Terjebak Konflik Dinasti Hylva

Terjebak Konflik Dinasti Hylva
39. Pembalasan setimpal


__ADS_3

Ambarawa tertunduk seraya menghela nafas panjang dan tersenyum miring. Seolah dirasuki sesuatu ia tanpa segan berkata dengan lantang


“Cih! Biar kukatakan dengan jujur saja, putramu itu adalah laki laki pengecut yang berlindung dibalik ibunya. Sayang sekali raja malah menjadikannya sebagai putra mahkota, lalu putrimu itu adalah perempuan gatal dan tidak tahu malu selalu menindas ibuku. Anak anakmu itu terlahir dengan sifat yang sangat menjijikkan, mereka pantas mati mengenas-”


"ARGHHM...." lelaki itu mulai mengerang dan meronta ronta.


Sebelum Ambarawa menyelesaikan perkataannya, Ratu Durwiasih menyayat kulit dada Ambarawa dengan kasar dan asal.


“Srett...Satu untuk putriku"


"Srettt.... Satu untuk putraku."


"Srett....satu lagi untuk apa yang kau katakan barusan”


“D-DASAR IBLIS ARGHHHH-” Ambarawa menjerit hingga bola matanya nyaris keluar, Setiap sayatan itu diiringi dengan Isak tangis dan teriakan rasa sakit yang kentara.


Darah mulai bercucuran bagaikan air terjun turun dari dalam dada Ambarawa hingga Ratu dapat melihat jantung nya dengan jelas, kemudian


"Cleb, Cleb..."


Ditusukkan terakhir, ratu memutar pisau ditangannya hingga menembus punggung Ambarawa dan membuatnya bolong hingga darah mengalir dari mulut, Telinga dan hidung Ambarawa.


Benar benar mengenaskan, Ambarawa menjerit kesakitan sebab Ratu menikam jantung tersebut berulang kali hingga Ambarawa tak mampu berteriak lagi. Dengan mata yang nyaris keluar dan mulut menganga lebar mengeluarkan darah, Ambarawa pun menghembuskan nafas terakhirnya.


“Aku sangat ingin membuatmu mati lebih mengenaskan, namun mengingat kau adalah putra suamiku. Aku masih bisa mempertimbangkannya.” ujar sang ratu dengan tatapan kebencian yang membara.


"Aku sangat menyayangi mu Amba, jika kau cerdas dan meminta maaf padaku sebelumnya mungkin aku masih bisa mempertahankan hidupmu. Namun dengan berani kamu menunjukkan bahwa dirimu tidak pantas mendapatkan belas kasih." Timpalnya.


Ratu mengusap pisau yang berlumuran darah dengan kain, sembari menatap jasad Ambarawa yang mengenaskan dengan senyuman miring. Ia merasa benar benar puas telah membalaskan dendam putranya yang tak sempat terbalas sampai akhir hayatnya.

__ADS_1


"Bersihkan tangan bibi, darah itu sangat kotor." Dewa menyodorkannya sehelai kain.


Ntah mengapa tetapi Ratu malah tertawa puas sekalipun mata berkaca-kaca. Satu sisi Ratu senang akhirnya ia bisa menegakkan keadilan yang tidak akan bisa ditegakkan oleh kerajaan. Disisi lain Ia sedih harus membunuh salah satu putra suaminya. Bagaimana pun Ratu terpaksa langsung turun tangan untuk menghukum dan meluapkan semua kemarahan yang selama ini ia pendam atas perbuatan yang merugikan anak anaknya.


Mungkin tidak akan ada yang menyangka bahwa Ratu seperti nya yang agung, lembut dan anggun memiliki sisi gelap dan tegas yang mumpuni saat menegakkan keadilan.


Sementara itu Ratu mengambil sebuah kuas dan mencelupkannya kedalam darah Ambarawa sebagai tinta. Ia menulis beberapa kata diatas sehelai kertas tersebut kemudian menyodorkannya kepada Dewa.


“Ganti pakaiannya dengan pakaian resmi kerajaan kemudian buang jasadnya ke sungai. Terakhir, selipkan surat ini di saku nya!”


Dewa dan Fathur mengangguk, mereka bergegas melaksanakan perintah sang ratu. Tak lupa mereka juga menyelipkan sepucuk surat yang dilapisi lilin agar tidak hancur oleh air kemudian menghanyutkan jasad Ambarawa ke sungai.


Setelah pekerjaan selesai, Ratu dalam sekejap berpindah tempat kembali kedalam kamarnya di istana dengan bantuan ilmu gaib dari Fathur. Seolah tak terjadi apa apa, Ratu membaringkan tubuhnya di atas ranjang tepat disamping Raja yang tengah tertidur lelap.


...----------------...


Keesokan harinya, seorang warga yang tengah memancing ikan mengabarkan pada prajurit istana menemukan sesosok mayat yang sudah membusuk dan tidak dapat dikenali lagi wajahnya. Seluruh masyarakat yang mendengar kabar kejadian tersebut berbondong bondong menghampiri tempat penemuan mayat.


Sekelompok prajurit datang dan membawa mayat tersebut untuk dikuburkan dengan layak, namun mereka menyadari bahwa mayat tersebut mengenakan pakaian yang tidak asing dan berlogo kerajaan. Untuk memastikan itu mereka membawa mayat tersebut ke tabib kerajaan untuk di autopsi.


Para tabib nampak tidak sanggup bertahan semenit pun disamping mayat tersebut karena bau yang terlalu menusuk, bahkan mereka muntah berkali kali namun tetap berusaha profesional, hingga ketua tabib mengutarakan hasil autopsi dihadapan umum.


“Pakaian sutra biru, rambut coklat, cincin warisan keluarga selir Nimaran, dan sebuah surat dari kain yang ditulis dengan darah ini membuktikan bahwa dia benar benar Raden Ambarawa. Sebaiknya kita segera mengabarkan ini pada yang mulia.” ujar kepala tabib.


Para tabib berbondong bondong membawa jasad tersebut dengan hormat sebab bagaimanapun itu adalah jasad dari putera Raja. Setibanya di istana para tabi langsung disambut oleh prajurit kerajaan.


"Kami ingin bertemu dengan Yang mulia untuk melaporkan penemuan mayat ini."


Prajurit yang berjaga menghampiri mayat yang hanya tertutup kain tersebut, Mereka sontak menutup hidung dan berjalan menjauh saat mencium aroma busuk nya yang menyengat.

__ADS_1


"Huh, jasad siapa ini? Terlalu busuk jika dibawa ke dalam, kalian tunggu saja biar saya beritahukan pada Kasim dulu."


"Ini adalah jasad Pangeran Ambarawa Baik."


"Apa?!"


Tanpa berbasa-basi lagi sang prajurit langsung bergegas menghampiri ruang kerja Raja. Ia menyampaikan apa yang disampaikan para tabib kepada Kasim, dan Kasim pun menyampaikannya pada Raja.


“APA!? Tidak mungkin dia adalah putraku, Cepat kita lihat saja sekarang” Raja tergesa-gesa.


Saat menerima berita putranya tersebut, Raja nampak marah bercampur sedih dan kecewa. Langkahnya semakin cepat saat mengingat dia telah kehilangan satu putra dan tidak rela bila harus kehilangan satu putra lagi.


Setibanya di halaman depan kerajaan, Raja dan Kasimnya sempat memalingkan wajah karena bau amis yang sangat menusuk. Tabib memberikan penutup wajah pada Raja dan Kasim untuk mengurangi penciuman terhadap bau tersebut. Perlahan Raja pun berjalan menuju mayat yang nampak sudah membengkak dan mulai mengundang hewan hewan kecil tersebut, dia amati dari kaki hingga ujung kepala, dan pandangannya tertuju pada cincin warisan yang di gunakan mayat tersebut


Raja terperanjat kaget dengan mata membulat sempurna, sembari mundur perlahan tatapan nya mulai berkaca kaca dan akhirnya duduk tersungkur. Para Tabib, Prajurit dan Kasim pun bersujud memberikan penghormatan terakhir pada sang pangeran.


“TIDAKK! DIA BUKAN AMBA KU!”


Selir Nimaran yang dikabari mengenai hal tersebut langsung datang dengan Isak tangis. Ia berjalan tertatih tanpa alas kaki dan jatuh tersungkur tepat disamping Raja.


“S-sabar istriku, dia memang Amba” Raja memeluk Nimaran untuk menenangkannya.


“TIDAKK hsshshs, Dia bukan Amba ku. Ambaaaa!!”


“Hamba menemukan sepucuk surat berlapis lilin ini di saku Raden Ambarawa.” Kepala tabib sembari menyodorkan sebuah kain.


Raja segera mengambil kain tersebut dan membukanya, begitu juga Nimaran yang nampak terisak dalam pelukan raja juga ikut membacanya. Surat tersebut bertuliskan


...“Ayahanda, ibunda. Maafkan Amba karena dibutakan dendam terhadap Rai Hardijaya sampai membuat amba menyulut dendam dan kebencian terhadapnya. Amba bahkan tanpa ragu mendorongnya ke jurang hanya karena iri dengan kekuasaan yang Rai miliki. Selama beberapa hari ini Amba tidak bisa hidup tenang seakan di gentayangi oleh Rai Hardijaya. Amba benar benar tidak sanggup lagi dan memutuskan mengakhiri hidup. Maafkan Amba ayahanda, ibunda semoga kalian selalu berbahagia dan hidup dalam damai.*...

__ADS_1


..."Dari Ambarawa”...


......................


__ADS_2