Terjebak Konflik Dinasti Hylva

Terjebak Konflik Dinasti Hylva
14. Isyah


__ADS_3

Abi membuka buku itu, membuka halaman perlahan lahan dan membacanya dengan seksama. Awalnya isi buku itu nampak tidak aneh, hingga dia menemukan sebuah halaman yang dirobek..


“Apa apaan ini?” Abi menyipitkan mata. “Kenapa halaman ini robek Paulo?”


“Hah a-apa maksudmu?” sahut Paulo sembari menarik buku itu.


“Hmmm tidak ada informasi apapun yang tersisa di buku itu.” ucap Abi dengan kecewa.


Namun saat itu fokus Paulo terarah pada sisa sisa sobekan kertas paling bawah.


“Lihatlah, hanya ada beberapa kata disini berambut pirang, ujung desa, dan diasingkan. Hanya kata itu yang bisa menjadi petunjuk kita saat ini.” ucap Paulo.


“Berambut pirang dan tinggal di ujung desa? Aku rasa pemikiran kita sama?” ucap Milo sembari melirik Abi, Gavi dan Paulo.


Yang terlintas dibenak mereka saat ini hanya satu orang. Tanpa pikir panjang, Abi, Gavi dan Milo dibawa oleh Paulo menuju rumah orang tersebut.


...----------------...


“Tok tok tok...Isyah ini aku Paulo.” panggil Paulo.


Saat ini Paulo, Abi, Gavi dan Milo berada tepat didepan sebuah gubuk reyot yang berada di paling ujung desa dan cukup jauh dari tetangga sekitar. Yap, itu adalah rumah Isyah.


“ini benar rumahnya? Ko udah tua banget, dan kenapa jauh dari tetangga” bisik Milo pada Gavi dan Abi


Gubuk tua itu nampak benar benar sudah tidak layak huni, ditambah lokasinya yang terletak jauh di ujung desa cukup menempatkan Isyah  dalam posisi yang berbahaya, mengingat dia merupakan gadis muda yang tinggal seorang diri disana. Ntah apa sebenarnya yang menimpa Isyah sebelumnya hingga dia diperlakukan seperti ini.


“Paulo, teman teman? Apa yang kalian lakukan disini?  Masuklah sebelum ada yang melihat” ujar Isyah.


Mereka pun masuk kedalam gubuk kecil.


“Apa yang sebenarnya membuat kalian jauh jauh datang kesini?”  Isyah mengerutkan keningnya.


“Tidak, kami hanya mau berkunjung ke rumahmu saja hehe” elak Paulo.


Sejenak Paulo, Gavi, Abi, dan Milo saling bertatapan. Keempatnya tidak ada yang berani memulai pembicaraan, mengingat topik yang mereka bahas mungkin akan sedikit sensitif bagi Isyah.


“Khmmm...Maaf jika aku lancang. Tapi aku ingin tahu kenapa warga memperlakukan mu seperti ini. Mengasingkannya seorang gadis muda ke ujung desa.” pertanyaan Milo memecah keheningan.

__ADS_1


“Oh itu....mmm bagaimana caraku menjelaskannya. Ini terlalu menyakitkan” Isyah berusaha menghela nafa panjang.


“Sebenarnya aku dituduh sebagai anak yang lahir sebelum pernikahan dan dianggap sebagai anak haram. Bukan hanya aku, tapi kedua orang tua ku juga dihukum mati atas perbuatannya. Makanya aku hidup sebatang kara dan sangat terasing seperti ini” ucap Isyah dengan mata berkaca kaca.


“Maafkan aku tidak bisa selalu menemani masa masa kesepian mu isyah, semua Karena ketua suku.” Paulo bertutur dengan iba.


“Tidak masalah Paulo, memilikimu saja sebagai temanku aku sangat bersyukur” Isyah tersenyum tipis sembari menatap Paulo.


"Apakah kau mengetahui sesuatu tentang hilangnya Nyimas Rarapati?”


Abi spontan bertanya pada intinya, membuat Gavi, Milo dan Paulo langsung menelisik raut wajah Isyah yang langsung berubah.


“A-apa maksudmu, S-siapa yang tidak mengenal Nyimas


Rarapati. Lagipula mengapa kalian tiba tiba membahasnya?” Isyah berucap seraya memutar bola matanya ke sembarang arah. Tak berani menatap netra teman temannya.


“Hmm...Kami bingung harus mencari Nyimas kemana lagi” Gavi berusaha berdalih.


“Untuk apa kalian mencarinya? Bukankah dia sudah mati?” Isyah langsung menatap tajam netra Gavi.


“Kau tau dia sudah mati darimana?” Milo menyipitkan mata terhadap Isyah.


Sepertinya ada sesuatu yang ganjal dengan perubahan sikap Isyah saat membahas Nyimas Rarapai. Gavi, Milo dan Abi sedikit keheranan dan memutuskan untuk lanjut diskusi nanti saja.


Tak mau banyak basa basi, ketiga sahabat pun berpamitan pulang.


......................


Gavi Milo dan Abi tengah berbincang bincang sembari menyusuri jalan setapak menuju tenda.


“Sekarang kita harus bagaimana? Tidak ada petunjuk apapun yang tersisa mengenai keberadaan Nyimas Rarapati.” keluh Milo.


“Tapi tadi gue masih merasa heran dengan perubahan sikap Isyah saat kita membahas tentang Nyimas Rarapati.” Gavi berucap sembari memegang dagu.


“Sepertinya kita harus mencari bantuan dari kepala suku. Ntah mengapa tapi instingku berkata bahwa dia pasti mengetahui segala hal yang berhubungan dengan apa yang sedang kita selidiki." Ujar Abi


"Lagi pula, aku tidak yakin mereka akan mengorbankan kita hanya demi memusnahkan sebuah kutukan yang kita sendiri bahkan tidak tahu kutukannya seperti apa” imbuhnya.

__ADS_1


“Gue setuju. Tapi disisi lain langkah ini punya resiko 50/50 untuk hidup matinya kita. Apa kita siap saat kita kembali kesana malah disandera dan dituduh yang tidak tidak?”


“Resiko. Mau kita diem aja ataupun milih pilihan pasti selalu ada resiko. Jadi apa salahnya kita ngambil pilihan yang ekstrim, toh cepat atau lambat resiko pasti dateng” tegas Abi.


“Iya iya cucu Albert Einstein ku yang sangat jenius dan tampan, gue setuju sama Lo” ejek Gavi seraya berkacak pinggang


“Dih apaan si Lo, orang gue lagi serius” gerutu Abi sembari menyilangkan kedua tangannya.


Lama berjalan menuju tenda, akhirnya mereka sampai ditepi sungai. Sejenak mereka memuaskan dahaganya yang telah kering karena berjalan cukup jauh.


“Eh ehh ehh....itu apaan woi yang ngambang diatas sungai.” ucap Milo menyipitkan mata sembari menunjuk ke seberang sungai.


Tanpa pikir panjang, Milo segera menyebrangi sungai yang cukup dalam. Batas air kini sampai dilehernya, dia terus memaksakan berjalan menuju seseorang yang terlihat mengapung ditepi sungai itu.


“MILL...WOIII...LO GILA YAA? AIRNYA LAGI DALEM WOII SINI BALIK LAGI!!” teriak Gavi yang panik melihat Milo menerobos aliran deras air sungai.


“Dasar! Selalu bertindak gegabah” ucap Abi sembari mengikuti Milo menerobos aliran sungai.


Kini Milo telah sampai di depan tubuh seorang laki laki yang terbujur kaku, tersangkut dan mengambang di ranting pohon yang menjulur ke tepi sungai.


Milo meletakkan tangannya di hidung lelaki tersebut dan merasakan bahwa dia masih bernafas. Buru buru Milo menarik tubuh laki laki itu menuju sebrang sungai. Abi yang sampai disamping Milo pun segera membantunya menarik tubuh laki laki itu ke tepi sungai.


“Heh...heh...heh bangun woi” ucao Abi sembari menekan dada bidang laki laki tersebut berulang kali.


“Ehh eh Lo mau ngapain” ucap Abi dan Gavi serentak sembari memegang tangan Milo saat melihatnya hendak mendekatkan bibir ranumnya pada bibir laki laki yang terbujur kaku tersebut.


“Mau gue makan! Ya gue kasih nafas buatan lah. Kaya gak diajarin aja Lo disekolah!” sentak Milo.


“Lo kira disini gak ada cowo? Awas biar gue aja!” ucap Gavi sembari mendekati lelaki tersebut.


“Ada. Cuma dua duanya Gak peka! Diem doang kerjanya” sindir Milo.


Gavi dan Abi hanya tersenyum ketus menanggapi ucapan Milo.


Belum sempat Gavi memberikan nafas buatan, laki laki itu langsung bangun dan memuntahkan air dari dalam mulutnya tepat ke wajahnya.


“HAHAHA Rasain tuh” tawa Milo dan Abi yang terlihat lepas.

__ADS_1


Pria itu lekas bangun dan menatap sekeliling, pandangan terhenti saat menatap Milo. Kini tatapannya berubah menjadi seperti melihat sesuatu yang menakjubkan, ditambah dengan senyum tipis yang mulai terukir di bibir merah muda nya yang pucat.


“Hei hei kamu kenapa? Kamu gakpapa kan?” tanya Milo sembari melambai lambaikan tangan karena sang lelaki nampak bengong kearahnya.


__ADS_2