
Keesokan harinya ketiga sahabat dan Tantri bersiap siap untuk pergi menuju rumah Paulo. Sore itu adalah hari pernikahan ketua suku dengan Astra yang sudah dibicarakan oleh Paulo sebelumnya.
“Berhubung kuda hanya ada 3, Tantri ikut denganku saja.” ucap Milo.
Mendengar ajakan itu Tantri hanya mengangguk dan bergegas menaiki kuda yang ditunggangi Milo. Sebenarnya ketiga sahabat bukanlah orang yang ahli dalam menunggang kuda, namun untungnya pada masa SMA mereka pernah mengikuti study tour ke daerah Padang. Disana mereka belajar hal hal dasar menunggangi kuda sembari berkeliling di area kebun sawit. Pengalaman sederhana seperti itu ternyata sangat berguna bagi mereka sekarang.
ketiga sahabat terus memacu kudanya menyusuri jalan ditengah hutan menuju ke wilayah pedalaman suku Asmat. Tidak terlalu jauh sebenarnya jika menunggangi kuda mungkin hanya dalam waktu 15 menit saja mereka sudah sampai.
“Wahh sepertinya seluruh desa benar benar mengadakan pesta pernikahan ketua suku dengan meriah. Lihatlah lampion, hiasan dan bunga bunga itu dipasang disepanjang jalan.” ujar Gavi.
“Lihat lihat! Bahkan ada yang menjual sembako gratis. Sepertinya ini bukan hanya pernikahan, tapi pesta rakyat.” sahut Abi.
Mereka menatap pemandangan rumah rumah di sepanjang jalan menuju rumah ketua suku, nampak rumah rumah tersebut dihiasi dengan berbagai hiasan selendang berwarna merah, bunga bunga cantik berwarna merah dan putih, serta lampion lampion yang tengah dipasang para warga.
“Gavi, Milo Abi! Aku sudah menunggu kalian sedari tadi, ayo masuklah!” ujar Paulo yang terlihat mondar mandir di depan pintu rumah.
“Kenapa kau harus menunggu kami disini, ayo ayo masuk, kami jadi tidak enak membuat tuan rumah menunggu." ucap Gavi.
“Ahh tenang saja, kalian kan tamu terhormat kami hari ini, para tuan Adipati Lingkar Langit yang terhormat hahaha.” gurau Paulo.
“Haha bisa aja kamu.” sahut Milo.
“Ahh ayo ayo masuk, bicara didalam saja.” ajak Paulo.
Mereka pun masuk dan melihat suasana yang sudah nampak ramai karena acara akan segera dimulai. Para tetua dan ketua suku yang melihat kedatangan tiga Adipati langsung menghampiri dan menyambut mereka.
Disisi lain melihat ayah dan teman temannya sibuk mengobrol, Paulo pergi ke kamar untuk menemui Astra yang nampak masih sibuk berdandan.
“Astra, buka pintunya ini aku!” Ucap Paulo.
“Masuklah Paulo, pintu tidak di kunci." sahut Astra.
Paulo masuk dengan tatapan tajam dan mengunci pintu dari dalam.
“Ada apa? Apa semuanya sudah kumpul?”
__ADS_1
“Apakah kau mencintai ayahku?”
“K-kenapa kau tiba tiba bertanya seperti itu? Tentu saja, untuk apa aku menikahi orang yang tidak kucintai?!”
“Aku hanya ragu denganmu, takut nya kau malah mempermainkan ayahku. Aku tau perempuan licik sepertimu yang mendekati suami dari sahabatnya sendiri tidak akan pernah merasa puas dengan kebaikan apapun yang diberikan orang lain.”
“Brakk...Apa masalahmu, jangan membuat suasana hatiku menjadi buruk dihari bahagia!” Lantang Astra menggebrak meja.
“Ingat! sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu, jangankan ibu sambung, keluarga pun tidak akan pernah!” ucap Paulo dengan tatapan tajam.
Paulo berlalu meninggalkan Astra yang nampak naik pitam namun berusaha menahan amarahnya dihari yang berbahagia itu.
Disisi lain tetua suku meminta seluruh hadirin untuk diam dan duduk dikusi yang telah disediakan karena acara pertama akan segera dimulai.
“Mohon para tamu undangan untuk duduk. Sebelum memulai acara, mati kita sambut terlebih dahulu pengantin perempuan kita hari ini.” ujar tetua.
Tak lama Astra keluar dengan wajah tertutup tudung merah, pakaian pernikahan adat suku Asmat kala itu sangat sederhana, hanya kain yang bercorak batik naga emas yang menutupi dada sampai lutut kedua mempelai. Sementara bagi mempelai perempuan sendiri aksen di rambut lah yang paling menonjol yaitu untaian bunga melati yang terpasang rapi dengan konde besar dibalik selendang merah yang menutupi wajah cantiknya.
Astra duduk disamping ketua suku dengan anggun. Nampak Huda sedikit terkekeh saat melihat perempuan yang biasanya berperilaku kasar seperti prajurit itu harus menjadi lembut karena tuntutan adat istiadat.
“Baik mari kita mulai aca-” ucapan tetua terpotong.
“Berhenti, Pernikahan ini tidak bisa dilangsungkan!” ujar Fathur.
“Fathur, apa yang kau lakukan disini?” tanya Abi.
“Maaf Adipati, urusanku kali ini bukan dengan kalian” sahutnya.
Semua orang nampak saling bertatapan heran, siapa laki laki yang berani menghentikan acara pernikahan ketua suku kala itu.
“Tuan, kau sudah mengganggu pesta sekelompok singa di dalam kandangnya? Apa kau berniat menjadi santapan kami?” ujar sinis ketua suku.
“Kita lihat siapa yang akan menjadi santapannya.” ujar Fathur sembari membuka pintu rumah.
Dari luar nampak berjalan seorang wanita yang anggun rupawan, parasnya bak bidadari yang harum tubuhnya saja membius semua orang didalam ruangan.
__ADS_1
“Bukankah itu Hania? Kepala rumah hiburan di ibu kota kan?” bisik Milo.
“Iya, apa yang dia lakukan disini, apa untuk menjemput Tantri?” sahut Abi.
“Semuanya baru saja dimulai." ucap Tantri.
“Apa yang kau maksud Tantri?” bisik Gavi.
“Lihat saja nanti tuan.” Tantri tersenyum licik.
Semua orang nampak kaget dengan kemunculan perempuan tersebut. Seakan melihat mayat yang hidup kembali, mata para tamu di ruangan nampak tak berkedip sama sekali.
“Ibuu?” Paulo menatap Hania dengan berkaca kaca.
“Paulo, kau kah itu nak?” ucap Hania.
Mereka pun berlari dan saling berpelukan hingga jatuh berlutut dan tenggelam dalam Isak tangis kerinduan. Seluruh warga desa nampak saling bertatapan heran dan saling bergunjing.
“I-ibu? Apa maksudnya Hania adalah ibunya Paulo yang hilang 15 tahun lalu?” bisik Milo dengan kaget.
“Ntahlah aku tidak yakin.” sahut Gavi yang juga nampak kebingungan.
Lain hal dengan Astra yang malah menatap tajam kearah Huda karena sepertinya Huda terus menatap Hania dengan dalam, bahkan matanya nampak berkaca kaca. Kecemburuan di mata Astra juga kian terasa membara saat Huda melepaskan pegangan tangannya dan menghampiri Hania serta Paulo yang masih terisak dalam pelukannya.
“Zisa, benarkah itu kamu?”
Melihatnya, Hania beranjak dari pelukan Paulo dan berdiri dengan tatapan tajam kearah Huda.
“Plakk....Bajingan! Laki laki murahan, tidak punya hati, manusia biadab. Cuihh” maki Hania sembari menampar ketua suku.
“Setelah 15 tahun lalu kau berusaha membunuhku dengan memukul kepalaku dengan batu dan menghanyutkan aku ke sungai, masih berani kau menyebut namaku dengan mulut kotormu itu!?” Imbuhnya.
Mendengar pernyataan Hania tersebut semua orang di sana nampak keheranan dan tidak menyangka hal yang sebenarnya terjadi ternyata begitu keji.
“Jika bukan karena Tuan Fathur, mungkin sekarang aku benar benar sudah berada di sisi Tuhan seperti yang kau sebarkan pada semua orang!” ucap Hania sembari menunjuk kearah Fathur.
__ADS_1
“Ibu, jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi” Tegas Paulo.
......................