
"Tentu, beliau adalah ratu saat ini. Namanya adalah Ratu Durwiasih. Beliau adalah ratu yang bijak. beliau juga dikaruniai dua orang anak. Anak pertamanya bernama Nyimas Rarapati, dan anak keduanya adalah Raden Hardijaya putra mahkota saat ini menggantikan kakaknya yang dikabarkan hilang dihutan semenjak 3 tahun lalu. Kabarnya nyimas Rarapati telah meninggal di mangsa suku Tamboyan. Namun kabar itu tidak tahu benar atau hanya gosip semata." ujar Paulo.
“Begitu ya....aku berpendapat mungkin pria misterius dalam mimpi Gavi itu meminta kita untuk bertemu dengan Ratu Durwiasih. ntahlah tapi insting ku berkata demikian.” ucap Abi
“Mungkin saja. Tapi sepertinya rakya biasa seperti kita akan sangat sulit untuk bertemu keluarga Kerajaan secara langsung.” Paulo bertutur seraya mengusap dahi, berusaha memikirkan cara lain.
“Bagaimana jika kita memulai pencarian Nyimas Rarapati? bukankah ini adalah salah satu cara agar bisa bertemu Ratu jika kita berhasil” Akhirnya Milo mengungkapkan ide yang cukup masuk akal.
Abi dan Paulo tersenyum seraya berangguk. menandakan setuju dengan saran dari Milo.
“Aku setuju, kita harus mulai pencarian darimana?” tanya Gavi
“Ntahlah, aku akan pulang dulu kerumah dan mencari petunjuk yang berhubungan dengan Nyimas Rarapati. Ayahku pasti menyimpan beberapa informasi penting tentang kejadian itu.” ucap Paulo sembari berpamitan.
Setelah Paulo pergi, suasana diantara mereka bertiga kembali hening. Hanya terdengar suara terpaan angin pada daun dan ranting pohon, suara aliran air sungai, dan kicauan burung yang terdengar merdu.
Selama beberapa menit suasana tetap sunyi.
“Setelah gue inget inget, dibuku sejarah tercatat kalau pemimpin selanjutnya kan putri dari Raja Candrayana. Sedangkan yang di klaim masih hidup dan menjadi pewaris tahta saat ini hanyalah putra sang raja. Gue curiga mungkinkah sebenarnya Nyimas Rarapati masih hidup?” Ucap abi.
“Hmmm semua ini terlalu rumit buat otak gue.” keluh Milo.
“Coba Lo inget inget deh dibuku sejarah, gimna tuh silsilah kekuasaan kerajaan Hylva” ucap Gavi.
“Di buku sejarah juga ga mungkin selengkap itu Vi, gue juga baca ga sampe akhir. Cuma sekilas doang.” Ketus Abi.
“Yah... berarti kita sekarang Cuma bisa berharap sama Paulo buat nemuin informasi informasi penting.”
Ucapan Gavi hanya membuat Abi dan Milo mendengus dengan kasar dan menghela nafas panjang. Benar benar situasi yang rumit.
Hanya Paulo lah yang setiap hari rela berjalan jauh keujung desa untuk datang kerumahnya meski hanya sekedar mampir untuk mengobrol. Kini, mereka menjadi teman dekat dan memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman.
Paulo membuka satu persatu lemari kayu yang berjejer disetiap sudut kamar ayahnya. Dengan perlahan tapi pasti, Paulo membuka setiap buku didalamnya, berharap menemukan secercah informasi mengenai Nyimas Rarapati.
“Aduhh buku buku apa ini, dimanakah yang ku cari” Gerutu Paulo.
Brakk....
Setumpuk buku jatuh dari rak paling atas. Paulo yang kaget segera menghampiri dan meraih buku buku tersebut. Dengan tatapan cemas, Paulo melihat ke luar pintu untuk memantau keberadaan sang ayah.
Dirasa aman, Paulo menutup pintu dan kembali membaca buku buku yang jatuh tadi.
__ADS_1
Semua buku-buku tebal itu terlihat sama saja. Namun, salah satu buku dengan sampul yang terbuat dari kulit sapi membuat Paulo sedikit heran. Buku itu nampak berbeda dengan buku lainnya.
Di sampulnya tertulis “Riwayat laporan merah.“
setahunya, buku dengan judul seperti itu hanya diperuntukkan bagi buku buku yang memuat data rahasia.
“Nahh ini kan buku yang ku cari” ucap Paulo.
Paulo segera keluar dari kamar sang ayah hendak bergegas lari menuju tempat teman temannya berada, namun melihat langit yang sudah menggelap Paulo memutuskan untuk mengantarkan buku itu besok pagi.
Ditempat lain, eorang wanita berparas cantik dan bertubuh indah mengenakan pakaian yang hanya menutupi dada dan seperempat pahanya, menunjukkan betapa putih dan mulusnya kulit sang wanita.
Berlenggak dengan tatapan menggoda, bibir yang merah merona, hiasan liontin memenuhi kepala dan lehernya, selendangnya ia ikat kuat di pinggang rampingnya. Menghampiri sang tuan dengan seteko anggur di tangannya.
“Tuanku...biarkan aku melayanimu malam ini” ucap Astra
Astra mulai mendekati ketua suku yang tengah berbaring diatas kursi dengan tangan menyanggah kepala sembari menatap Astra dari ujung rambut hingga ujung kaki dan tersenyum nakal.
“Kemarilah, buat aku terhibur” ucap Huda.
Tanpa pikir panjang Astra segera mendekat, dia duduk diatas pangkuan ketua. Membelai wajahnya lembut dan menggigit telinganya.
tidak ada yang mengetahui hubungan antara Huda dan Astra. Karena aturan leluhur suku yang tidak membolehkan Tuan dan budak saling jatuh cinta, keduanya terpaksa menyembunyikan hubungan gelap mereka.
Selama ini yang mengetahui hubungan Hudan dan Astra hanyalah dua orang. salah satunya adalah Paulo.
Bukan sekali dua kali Paulo memergoki ayah dan bawahannya itu sedang bercumbu di rumah. Hal ini juga yang menyebabkan sikap Paulo kepada ayahnya sendiri sangat kaku dan dingin.
Begitu juga hari ini, Paulo yang hendak masuk kembali kedalam rumah saat melewati kamar ayahnya Mende suara yang aneh.
Seperti suara perempuan yang sedang di...
Paulo penasaran, memastikan pendengarannya ia mendekatkan telinga ke pintu. Dan benar sekali dugaannya.
Paulo tertegun, menatap tajam sebilah pintu yang berdiri di depannya. Semakin keras suara di dalam semakin membuat Paulo menjadi emosi. Dengan tangan mengepal dan mata yang memerah, ia hendak membuka pintu.
"Perempuan setan. Untung ibu ku tidak ada, jika dia tahu hubungan kalian aku tidak sanggup membayangkan rasa sakitnya." Gumam Paulo dengan tangan yang masih mengambang di udara.
Tak mau berlarut larut mendengarkan percintaan sang ayah dengan pelayanannya, Paulo berjalan dengan kesal menuju kamar.
"Arghhhh." Paulo mendobrak pintu kamarnya dan mengacak-ngacak meja.
__ADS_1
Amarah di relung dada nya tak bisa tertahan lagi. Apalagi rumah mereka bukanlah rumah yang kedap suara sebagimana rumah modern. Sepanjang malam Paulo hanya bisa menutupi telinga dengan bantal seraya melampiaskan emosi yang tertahan melalui deraian air mata.
Kerinduannya terhadap sosok Zisa-ibu kandung Paulo sangatlah besar. Namun kebahagiaan Zisa lebih penting. Biarlah ibu nya tidak pernah kembali, asalkan ia bahagia di luar sana.
~
“Terima kasih, kau telah melayaniku semalaman” ucap sang ketua saat melihat Astra terbangun.
Dia menatap Astra dengan tatapan berbeda saat melihat tubuhnya hanya ditutupi sehelai kain saja, mereka mengawali pagi dengan dekapan hangat yang dipanaskan oleh ciuman
“Maaf aku masih kurang memuaskan seperti zisa.” ucap Astra.
“Apa yang kau katakan pagi pagi begini?” Huda mengeriyatkan dahi, tatapannya seolah tidak suka membahas hal tersebut.
“Aku kemarin membersihkan kamarmu dan mendapati sebuah pakaian tidur yang dulu sering digunakan oleh zisa. Kau masih menyimpannya sampai sekarang, apakah kau belum bisa merelakannya?” tanya Astra.
“Kejadian itu sudah sangat lama. Jangan membahasnya lagi! Tidak puaskah kamu dengan apa yang aku lakukan semalam.” tegas Huda.
“Semua ini terjadi karena kutukan warga dan putri sialann itu!” imbuhnya.
“Benar. Seperti tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan saja selain memberikan kutukan” sahut Astra.
“Sudahlah, tidak penting membahas masa lalu” Huda berdiri seraya kembali mengenakan pakaiannya.
......................
“Gavi, Milo abii...AKU MENEMUKAN BUKU INII.” teriak Paulo dari kejauhan sembari berlari
Gavi, Milo dan Abi yang sedang menyantap sarapan mereka cukup terkejut dengan tingkah Paulo.
“Tenanglah Paulo, ada apa?” Gavi mendelik, menelisik sebuah buku yang dipegang Paulo.
Paulo kini duduk diantara mereka bertiga dan meminum segelas air dalam sekali teguk.
“Glekk...glekk... glek."
“Pelan pelan hei nanti tersedak.” ucap Milo.
“Coba kalian lihat buku ini, aku menemukannya kemarin di kamar ayahku. Aku harap ada sedikit informasi yang bisa kita gunakan dari dalam buku ini.” balas Paulo yang masih terengah engah.
......................
__ADS_1