biasanya tidak suka dengan adikku semasa ia hidup.” sahut Rarapati dengan senyum kecut.
Mendengar pernyataan Rarapati, Nimaran mulai menampilkan raut wajah sedih dan berkaca-kaca dengan suara yang memelas.
“Apa yang kau maksud putriku? Meskipun kalian bukan anak kandung ku tapi kalian sudah aku anggap sebagai anak sendiri, kenapa kau malah berkata seperti itu tentangku.” ujarnya
“CUKUP!!! Hey pemuda, lanjutkan ceritamu!” ujar raja mengheningkan suasana.
Raja meninggikan suaranya membuat semua orang tertunduk diam. Pertikaian dalam keluarga kerajaan bukanlah hal yang raja inginkan, namun yang namanya 'kekuasaan' siapa yang tidak menginginkannya?
__ADS_1
Sebab itu Raja harus bisa bersikap tegas bahkan kepada keluarganya sendiri yang merupakan dasar pilar kerajaan.
......................