Terjebak Konflik Dinasti Hylva

Terjebak Konflik Dinasti Hylva
22. Terungkap


__ADS_3

“Dia adalah adikku, Raden Hardijaya. Kami hanya bisa bertemu diam diam setiap Minggu disini untuk bertukar kabar. Apa kau puas?” imbuhnya.


Paulo mendelik, menatap intens gadis dengan long dress putih dihadapannya tersebut.


“Jika memang hanya adik, kenapa kalian sampai berpelukan seperti itu. Apalagi kau tersenyum padanya dengan tatapan yang tidak pernah kau berikan padaku.”


“Apakah kau cemburu-”


“Menurutmu? Apa kau tidak akan cemburu jika melihatku berpelukan dengan wanita lain seperti itu?” Paulo menggerutu.


“Huftt...sudahlah dia hanya adikku.” ucap Isyah sembari memeluk Paulo.


“Tapi aku masih belum percaya sepenuhnya!” Paulo nggan membalas pelukan Isyah.


“Hmmm, bukannya kamu mendengar dia berkata akan kesini lagi 3 hari mendatang? Begini saja, aku akan mengenalkan mu padanya.” ucap Isyah.


“A-apa kau yakin?” Paulo akhirnya mau menatap Isyah.


“Tentu saja, apapun untukmu” bujuk Isyah.


Paulo tersenyum dan membalas pelukan Isyah dengan erat. Ia merasa bersalah karena telah berprasangka buruk pada Isyah.


“Kau tau aku sangat tidak rela melihatmu dipeluk laki laki lain seperti itu. Rasanya aku ingin mengirim dia ke neraka saat itu juga” ujar Paulo


“Iya aku mengerti perasaanmu. Kita sudah berjanji satu sama lain untuk terus bersama selamanya. Mana mungkin aku menghianati janji kita. Maafkan aku Paulo” ucap Isyah sembari memegang tangan Paulo


“Ke-kenapa tanganmu bisa sampai seperti ini??” tanya Isyah yang nampak panik


“Aku tadi Sangat geram melihat kalian berpelukan, tanpa sadar aku memegang pohon terlalu kuat” ucap Paulo


“Dasar bodoh, ayo ikut aku ke rumahku, biar aku obati dulu” ucap Isyah sembari merobek sebagian pakaiannya dan mengikatkannya pada tanggal Paulo.


Paulo dan isyah berjalan menuju rumah. Sepanjang kaki melangkah, mereka terus berpegangan tangan dan berbincang ria, seolah dunia hanya milik berdua. Mereka mengabaikan tatapan orang orang yang  tak menyukai gadis kucel seperti Isyah bersanding dengan anak ketua suku.


Pemandangan itu juga tak sengaja dilihat oleh Huda yang sedang melewati jalan yang sama bersama dengan rombongannya.


“PAULO! KEMARI KAU!” Seruan Huda mengagetkan Paulo dan Isyah.


Paulo melirik sekilas, lalu berjalan perlahan menghampiri sang ayah. “A-aku hanya sedang berjalan jalan."

__ADS_1


“Sudah berapa kali aku katakan padamu, jauhi gadis itu. Dia bukan gadis yang pantas untukmu.” Huda berucap tanpa segan.


“Kenapa dia tidak pantas untukku? Dia adalah gadis yang baik dan selalu ada disaat aku membutuhkannya."


“BERANI KAU MELAWAN PERINTAHKU?!” Jelas terpancar kemarahan di nada dan mata Huda.


“Tuan, Paulo tidak bersalah. Aku yang mengajaknya jalan jalan” sahut Isyah .


“DIAM KAU WANITA HINA. JANGAN IKUT CAMPUR URUSAN KELUARGAKU” Kesabaran Huda sudah diambang batas.


“APA YANG KAU KATAKAN PADANYA? DIA ADALAH PEREMPUAN YANG AKU CINTAI, KAU TIDAK PUNYA HAK SAMA SEKALI BERKATA SEPERTI ITU PADANYA-” Paulo berucap seraya menatap tajam ayahnya sendiri.


PLAKK....sebuah tamparan keras mendarat di pipi Paulo


“Berani sekali kau meninggikan suara pada orang yang menghidupi mu selama ini, hanya demi wanita seperti dia. Dimana tatakrama yang kuajarkan padamu selama ini?”


Tindakan sepontan Huda mengagetkan isyah, ia langsung memegang tangan Paulo dan berusaha menenangkannya. Disamping itu, warga desa juga mulai berkerumun.


Paulo memegang erat pipinya yang memerah, memalingkan netra hitam nya menatap intens pada wajah Huda yang beraut marah.


“Kau tidak pernah mengajariku apa apa selain menerima kehilangan terus menerus!”


“Apa yang kau katakan, dia adalah ayahmu. Apapun yang dia lakukan adalah demi kebaikanmu!” ujar Astra.


“Kau juga tidak perlu ikut campur urusan keluargaku, disini kau hanya seorang budak!”


“KAUUUU....” hampir saja ketua suku menampar Paulo sekali lagi, namun gerakan tangannya di hentikan oleh Astra seraya berbisik.


“Sudahlah tuan, kita bahas lagi masalah ini dirumah. Lihatlah warga sedang memperhatikan kita.”


Huda terdiam untuk sesaat, sebelum mendengus kasar dan kembali berseru.


“SERET MEREKA KERUMAH!”


Paulo dan Isyah tak punya pilihan lain, mereka dipaksa pulang dengan kasar kerumah setelah Huda.


“Bukankah ayahku tahu siapa kamu sebenarnya? Kenapa dia berani memeprlakukanmu seperti itu?” bisik Paulo


“Dari awal aku sudah bilang, kami memiliki sebuah perjanjian. Itu yang membuat dia berani memperlakukanku seperti ini.” sahut Isyah

__ADS_1


~


Setibanya di rumah, Paulo dan Isyah dengan tangan terikat dipaksa duduk bersimpuh di lantai.


“Tinggalkan kami, aku ingin bicara bertiga saja!” ucap Huda. Sontak membuat seluruh pengawal termasuk Astra keluar meninggalkan ruangan.


“Ayah, aku tahu siapa sebenarnya Isyah dan dia sudah menceritakan semua kejadian masalalu nya kepadaku.” ujat Paulo.


Isyah terperanjat kaget, matanya membulat sempurna. Bagaimana Paulo bisa ingkar janji, Ia malah secara terang terangan memberitahu ayahnya bahwa dirinya sudah tahu segala kejadian yang terjadi di masa lalu.


"Paulo apa yang kau katakan, bukankah sudah kubilang kau harus tutup mulut!" Isyah berucap dengan penuh penekanan.


Bukan hanya isyah, Huda pun terperanjat kaget. Seraya menatap isyah dengan tajam, Huda berkata


“Apa ini Nyimas? Kau telah melanggar janji mu.”


“H-hanya sebagian. Lagi pula aku tidak menceritakan isi perjanjian kita." Ucap Isyah seraya tertunduk.


“Tapi dengan membicarakan kejadian waktu itu saja kau sudah melanggar janji. Aku tidak menyangka seorang yang pandai bercakap sepertimu bisa melanggar janji yang kau buat sendiri.” Huda berucap sembari tersenyum miring.


Memang benar adanya, selain rahasia tragedi pembantaian tiga tahun silam, ada sebuah perjanjian yang mengikat Huda dan Isyah agar tidak saling membocorkan rahasia masing masing.


sementara itu Paulo hanya bisa diam dengan kecewa, menatap ayahnya dan Isyah yang tengah berdebat tanpa tahu apa yang sedang mereka perdebatkan.


“Baiklah, apa yang kau mau dari ku!” ucap Isyah.


Lagi, Huda tersenyum miring. “Jauhi putraku, dia tidak pantas untukmu!”


“APA YANG AYAH BICARAKAN, BUKANKAH AKU SUDAH BILANG BAHWA AKU AKAN MENIKAHINYA!” tegas Paulo.


Plakkk...


“SADARLAH ANAK BODOH! DIA ADALAH SEORANG PUTRI, CALON RATU MASA DEPAN! JANGAN BERTINDAK SEOLAH KAU TIDAK TAHU APA YANG AKAN MENIMPAMU JIKA MEMAKSAKAN PERASAANMU!” Huda bertutur demikian setelah menampar keras wajah putranya sendiri.


Bukan tanpa alasan, Huda tahu bahwa cinta sang putra pada Isyah hanya akan membawanya pada kesengsaraan saja.


Setelah mendengar ucapan Huda, bukan hanya Paulo yang terdiam. Isyah juga diam dengan tatapan kosong. Kini air mata mulai bercucuran dari matanya.


“AKU TIDAK PEDULI. SEKALIPUN SEISI DUNIA MENENTANG PERASANKU. MEREKA HANYALAH ANGIN YANG BERUSAHA MENJATUHKAN BATU YANG KOKOH. BAGIKU, TIDAK DENGANNYA MAKA TIDAK DENGAN YANG LAIN-” ucapan Paulo terpotong.

__ADS_1


“HENTIKAN....baiklah jika itu yang kau mau, aku akan menjauhi putramu.” ucap Isyah.


......................


__ADS_2