
Milo dengan sigap memalingkan wajah dan mendorong tubuh Hardijaya dengan cepat. Ia tak mau terjadi hal yang sama dengan apa yang terjadi pada nya dan Abi sebelumnya.
“Maafkan aku, tapi aku tidak bisa berpaling semudah itu dari laki laki yang ku cintai.” Ujaran Milo menghentikan Hardijaya.
“Begitu? Tidak masalah, aku masih akan terus menunggumu.”
Laki laki itu hanya menghela nafas panjang dan mulai menjauhkan badan dari Milo. Ia mengalihkan pandangan dan mulai menatap keatas langit dengan sayu.
Sementara Milo malah merasa bersalah saat menatap lekat netra Hardijaya yang berkaca kaca namun tetap berusaha tersenyum kecil.
“Jangan tunggu aku pangeran, jika kamu benar benar mencintai aku maka kamu harus merelakan aku dengan pilihan aku sendiri. Aku yakin kamu menginginkanku bahagia, kan?” Ujar Milo.
Pernyataan Milo membuat Hardijaya semakin tertunduk dan memikirkan kata kata yang gadis itu ucapkan barusan. Memang benar adanya jika Hardijaya mengingatkan Milo bahagia, meskipun tidak bersamanya.
Namun tentu saja ada sedikit rasa tidak ikhlas yang mengganjal di hati.
“Selama kalian belum menikah, aku akan terus berjuang mendapatkan kamu. Mungkin yang aku punya sekarang hanya tekad, namun aku yakin tekad yang aku tanam ini akan menghasilkan cinta kamu sebagai buahnya."
“Hm...Terserah pada kamu saja kalau begitu, aku sudah menyampaikan apa yang seharusnya aku sampaikan. Aku hanya tidak mau melihat kamu Kecewa, bagaimanapun aku sudah menganggap kamu seperti adikku sendiri.” ujar Milo.
“Adik? Aku ini lebih tua darimu.” Celetuk Hardijaya.
“Hey, berapa usiamu sekarang?”
“21”
“Aku 23. Tenanglah adik, aku akan memperlakukan kamu dengan baik.” Cibir Milo seraya mengacak rambut lelaki tersebut.
Hardijaya nampak kesal dengan ejekan Milo dan langsung memutar bola mata dengan kesal ke sembarang arah seraya mengulum bibir.
Sontak saja tingkah konyol Hardijaya mengundang gelak tawa dari gadis berambut pirang disampingnya tersebut.
“Aku mau melihatmu terus seperti ini. Selalu tersenyum dan tertawa lepas.” Ketus Hardijaya dengan datar, Tanpa penekanan namun seratus persen tulus.
Milo membisu.
“Apakah kamu akan merasa tenang jika aku tidak mengejar mu lagi?” Lirih Hardijaya.
“Tentu, Aku akan merasa sangat lega. Kita kan masih bisa berteman, paling bagusnya kamu menganggap aku saudari, hehe."
__ADS_1
“Tenangku adalah bersamamu, sedangkan tenangmu adalah jauh dariku. Ya-" Celetuk lelaki tersebut.
Hardijaya sepontan mengatakan hal seperti itu kepada Milo. Bukan tanpa sebab, tetapi memang begitulah kenyataannya. Memang benar adanya jika lelaki tersebut adalah orang yang sangat jujur dan terus terang.
Tak ayal Milo selalu dibuat terbelalak dengan Perkataan Hardijaya.
“Apa yang kamu katakan, aku tidak mau kehilangan kamu. Aku hanya mau kita tetap berteman.” Seloroh Milo.
Ingin tetap diperlakukan istimewa namun dengan status pertemanan, egois sekali. Namun kebanyakan perempuan memang seperti itu.
“Ingatlah satu hal ini, jika suatu saat aku benar benar meninggalkanmu seorang diri, aku ingin kau terus mengingat namaku sepanjang hidup, bahkan jika kamu harus kembali ke duniamu.” Ujar Hardijaya
Tuturnya kali ini menampilkan mimik wajah yang serius.
“Tentu saja pangeran, aku tidak akan pernah melupakan kisahku ini yang pernah dicintai oleh seorang pangeran yang baik hati sepertimu. Namun bodohnya aku malah menolakmu, aku berharap orang yang mendengar ceritaku nanti tidak menganggap ku gila haha.” gurau Milo mencairkan suasana yang terasa haru.
“Haha, ada ada saja kamu ini. Yasudah, mari masuk. Hari semakin larut dan dingin.” ujar Hardijaya.
...----------------...
Keesokan harinya, Rarapati telah sampai didepan rumah 3 sahabat. Ia menunggu mereka yang sedang bersiap siap menemui orang yang mungkin bisa membantu menyelesaikan masalah mereka.
Disepanjang perjalanan mereka hanya mengamati sekeliling hutan yang nampak tidak terlalu asing. Ntah kemana Rarapati akan membawa mereka.
“Tunggu Nyimas, ini kan jalan menuju suku Asmat. T-tidak kami tidak bisa masuk kesana.” ucap Gavi.
“Tenanglah vi, bersamaku dan Hardijaya kalian akan baik baik saja” sahut Rarapati
Ketiga sahabat tak bisa menolak, mereka hanya bisa mempercayai dua kakak beradik yang memimpin jalan mereka di depan saja.
Tak lama perumahan Suku Asmat mulai terlihat, Mereka menyebrangi sungai dengan melewati jembatan penghubung. Langkah kaki kuda Gavi Milo dan Abi nampak semakin pelan karena ragu untuk memasuki sarang suku yang mungkin akan menjadikan mereka sebagai tumbal kutukan.
Dengan kepercayaan yang besar pada Rarapati dan Hardijaya mereka terus memacu kuda hingga tiba di depan rumah ketua suku.
Ketua suku sendiri nampak sudah mengetahui kedatangan mereka sehingga menyiapkan penyambutan yang meriah bagi mereka. Namun di keramaian itu, tidak terlihat sosok Paulo sama sekali.
“Silahkan masuk Nyimas, Raden. Suku Asmat sangat merasa terhormat bisa menerima kalian sebagai tamu.” ujar Huda.
Melihat tingkah Huda yang terlihat sangat tunduk kepada Rarapati dan Hardijaya membuat Gavi Milo dan Abi merasa sedikit tenang dan mampu bernafas lega.
__ADS_1
Sepertinya Huda telah berubah drastis.
"Tenyata bener, Yang punya kuasa dan segala adalah pemenang, ya kan." Bisik Gavi pada dua sahabatnya.
Pun Milo dan Abi yang hanya mengangguk mengiyakan perkataan Gavi.
“Kami ingin bicara denganmu saja." Cetus Rarapati.
“B-baiklah Nyimas. KALIAN SEMUA KELUARLAH!!" Perintah Huda membubarkan semua sesepuh dan warga suku.
"Silahkan Nyimas dan para tamu duduklah disini, anggap rumah sendiri." Sambungnya.
Rarapati, Hardijaya dan ketiga sahabat mengikuti interupsi Huda dan duduk dengan santai di kursi ruang tamu.
Untuk sesaat mereka semua terdiam malah saling bertatapan karena menunggu seseorang membuka percakapan.
“Apakah kau tau bagaimana cara membuat orang yang datang dari dunia lain bisa kembali ke dunia asalnya?” Rarapati berkata langsung pada intinya.
Huda terbelalak mendengar pertanyaan sepontan dari Rarapati.“A-apa yang Nyimas katakan, bagaimana mungkin aku tahu cara seperti itu. Kenapa Nyimas tidak mendatangi ahli spiritual saja?”
“Jika aku mengenal orang orang seperti itu, aku tidak akan menemui mu jauh jauh kesini!” Ketus Rarapati.
“M-maafkan aku yang lambat memahami nya Nyimas. Aku mengenal seseorang yang mungkin bisa membantu Nyimas."
“Lalu apa yang kau tunggu? Panggil mereka!”
“B-Baik Nyimas”
Setelah itu Huda berlalu meninggalkan ruang tamu dengan tergesa gesa. Ia seolah mencari seseorang dan memacu kuda ntah akan kemana. Ketiga sahabat, Rarapati dan Hardijaya pun tidak mempertanyakan tujuan Huda.
“Aku tidak menyangka Nyimas akan meminta pertolongan pada ketua suku yang sebelumnya berprilaku sangat buruk kepada Nyimas.” Bisik Milo
“Dia kasar seperti itu juga karena atas dasar permintaan dan janji yang kami buat, sebenarnya dia adalah budak yang patuh." Sahut Rarapati bijak.
Setelah itu mereka menunggu cukup lama namun Huda tak kunjung datang juga.
“Lama sekali, kemana sebenarnya dia pergi?” ujar Hardijaya
......................
__ADS_1